ホーム / Mafia / Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia / EPISODE 6 — DARAH DAN RAHASIA

共有

EPISODE 6 — DARAH DAN RAHASIA

作者: Vyn
last update 公開日: 2026-06-25 18:33:31

Zoey duduk diam di kursinya, menatap jalanan malam yang melintas di balik jendela mobil. Suara mesin yang meraung pelan seharusnya terasa menenangkan, tetapi entah mengapa ketegangan di dalam mobil justru semakin menyesakkan.

Ia melirik Dimitri sekilas. Pria itu duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tampak lebih gelap dari biasanya.

Nama itu kembali muncul, Starling. Mendengar nama itu disebut beberapa saat lalu membuat perasaan Zoey tidak nyaman. Ia tidak tahu banyak tentang keluarga tersebut, tetapi dari cara Dimitri bereaksi, jelas bahwa mereka bukan sekadar musuh biasa.

Ponsel Andrian tiba-tiba bergetar. Zoey melihat pria itu memeriksa layar ponselnya sebelum ekspresinya berubah serius.

"Tuan..."

Dimitri langsung menoleh.

"Ada perkembangan."

Zoey tanpa sadar ikut menegakkan tubuh.

"Apa?" tanya Dimitri.

Andrian menelan ludah sebelum menjawab.

"Salah satu tim kita menemukan sesuatu di rumah sakit."

Tatapan Dimitri langsung berubah tajam.

"Sesuatu apa?"

"Rekaman CCTV yang sengaja dihapus."

Perut Zoey mendadak terasa tidak nyaman.

"Lalu?" tanya Dimitri.

Andrian mengangkat sebuah tablet.

"Sebelum dihapus, sistem sempat mengirim salinan otomatis ke server cadangan."

Jantung Zoey berdetak lebih cepat. Ia ikut memperhatikan layar saat Dimitri mengambil tablet tersebut.

Rekaman itu terlihat buram, seolah sengaja dirusak. Namun beberapa sosok berpakaian hitam masih dapat terlihat dengan jelas saat memasuki ruang jenazah.

Mata Zoey menyipit. Lalu napasnya tertahan. Salah satu pria dalam rekaman terlihat membedah tubuh Nikolai Volkov dan mengambil sesuatu dari dalam tubuh pria tua itu sebelum memasukkannya ke dalam sebuah kotak logam kecil.

Bulu kuduk Zoey meremang.

Sejak awal, ia sudah menduga bahwa pencurian jasad itu bukanlah tindakan biasa. Namun melihat bukti-buktinya secara langsung tetap membuat perutnya terasa mual.

"Apa yang mereka ambil?" gumam Andrian.

Zoey tidak tahu jawabannya.

Tetapi dari perubahan ekspresi Dimitri yang semakin dingin, ia yakin benda yang hilang itu pasti sangat penting.

Beberapa detik kemudian, Dimitri mematikan layar tabletnya.

"Pergi ke lokasi yang kukirim."

Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi.

Zoey melihat Andrian langsung mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.

"Baik, Tuan."

Mobil segera berbelok ke arah lain.

Tanpa sadar, Zoey kembali melirik Dimitri. Wajah pria itu tampak jauh lebih tegang dibanding sebelumnya. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat di atas paha.

"Mereka harus membayar semuanya."

Suara Dimitri memecah keheningan di dalam mobil.

Zoey menoleh.

Pria itu sedang menatap keluar jendela, matanya gelap dan sulit ditebak.

"Kematian orang tuaku."

Ia berhenti sejenak.

"Dan sekarang kakekku."

Hawa dingin seolah menjalar di sepanjang punggung Zoey.

"Akan kubuat mereka menyesal seumur hidup karena telah menyentuh keluargaku."

Tidak ada yang berani menanggapi.

Dan Zoey benar-benar memahami betapa berbahayanya Dimitri Volkov ketika seseorang berani menyentuh orang-orang yang ia sayangi.

Beberapa jam kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gedung tua.

Zoey mengernyit.

Dari luar, bangunan itu tampak kosong dan tidak terurus. Cat dindingnya kusam, sementara gerbang besinya terlihat tua dan berkarat.

Namun ketika gerbang besi raksasa itu perlahan terbuka dengan sendirinya, rasa penasaran Zoey langsung terusik.

Mobil memasuki area yang luas.

Mata Zoey membesar.

Di balik tampilan luarnya yang suram, hamparan taman yang tertata rapi membentang di sepanjang jalan. Air mancur besar berdiri megah di tengah halaman, diterangi cahaya lampu temaram yang membuat tempat itu terlihat seperti istana yang tersembunyi dari dunia luar.

“Bagaimana mungkin ada tempat seindah ini?”

Zoey menatap ke luar jendela tanpa berkedip. Dari luar, bangunan itu terlihat mati dan terlupakan.

Namun di dalamnya, semuanya justru hidup, mewah, dan menakjubkan.

Tidak ada yang menjelaskan apa pun kepadanya. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama mansion.

Zoey baru saja hendak membuka pintu ketika suara Dimitri terdengar dari sampingnya.

"Bersihkan dirimu, Zoey."

Ia langsung menoleh ke arah pria itu.

Dimitri berdiri di samping mobil dengan ekspresi yang masih sulit dibaca.

"Pelayan akan membantumu."

Zoey mengangguk. "Baik."

Mereka berjalan memasuki mansion. Begitu pintu utama terbuka, beberapa pelayan langsung membungkukkan badan.

"Selamat malam, Tuan Muda."

Zoey sedikit terkejut melihat cara mereka menyambut Dimitri. Semua orang tampak begitu hormat sekaligus berhati-hati di hadapannya.

Seorang wanita paruh baya melangkah maju.

Dimitri hanya mengangkat tangan singkat.

"Bawa Zoey ke kamar."

"Baik, Tuan Muda."

Wanita itu lalu beralih kepadanya.

"Mari, Nyonya."

Zoey berkedip.

“Nyonya?”

Ia hampir mengoreksi panggilan itu, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Dengan canggung, ia mengikuti wanita tersebut menaiki tangga besar menuju lantai dua.

Semakin jauh ia berjalan, semakin kagum pula dirinya. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit tinggi.

Lukisan-lukisan kuno menghiasi dinding. Setiap sudut mansion memancarkan kemewahan yang sulit dibayangkan.

Namun anehnya, tempat ini terasa dingin. Sama seperti pemiliknya.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Wanita itu membukanya perlahan.

"Silakan, Nyonya."

Zoey melangkah masuk.

Lalu langsung terdiam, matanya membesar. Ruangan itu bahkan lebih besar daripada apartemen yang pernah ia tinggali.

Tempat tidur berukuran king-size berdiri megah di tengah ruangan. Perapian marmer menghiasi salah satu sisi dinding. Jendela-jendela tinggi memperlihatkan taman yang diterangi cahaya bulan.

"Ini kamar Tuan Muda," jelas wanita itu.

Zoey menoleh cepat.

"Kamar Dimitri?"

"Benar, Nyonya."

Jantung Zoey berdetak aneh.

Ia kembali menatap ruangan itu.

Mengapa Dimitri menyuruhnya tinggal di kamar pribadinya?

"Terima kasih," ucapnya akhirnya.

Wanita itu tersenyum tipis.

"Jika Anda membutuhkan sesuatu, tekan bel di samping ranjang."

Zoey mengangguk.

"Baik."

"Selamat beristirahat, Nyonya."

Setelah itu wanita tersebut menutup pintu perlahan dari luar.

Klik.

Ruangan itu langsung sunyi.

Zoey berdiri sendirian di tengah kamar yang terlalu besar untuk satu orang.

Matanya menyapu setiap sudut ruangan.

Entah mengapa, berada di kamar Dimitri membuatnya merasa sedikit canggung.

Zoey menghembuskan napas panjang sebelum berjalan perlahan ke arah jendela. Di luar, cahaya bulan menerangi taman yang luas. Namun alih-alih merasa tenang, perasaannya justru semakin gelisah.

Karena hari ini ia mulai menyadari bahwa pria itu menyimpan jauh lebih banyak rahasia daripada yang pernah ia bayangkan.

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    BAB 8 — JEJAK YANG TERSEMBUNYI

    Zoey mengira malam itu akan menjadi malam pertama yang tenang sejak semua kekacauan dimulai. Ia salah. Suara air dari shower memang berhasil meredam sebagian isi kepalanya, tetapi tidak mampu menghapus kegelisahan yang terus menghantuinya. Bayangan rekaman CCTV, jasad Nikolai Volkov, dan kemarahan Dimitri masih berputar tanpa henti di benaknya. Ketika akhirnya ia keluar dari kamar mandi, uap hangat masih menempel di kulitnya. Namun langkahnya langsung terhenti—kamar itu kosong, Dimitri sudah tidak ada di sana. Di atas wastafel telah terlipat rapi beberapa pakaian baru, persis seperti yang dijanjikannya. Namun bukan pakaian itu yang menarik perhatian Zoey. Melainkan sebuah map hitam yang tergeletak diatas meja dekat ranjang. Map yang sebelumnya tidak ada. Dan entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa ia seharusnya tidak membukanya. Setelah mengenakan pakaian barunya, Zoey memutuskan turun ke lantai dasar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, berharap menemukan sosok Dimitri. Na

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    EPISODE 7 — BAYANGAN DI BALIK WARISAN

    Zoey masih berdiri diam di tengah kamar Dimitri Volkov. Matanya menyapu seluruh ruangan sekali lagi. Setiap sudut kamar itu mencerminkan pemiliknya—mewah, rapi, dan nyaris tanpa kehangatan. Seolah tidak pernah ada tempat bagi kelemahan dalam kehidupan Dimitri Volkov. Zoey perlahan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman mansion. Cahaya bulan memantul di kaca, memperlihatkan bayangan wajahnya sendiri. Lelah, tegang, dan dipenuhi terlalu banyak pertanyaan. Ingatannya kembali pada rekaman CCTV yang mereka lihat beberapa jam lalu. Tubuh Nikolai Volkov, pria-pria bertopeng, dan benda misterius yang diambil dari dalam jasad pria tua itu. Sesuatu yang bahkan membuat Dimitri kehilangan kendali atas emosinya. Zoey mengepalkan tangannya perlahan. "Apa sebenarnya yang mereka cari?" gumamnya pelan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun semua kepingan yang selama ini berceceran di kepalanya. Kematian kedua orang tuanya, kematian Nikolai Volkov, dan sekarang benda mi

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    EPISODE 6 — DARAH DAN RAHASIA

    Zoey duduk diam di kursinya, menatap jalanan malam yang melintas di balik jendela mobil. Suara mesin yang meraung pelan seharusnya terasa menenangkan, tetapi entah mengapa ketegangan di dalam mobil justru semakin menyesakkan.Ia melirik Dimitri sekilas. Pria itu duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tampak lebih gelap dari biasanya.Nama itu kembali muncul, Starling. Mendengar nama itu disebut beberapa saat lalu membuat perasaan Zoey tidak nyaman. Ia tidak tahu banyak tentang keluarga tersebut, tetapi dari cara Dimitri bereaksi, jelas bahwa mereka bukan sekadar musuh biasa.Ponsel Andrian tiba-tiba bergetar. Zoey melihat pria itu memeriksa layar ponselnya sebelum ekspresinya berubah serius."Tuan..."Dimitri langsung menoleh."Ada perkembangan."Zoey tanpa sadar ikut menegakkan tubuh."Apa?" tanya Dimitri.Andrian menelan ludah sebelum menjawab."Salah satu tim kita menemukan sesuatu di rumah sakit."Tatapan Dimitri langsung berubah taj

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    EPISODE 5 WAJAH DI BALIK KETENANGAN

    Lorong bawah tanah itu panjang dan dingin. Zoey berjalan di belakang Andrian tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara langkah sepatu mereka menggema pelan di sepanjang dinding beton. “Ruangan ini aman untuk sementara, Nyonya,” ucap Andrian saat berhenti di depan pintu besi. Klik. Pintu terbuka. Zoey masuk lebih dulu. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan. Tidak ada jendela. Satu pintu masuk. Satu kamera di sudut atas. “Tak ada yang boleh masuk tanpa izin Tuan Dimitri,” lanjut Andrian. Zoey meliriknya pelan. “Termasuk kau?” “Kalau diperintahkan, saya tetap masuk.” Zoey tersenyum kecil. “Setidaknya kau jujur.” Andrian hanya menunduk singkat sebelum keluar. BRAK. Pintu tertutup. Ruangan langsung sunyi. Zoey berjalan mendekati meja kecil di sudut ruangan sambil mengingat kembali kekacauan tadi. Serangan itu terlalu rapi. Target mereka jelas. Dimitri. Zoey memejamkan mata sesaat. “Starling...” bisiknya lirih. Nama itu selalu kembali. Namun sebelum

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    EPISODE 4 AWAL DARI SEGALANYA

    Zoey berdiri di depan jendela kamarnya. Ucapan Dimitri masih menggema di telinganya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Wajah yang terlihat tenang itu tidak mampu menyembunyikan kekacauan yang berputar di dalam pikirannya. Besok adalah hari yang selama ini ia tunggu—yang akan membawanya lebih dekat kepada tujuan yang selama bertahun-tahun menjadi alasan ia bertahan hidup. Zoey memejamkan mata. Bayangan api kembali muncul. Jeritan, asap, dan wajah kedua orang tuanya. Jarinya mengepal. "Mereka harus membayarnya," bisiknya lirih. Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Zoey berdiri di depan cermin besar. Gaun putih tergantung rapi di dekatnya. Hari ini ia akan menikah. Bukan karena cinta atau takdir. Melainkan karena kebutuhan. Ia menatap foto keluarga kecilnya yang telah lama hancur. Tatapannya melembut sesaat. "Ayah... Ibu..." gumamnya pelan. "Ini baru permulaan." Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. "Nyonya, semuanya sudah siap." Zoey menarik napas panjang sebelu

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    EPISODE 3 RASA YANG TIDAK DIIZINKAN

    Hari ini untuk pertama kalinya sejak datang ke kota ini, Zoey memasuki dunia para penguasa. Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gedung megah yang dipenuhi cahaya. Zoey turun perlahan. Tatapannya menyapu bangunan di hadapannya. Megah. Mewah. Dan berbahaya. "Apa ini?" tanyanya. "Lelang." Zoey menoleh ke arah Dimitri. "Lelang biasa?" Pria itu tersenyum tipis. "Tidak ada yang biasa di dunia tempatku hidup." Jawaban itu tidak membuat Zoey lebih tenang. Justru sebaliknya. Ia mengikuti Dimitri memasuki gedung. Begitu pintu terbuka, puluhan pasang mata langsung beralih kepada mereka. Atau lebih tepatnya... Kepada Dimitri. Tatapan hormat. Takut. Waspada. "Jangan jauh dariku." Suara Dimitri membuatnya menoleh. "Aku tidak akan tersesat." "Bukan itu yang ku khawatirkan." Pria itu sedikit mendekat. "Karena di tempat seperti ini, yang berbahaya bukan arah." Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Tapi manusia." Kalimat itu membuat bulu kuduk Zoey meremang. Mereka duduk di

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status