로그인"...Berapa lama lagi aku harus hidup dengan pertanyaan yang tak pernah kau jawab, Dimitri?"Tidak ada jawaban.Yang terdengar hanyalah gema pintu yang baru saja tertutup, disusul langkah kaki Dimitri yang perlahan menghilang di sepanjang koridor rumah.Zoey tetap berdiri di tempat. Pandangannya terpaku pada pintu itu, seolah berharap pria tersebut akan kembali masuk dan mengatakan bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Namun harapan itu tak pernah terwujud.Dengan napas panjang, ia mengusap air mata yang masih membekas di pipinya. Kepalanya terasa penuh oleh begitu banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.Akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Suara air yang mengalir memenuhi ruangan, tetapi tidak mampu mengusir kekacauan di dalam pikirannya.Tiba-tiba sebuah kalimat kembali terngiang di telinganya."Lakukan peranmu dengan baik."Kalimat itu terdengar begitu jelas, seolah seseorang baru saja mengucapkannya tepat di samping telinganya.Zoey memejamkan ma
"Semalam kau pergi ke mana?" tanya Zoey pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari Dimitri. Ruangan itu seketika dipenuhi keheningan. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar, seolah ikut menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Dimitri, yang sedang merapikan lengan kemejanya di depan cermin, berhenti sesaat. Ia menoleh ke arah Zoey dengan ekspresi yang begitu tenang, setenang permukaan danau yang tak pernah memperlihatkan apa yang tersembunyi di dasar. "Keluar." Hanya satu kata. Jawaban singkat itu membuat Zoey menghembuskan napas panjang. "Itu bukan jawaban." "Itu jawaban." "Bukan jawaban yang kumaksud." Tanpa menunjukkan tanda-tanda terganggu, Dimitri mengambil jam tangan dari atas nakas. Ia memakainya dengan gerakan santai, seolah pertanyaan Zoey tidak lebih penting daripada rutinitas paginya. Zoey mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku bangun tengah malam," katanya lirih, namun jelas. "Ruang kerjamu kosong. Kau juga tidak ada di kamar." Dimitri tidak menyang
Suara air terus mengalir dari balik pintu kamar mandi.Zoey masih berdiri di tempat yang sama, seolah kakinya kehilangan kemampuan untuk bergerak. Tatapannya berulang kali berpindah antara pintu yang tertutup rapat itu dan beberapa tetes darah yang menghiasi lantai marmer putih di dekat kakinya."Siapa yang baru saja kau habisi, Dimitri Volkov?" gumamnya pelan sambil melirik ke arah pintu kamar mandi.Jemarinya mengepal tanpa sadar.Beberapa detik kemudian, suara air itu berhenti.Klik.Pintu kamar mandi terbuka.Dimitri melangkah keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Pria itu berjalan menuju wastafel tanpa mengatakan apa pun, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.Tatapan Zoey mengikuti setiap gerakannya. Hingga akhirnya Dimitri menoleh, dan mata mereka bertemu."Apa?" tanya Dimitri datar.Zoey tersentak kecil."Kenapa kau menatapku seperti itu?"Zoey segera mengalihkan pandangan, tetapi sudah terlambat. Dimitri jelas menyadari ekspresi aneh di wajahnya.Ia menggigit bibir
"Sedang apa kau?" Suara itu membuat tubuh Zoey menegang. Ia berbalik terlalu cepat dan mendapati Dimitri berdiri tidak jauh di belakangnya. Tatapan pria itu dipenuhi rasa ingin tahu—atau mungkin kecurigaan. "Aku..." Zoey memaksa dirinya untuk terlihat tenang. Pandangan matanya bergerak cepat mencari alasan. Lalu ia membungkuk dan mengambil sebuah jepit rambut yang tergeletak di lantai. "Aku mencari ini," katanya sambil mengangkat jepit rambut itu. "Ya, aku mencari ini." Senyumnya terasa kaku, bahkan di telinganya sendiri. Tanpa menunggu tanggapan, Zoey segera berjalan melewati Dimitri. Namun langkahnya terhenti saat suara pria itu kembali terdengar. "Zoey." Ia menoleh. "Apa kau sudah menerima map yang kutitipkan tadi?" Jantung Zoey berdetak sedikit lebih cepat. Perlahan ia berbalik hingga tatapan mereka bertemu. Zoey mengangguk pelan. "Sudah." "Dan?" Zoey menggenggam map hitam yang masih berada di tangannya sedikit lebih erat. "Kenapa ada foto diriku di dalamnya?" I
Dimitri ada disana, berdiri tidak jauh di belakangnya dan mengawasinya. Tiga bulan sebelum mereka pernah saling mengenal. Untuk beberapa detik, Zoey hanya mampu menatap foto itu tanpa bergerak. Mungkin ini sebuah kesalahan, mungkin seseorang telah memanipulasi tanggalnya, atau mungkin pria di dalam foto itu bukan Dimitri. Namun semakin lama ia menatap gambar tersebut, semakin mustahil baginya untuk menyangkal kenyataan yang terpampang di depan mata. Postur tubuh itu, setelan hitam yang selalu rapi, dan tatapan dingin yang seolah mampu menembus siapa pun yang berada di hadapannya. Tidak mungkin ia salah mengenalnya. "Itu dia..." Suara Zoey terdengar pelan. Seolah jika ia mengucapkannya lebih keras, semuanya akan berubah menjadi kenyataan yang tidak bisa lagi ia hindari. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membalik foto itu sekali lagi. Tatapannya jatuh pada tanggal yang tercetak di sudut kanan bawah. Ia memeriksanya sekali, dan hasilnya tetap sama. Tiga bulan sebelum pertemua
"Kau ingin membunuhku sekarang?"Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, Zoey langsung menyesalinya.Bukan karena ia tidak serius, justru karena sebagian dari dirinya benar-benar ingin mengetahui jawabannya.Udara malam berhembus pelan, menggerakkan helaian rambutnya. Namun keheningan yang muncul setelah pertanyaannya terasa jauh lebih dingin daripada angin yang menyentuh kulitnya.Dimitri tidak segera menjawab, pria itu hanya menatapnya.Tatapan tenang tanpa kemarahan, tanpa keterkejutan, tanpa penolakan. Dan entah kenapa, itu justru membuat Zoey semakin gelisah.Ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya, meski jemarinya tanpa sadar saling menggenggam di atas pangkuannya."Diam seperti itu tidak membuatmu terlihat tidak bersalah, tahu."Sebuah helaan napas pelan keluar dari bibir Dimitri sebelum pria itu mengalihkan pandangannya ke langit malam."Kalau aku memang ingin membunuhmu," ucapnya akhirnya dengan suara tenang, "aku tidak akan repot-repot menyelamatkanmu sejauh ini."Zoey







