หน้าหลัก / Mafia / Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia / EPISODE 7 — BAYANGAN DI BALIK WARISAN

แชร์

EPISODE 7 — BAYANGAN DI BALIK WARISAN

ผู้เขียน: Vyn
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-25 20:02:21

Zoey masih berdiri diam di tengah kamar Dimitri Volkov. Matanya menyapu seluruh ruangan sekali lagi. Setiap sudut kamar itu mencerminkan pemiliknya—mewah, rapi, dan nyaris tanpa kehangatan.

Seolah tidak pernah ada tempat bagi kelemahan dalam kehidupan Dimitri Volkov.

Zoey perlahan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman mansion. Cahaya bulan memantul di kaca, memperlihatkan bayangan wajahnya sendiri. Lelah, tegang, dan dipenuhi terlalu banyak pertanyaan.

Ingatannya kembali pada rekaman CCTV yang mereka lihat beberapa jam lalu. Tubuh Nikolai Volkov, pria-pria bertopeng, dan benda misterius yang diambil dari dalam jasad pria tua itu.

Sesuatu yang bahkan membuat Dimitri kehilangan kendali atas emosinya. Zoey mengepalkan tangannya perlahan.

"Apa sebenarnya yang mereka cari?" gumamnya pelan.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun semua kepingan yang selama ini berceceran di kepalanya.

Kematian kedua orang tuanya, kematian Nikolai Volkov, dan sekarang benda misterius yang diambil dari dalam tubuh pria itu.

Semakin dipikirkan, semuanya terasa saling terhubung. Namun ada satu hal yang terus mengganggunya.

"Kalau target mereka memang aku..."

Zoey membuka matanya perlahan.

"...lalu kenapa mereka juga menyerang Dimitri?"

Tidak ada jawaban.

Hanya suara detak jam yang terdengar samar dari sudut kamar.

Zoey menatap kegelapan di luar jendela, sementara perasaan tidak nyaman kembali merayapi dadanya.

Selama ini ia mengira dirinya yang sedang memburu keluarga Starling. Namun sekarang ia mulai meragukannya. Ternyata mereka sudah selangkah lebih maju daripada yang ia bayangkan.

Mungkin ini bukan hanya tentang dirinya, atau Dimitri. Ada sesuatu yang menghubungkan semua kejadian ini.

Sesuatu yang cukup berharga hingga membuat orang-orang rela membunuh demi mendapatkannya.

Dan Zoey merasa bahwa dirinya mungkin hanyalah salah satu bidak dalam permainan yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.

Suara pintu yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan.

Zoey menoleh.

Dimitri melangkah masuk ke dalam kamar.

"Kenapa kau belum membersihkan diri?" tanyanya dengan nada dingin.

Zoey menghela napas panjang. "Aku hanya sedang berpikir."

Ia melirik ke arah jendela.

"Kenapa ada tempat seperti ini? Dari luar terlihat menyeramkan, tapi saat berada di dalam justru terasa cukup menenangkan."

Dimitri tidak langsung menjawab.

Zoey berjalan ke arah lemari besar di sudut ruangan.

"Dan pria yang sekarang menjadi suamiku menyuruhku membersihkan diri," lanjutnya sambil membuka pintu lemari, "padahal di sini isinya hanya pakaian miliknya."

Ia mengangkat bahu santai.

Pertama kalinya, Dimitri mengeluarkan tawa kecil. Suara yang begitu langka hingga membuat Zoey sempat meliriknya.

Pria itu mengeluarkan ponselnya.

"Antarkan pakaian yang tadi kupesan ke kamarku."

Perintah singkat itu langsung diakhiri dengan sambungan telepon yang terputus.

Dimitri menyimpan kembali ponselnya.

"Tadi aku memesan pakaian untukmu."

Suara beratnya terdengar lebih santai dibanding biasanya. Ia duduk di ujung ranjang sambil melepaskan jas dan sepatunya.

"Hanya saja aku tidak tahu ukuran tubuhmu."

Zoey mengangkat satu alis.

Dimitri berdiri kembali dan melangkah mendekat.

Zoey refleks menelan ludah.

Pria itu memperhatikan tubuhnya sejenak, lalu menggeleng pelan.

"Sepertinya ukurannya akan pas."

Tatapannya turun sesaat.

"Pinggangmu kecil sekali."

Nada suaranya terdengar seperti sedang mengejek.

Zoey langsung menyipitkan mata.

"Dasar om-om mesum."

Hening.

Mata Dimitri langsung membelalak.

"Apa?"

Nada suaranya naik satu tingkat.

"Kau memanggilku om-om?"

Zoey berusaha menahan tawanya.

"Apa aku setua itu?" lanjut Dimitri dengan ekspresi tak percaya.

Insting Zoey langsung membunyikan alarm bahaya di dalam kepalanya.

Ia tidak tahu kenapa, tetapi berada terlalu lama di ruangan yang sama dengan Dimitri dalam situasi seperti ini terasa jauh lebih berbahaya daripada menghadapi orang-orang bersenjata yang mengejarnya beberapa hari terakhir.

Mungkin karena pria itu terlalu tenang. Atau mungkin karena tatapannya yang sulit ditebak. Zoey tidak ingin mencari tahu jawabannya.

Tanpa memberi dirinya kesempatan untuk berpikir lebih jauh, ia segera berbalik menuju kamar mandi dengan langkah cepat.

"Aku mandi dulu!"

Kalimat itu keluar begitu saja, bahkan terdengar lebih seperti pengumuman daripada permintaan izin.

Tangannya sudah lebih dulu meraih gagang pintu sebelum Dimitri sempat mengatakan apa pun.

"Lalu kalau bajuku datang, letakkan saja di atas wastafel."

Begitu selesai berbicara, Zoey langsung masuk ke dalam dan menutup pintu kamar mandi sedikit lebih cepat dari yang seharusnya.

Klik.

Baru setelah suara kunci terdengar, ia menghembuskan napas panjang.

"Apa yang sebenarnya kulakukan tadi?" gumamnya pelan.

Zoey menempelkan punggungnya ke pintu sambil memejamkan mata beberapa detik. Ia baru saja memberi perintah pada Dimitri Volkov.

Pria yang bahkan hanya dengan satu tatapan saja mampu membuat orang lain kehilangan keberanian untuk berbicara.

Dan ia baru menyuruhnya meletakkan pakaian di atas wastafel seolah-olah Dimitri adalah asistennya.

Zoey menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Bagus sekali, Zoey. Kalau pria itu marah, ia bahkan tidak akan terkejut. Perlahan ia membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip keluar.

Dimitri masih berdiri di tempat yang sama. Pria itu tidak mengatakan apa pun, tidak marah, dan tidak juga terlihat ingin membalas perkataannya.

Ekspresinya justru membuat Zoey semakin tidak nyaman. Ia buru-buru menutup kembali pintu kamar mandi.

"Kenapa dia diam saja?"

Entah mengapa, reaksi itu justru lebih mengkhawatirkan. Setidaknya jika Dimitri marah atau mengeluarkan komentar sinis, Zoey masih bisa memahami situasinya.

Diam dari pria seperti Dimitri terasa jauh lebih menakutkan. Zoey memutar kran shower, membiarkan suara air memenuhi ruangan dan menenggelamkan pikirannya yang semakin kacau.

Namun bahkan suara air yang jatuh dari shower tidak mampu menghilangkan rasa canggung yang masih tertinggal di dalam dirinya.

Bayangan Dimitri yang berdiri diam beberapa saat lalu terus muncul di kepalanya. Zoey mengerang pelan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Kenapa aku malah memikirkan itu?" keluhnya pelan.

Ia menggeleng cepat, seolah berusaha mengusir pikirannya sendiri.

"Zoey, serius? Ada banyak masalah yang lebih penting daripada ini."

Hidupnya berada dalam bahaya. Namun anehnya, di tengah semua kekacauan itu, pikirannya justru kembali pada satu hal yang seharusnya tidak penting.

Ia langsung mengernyit pada dirinya sendiri.

"Kenapa aku peduli kalau dia tersinggung?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara air yang terus mengalir memenuhi ruangan. Zoey mendongakkan wajahnya, membiarkan air hangat membasahi rambut dan kulitnya.

"Semoga ini bisa membantu menenangkan pikiranku," gumamnya pelan.

Namun beberapa detik berlalu dan pikirannya tetap sama kacaunya. Ia tertawa kecil tanpa humor.

"Tentu saja tidak semudah itu."

Zoey membuka matanya perlahan. Ada satu kenyataan lain yang perlahan mulai ia sadari, meski ia ingin menyangkalnya.

"Dimitri membuatku gugup."

Zoey langsung menggeleng keras.

"Tidak. Bukan gugup."

Ia menarik napas panjang sebelum menambahkan pelan,

"Setidaknya... bukan seperti itu."

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 46 — Tamu di Tengah Malam

    Pintu rumah perlahan terbuka bahkan sebelum Dimitri sempat mengetuk.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam pisau. Tatapannya langsung jatuh pada Dimitri."Kau terlambat.""Jalanan sedikit ramai," jawab Dimitri tenang.Pria tua itu mendengus pelan. "Kalau masih bisa bercanda, berarti keadaanmu belum terlalu buruk."Barulah pandangannya beralih kepada Zoey."Jadi... ini gadis yang kau bawa."Zoey sedikit gugup. "Saya Zoey."Pria itu mengangguk singkat. "Masuklah. Berdiri di luar terlalu lama bukan ide yang bagus."Rumah itu tampak sederhana dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh berbeda. Dinding dipenuhi rak buku tua. Beberapa monitor keamanan menampilkan gambar dari kamera yang terpasang di berbagai sudut halaman. Tak jauh dari ruang tamu terdapat sebuah ruangan dengan peralatan komunikasi dan komputer yang masih menyala.Zoey memperhatikan semuanya dengan heran. "Tempat ini...""Bukan rumah bi

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 45 — Di Balik Topeng Malam

    Petugas berseragam itu berdiri tepat di samping pintu mobil. Senyumnya tampak sopan, tetapi matanya terlalu dingin untuk seorang aparat yang sedang menjalankan pemeriksaan rutin."Silahkan turun, Tuan."Dimitri tidak segera bergerak. Ia justru menatap kartu identitas yang tergantung di dada pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya."Lencana yang bagus," katanya datar.Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih.""Tapi sayangnya..." Dimitri memiringkan kepala. "Nomor registrasinya sudah tidak digunakan sejak tiga tahun lalu."Senyum di wajah pria itu menghilang.Dalam hitungan detik, Dimitri membuka pintu mobil dengan tenang lalu berdiri. Zoey yang masih duduk di kursi belakang menahan napas.Keheningan menyelimuti jalan itu. Beberapa pria berseragam lain mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Dimitri."Kalau kalian ingin menggeledah mobilku," ujar Dimitri santai, "setidaknya gunakan identitas yang lebih meyakinkan."Suasana langsung berubah tegang.Namun, pria yang berdiri

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 44 — Bayangan yang Mengawasi

    Peringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 43 — Rencana Kedua

    Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 42 — Mata yang Terus Mengawasi

    Pesta amal itu terus berlangsung seolah tidak pernah terjadi apa pun.Alunan musik klasik mengisi aula megah, berpadu dengan dentingan gelas kristal dan tawa para tamu yang terdengar hangat. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer, menciptakan suasana elegan yang mampu menipu siapa saja.Zoey berusaha mempertahankan senyum tipis setiap kali berpapasan dengan tamu lain. Sesekali ia mengangguk sopan ketika seseorang menyapa Dimitri. Dari luar, ia tampak tenang.Padahal, jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Tanpa sadar, pandangannya kembali mencari satu sosok di antara kerumunan.Dominic Cassarius.Wanita itu kini berdiri bersama beberapa tokoh penting dunia bisnis. Ia tersenyum, mengangkat gelas wine, lalu tertawa pelan menanggapi lelucon salah satu tamu.Tak ada yang akan mengira bahwa di balik senyum ramah itu, pikirannya masih bekerja tanpa henti.Zoey yakin Dominic belum melupakan dirinya.Wanita itu sedang menyusun potongan-potonga

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 41 — Di Ambang Terbongkar

    "Lalu mengapa saya merasa matanya begitu... familiar?"Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah menyerap seluruh suara di dalam aula. Alunan musik klasik masih terdengar pelan, begitu pula percakapan para tamu yang kembali berlangsung di berbagai sudut ruangan. Namun, bagi Zoey, semuanya seakan lenyap. Yang tersisa hanyalah tatapan Dominic Cassarius yang tak pernah lepas darinya.Seluruh perhatian di meja itu kini tertuju kepada Dimitri.Pria yang malam itu dikenal sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan raut wajah. Ia tetap berdiri tegak dengan ekspresi tenang, seolah pertanyaan yang baru saja dilontarkan Dominic hanyalah percakapan ringan di sebuah pesta biasa.Senyum tipis terukir di sudut bibirnya."Barangkali karena Anda pernah bertemu dengan banyak orang yang memiliki sorot mata serupa," ucap Dimitri santai. "Mata adalah anugerah yang sulit dijadikan identitas."Jawaban itu terdengar ringan, tetapi cukup cerdas untuk menghindari penjelasan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status