INICIAR SESIÓNMansion keluarga Benharg berdiri angkuh di atas perbukitan, sebuah monumen kemegahan yang dibangun di atas tumpukan rahasia dan pilih kasih. Namun, bagi Felix, setiap jengkal tanah di sini adalah pengingat akan luka lama yang tak pernah mengering. Ia melangkah masuk seorang diri, tanpa pengawal di sisinya, karena ia tahu bahwa di tempat ini, ia sendiri adalah ancaman yang paling nyata.
Sebelum berangkat, Felix telah memerintahkan barikade keamanan tingkat tinggi di rumah sakit. Ia mKeheningan manis di perpustakaan mansion terpaksa buyar saat ponsel satelit rahasia di saku kemeja Felix bergetar hebat. Sebuah nada getar berkode khusus, hanya digunakan oleh The Ghost untuk laporan yang sifatnya sangat darurat dan rahasia.Felix menarik napas perlahan, merapikan helai rambut Jolina yang sedikit berantakan di dahi. Ia mengecup kening istrinya sekilas. "Istirahatlah di kamar dulu, Jolina. Ada laporan keamanan yang harus kupantau sebentar."Jolina menatap Felix dengan binar mata yang masih menyisakan kehangatan ciuman mereka tadi. Wanita itu mengangguk pelan, mengusap lengan tegap suaminya sebelum melangkah keluar dari perpustakaan, membiarkan Felix kembali ke dalam sangkar tugasnya sebagai seorang Don.Begitu pintu tebal perpustakaan tertutup rapat, raut wajah Felix berubah seketika. Kehangatan yang baru saja ia tunjukkan pada Jolina menguap tanpa sisa, berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh kewaspadaan. Ia menekan tombol penerima pada ponselnya dan menempelkannya
Pagi hari menyapa mansion Wesley dengan hamparan kabut tipis yang merayap pelan di antara pilar-pilar batu megah. Dari luar, suasana terkesan tenang dan tenteram, meski aroma halus tanah basah yang berbaur dengan jelaga sisa ledakan semalam masih membekas di sudut-sudut perbatasan halaman. Sisa-sisa pertempuran berdarah telah dibersihkan secara efisien oleh tim The Ghost, meninggalkan mansion dalam kedamaian tiruan yang mencekam.Di ruang makan utama yang luas, pendar sinar matahari pagi menembus jendela kaca tinggi, memantulkan cahaya lembut ke atas meja kayu mahoni yang terbentang panjang. Jolina duduk di salah satu sisi meja, mengaduk pelan mangkuk sup hangatnya dengan tatapan menerawang. Jubah sutra berwarna krem yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan siluet kehamilannya yang mulai sedikit memadat.Di ujung meja, Felix duduk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk menyesap kopi hitamnya sembari meneliti beberap
Di sebuah rumah tua terisolasi yang tersembunyi jauh di dalam rimbunnya hutan batas kota, napas ketakutan masih terasa begitu pekat. Bau mesiu, darah kering, dan asap rokok murahan memenuhi ruangan bersudut sempit yang hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung kekuningan yang berkedip-kedip. Luar mansion Wesley mungkin telah sunyi, tetapi kepanikan sisa-sisa pelarian itu kini berkumpul di dalam pondok reyot ini.Vico duduk bersandar di sudut dinding kayu, mengepalkan kedua tangannya yang bernoda hitam bekas ledakan. Pakaian taktisnya robek di beberapa bagian, namun bukan luka fisik yang membuatnya membisu. Kepala Vico serasa mau pecah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Felix di balik kaca ruang panel keamanan terus berputar tanpa henti, merusak pertahanan keyakinan yang selama ini ia agungkan.“William Benharg adalah orang yang memegang kendali atas kasus hukum ayahmu... Siapa yang diuntungkan saat ayahmu masuk penjara dan Addison menghilang? Benharg, Vico. Bukan Addison.”Vico men
Asap rokok kembali mengepul, memenuhi ruang kendali bawah tanah yang sunyi. Felix Wesley masih duduk di kursi besarnya, menatap nanar barisan dokumen digital yang ditampilkan di layar monitor oleh The Ghost. Sejarah kelam tahun 2000-an itu memang telah membuka tabir tentang penjebakan Bryan dan pernikahan kedua William. Namun, bagi pria sekritis Felix, berkas-berkas itu justru meninggalkan lubang besar yang menganga di kepalanya. Felix mengetukkan jemarinya di atas meja mahoni dengan ritme yang konstan, mencerminkan isi pikirannya yang sedang berputar keras. Ada tiga pertanyaan besar yang belum terjawab. Pertama, kenapa Addison akhirnya menghilang dari mansion Benharg? Jika awalnya Addison memilih pasrah dan bertahan di bawah kungkungan William demi melindungi Felix yang masih balita, apa yang memicu pria itu pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan menghilang seperti asap? Dan yang paling mengusik ketenangan Felix adalah sebaris kal
Lembaran dokumen tua yang sudah menguning itu tersebar di atas meja mahoni ruang kerja Felix. Waktu menunjukkan pukul empat pagi, namun gurat kelelahan sama sekali tidak tampak di wajah sang Don. Setelah memastikan Jolina kembali tertidur aman di bawah penjagaan ketat, Felix menghabiskan sisa malamnya bersama The Ghost. Intel tertingginya itu baru saja mengirimkan salinan berkas digital dan dokumen rahasia yang berhasil dicuri dari brankas tersembunyi di mansion utama William Benharg. "Ini adalah sejarah yang sengaja dikubur oleh William, Don Felix," ucap The Ghost melalui sambungan suara terenkripsi."Sebuah berkas bertuliskan tahun 1998 hingga awal 2000-an. Kisah tentang tiga pria yang membangun fondasi awal kekuasaan di kota ini, sebelum semuanya hancur oleh obsesi." Felix menyandarkan punggungnya, menyalakan sebatang rokok, dan membiarkan asap abu-abu mengepul ke langit-langit ruangan. Matanya menatap sebuah foto hitam-putih lama yang terla
Malam yang gulita di perbukitan mansion Wesley mendadak pecah oleh deru mesin mobil-mobil jip taktis bersuara berat. Lima buah kendaraan hitam tanpa plat nomor merangsek masuk melewati gerbang besi utama yang sudah kehilangan dayanya. Oliver Benharg duduk di kursi depan jip paling depan, menggenggam senapan serbu dengan senyum kemenangan yang sudah merekah di wajahnya. Ponselnya baru saja menerima pesan dari Vico bahwa sistem keamanan telah lumpuh total. "Maju! Ratakan tempat ini dan bawa Jolina hidup-hidup ke hadapanku!" teriak Oliver melalui radio komunikasi, memberi komando pada puluhan tentara bayaran bersenjata lengkap yang dibawanya. Jip-jip tersebut melaju kencang membelah halaman depan mansion yang luas, bersiap mengepung bangunan utama. Oliver merasa di atas angin. Dia membayangkan bagaimana wajah Felix saat pria itu diseret keluar dari kamarnya dalam kondisi tak berdaya, kehilangan segalanya hanya dalam satu malam. Namun, kegembiraan
Kemarahan Felix meledak seperti gunung api yang sudah ribuan tahun memendam lava. Saat anting milik Jolina itu mendarat di atas sprei putih, Felix tidak hanya melihat sebuah perhiasan, ia melihat sebuah penghinaan. Namun, sisa-sisa kewarasannya masih mengarah pada pria yang
Waktu seolah membeku di dalam mansion megah milik Felix. Satu bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang terasa seperti pemakaman itu, namun bagi Jolina, setiap detik yang ia lalui tetap terasa seperti berjalan di atas mata pisau. Felix tidak berubah. Pria itu tetaplah S
Langit-langit katedral tua itu dipenuhi dengan lukisan fresko para malaikat yang seolah menatap dingin ke arah bawah, menyaksikan sebuah persatuan yang jauh dari kata suci. Aroma dupa yang berat bercampur dengan wangi bunga lili putih yang melimpah di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang
Suara langkah sepatu pantofel Felix yang beradu dengan lantai di luar kamar terdengar seperti detak jam kematian bagi Jolina. Ia segera bangkit dari posisinya di dekat jendela, merapikan jubah sutranya yang sedikit berantakan, dan duduk di tepi ranjang dengan jemari yang saling bertaut erat.







