LOGINHari ini untuk pertama kalinya sejak datang ke kota ini, Zoey memasuki dunia para penguasa. Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gedung megah yang dipenuhi cahaya. Zoey turun perlahan. Tatapannya menyapu bangunan di hadapannya. Megah. Mewah. Dan berbahaya.
"Apa ini?" tanyanya. "Lelang." Zoey menoleh ke arah Dimitri. "Lelang biasa?" Pria itu tersenyum tipis. "Tidak ada yang biasa di dunia tempatku hidup." Jawaban itu tidak membuat Zoey lebih tenang. Justru sebaliknya. Ia mengikuti Dimitri memasuki gedung. Begitu pintu terbuka, puluhan pasang mata langsung beralih kepada mereka. Atau lebih tepatnya... Kepada Dimitri. Tatapan hormat. Takut. Waspada. "Jangan jauh dariku." Suara Dimitri membuatnya menoleh. "Aku tidak akan tersesat." "Bukan itu yang ku khawatirkan." Pria itu sedikit mendekat. "Karena di tempat seperti ini, yang berbahaya bukan arah." Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Tapi manusia." Kalimat itu membuat bulu kuduk Zoey meremang. Mereka duduk di barisan depan. Zoey bisa merasakan ketegangan, persaingan, dan keserakahan. "Selamat datang di lelang aset Northvale Group." Tubuh Zoey langsung menegang. Northvale. Nama itu tidak asing. Ia pernah melihatnya dalam dokumen milik ayahnya. "Kau kenal nama itu?" Zoey tersadar Dimitri sedang memperhatikannya. Ia segera menggeleng. "Pernah mendengarnya." Tatapan pria itu bertahan beberapa detik lebih lama. Mencari sesuatu. Untungnya, ia tidak melanjutkan. Lelang dimulai. Angka-angka melonjak cepat. Ratusan miliar berpindah tangan seolah tidak berarti apa-apa. Zoey mulai memahami. Ini bukan tentang aset, melainkan kekuasaan. Sampai sebuah suara terdengar. "Lima ratus miliar." Ruangan mendadak hening. Zoey menoleh. Seorang pria berdiri dari kursinya. Tinggi. Tampan. Dan terlalu percaya diri. Pria itu berjalan santai ke tengah ruangan. Seolah seluruh tempat ini miliknya. "Ken Starling." Nama itu membuat darah Zoey seolah berhenti mengalir. Starling. Nama yang selama bertahun-tahun menghantui hidupnya. Jemarinya mengencang di atas pangkuan, tetapi wajahnya tetap tenang. "Kau mengenalnya?" tanya Dimitri rendah. Zoey menoleh. Pria itu sedang mengamatinya tajam. Ia segera menggeleng. "Tidak. Aku hanya pernah mendengar nama keluarganya." Dimitri tidak langsung menjawab. Tatapannya bertahan beberapa detik, seolah mencari kebohongan di wajahnya. Namun Zoey membalas tatapan itu dengan tenang, tidak memberi celah sedikit pun. Ken berjalan mendekat. Tatapannya langsung berhenti pada Zoey. Senyumnya membuat Zoey tidak nyaman. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya." Zoey membalas tatapannya tanpa ragu. "Dan aku tidak pernah merasa perlu dikenal oleh orang asing." Beberapa orang yang mendengar percakapan itu hampir tersenyum. Ken justru tertawa. "Menarik." Tatapannya belum berpindah, Zoey tidak menyukainya. Tangannya menyentuh lengan Zoey. Ia bisa merasakannya Dimitri sedang marah. "Lelang akan dilanjutkan." Suara pembawa acara kembali terdengar. Namun ketegangan itu tidak hilang. "Sembilan ratus miliar." Suara Dimitri menggema di seluruh ruangan. Semua orang langsung menoleh. Zoey ikut terkejut. Angka itu terlalu besar. Bahkan bagi orang-orang kaya yang hadir di sana. Ken tersenyum tipis. Tidak marah, tidak terkejut. Seolah memahami sesuatu yang tidak dipahami orang lain. "Terjual." Palu diketuk. Lelang berakhir. Namun insting Zoey mengatakan sesuatu. Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Lampu kota berlalu di balik jendela mobil. Zoey memandangi jalanan tanpa benar-benar melihatnya. "Kau terlalu banyak berpikir." Suara Dimitri memecah lamunannya. Zoey menoleh. Pria itu sedang menatap lurus ke depan. Seolah tidak memperhatikannya. Namun Zoey tahu Dimitri selalu memperhatikan. "Jauhi Ken Starling." Zoey mengangkat alis. "Itu perintah?" "Itu nasihat." Ucap Dimitri penuh penekanan. "Apa bedanya?" Dimitri menoleh. Tatapan gelapnya bertemu dengan mata Zoey. "Nasihatku biasanya terdengar seperti perintah." Zoey tidak menjawab. Namun peringatan itu tersimpan di kepalanya. Karena jika Dimitri membenci Ken Starling sebesar itu, maka keluarga Starling memang menyembunyikan sesuatu. Zoey kembali ke kamarnya. Ia mengeluarkan foto lama yang selama ini selalu disimpan. Foto keluarganya. Jemarinya menyentuh wajah kedua orang tuanya. "Aku semakin dekat," bisiknya lirih. "Sangat dekat." Zoey sedang duduk di kamarnya ketika terdengar langkah kaki berhenti tepat di depan pintu. Ia mengernyit. Sudah larut malam, tidak ada alasan untuk menemuinya. Ia berdiri dan membuka pintu, Dimitri berdiri di hadapannya Pria itu tidak mengatakan apa pun. Hanya menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tatapan itu membuat Zoey merasa tidak nyaman. "Ada apa?" tanyanya pelan. Dimitri tetap diam. Tanpa menunggu undangan, pria itu melangkah masuk ke dalam kamar. Zoey refleks mundur beberapa langkah. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Kali ini pria itu akhirnya berbicara. "Besok kita menikah." Zoey membeku. "Aku tidak suka orang lain menyentuhmu," lanjut pria itu tenang. "Apalagi dia." Zoey tahu siapa yang dimaksud. Ken Starling. "Itu bukan sesuatu yang bisa ku kendalikan," jawabnya. "Benar." Dimitri mengangguk pelan. "Tapi dia tetap melakukannya." Sebelum Zoey sempat merespons, Dimitri meraih pergelangan tangannya. Tatapannya turun ke bekas sentuhan yang masih diingatnya. "Dimitri, itu hanya…” Pria itu menggigit pelan kulitnya. “Ah...” Zoey tersentak. Dimitri menatapnya. “Aku tidak suka.” Jari-jarinya masih melingkari pergelangannya. Zoey menggigit bibir bawahnya. Menahan sesuatu. Napasnya tidak stabil. Membuat Dimtiri semakin kehilangan kendali. Bibirnya perlahan menyentuh cuping telinga Zoey. Mengigit ringan. Tangan Dimtiri turun, menyusuri punggungnya yang terbuka “Ah...” Suara itu akhirnya lolos. Dimitri berhenti sejenak. Menatapnya. Rencananya yang ingin membuat Zoey goyah, justru berbalik menyerangnya. “Aku akan sedikit kasar malam ini,” bisiknya rendah. Tatapan Dimtiri mengunci matanya “Anggap saja ini hukuman.” Dimitri menariknya lebih dekat, nyaris tanpa jarak. “Karena kau membiarkan pria lain menyentuh...apa yang menjadi milikku.” Zoey terdiam. Napasnya tertahan, mata mereka bertemu. "Aku bukan barang yang bisa dimiliki seenaknya, Dimitri," kata Zoey akhirnya. Tatapan Dimitri mengeras sesaat. Lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Kalau begitu...." Suaranya semakin rendah, hampir berbisik ke bibirnya, “...hari ini kau sudah ku jadikan milikku sepenuhnya.” Dimitri menyentuh setiap bagian tubuh Zoey...perlahan, seolah memastikan ia benar-benar berada dalam kendalinya. Malam ini... Gadis itu terlalu responsif. Dan Dimitri tidak berniat menghentikannya. Zoey mencengkram lengannya, seolah menahan sesuatu....ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dimitri mendekat ke telinganya, “Kau yang memulainya...” suaranya terdengar rendah. Bisikan itu membuat tubuh gadis itu kembali menegang. Ia mendekat ke telinga gadis itu. " Ini bukan tentang perasaan," menatap tajam Zoey “tapi tentang memiliki.” Dimitri menarik napas pelan. “Dan memastikan..” lanjutnya, suaranya hampir seperti peringatan. “Kau tetap di tempatmu.” Mata mereka bertemu. “Di sisiku “ Zoey tidak menjawab. Dimitri memejamkan mata sejenak, lalu berbisik "Mulai besok, seluruh dunia akan mengenalmu sebagai istriku." Kalimat itu menggantung di udara. Membuat jantung Zoey berdetak lebih cepat. "Jadi lakukan peranmu dengan baik." "Peran?" ulang Zoey. Dimitri menatapnya beberapa saat sebelum menjawab. "Untuk sekarang, itu sudah cukup." Ia berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti. "Jangan lupa satu hal." Zoey mengangkat kepala. "Di dunia tempat kau berdiri besok, tidak ada tempat untuk kelemahan." ***Pintu rumah perlahan terbuka bahkan sebelum Dimitri sempat mengetuk.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam pisau. Tatapannya langsung jatuh pada Dimitri."Kau terlambat.""Jalanan sedikit ramai," jawab Dimitri tenang.Pria tua itu mendengus pelan. "Kalau masih bisa bercanda, berarti keadaanmu belum terlalu buruk."Barulah pandangannya beralih kepada Zoey."Jadi... ini gadis yang kau bawa."Zoey sedikit gugup. "Saya Zoey."Pria itu mengangguk singkat. "Masuklah. Berdiri di luar terlalu lama bukan ide yang bagus."Rumah itu tampak sederhana dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh berbeda. Dinding dipenuhi rak buku tua. Beberapa monitor keamanan menampilkan gambar dari kamera yang terpasang di berbagai sudut halaman. Tak jauh dari ruang tamu terdapat sebuah ruangan dengan peralatan komunikasi dan komputer yang masih menyala.Zoey memperhatikan semuanya dengan heran. "Tempat ini...""Bukan rumah bi
Petugas berseragam itu berdiri tepat di samping pintu mobil. Senyumnya tampak sopan, tetapi matanya terlalu dingin untuk seorang aparat yang sedang menjalankan pemeriksaan rutin."Silahkan turun, Tuan."Dimitri tidak segera bergerak. Ia justru menatap kartu identitas yang tergantung di dada pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya."Lencana yang bagus," katanya datar.Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih.""Tapi sayangnya..." Dimitri memiringkan kepala. "Nomor registrasinya sudah tidak digunakan sejak tiga tahun lalu."Senyum di wajah pria itu menghilang.Dalam hitungan detik, Dimitri membuka pintu mobil dengan tenang lalu berdiri. Zoey yang masih duduk di kursi belakang menahan napas.Keheningan menyelimuti jalan itu. Beberapa pria berseragam lain mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Dimitri."Kalau kalian ingin menggeledah mobilku," ujar Dimitri santai, "setidaknya gunakan identitas yang lebih meyakinkan."Suasana langsung berubah tegang.Namun, pria yang berdiri
Peringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena
Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul
Pesta amal itu terus berlangsung seolah tidak pernah terjadi apa pun.Alunan musik klasik mengisi aula megah, berpadu dengan dentingan gelas kristal dan tawa para tamu yang terdengar hangat. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer, menciptakan suasana elegan yang mampu menipu siapa saja.Zoey berusaha mempertahankan senyum tipis setiap kali berpapasan dengan tamu lain. Sesekali ia mengangguk sopan ketika seseorang menyapa Dimitri. Dari luar, ia tampak tenang.Padahal, jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Tanpa sadar, pandangannya kembali mencari satu sosok di antara kerumunan.Dominic Cassarius.Wanita itu kini berdiri bersama beberapa tokoh penting dunia bisnis. Ia tersenyum, mengangkat gelas wine, lalu tertawa pelan menanggapi lelucon salah satu tamu.Tak ada yang akan mengira bahwa di balik senyum ramah itu, pikirannya masih bekerja tanpa henti.Zoey yakin Dominic belum melupakan dirinya.Wanita itu sedang menyusun potongan-potonga
"Lalu mengapa saya merasa matanya begitu... familiar?"Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah menyerap seluruh suara di dalam aula. Alunan musik klasik masih terdengar pelan, begitu pula percakapan para tamu yang kembali berlangsung di berbagai sudut ruangan. Namun, bagi Zoey, semuanya seakan lenyap. Yang tersisa hanyalah tatapan Dominic Cassarius yang tak pernah lepas darinya.Seluruh perhatian di meja itu kini tertuju kepada Dimitri.Pria yang malam itu dikenal sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan raut wajah. Ia tetap berdiri tegak dengan ekspresi tenang, seolah pertanyaan yang baru saja dilontarkan Dominic hanyalah percakapan ringan di sebuah pesta biasa.Senyum tipis terukir di sudut bibirnya."Barangkali karena Anda pernah bertemu dengan banyak orang yang memiliki sorot mata serupa," ucap Dimitri santai. "Mata adalah anugerah yang sulit dijadikan identitas."Jawaban itu terdengar ringan, tetapi cukup cerdas untuk menghindari penjelasan







