FAZER LOGINZoey masuk ke rumah kediaman Dimitri Volkov. Matanya melihat sekeliling, mencari informasi.
“Adrian,” Dimitri memanggil orang kepercayaannya itu. “Ya, Tuan?” “Antar dia ke kamarnya. Besok, kita akan mulai persiapan pernikahan.” Pernikahan yang diinginkan Zoey. Atau mungkin pernikahan yang sama-sama mereka butuhkan. Pikirannya berputar cepat. Keluarga Starling. Nama itu selalu muncul. Seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Senyum tipis kembali terukir di bibirnya. “Andrian.” Panggilnya. “Ya, Tuan.” “Sampaikan pada Zoey bahwa besok pagi kita mulai persiapan pernikahan.” Andrian mengangguk. “Dan tanyakan padanya pesta seperti apa yang dia inginkan.” Dimitri berhenti sejenak. “Lakukan sesuai keinginannya.” Andrian tampak sedikit terkejut, tetapi tidak bertanya. “Baik, Tuan.” Zoey terbelalak mendengarnya. Keesokan harinya, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung tinggi bergaya klasik-modern yang menjulang anggun di pusat kota. Zoey turun perlahan dari mobil. Matanya menyapu bangunan megah itu sesaat. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Dimitri. Pria itu sudah melangkah lebih dulu tanpa menoleh ke belakang. Zoey mengikuti dari belakang dengan langkah tenang. Dari kejauhan, mereka tampak berjalan selaras. Seperti pasangan yang tahu ke mana mereka akan pergi. Namun kenyataannya tidak demikian. Mereka memang berjalan ke tempat yang sama. Tetapi tujuan mereka tidak pernah benar-benar sama. Di dalam gedung, seorang manajer venue telah menunggu. "Selamat datang, Tuan Dimitri," sapanya ramah. "Kami sudah menyiapkan beberapa konsep sesuai permintaan." Dimitri mengangguk tipis. "Perlihatkan." Ucapnya singkat. Mereka berjalan melewati lorong panjang hingga tiba di sebuah ballroom besar. Lampu kristal menggantung megah. Ruangan kosong itu terasa mewah bahkan tanpa satu tamu pun di dalamnya. Zoey melangkah masuk lebih dulu. Tatapannya menyapu setiap sudut ruangan. Diam. "Ini terlalu besar," ucapnya akhirnya. Manajer itu terlihat sedikit canggung. "Tapi ini venue paling eksklusif di kota, Nona." Zoey menggeleng pelan. "Aku tidak suka terlalu terekspos." Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Zoey, itu lebih dari sekadar alasan. Semakin banyak orang yang hadir, semakin besar kemungkinan seseorang mengenalinya. Atau lebih buruk... Mengenali masa lalunya. "Aku rasa cukup keluarga dan rekan bisnis penting saja," lanjutnya pelan. Tatapannya bertemu dengan Dimitri. Pria itu hanya menatapnya beberapa saat. Terlalu lama. Seolah sedang mencoba membaca sesuatu yang sengaja ia sembunyikan. "Lihatkan opsi lain," ucap Dimitri akhirnya. Manajer itu langsung mengangguk. "Baik, Tuan." Mereka berpindah ke ruangan berikutnya. Ballroom kedua jauh lebih kecil. Lebih tertutup. Tidak semegah ruangan pertama. Namun terasa jauh lebih aman. Zoey berhenti di ambang pintu. Matanya mengamati setiap sudut. Lama. Diam. "Yang ini." Ia membuat keputusan tanpa ragu. Dimitri mengangkat sebelah alis. "Kenapa?" Zoey menoleh. "Lebih tenang." Tatapannya kembali menyapu ruangan. "Dan tidak terlalu banyak ruang." Dimitri tersenyum tipis. Entah karena mengerti alasannya. Atau karena menemukan sesuatu yang menarik. "Ambil yang ini." "Baik, Tuan." Manajer itu segera mencatat. "Batasi jumlah tamu," tambah Dimitri. Manajer itu kembali mengangguk. "Berapa jumlah yang diinginkan?" Dimitri melirik Zoey. Memberinya kesempatan untuk menjawab. Zoey mengerti. "Seminimal mungkin." Ia menarik napas pelan. "Hanya orang-orang yang benar-benar perlu hadir." "Baik, Nona." Hening sesaat. Lalu Dimitri berkata, "Termasuk keluarga Starling." Jantung Zoey berdetak lebih keras. Namun hanya sepersekian detik. Tangannya mengepal di samping tubuh. Nama itu. Selalu nama itu. Namun ia segera mengendalikan dirinya. Tidak boleh ada yang melihat. Tidak boleh ada yang tahu. Dimitri melangkah sedikit mendekat. "Kau baik-baik saja?" Zoey menarik napas dalam. Lalu mengembuskannya perlahan. Saat menoleh, wajahnya sudah kembali tenang. "Tidak ada masalah." Jawabannya terdengar stabil. Dimitri semakin memperhatikannya. "Lakukan sesuai keinginannya." Dimitri mengalihkan perhatian kepada manajer. "Semua detail mengikuti pilihan Nona Zoey." "Tentu, Tuan." Manajer itu segera mencatat semuanya. Zoey menoleh ke arah Dimitri. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Bukan rasa percaya. Bukan pula rasa nyaman. Hanya sedikit kejutan. Karena ia tidak menyangka pria itu akan memberinya kebebasan memilih. "Terima kasih." Ucap Zoey lembut. Dimitri mengangkat bahu. "Jangan salah paham." Zoey menatapnya. "Ini bukan untukmu." Nada suaranya tetap datar. "Ini untuk memastikan tidak ada kesalahan." Ucapnya lagi. Senyuman tipis muncul di bibir Zoey. "Kalau begitu..." Tatapannya bertemu dengan Dimitri. "Kita memiliki tujuan yang sama." Dimitri hampir tertawa. "Untuk sekarang." Tak lama kemudian, manajer itu meninggalkan mereka berdua. Ruangan menjadi sunyi. Hanya mereka. Dan rahasia yang belum terungkap. "Kau tidak suka menjadi pusat perhatian." Dimitri mengucapkannya tiba-tiba. Bukan pertanyaan. Melainkan kesimpulan. Zoey berjalan perlahan menuju jendela besar. Pemandangan kota terbentang di hadapannya. Indah. Namun tidak pernah cukup untuk membuatnya merasa tenang. "Aku tidak suka memberi kesempatan orang lain melihat terlalu banyak." Jawabannya terdengar pelan. Namun jujur. Dimitri berdiri di sampingnya. "Karena mereka bisa menggunakannya?" Zoey menoleh. Tatapan mereka bertemu. Dan untuk sesaat, ia merasa pria itu benar-benar memahami apa yang ia maksud. "Karena mereka selalu melakukannya." Balasnya. Hening. Beberapa detik berlalu. Lalu Dimitri tersenyum tipis. Senyuman yang tidak menghangatkan apa pun. "Kalau begitu..." Suaranya rendah. "Pastikan kali ini kita yang lebih dulu melihat mereka." Zoey tidak menjawab. Namun jauh di dalam dirinya... Ia setuju. Karena perang yang sebenarnya tidak dimulai ketika seseorang menyerang. Perang dimulai ketika dua musuh memutuskan bekerja sama demi menghancurkan musuh yang lebih besar. Zoey mengalihkan pandangannya. “Aku sudah menunggu hari ini terlalu lama.” Ia tersenyum tipis. “Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikan ku.” ***"Sedang apa kau?" Suara itu membuat tubuh Zoey menegang. Ia berbalik terlalu cepat dan mendapati Dimitri berdiri tidak jauh di belakangnya. Tatapan pria itu dipenuhi rasa ingin tahu—atau mungkin kecurigaan. "Aku..." Zoey memaksa dirinya untuk terlihat tenang. Pandangan matanya bergerak cepat mencari alasan. Lalu ia membungkuk dan mengambil sebuah jepit rambut yang tergeletak di lantai. "Aku mencari ini," katanya sambil mengangkat jepit rambut itu. "Ya, aku mencari ini." Senyumnya terasa kaku, bahkan di telinganya sendiri. Tanpa menunggu tanggapan, Zoey segera berjalan melewati Dimitri. Namun langkahnya terhenti saat suara pria itu kembali terdengar. "Zoey." Ia menoleh. "Apa kau sudah menerima map yang kutitipkan tadi?" Jantung Zoey berdetak sedikit lebih cepat. Perlahan ia berbalik hingga tatapan mereka bertemu. Zoey mengangguk pelan. "Sudah." "Dan?" Zoey menggenggam map hitam yang masih berada di tangannya sedikit lebih erat. "Kenapa ada foto diriku di dalamnya?" I
Dimitri ada disana, berdiri tidak jauh di belakangnya dan mengawasinya. Tiga bulan sebelum mereka pernah saling mengenal. Untuk beberapa detik, Zoey hanya mampu menatap foto itu tanpa bergerak. Mungkin ini sebuah kesalahan, mungkin seseorang telah memanipulasi tanggalnya, atau mungkin pria di dalam foto itu bukan Dimitri. Namun semakin lama ia menatap gambar tersebut, semakin mustahil baginya untuk menyangkal kenyataan yang terpampang di depan mata. Postur tubuh itu, setelan hitam yang selalu rapi, dan tatapan dingin yang seolah mampu menembus siapa pun yang berada di hadapannya. Tidak mungkin ia salah mengenalnya. "Itu dia..." Suara Zoey terdengar pelan. Seolah jika ia mengucapkannya lebih keras, semuanya akan berubah menjadi kenyataan yang tidak bisa lagi ia hindari. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membalik foto itu sekali lagi. Tatapannya jatuh pada tanggal yang tercetak di sudut kanan bawah. Ia memeriksanya sekali, dan hasilnya tetap sama. Tiga bulan sebelum pertemua
"Kau ingin membunuhku sekarang?"Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, Zoey langsung menyesalinya.Bukan karena ia tidak serius, justru karena sebagian dari dirinya benar-benar ingin mengetahui jawabannya.Udara malam berhembus pelan, menggerakkan helaian rambutnya. Namun keheningan yang muncul setelah pertanyaannya terasa jauh lebih dingin daripada angin yang menyentuh kulitnya.Dimitri tidak segera menjawab, pria itu hanya menatapnya.Tatapan tenang tanpa kemarahan, tanpa keterkejutan, tanpa penolakan. Dan entah kenapa, itu justru membuat Zoey semakin gelisah.Ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya, meski jemarinya tanpa sadar saling menggenggam di atas pangkuannya."Diam seperti itu tidak membuatmu terlihat tidak bersalah, tahu."Sebuah helaan napas pelan keluar dari bibir Dimitri sebelum pria itu mengalihkan pandangannya ke langit malam."Kalau aku memang ingin membunuhmu," ucapnya akhirnya dengan suara tenang, "aku tidak akan repot-repot menyelamatkanmu sejauh ini."Zoey
Zoey mengira malam itu akan menjadi malam pertama yang tenang sejak semua kekacauan dimulai. Ia salah. Suara air dari shower memang berhasil meredam sebagian isi kepalanya, tetapi tidak mampu menghapus kegelisahan yang terus menghantuinya. Bayangan rekaman CCTV, jasad Nikolai Volkov, dan kemarahan Dimitri masih berputar tanpa henti di benaknya. Ketika akhirnya ia keluar dari kamar mandi, uap hangat masih menempel di kulitnya. Namun langkahnya langsung terhenti—kamar itu kosong, Dimitri sudah tidak ada di sana. Di atas wastafel telah terlipat rapi beberapa pakaian baru, persis seperti yang dijanjikannya. Namun bukan pakaian itu yang menarik perhatian Zoey. Melainkan sebuah map hitam yang tergeletak diatas meja dekat ranjang. Map yang sebelumnya tidak ada. Dan entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa ia seharusnya tidak membukanya. Setelah mengenakan pakaian barunya, Zoey memutuskan turun ke lantai dasar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, berharap menemukan sosok Dimitri. Na
Zoey masih berdiri diam di tengah kamar Dimitri Volkov. Matanya menyapu seluruh ruangan sekali lagi. Setiap sudut kamar itu mencerminkan pemiliknya—mewah, rapi, dan nyaris tanpa kehangatan. Seolah tidak pernah ada tempat bagi kelemahan dalam kehidupan Dimitri Volkov. Zoey perlahan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman mansion. Cahaya bulan memantul di kaca, memperlihatkan bayangan wajahnya sendiri. Lelah, tegang, dan dipenuhi terlalu banyak pertanyaan. Ingatannya kembali pada rekaman CCTV yang mereka lihat beberapa jam lalu. Tubuh Nikolai Volkov, pria-pria bertopeng, dan benda misterius yang diambil dari dalam jasad pria tua itu. Sesuatu yang bahkan membuat Dimitri kehilangan kendali atas emosinya. Zoey mengepalkan tangannya perlahan. "Apa sebenarnya yang mereka cari?" gumamnya pelan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun semua kepingan yang selama ini berceceran di kepalanya. Kematian kedua orang tuanya, kematian Nikolai Volkov, dan sekarang benda mi
Zoey duduk diam di kursinya, menatap jalanan malam yang melintas di balik jendela mobil. Suara mesin yang meraung pelan seharusnya terasa menenangkan, tetapi entah mengapa ketegangan di dalam mobil justru semakin menyesakkan.Ia melirik Dimitri sekilas. Pria itu duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tampak lebih gelap dari biasanya.Nama itu kembali muncul, Starling. Mendengar nama itu disebut beberapa saat lalu membuat perasaan Zoey tidak nyaman. Ia tidak tahu banyak tentang keluarga tersebut, tetapi dari cara Dimitri bereaksi, jelas bahwa mereka bukan sekadar musuh biasa.Ponsel Andrian tiba-tiba bergetar. Zoey melihat pria itu memeriksa layar ponselnya sebelum ekspresinya berubah serius."Tuan..."Dimitri langsung menoleh."Ada perkembangan."Zoey tanpa sadar ikut menegakkan tubuh."Apa?" tanya Dimitri.Andrian menelan ludah sebelum menjawab."Salah satu tim kita menemukan sesuatu di rumah sakit."Tatapan Dimitri langsung berubah taj







