LOGINZoey berdiri di depan jendela kamarnya.
Ucapan Dimitri masih menggema di telinganya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Wajah yang terlihat tenang itu tidak mampu menyembunyikan kekacauan yang berputar di dalam pikirannya. Besok adalah hari yang selama ini ia tunggu—yang akan membawanya lebih dekat kepada tujuan yang selama bertahun-tahun menjadi alasan ia bertahan hidup. Zoey memejamkan mata. Bayangan api kembali muncul. Jeritan, asap, dan wajah kedua orang tuanya. Jarinya mengepal. "Mereka harus membayarnya," bisiknya lirih. Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Zoey berdiri di depan cermin besar. Gaun putih tergantung rapi di dekatnya. Hari ini ia akan menikah. Bukan karena cinta atau takdir. Melainkan karena kebutuhan. Ia menatap foto keluarga kecilnya yang telah lama hancur. Tatapannya melembut sesaat. "Ayah... Ibu..." gumamnya pelan. "Ini baru permulaan." Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. "Nyonya, semuanya sudah siap." Zoey menarik napas panjang sebelum meletakkan foto itu kembali ke tempatnya. Gedung pernikahan telah dipenuhi dekorasi mewah. Bunga putih memenuhi setiap sudut ruangan. Lampu kristal memantulkan cahaya hangat. Semua terlihat sempurna. Zoey berdiri di balik pintu besar yang akan membawanya memasuki aula utama. Di balik sana, puluhan pasang mata sedang menunggu. Dan salah satunya adalah Dimitri. Saat musik mulai terdengar, pintu perlahan terbuka. Seluruh ruangan menoleh. Zoey melangkah masuk. Gaun putih yang dikenakannya menjuntai elegan mengikuti setiap langkahnya. Namun jauh di balik ketenangan itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.Tatapannya segera menemukan Dimitri. Pria itu berdiri di depan altar. Wajahnya tenang – tanpa ekspresi seperti biasanya. Mata mereka bertemu. Namun anehnya, Zoey merasa sedikit lebih tenang. Ia berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Dimitri. Pendeta mulai berbicara. Namun kata-kata itu terdengar jauh. Karena perhatian Zoey tertuju pada pria di depannya. Pria yang kini menjadi bagian dari rencananya. Dan mungkin juga ancaman terbesar bagi dirinya. "Apa Anda, Dimitri Volkov, bersedia menjadi suami Zoey?" "Aku bersedia." Jawaban itu keluar tanpa keraguan. Pendeta lalu beralih padanya. "Dan Anda, Zoey, apakah bersedia menjadi istri Dimitri?" Tidak ada jawaban. Seisi ruangan menunggu. Tatapan Dimitri terasa menekan. Seolah mengingatkannya bahwa tidak ada jalan mundur lagi. Senyuman tipis muncul di bibir Zoey. "Aku bersedia." Cincin berpindah tangan. Dingin logam itu terasa nyata di jarinya. Saat Dimitri menggenggam tangannya sedikit lebih erat dari seharusnya, Zoey mengangkat pandangan. "Sekarang kau tidak punya pilihan," bisik pria itu. Zoey menahan senyum. Lalu membalas dengan suara yang sama pelannya. "Kau yakin itu aku?" Hari ini pertama kalinya mata Dimitri tampak sedikit berubah. Dan Zoey menyukai reaksi itu. Tepuk tangan terdengar, dan semua itu palsu. Zoey bisa melihatnya dengan jelas. Tatapan penuh kepentingan. Senyuman penuh kepura-puraan. Dan ambisi yang disembunyikan di balik wajah-wajah ramah. "Sudah mulai lelah?" Suara Dimitri terdengar di sampingnya. Zoey menoleh. "Tidak." Pria itu hanya mengangguk. Tak lama kemudian suara MC menggema. "Sekarang saatnya dansa pertama pasangan pengantin." Dimitri mengulurkan tangan. "Berdansalah denganku." Zoey menerima. Musik mulai mengalun. Mereka bergerak perlahan di tengah aula. Dari luar, mereka terlihat seperti pasangan sempurna. Namun hanya mereka yang tahu kenyataan sesungguhnya. Ini bukan kisah cinta, melainkan kesepakatan. "Nikmati hari ini," bisik Dimitri. "Ini panggungmu." Zoey menatapnya. Lalu pria itu menambahkan, "Dan juga milikku." Sesuatu dalam nada suaranya membuat Zoey waspada. Instingnya langsung bekerja. Ada sesuatu yang salah. Dan beberapa detik kemudian... Suara tembakan memecahkan seluruh ruangan. Kaca pecah. Jeritan terdengar dari segala arah. Tubuh Zoey langsung ditarik ke belakang Dimitri. "Jangan bergerak." Perintah itu terdengar dingin dan mutlak. Zoey tidak melawan. Ia tahu ini bukan saatnya membantah. Tembakan kedua menyusul. Lampu kristal di atas mereka pecah berkeping-keping. Orang-orang berlarian panik. “Lindungi Tuan dan Nyonya!” Suara Andrian menggema di seluruh ballroom yang kini berubah menjadi medan kekacauan. Para pengawal bergerak cepat, membentuk formasi perlindungan. Namun Dimitri langsung menyadari sesuatu yang tidak beres. Ini bukan serangan biasa. Targetnya sangat jelas. Dirinya. Dimitri mengangkat pandangan ke arah balkon tempat tembakan pertama berasal. Kosong. Rahangnya mengeras. “Terlambat.” Ucapnya kasar Tanpa membuang waktu, Dimitri segera meraih pergelangan tangan Zoey dan menarik wanita itu menuju pilar marmer besar di sisi ruangan...satu-satunya perlindungan yang cukup kokoh untuk menahan rentetan peluru. Tubuh Zoey sedikit tersandung sebelum berhasil menyeimbangkan diri. Napasnya terdengar tidak beraturan. Lebih cepat dari biasanya. Dimitri memperhatikannya dari sudut mata. “Kau terkejut?” tanyanya pelan. Zoey terdiam beberapa detik. “Sedikit...” jawabnya lirih. Suaranya bergetar. Dimitri menoleh. malam itu, ketenangan yang biasanya selalu menghiasi wajah Zoey mulai retak. Ada sesuatu di matanya. Ketakutan. Atau mungkin sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa takut. Jari-jari Zoey tanpa sadar mencengkeram lengan Dimitri. Erat. Seolah hanya pria itu yang bisa membuatnya tetap berdiri di tengah kekacauan ini. “Takut?” tanya Dimitri lagi. Zoey mengangguk pelan. “I-ini bukan sekadar percobaan pembunuhan...” bisiknya. Dimitri tidak menjawab. Otaknya bekerja cepat. Menganalisis setiap kemungkinan. Dan ia tahu Zoey benar. Jika ini hanya upaya pembunuhan biasa, mereka tidak akan menyerang saat seluruh keluarga utama berkumpul. Mereka tidak akan mengambil risiko sebesar ini. Ini lebih dari itu. Ini kudeta. Atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Tatapan Dimitri berubah dingin. “Bawa Zoey keluar dari sini.” Perintahnya membuat Andrian yang berada tak jauh langsung bergerak mendekat. “Tuan, tapi...” Andrian langsung terdiam saat tatapan Dimitri menancap padanya. Tajam. Dingin. Tidak memberi ruang untuk perdebatan. “Ini bukan permintaan.” Katanya tegas. Andrian menundukkan kepala. “Baik, Tuan.” Dimitri lalu mengalihkan pandangannya kepada Zoey. Untuk sesaat, sorot matanya sedikit melunak. Namun hanya sesaat. “Kau harus pergi.” Ucapnya. Zoey menatapnya. “Aku bisa membantu.” “Tidak.” Jawaban itu datang terlalu cepat. Terlalu tegas. “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Zoey mencoba bernegosiasi.. Dimitri menarik napas pendek. Lalu mengucapkan kalimat yang bahkan dirinya sendiri benci untuk mengatakannya. “Kau hanya akan menjadi kelemahan jika tetap di sini.” Hening. Kalimat itu menggantung di antara mereka seperti pisau tajam. Zoey tidak langsung menjawab. Genggamannya pada lengan Dimitri perlahan melemah. Sorot matanya berubah. Bukan marah. Bukan kecewa. Melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Seolah ada bagian dari dirinya yang baru saja dihancurkan. Perlahan, ia melepaskan tangannya. Tanpa berkata apa pun. Tanpa membantah. Tanpa memohon. Ia hanya berbalik. Mengikuti Andrian. Langkahnya tetap tegap. “Siapapun yang melakukan ini...” Suaranya rendah. “Akan kubuat menyesal pernah dilahirkan.” ***"Sedang apa kau?" Suara itu membuat tubuh Zoey menegang. Ia berbalik terlalu cepat dan mendapati Dimitri berdiri tidak jauh di belakangnya. Tatapan pria itu dipenuhi rasa ingin tahu—atau mungkin kecurigaan. "Aku..." Zoey memaksa dirinya untuk terlihat tenang. Pandangan matanya bergerak cepat mencari alasan. Lalu ia membungkuk dan mengambil sebuah jepit rambut yang tergeletak di lantai. "Aku mencari ini," katanya sambil mengangkat jepit rambut itu. "Ya, aku mencari ini." Senyumnya terasa kaku, bahkan di telinganya sendiri. Tanpa menunggu tanggapan, Zoey segera berjalan melewati Dimitri. Namun langkahnya terhenti saat suara pria itu kembali terdengar. "Zoey." Ia menoleh. "Apa kau sudah menerima map yang kutitipkan tadi?" Jantung Zoey berdetak sedikit lebih cepat. Perlahan ia berbalik hingga tatapan mereka bertemu. Zoey mengangguk pelan. "Sudah." "Dan?" Zoey menggenggam map hitam yang masih berada di tangannya sedikit lebih erat. "Kenapa ada foto diriku di dalamnya?" I
Dimitri ada disana, berdiri tidak jauh di belakangnya dan mengawasinya. Tiga bulan sebelum mereka pernah saling mengenal. Untuk beberapa detik, Zoey hanya mampu menatap foto itu tanpa bergerak. Mungkin ini sebuah kesalahan, mungkin seseorang telah memanipulasi tanggalnya, atau mungkin pria di dalam foto itu bukan Dimitri. Namun semakin lama ia menatap gambar tersebut, semakin mustahil baginya untuk menyangkal kenyataan yang terpampang di depan mata. Postur tubuh itu, setelan hitam yang selalu rapi, dan tatapan dingin yang seolah mampu menembus siapa pun yang berada di hadapannya. Tidak mungkin ia salah mengenalnya. "Itu dia..." Suara Zoey terdengar pelan. Seolah jika ia mengucapkannya lebih keras, semuanya akan berubah menjadi kenyataan yang tidak bisa lagi ia hindari. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membalik foto itu sekali lagi. Tatapannya jatuh pada tanggal yang tercetak di sudut kanan bawah. Ia memeriksanya sekali, dan hasilnya tetap sama. Tiga bulan sebelum pertemua
"Kau ingin membunuhku sekarang?"Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, Zoey langsung menyesalinya.Bukan karena ia tidak serius, justru karena sebagian dari dirinya benar-benar ingin mengetahui jawabannya.Udara malam berhembus pelan, menggerakkan helaian rambutnya. Namun keheningan yang muncul setelah pertanyaannya terasa jauh lebih dingin daripada angin yang menyentuh kulitnya.Dimitri tidak segera menjawab, pria itu hanya menatapnya.Tatapan tenang tanpa kemarahan, tanpa keterkejutan, tanpa penolakan. Dan entah kenapa, itu justru membuat Zoey semakin gelisah.Ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya, meski jemarinya tanpa sadar saling menggenggam di atas pangkuannya."Diam seperti itu tidak membuatmu terlihat tidak bersalah, tahu."Sebuah helaan napas pelan keluar dari bibir Dimitri sebelum pria itu mengalihkan pandangannya ke langit malam."Kalau aku memang ingin membunuhmu," ucapnya akhirnya dengan suara tenang, "aku tidak akan repot-repot menyelamatkanmu sejauh ini."Zoey
Zoey mengira malam itu akan menjadi malam pertama yang tenang sejak semua kekacauan dimulai. Ia salah. Suara air dari shower memang berhasil meredam sebagian isi kepalanya, tetapi tidak mampu menghapus kegelisahan yang terus menghantuinya. Bayangan rekaman CCTV, jasad Nikolai Volkov, dan kemarahan Dimitri masih berputar tanpa henti di benaknya. Ketika akhirnya ia keluar dari kamar mandi, uap hangat masih menempel di kulitnya. Namun langkahnya langsung terhenti—kamar itu kosong, Dimitri sudah tidak ada di sana. Di atas wastafel telah terlipat rapi beberapa pakaian baru, persis seperti yang dijanjikannya. Namun bukan pakaian itu yang menarik perhatian Zoey. Melainkan sebuah map hitam yang tergeletak diatas meja dekat ranjang. Map yang sebelumnya tidak ada. Dan entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa ia seharusnya tidak membukanya. Setelah mengenakan pakaian barunya, Zoey memutuskan turun ke lantai dasar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, berharap menemukan sosok Dimitri. Na
Zoey masih berdiri diam di tengah kamar Dimitri Volkov. Matanya menyapu seluruh ruangan sekali lagi. Setiap sudut kamar itu mencerminkan pemiliknya—mewah, rapi, dan nyaris tanpa kehangatan. Seolah tidak pernah ada tempat bagi kelemahan dalam kehidupan Dimitri Volkov. Zoey perlahan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman mansion. Cahaya bulan memantul di kaca, memperlihatkan bayangan wajahnya sendiri. Lelah, tegang, dan dipenuhi terlalu banyak pertanyaan. Ingatannya kembali pada rekaman CCTV yang mereka lihat beberapa jam lalu. Tubuh Nikolai Volkov, pria-pria bertopeng, dan benda misterius yang diambil dari dalam jasad pria tua itu. Sesuatu yang bahkan membuat Dimitri kehilangan kendali atas emosinya. Zoey mengepalkan tangannya perlahan. "Apa sebenarnya yang mereka cari?" gumamnya pelan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun semua kepingan yang selama ini berceceran di kepalanya. Kematian kedua orang tuanya, kematian Nikolai Volkov, dan sekarang benda mi
Zoey duduk diam di kursinya, menatap jalanan malam yang melintas di balik jendela mobil. Suara mesin yang meraung pelan seharusnya terasa menenangkan, tetapi entah mengapa ketegangan di dalam mobil justru semakin menyesakkan.Ia melirik Dimitri sekilas. Pria itu duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tampak lebih gelap dari biasanya.Nama itu kembali muncul, Starling. Mendengar nama itu disebut beberapa saat lalu membuat perasaan Zoey tidak nyaman. Ia tidak tahu banyak tentang keluarga tersebut, tetapi dari cara Dimitri bereaksi, jelas bahwa mereka bukan sekadar musuh biasa.Ponsel Andrian tiba-tiba bergetar. Zoey melihat pria itu memeriksa layar ponselnya sebelum ekspresinya berubah serius."Tuan..."Dimitri langsung menoleh."Ada perkembangan."Zoey tanpa sadar ikut menegakkan tubuh."Apa?" tanya Dimitri.Andrian menelan ludah sebelum menjawab."Salah satu tim kita menemukan sesuatu di rumah sakit."Tatapan Dimitri langsung berubah taj







