Home / Mafia / Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia / EPISODE 4 AWAL DARI SEGALANYA

Share

EPISODE 4 AWAL DARI SEGALANYA

Author: Vyn
last update publish date: 2026-06-18 19:49:38

Zoey berdiri di depan jendela kamarnya.

Ucapan Dimitri masih menggema di telinganya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Wajah yang terlihat tenang itu tidak mampu menyembunyikan kekacauan yang berputar di dalam pikirannya. Besok adalah hari yang selama ini ia tunggu—yang akan membawanya lebih dekat kepada tujuan yang selama bertahun-tahun menjadi alasan ia bertahan hidup.

Zoey memejamkan mata. Bayangan api kembali muncul. Jeritan, asap, dan wajah kedua orang tuanya. Jarinya mengepal. "Mereka harus membayarnya," bisiknya lirih.

Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Zoey berdiri di depan cermin besar. Gaun putih tergantung rapi di dekatnya. Hari ini ia akan menikah. Bukan karena cinta atau takdir. Melainkan karena kebutuhan. Ia menatap foto keluarga kecilnya yang telah lama hancur.

Tatapannya melembut sesaat. "Ayah... Ibu..." gumamnya pelan. "Ini baru permulaan."

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

"Nyonya, semuanya sudah siap."

Zoey menarik napas panjang sebelum meletakkan foto itu kembali ke tempatnya. Gedung pernikahan telah dipenuhi dekorasi mewah. Bunga putih memenuhi setiap sudut ruangan. Lampu kristal memantulkan cahaya hangat. Semua terlihat sempurna. Zoey berdiri di balik pintu besar yang akan membawanya memasuki aula utama. Di balik sana, puluhan pasang mata sedang menunggu. Dan salah satunya adalah Dimitri. Saat musik mulai terdengar, pintu perlahan terbuka. Seluruh ruangan menoleh.

Zoey melangkah masuk. Gaun putih yang dikenakannya menjuntai elegan mengikuti setiap langkahnya. Namun jauh di balik ketenangan itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.Tatapannya segera menemukan Dimitri. Pria itu berdiri di depan altar. Wajahnya tenang – tanpa ekspresi seperti biasanya. Mata mereka bertemu. Namun anehnya, Zoey merasa sedikit lebih tenang. Ia berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Dimitri.

Pendeta mulai berbicara. Namun kata-kata itu terdengar jauh. Karena perhatian Zoey tertuju pada pria di depannya. Pria yang kini menjadi bagian dari rencananya. Dan mungkin juga ancaman terbesar bagi dirinya.

"Apa Anda, Dimitri Volkov, bersedia menjadi suami Zoey?"

"Aku bersedia." Jawaban itu keluar tanpa keraguan.

Pendeta lalu beralih padanya. "Dan Anda, Zoey, apakah bersedia menjadi istri Dimitri?"

Tidak ada jawaban. Seisi ruangan menunggu. Tatapan Dimitri terasa menekan. Seolah mengingatkannya bahwa tidak ada jalan mundur lagi.

Senyuman tipis muncul di bibir Zoey. "Aku bersedia."

Cincin berpindah tangan. Dingin logam itu terasa nyata di jarinya. Saat Dimitri menggenggam tangannya sedikit lebih erat dari seharusnya, Zoey mengangkat pandangan.

"Sekarang kau tidak punya pilihan," bisik pria itu.

Zoey menahan senyum. Lalu membalas dengan suara yang sama pelannya. "Kau yakin itu aku?"

Hari ini pertama kalinya mata Dimitri tampak sedikit berubah. Dan Zoey menyukai reaksi itu. Tepuk tangan terdengar, dan semua itu palsu.

Zoey bisa melihatnya dengan jelas. Tatapan penuh kepentingan. Senyuman penuh kepura-puraan. Dan ambisi yang disembunyikan di balik wajah-wajah ramah.

"Sudah mulai lelah?" Suara Dimitri terdengar di sampingnya.

Zoey menoleh. "Tidak."

Pria itu hanya mengangguk.

Tak lama kemudian suara MC menggema. "Sekarang saatnya dansa pertama pasangan pengantin."

Dimitri mengulurkan tangan. "Berdansalah denganku."

Zoey menerima.

Musik mulai mengalun. Mereka bergerak perlahan di tengah aula. Dari luar, mereka terlihat seperti pasangan sempurna. Namun hanya mereka yang tahu kenyataan sesungguhnya. Ini bukan kisah cinta, melainkan kesepakatan.

"Nikmati hari ini," bisik Dimitri. "Ini panggungmu."

Zoey menatapnya.

Lalu pria itu menambahkan, "Dan juga milikku."

Sesuatu dalam nada suaranya membuat Zoey waspada. Instingnya langsung bekerja. Ada sesuatu yang salah. Dan beberapa detik kemudian...

Suara tembakan memecahkan seluruh ruangan. Kaca pecah. Jeritan terdengar dari segala arah.

Tubuh Zoey langsung ditarik ke belakang Dimitri.

"Jangan bergerak."

Perintah itu terdengar dingin dan mutlak.

Zoey tidak melawan. Ia tahu ini bukan saatnya membantah. Tembakan kedua menyusul. Lampu kristal di atas mereka pecah berkeping-keping. Orang-orang berlarian panik.

“Lindungi Tuan dan Nyonya!”

Suara Andrian menggema di seluruh ballroom yang kini berubah menjadi medan kekacauan. Para pengawal bergerak cepat, membentuk formasi perlindungan.

Namun Dimitri langsung menyadari sesuatu yang tidak beres. Ini bukan serangan biasa. Targetnya sangat jelas. Dirinya.

Dimitri mengangkat pandangan ke arah balkon tempat tembakan pertama berasal. Kosong. Rahangnya mengeras.

“Terlambat.” Ucapnya kasar

Tanpa membuang waktu, Dimitri segera meraih pergelangan tangan Zoey dan menarik wanita itu menuju pilar marmer besar di sisi ruangan...satu-satunya perlindungan yang cukup kokoh untuk menahan rentetan peluru.

Tubuh Zoey sedikit tersandung sebelum berhasil menyeimbangkan diri. Napasnya terdengar tidak beraturan. Lebih cepat dari biasanya.

Dimitri memperhatikannya dari sudut mata. “Kau terkejut?” tanyanya pelan.

Zoey terdiam beberapa detik. “Sedikit...” jawabnya lirih. Suaranya bergetar.

Dimitri menoleh. malam itu, ketenangan yang biasanya selalu menghiasi wajah Zoey mulai retak. Ada sesuatu di matanya. Ketakutan. Atau mungkin sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa takut. Jari-jari Zoey tanpa sadar mencengkeram lengan Dimitri. Erat. Seolah hanya pria itu yang bisa membuatnya tetap berdiri di tengah kekacauan ini.

“Takut?” tanya Dimitri lagi.

Zoey mengangguk pelan. “I-ini bukan sekadar percobaan pembunuhan...” bisiknya.

Dimitri tidak menjawab. Otaknya bekerja cepat. Menganalisis setiap kemungkinan. Dan ia tahu Zoey benar. Jika ini hanya upaya pembunuhan biasa, mereka tidak akan menyerang saat seluruh keluarga utama berkumpul. Mereka tidak akan mengambil risiko sebesar ini. Ini lebih dari itu. Ini kudeta. Atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Tatapan Dimitri berubah dingin. “Bawa Zoey keluar dari sini.”

Perintahnya membuat Andrian yang berada tak jauh langsung bergerak mendekat.

“Tuan, tapi...”

Andrian langsung terdiam saat tatapan Dimitri menancap padanya. Tajam. Dingin. Tidak memberi ruang untuk perdebatan.

“Ini bukan permintaan.” Katanya tegas.

Andrian menundukkan kepala. “Baik, Tuan.”

Dimitri lalu mengalihkan pandangannya kepada Zoey. Untuk sesaat, sorot matanya sedikit melunak. Namun hanya sesaat.

“Kau harus pergi.” Ucapnya.

Zoey menatapnya. “Aku bisa membantu.”

“Tidak.” Jawaban itu datang terlalu cepat. Terlalu tegas.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Zoey mencoba bernegosiasi..

Dimitri menarik napas pendek. Lalu mengucapkan kalimat yang bahkan dirinya sendiri benci untuk mengatakannya. “Kau hanya akan menjadi kelemahan jika tetap di sini.”

Hening. Kalimat itu menggantung di antara mereka seperti pisau tajam. Zoey tidak langsung menjawab. Genggamannya pada lengan Dimitri perlahan melemah. Sorot matanya berubah. Bukan marah. Bukan kecewa. Melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Seolah ada bagian dari dirinya yang baru saja dihancurkan.

Perlahan, ia melepaskan tangannya. Tanpa berkata apa pun. Tanpa membantah. Tanpa memohon. Ia hanya berbalik. Mengikuti Andrian. Langkahnya tetap tegap.

“Siapapun yang melakukan ini...” Suaranya rendah. “Akan kubuat menyesal pernah dilahirkan.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 47 Wajah di Balik Bayangan

    Suasana di dalam rumah mendadak berubah tegang.Tak seorang pun bergerak. Hanya suara napas mereka yang terdengar samar di antara bunyi alarm yang terus meraung. Lampu indikator berwarna merah berkedip tanpa henti, memantulkan bayangan di wajah mereka.Dimitri masih menatap layar monitor.Pria yang berdiri di depan gerbang itu tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya tertutup bayangan topi, tetapi ketika kamera memperbesar gambar, kemiripannya dengan Dimitri terlihat semakin jelas.Terlalu jelas. Seolah-olah Dimitri sedang melihat dirinya sendiri dari masa lalu.Dimitri mengepalkan tangan. Ia tidak tahu siapa pria itu, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang terasa begitu familiar.Zoey berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah gadis itu tampak pucat. Ia beberapa kali menatap layar, kemudian beralih kepada Dimitri."Dimitri..." suaranya terdengar pelan. "Siapa sebenarnya dia?"Dimitri tidak langsung menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada monitor. "Aku belum tahu."Victor yang be

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 46 — Tamu di Tengah Malam

    Pintu rumah perlahan terbuka bahkan sebelum Dimitri sempat mengetuk.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam pisau. Tatapannya langsung jatuh pada Dimitri."Kau terlambat.""Jalanan sedikit ramai," jawab Dimitri tenang.Pria tua itu mendengus pelan. "Kalau masih bisa bercanda, berarti keadaanmu belum terlalu buruk."Barulah pandangannya beralih kepada Zoey."Jadi... ini gadis yang kau bawa."Zoey sedikit gugup. "Saya Zoey."Pria itu mengangguk singkat. "Masuklah. Berdiri di luar terlalu lama bukan ide yang bagus."Rumah itu tampak sederhana dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh berbeda. Dinding dipenuhi rak buku tua. Beberapa monitor keamanan menampilkan gambar dari kamera yang terpasang di berbagai sudut halaman. Tak jauh dari ruang tamu terdapat sebuah ruangan dengan peralatan komunikasi dan komputer yang masih menyala.Zoey memperhatikan semuanya dengan heran. "Tempat ini...""Bukan rumah bi

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 45 — Di Balik Topeng Malam

    Petugas berseragam itu berdiri tepat di samping pintu mobil. Senyumnya tampak sopan, tetapi matanya terlalu dingin untuk seorang aparat yang sedang menjalankan pemeriksaan rutin."Silahkan turun, Tuan."Dimitri tidak segera bergerak. Ia justru menatap kartu identitas yang tergantung di dada pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya."Lencana yang bagus," katanya datar.Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih.""Tapi sayangnya..." Dimitri memiringkan kepala. "Nomor registrasinya sudah tidak digunakan sejak tiga tahun lalu."Senyum di wajah pria itu menghilang.Dalam hitungan detik, Dimitri membuka pintu mobil dengan tenang lalu berdiri. Zoey yang masih duduk di kursi belakang menahan napas.Keheningan menyelimuti jalan itu. Beberapa pria berseragam lain mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Dimitri."Kalau kalian ingin menggeledah mobilku," ujar Dimitri santai, "setidaknya gunakan identitas yang lebih meyakinkan."Suasana langsung berubah tegang.Namun, pria yang berdiri

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 44 — Bayangan yang Mengawasi

    Peringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 43 — Rencana Kedua

    Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 42 — Mata yang Terus Mengawasi

    Pesta amal itu terus berlangsung seolah tidak pernah terjadi apa pun.Alunan musik klasik mengisi aula megah, berpadu dengan dentingan gelas kristal dan tawa para tamu yang terdengar hangat. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer, menciptakan suasana elegan yang mampu menipu siapa saja.Zoey berusaha mempertahankan senyum tipis setiap kali berpapasan dengan tamu lain. Sesekali ia mengangguk sopan ketika seseorang menyapa Dimitri. Dari luar, ia tampak tenang.Padahal, jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Tanpa sadar, pandangannya kembali mencari satu sosok di antara kerumunan.Dominic Cassarius.Wanita itu kini berdiri bersama beberapa tokoh penting dunia bisnis. Ia tersenyum, mengangkat gelas wine, lalu tertawa pelan menanggapi lelucon salah satu tamu.Tak ada yang akan mengira bahwa di balik senyum ramah itu, pikirannya masih bekerja tanpa henti.Zoey yakin Dominic belum melupakan dirinya.Wanita itu sedang menyusun potongan-potonga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status