แชร์

EPISODE 2 WANITA TANPA NAMA

ผู้เขียน: Vyn
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-18 19:46:44

Zoey masuk ke rumah kediaman Dimitri Volkov. Matanya melihat sekeliling, mencari informasi.

“Adrian,” Dimitri memanggil orang kepercayaannya itu.

“Ya, Tuan?”

“Antar dia ke kamarnya. Besok, kita akan mulai persiapan pernikahan.”

Pernikahan yang diinginkan Zoey. Atau mungkin pernikahan yang sama-sama mereka butuhkan. Pikirannya berputar cepat. Keluarga Starling. Nama itu selalu muncul. Seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Senyum tipis kembali terukir di bibirnya.

“Andrian.” Panggilnya.

“Ya, Tuan.”

“Sampaikan pada Zoey bahwa besok pagi kita mulai persiapan pernikahan.”

Andrian mengangguk.

“Dan tanyakan padanya pesta seperti apa yang dia inginkan.”

Dimitri berhenti sejenak.

“Lakukan sesuai keinginannya.”

Andrian tampak sedikit terkejut, tetapi tidak bertanya.

“Baik, Tuan.”

Zoey terbelalak mendengarnya.

Keesokan harinya, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung tinggi bergaya klasik-modern yang menjulang anggun di pusat kota. Zoey turun perlahan dari mobil. Matanya menyapu bangunan megah itu sesaat. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Dimitri. Pria itu sudah melangkah lebih dulu tanpa menoleh ke belakang. Zoey mengikuti dari belakang dengan langkah tenang.

Dari kejauhan, mereka tampak berjalan selaras. Seperti pasangan yang tahu ke mana mereka akan pergi. Namun kenyataannya tidak demikian. Mereka memang berjalan ke tempat yang sama. Tetapi tujuan mereka tidak pernah benar-benar sama.

Di dalam gedung, seorang manajer venue telah menunggu.

"Selamat datang, Tuan Dimitri," sapanya ramah. "Kami sudah menyiapkan beberapa konsep sesuai permintaan."

Dimitri mengangguk tipis. "Perlihatkan." Ucapnya singkat.

Mereka berjalan melewati lorong panjang hingga tiba di sebuah ballroom besar. Lampu kristal menggantung megah. Ruangan kosong itu terasa mewah bahkan tanpa satu tamu pun di dalamnya. Zoey melangkah masuk lebih dulu. Tatapannya menyapu setiap sudut ruangan. Diam.

"Ini terlalu besar," ucapnya akhirnya.

Manajer itu terlihat sedikit canggung.

"Tapi ini venue paling eksklusif di kota, Nona."

Zoey menggeleng pelan. "Aku tidak suka terlalu terekspos."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Zoey, itu lebih dari sekadar alasan. Semakin banyak orang yang hadir, semakin besar kemungkinan seseorang mengenalinya. Atau lebih buruk... Mengenali masa lalunya.

"Aku rasa cukup keluarga dan rekan bisnis penting saja," lanjutnya pelan.

Tatapannya bertemu dengan Dimitri. Pria itu hanya menatapnya beberapa saat. Terlalu lama. Seolah sedang mencoba membaca sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.

"Lihatkan opsi lain," ucap Dimitri akhirnya.

Manajer itu langsung mengangguk. "Baik, Tuan."

Mereka berpindah ke ruangan berikutnya. Ballroom kedua jauh lebih kecil. Lebih tertutup. Tidak semegah ruangan pertama. Namun terasa jauh lebih aman.

Zoey berhenti di ambang pintu. Matanya mengamati setiap sudut. Lama. Diam.

"Yang ini." Ia membuat keputusan tanpa ragu.

Dimitri mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"

Zoey menoleh. "Lebih tenang." Tatapannya kembali menyapu ruangan. "Dan tidak terlalu banyak ruang."

Dimitri tersenyum tipis. Entah karena mengerti alasannya. Atau karena menemukan sesuatu yang menarik.

"Ambil yang ini."

"Baik, Tuan." Manajer itu segera mencatat.

"Batasi jumlah tamu," tambah Dimitri.

Manajer itu kembali mengangguk. "Berapa jumlah yang diinginkan?"

Dimitri melirik Zoey. Memberinya kesempatan untuk menjawab. Zoey mengerti.

"Seminimal mungkin." Ia menarik napas pelan.

"Hanya orang-orang yang benar-benar perlu hadir."

"Baik, Nona."

Hening sesaat. Lalu Dimitri berkata, "Termasuk keluarga Starling."

Jantung Zoey berdetak lebih keras. Namun hanya sepersekian detik. Tangannya mengepal di samping tubuh. Nama itu. Selalu nama itu. Namun ia segera mengendalikan dirinya. Tidak boleh ada yang melihat. Tidak boleh ada yang tahu.

Dimitri melangkah sedikit mendekat. "Kau baik-baik saja?"

Zoey menarik napas dalam. Lalu mengembuskannya perlahan. Saat menoleh, wajahnya sudah kembali tenang.

"Tidak ada masalah." Jawabannya terdengar stabil.

Dimitri semakin memperhatikannya. "Lakukan sesuai keinginannya." Dimitri mengalihkan perhatian kepada manajer. "Semua detail mengikuti pilihan Nona Zoey."

"Tentu, Tuan." Manajer itu segera mencatat semuanya.

Zoey menoleh ke arah Dimitri. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Bukan rasa percaya. Bukan pula rasa nyaman. Hanya sedikit kejutan. Karena ia tidak menyangka pria itu akan memberinya kebebasan memilih.

"Terima kasih." Ucap Zoey lembut.

Dimitri mengangkat bahu. "Jangan salah paham."

Zoey menatapnya.

"Ini bukan untukmu." Nada suaranya tetap datar. "Ini untuk memastikan tidak ada kesalahan." Ucapnya lagi.

Senyuman tipis muncul di bibir Zoey. "Kalau begitu..." Tatapannya bertemu dengan Dimitri. "Kita memiliki tujuan yang sama."

Dimitri hampir tertawa. "Untuk sekarang."

Tak lama kemudian, manajer itu meninggalkan mereka berdua. Ruangan menjadi sunyi. Hanya mereka. Dan rahasia yang belum terungkap.

"Kau tidak suka menjadi pusat perhatian."

Dimitri mengucapkannya tiba-tiba. Bukan pertanyaan. Melainkan kesimpulan. Zoey berjalan perlahan menuju jendela besar. Pemandangan kota terbentang di hadapannya. Indah. Namun tidak pernah cukup untuk membuatnya merasa tenang.

"Aku tidak suka memberi kesempatan orang lain melihat terlalu banyak." Jawabannya terdengar pelan. Namun jujur.

Dimitri berdiri di sampingnya. "Karena mereka bisa menggunakannya?"

Zoey menoleh. Tatapan mereka bertemu. Dan untuk sesaat, ia merasa pria itu benar-benar memahami apa yang ia maksud.

"Karena mereka selalu melakukannya." Balasnya.

Hening. Beberapa detik berlalu. Lalu Dimitri tersenyum tipis. Senyuman yang tidak menghangatkan apa pun.

"Kalau begitu..." Suaranya rendah. "Pastikan kali ini kita yang lebih dulu melihat mereka."

Zoey tidak menjawab. Namun jauh di dalam dirinya... Ia setuju.

Karena perang yang sebenarnya tidak dimulai ketika seseorang menyerang. Perang dimulai ketika dua musuh memutuskan bekerja sama demi menghancurkan musuh yang lebih besar.

Zoey mengalihkan pandangannya. “Aku sudah menunggu hari ini terlalu lama.” Ia tersenyum tipis. “Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikan ku.”

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 46 — Tamu di Tengah Malam

    Pintu rumah perlahan terbuka bahkan sebelum Dimitri sempat mengetuk.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam pisau. Tatapannya langsung jatuh pada Dimitri."Kau terlambat.""Jalanan sedikit ramai," jawab Dimitri tenang.Pria tua itu mendengus pelan. "Kalau masih bisa bercanda, berarti keadaanmu belum terlalu buruk."Barulah pandangannya beralih kepada Zoey."Jadi... ini gadis yang kau bawa."Zoey sedikit gugup. "Saya Zoey."Pria itu mengangguk singkat. "Masuklah. Berdiri di luar terlalu lama bukan ide yang bagus."Rumah itu tampak sederhana dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh berbeda. Dinding dipenuhi rak buku tua. Beberapa monitor keamanan menampilkan gambar dari kamera yang terpasang di berbagai sudut halaman. Tak jauh dari ruang tamu terdapat sebuah ruangan dengan peralatan komunikasi dan komputer yang masih menyala.Zoey memperhatikan semuanya dengan heran. "Tempat ini...""Bukan rumah bi

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 45 — Di Balik Topeng Malam

    Petugas berseragam itu berdiri tepat di samping pintu mobil. Senyumnya tampak sopan, tetapi matanya terlalu dingin untuk seorang aparat yang sedang menjalankan pemeriksaan rutin."Silahkan turun, Tuan."Dimitri tidak segera bergerak. Ia justru menatap kartu identitas yang tergantung di dada pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya."Lencana yang bagus," katanya datar.Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih.""Tapi sayangnya..." Dimitri memiringkan kepala. "Nomor registrasinya sudah tidak digunakan sejak tiga tahun lalu."Senyum di wajah pria itu menghilang.Dalam hitungan detik, Dimitri membuka pintu mobil dengan tenang lalu berdiri. Zoey yang masih duduk di kursi belakang menahan napas.Keheningan menyelimuti jalan itu. Beberapa pria berseragam lain mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Dimitri."Kalau kalian ingin menggeledah mobilku," ujar Dimitri santai, "setidaknya gunakan identitas yang lebih meyakinkan."Suasana langsung berubah tegang.Namun, pria yang berdiri

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 44 — Bayangan yang Mengawasi

    Peringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 43 — Rencana Kedua

    Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 42 — Mata yang Terus Mengawasi

    Pesta amal itu terus berlangsung seolah tidak pernah terjadi apa pun.Alunan musik klasik mengisi aula megah, berpadu dengan dentingan gelas kristal dan tawa para tamu yang terdengar hangat. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer, menciptakan suasana elegan yang mampu menipu siapa saja.Zoey berusaha mempertahankan senyum tipis setiap kali berpapasan dengan tamu lain. Sesekali ia mengangguk sopan ketika seseorang menyapa Dimitri. Dari luar, ia tampak tenang.Padahal, jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Tanpa sadar, pandangannya kembali mencari satu sosok di antara kerumunan.Dominic Cassarius.Wanita itu kini berdiri bersama beberapa tokoh penting dunia bisnis. Ia tersenyum, mengangkat gelas wine, lalu tertawa pelan menanggapi lelucon salah satu tamu.Tak ada yang akan mengira bahwa di balik senyum ramah itu, pikirannya masih bekerja tanpa henti.Zoey yakin Dominic belum melupakan dirinya.Wanita itu sedang menyusun potongan-potonga

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 41 — Di Ambang Terbongkar

    "Lalu mengapa saya merasa matanya begitu... familiar?"Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah menyerap seluruh suara di dalam aula. Alunan musik klasik masih terdengar pelan, begitu pula percakapan para tamu yang kembali berlangsung di berbagai sudut ruangan. Namun, bagi Zoey, semuanya seakan lenyap. Yang tersisa hanyalah tatapan Dominic Cassarius yang tak pernah lepas darinya.Seluruh perhatian di meja itu kini tertuju kepada Dimitri.Pria yang malam itu dikenal sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan raut wajah. Ia tetap berdiri tegak dengan ekspresi tenang, seolah pertanyaan yang baru saja dilontarkan Dominic hanyalah percakapan ringan di sebuah pesta biasa.Senyum tipis terukir di sudut bibirnya."Barangkali karena Anda pernah bertemu dengan banyak orang yang memiliki sorot mata serupa," ucap Dimitri santai. "Mata adalah anugerah yang sulit dijadikan identitas."Jawaban itu terdengar ringan, tetapi cukup cerdas untuk menghindari penjelasan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status