登入"Sedang apa kau?" Suara itu membuat tubuh Zoey menegang. Ia berbalik terlalu cepat dan mendapati Dimitri berdiri tidak jauh di belakangnya. Tatapan pria itu dipenuhi rasa ingin tahu—atau mungkin kecurigaan. "Aku..." Zoey memaksa dirinya untuk terlihat tenang. Pandangan matanya bergerak cepat mencari alasan. Lalu ia membungkuk dan mengambil sebuah jepit rambut yang tergeletak di lantai. "Aku mencari ini," katanya sambil mengangkat jepit rambut itu. "Ya, aku mencari ini." Senyumnya terasa kaku, bahkan di telinganya sendiri. Tanpa menunggu tanggapan, Zoey segera berjalan melewati Dimitri. Namun langkahnya terhenti saat suara pria itu kembali terdengar. "Zoey." Ia menoleh. "Apa kau sudah menerima map yang kutitipkan tadi?" Jantung Zoey berdetak sedikit lebih cepat. Perlahan ia berbalik hingga tatapan mereka bertemu. Zoey mengangguk pelan. "Sudah." "Dan?" Zoey menggenggam map hitam yang masih berada di tangannya sedikit lebih erat. "Kenapa ada foto diriku di dalamnya?" I
Dimitri ada disana, berdiri tidak jauh di belakangnya dan mengawasinya. Tiga bulan sebelum mereka pernah saling mengenal. Untuk beberapa detik, Zoey hanya mampu menatap foto itu tanpa bergerak. Mungkin ini sebuah kesalahan, mungkin seseorang telah memanipulasi tanggalnya, atau mungkin pria di dalam foto itu bukan Dimitri. Namun semakin lama ia menatap gambar tersebut, semakin mustahil baginya untuk menyangkal kenyataan yang terpampang di depan mata. Postur tubuh itu, setelan hitam yang selalu rapi, dan tatapan dingin yang seolah mampu menembus siapa pun yang berada di hadapannya. Tidak mungkin ia salah mengenalnya. "Itu dia..." Suara Zoey terdengar pelan. Seolah jika ia mengucapkannya lebih keras, semuanya akan berubah menjadi kenyataan yang tidak bisa lagi ia hindari. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membalik foto itu sekali lagi. Tatapannya jatuh pada tanggal yang tercetak di sudut kanan bawah. Ia memeriksanya sekali, dan hasilnya tetap sama. Tiga bulan sebelum pertemua
"Kau ingin membunuhku sekarang?"Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, Zoey langsung menyesalinya.Bukan karena ia tidak serius, justru karena sebagian dari dirinya benar-benar ingin mengetahui jawabannya.Udara malam berhembus pelan, menggerakkan helaian rambutnya. Namun keheningan yang muncul setelah pertanyaannya terasa jauh lebih dingin daripada angin yang menyentuh kulitnya.Dimitri tidak segera menjawab, pria itu hanya menatapnya.Tatapan tenang tanpa kemarahan, tanpa keterkejutan, tanpa penolakan. Dan entah kenapa, itu justru membuat Zoey semakin gelisah.Ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya, meski jemarinya tanpa sadar saling menggenggam di atas pangkuannya."Diam seperti itu tidak membuatmu terlihat tidak bersalah, tahu."Sebuah helaan napas pelan keluar dari bibir Dimitri sebelum pria itu mengalihkan pandangannya ke langit malam."Kalau aku memang ingin membunuhmu," ucapnya akhirnya dengan suara tenang, "aku tidak akan repot-repot menyelamatkanmu sejauh ini."Zoey
Zoey mengira malam itu akan menjadi malam pertama yang tenang sejak semua kekacauan dimulai. Ia salah. Suara air dari shower memang berhasil meredam sebagian isi kepalanya, tetapi tidak mampu menghapus kegelisahan yang terus menghantuinya. Bayangan rekaman CCTV, jasad Nikolai Volkov, dan kemarahan Dimitri masih berputar tanpa henti di benaknya. Ketika akhirnya ia keluar dari kamar mandi, uap hangat masih menempel di kulitnya. Namun langkahnya langsung terhenti—kamar itu kosong, Dimitri sudah tidak ada di sana. Di atas wastafel telah terlipat rapi beberapa pakaian baru, persis seperti yang dijanjikannya. Namun bukan pakaian itu yang menarik perhatian Zoey. Melainkan sebuah map hitam yang tergeletak diatas meja dekat ranjang. Map yang sebelumnya tidak ada. Dan entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa ia seharusnya tidak membukanya. Setelah mengenakan pakaian barunya, Zoey memutuskan turun ke lantai dasar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, berharap menemukan sosok Dimitri. Na
Zoey masih berdiri diam di tengah kamar Dimitri Volkov. Matanya menyapu seluruh ruangan sekali lagi. Setiap sudut kamar itu mencerminkan pemiliknya—mewah, rapi, dan nyaris tanpa kehangatan. Seolah tidak pernah ada tempat bagi kelemahan dalam kehidupan Dimitri Volkov. Zoey perlahan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman mansion. Cahaya bulan memantul di kaca, memperlihatkan bayangan wajahnya sendiri. Lelah, tegang, dan dipenuhi terlalu banyak pertanyaan. Ingatannya kembali pada rekaman CCTV yang mereka lihat beberapa jam lalu. Tubuh Nikolai Volkov, pria-pria bertopeng, dan benda misterius yang diambil dari dalam jasad pria tua itu. Sesuatu yang bahkan membuat Dimitri kehilangan kendali atas emosinya. Zoey mengepalkan tangannya perlahan. "Apa sebenarnya yang mereka cari?" gumamnya pelan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun semua kepingan yang selama ini berceceran di kepalanya. Kematian kedua orang tuanya, kematian Nikolai Volkov, dan sekarang benda mi
Zoey duduk diam di kursinya, menatap jalanan malam yang melintas di balik jendela mobil. Suara mesin yang meraung pelan seharusnya terasa menenangkan, tetapi entah mengapa ketegangan di dalam mobil justru semakin menyesakkan.Ia melirik Dimitri sekilas. Pria itu duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tampak lebih gelap dari biasanya.Nama itu kembali muncul, Starling. Mendengar nama itu disebut beberapa saat lalu membuat perasaan Zoey tidak nyaman. Ia tidak tahu banyak tentang keluarga tersebut, tetapi dari cara Dimitri bereaksi, jelas bahwa mereka bukan sekadar musuh biasa.Ponsel Andrian tiba-tiba bergetar. Zoey melihat pria itu memeriksa layar ponselnya sebelum ekspresinya berubah serius."Tuan..."Dimitri langsung menoleh."Ada perkembangan."Zoey tanpa sadar ikut menegakkan tubuh."Apa?" tanya Dimitri.Andrian menelan ludah sebelum menjawab."Salah satu tim kita menemukan sesuatu di rumah sakit."Tatapan Dimitri langsung berubah taj







