Home / Romansa / Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan / BAB 1 — Kehilangan Beasiswa

Share

Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan
Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan
Author: Mommy Sea

BAB 1 — Kehilangan Beasiswa

Author: Mommy Sea
last update Last Updated: 2025-11-28 21:58:31

Nama Nayla Prameswari dipanggil melalui pengeras suara kampus, tapi di telinganya terdengar seperti pengumuman hukuman. Suara itu menggema di lorong, menusuk lamunannya yang belum benar-benar pulih dari lembur malam tadi. Ia berdiri di tengah kerumunan mahasiswa lain yang lalu-lalang, memeluk tas selempang murahan yang talinya mulai mengelupas.

Hari itu harusnya berjalan biasa saja—kelas, kerja, tidur sebentar, ulangi lagi. Tetapi nada suara bagian administrasi tadi membawa firasat buruk yang membuat perutnya menegang sejak pagi.

Ia menarik napas dalam, lalu melangkah menuju gedung akademik. Setiap langkah terasa berat tapi juga tidak bisa ditunda. Ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan, tapi tetap saja hatinya tidak siap.

Ruang akademik selalu dingin, tapi hari ini dinginnya seperti masuk ke tulang. Meja resepsionis panjang berdiri di tengah ruangan, dengan deretan map warna-warni yang menumpuk tinggi. Di belakang meja itu, seorang staf perempuan berblazer biru sudah menunggunya. Wajahnya datar, profesional, tapi mata itu memandang Nayla seakan ia baru membawa masalah.

“Nayla Prameswari?” tanyanya tanpa senyum.

“Iya, Bu.” Suara Nayla keluar terlalu pelan.

Staf itu membuka map merah, mengeluarkan selembar kertas putih, dan meletakkannya di atas meja tanpa banyak bicara.

“Ini hasil evaluasi beasiswa kamu.”

Hanya itu. Tidak ada kalimat pengantar. Tidak ada jeda. Tidak ada kesempatan untuk mempersiapkan diri.

Nayla menatap kertas itu. Tangan kirinya bergerak pelan, meraih dengan hati-hati. Begitu matanya menangkap tulisan paling atas, dadanya langsung mengencang.

PEMBERITAHUAN PENCABUTAN BEASISWA — EFEKTIF HARI INI

Huruf-hurufnya tidak bergerak, tapi terasa seolah bergoyang karena jantung Nayla berdetak terlalu kencang. Ia membaca ulang, berharap ada salah ketik, tapi tulisan itu tetap sama.

“IPK kamu turun,” jelas staf itu dengan nada formal, seolah sedang membaca pengumuman cuaca. “Absen kamu juga banyak. Jadi beasiswanya otomatis dicabut.”

Nayla menelan ludah yang terasa kering. “Tapi Bu, saya… saya kerja part-time. Kadang shift saya bentrok, tapi nilai saya—”

“Kampus tidak mempertimbangkan urusan pekerjaan,” potong staf itu tanpa menatap wajahnya. “Jika mendaftar beasiswa, kamu harus mengikuti standar.”

Nayla terdiam.

Ia tahu itu. Ia tahu aturan. Tapi mengetahui dan menghadapi kenyataannya adalah dua hal berbeda.

“Mulai semester ini kamu harus membayar penuh. Dan ada tunggakan semester lalu yang belum lunas.” Staf itu menunjuk baris bawah. “Silakan dicek.”

Nayla menurunkan pandangan.

Angka itu seperti tamparan.

Rp18.700.000

Tidak mungkin. Itu… tidak mungkin.

Tangannya refleks menggenggam kertas lebih kuat.

“Kalau tidak sanggup bayar, kamu punya waktu tujuh hari.” Suara staf itu kembali terdengar datar. “Kalau lewat dari itu, status mahasiswamu dinonaktifkan sementara.”

Hening jatuh di antara mereka.

Nayla ingin menanyakan banyak hal—apakah ada cara lain, apakah bisa dicicil, apakah ia bisa berusaha memperbaiki nilai di semester berikutnya—tapi kata-kata itu menabrak tenggorokannya.

Akhirnya ia hanya berkata pelan, “Baik, Bu. Terima kasih.”

Ia keluar sebelum suaranya pecah.

Lorong kampus yang biasanya ramai hari ini terasa seperti gema kosong. Semua orang terlihat sibuk, tertawa, mengeluh soal tugas, atau membahas acara akhir pekan. Tidak ada yang melihat Nayla berjalan sambil menunduk, memegang map merah seperti memegang surat kematian.

Ia menuju taman kecil di samping gedung, tempat di mana biasanya ia duduk untuk menenangkan diri antara kelas dan kerja. Bangku kayu itu dingin tetapi jauh lebih ramah daripada ruangan akademik.

Nayla menatap surat beasiswa itu lagi. Setiap kata seperti menekan dadanya.

“Kenapa harus sekarang…” bisiknya, tanpa sadar.

Beasiswa adalah satu-satunya alasan ia bisa bertahan. Ia tinggal di kos sederhana—kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter yang cukup untuk kasur tipis, meja kecil, dan rak plastik. Uang kerja part-time di kafe hanya cukup untuk makan dan bayar kos. Tidak lebih.

Tanpa beasiswa, semuanya runtuh.

Ia menengadah sebentar, menahan air mata yang mulai panas. Ia tidak boleh menangis di kampus. Tidak di tempat terbuka. Tidak ketika semua orang masih bisa melihatnya.

Tapi tubuhnya terasa lelah. Sangat lelah. Lembur tadi malam menghabiskan tenaganya. Sarapan tadi hanya roti sisa dari kafe. Ia menutup mata, memijat pelipis.

Pandangan tiba-tiba berkunang.

“Nggak sekarang…” Nayla berbisik, memegangi bangku. Dunia terasa goyah. Nafasnya pendek.

Ia berdiri, ingin kembali ke kos. Tapi kakinya tidak kuat. Lututnya bergetar.

Dan sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, seseorang menangkap pergelangan tangannya.

“Hey, pelan-pelan.”

Suara itu dalam, tegas, tapi tidak kasar.

Nayla mengangkat kepala pelan. Matanya buram, tapi ia bisa melihat seorang pria berdiri di hadapannya—kemeja putih rapi, jam tangan mahal, wajah yang terlalu sempurna untuk tempat sesederhana taman kampus.

Rafael Aditya Santoso.

Ia pernah melihat pria itu beberapa kali di berita kampus—salah satu donatur terbesar universitas, pengusaha muda yang sering diundang untuk seminar. Tapi ia tidak pernah membayangkan pria ini berdiri sejauh setengah meter darinya, memegang lengannya agar ia tidak jatuh.

“Kamu kelihatan mau pingsan,” ujar Rafael, suaranya tenang.

Nayla buru-buru menarik tangannya, meski tubuhnya masih limbung. “Maaf, Pak. Saya cuma… sedikit pusing.”

“Duduk dulu.” Rafael menggeser posisinya sedikit, memberi ruang.

Nayla duduk lagi, menunduk. Malu. Lelah. Dan terjebak di tengah-tengah semuanya.

Rafael mengambil air mineral dari asistennya yang berdiri tak jauh, lalu meletakkannya di bangku. “Minum.”

“Terima kasih.” Nayla menerimanya dengan tangan gemetar.

Rafael memperhatikan sebentar. Tidak menghakimi. Tidak memberi komentar. Hanya memperhatikan.

“Kamu tadi habis dari akademik?” tanyanya singkat.

Nayla mengangguk. “Iya.”

“Masalah serius?”

Nayla ingin menghindari topik itu, tapi suaranya sudah terlalu jujur hari ini.

“Beasiswa saya dicabut,” ucapnya datar. “Mulai hari ini.”

Rafael tidak menjawab. Hening sejenak. Tapi hening yang tidak menekan—justru membuatnya sedikit bisa bernapas.

Nayla berdiri setelah tenaganya agak kembali. “Saya harus pergi, Pak.Dan terimakasih”

Rafael ikut berdiri. “Kamu yakin kuat jalan?”

Nayla mengangguk cepat. “Iya.”

Namun saat ia berbalik, sebuah kertas terjatuh tanpa ia sadari. Rafael mengambilnya lebih cepat daripada reaksi Nayla.

Map merah beasiswa.

Rafael membaca nama di bagian atas. “Nayla?”

Ia mengucapkannya halus, seolah nama itu tidak asing baginya.

Nayla menoleh. “Iya?”

Rafael menyerahkan map itu. “Hati-hati. Jangan jatuh lagi.”

Nayla menerimanya. “Terima kasih.”

Ia berjalan pergi dengan langkah perlahan, tidak menoleh lagi.

Rafael mengawasinya sampai menghilang dari tikungan gedung.

Ia tidak tahu apa yang membuatnya memperhatikan gadis itu lebih lama daripada seharusnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 129-“Pertanyaan yang Tidak Siap Kujawab”

    Mobil melaju keluar dari kompleks itu tanpa suara selain deru mesin yang terlalu halus untuk menenggelamkan apa pun. Jalanan tampak biasa saja—lampu-lampu rumah, pepohonan yang berbaris rapi, portal satpam yang perlahan menjauh—tapi bagi Nayla, semuanya terasa seperti lorong sempit yang menekan dada. Ia baru sadar napasnya pendek-pendek. Kotak cake masih di pangkuannya. Tidak bergeser sejak tadi, seolah benda itu menolak dilupakan. Tangan Nayla sempat meraih setir, lalu kembali menahan kotak itu, refleks seperti sedang memeluk sesuatu yang rapuh. Di kursi belakang, Revania bersandar malas, lalu mulai menggerak-gerakkan kakinya. “Bu,” katanya tiba-tiba, suaranya dibuat ringan. “Angel itu baik, ya.” Nayla menatap lurus ke depan. “Iya.” “Dia enggak sok pamer. Padahal rumahnya gede.” “Iya.” “Terus dia ngajak aku sama Kak Ravin lihat kolam renangnya. Airnya biru banget.” “Iya.” Revania berhenti. Menyipitkan mata, mencondongkan badan sedikit ke depan. “Ibu kenapa jawabnya satu ka

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 128-“Rahasia Itu Berdiri di Ruang Tamu”

    Tangan Larissa mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, tapi suaranya tetap terjaga saat akhirnya berkata, “Sepertinya… dunia memang lucu, ya.” Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Sunyi mengisi ruang di antara mereka. Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Nayla tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang kotak cake itu, jari-jarinya mengeras seolah benda kecil itu satu-satunya penyangga agar ia tetap berdiri. “Lucu bukan kata yang akan saya pakai,” jawab Nayla akhirnya, pelan tapi tegas. “Tapi saya setuju… ini ironi.” Larissa tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Masuklah,” katanya, memberi jalan. “Anak-anakmu masih di dalam.” Nayla melangkah masuk. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai rumah itu menyimpan sesuatu yang tak kasatmata. Matanya langsung tertuju ke dua sosok yang dikenalnya. “Van.” “Ravin.” “Ibu

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab127-“Anak-Anak Itu Ada di Rumah Kami”

    “Larissa.” Suara Rafael terdengar dari seberang, rendah dan tenang seperti biasa. Terlalu tenang untuk kepala Larissa yang sedang penuh gema. “Iya,” jawabnya pelan. “Teman-teman Angel masih di rumah?” Larissa menutup mata sejenak. “Masih,” jawab Larissa. “Kenapa?” “Aku mau beliin pizza. Sekalian makan bareng sebelum mereka dijemput.” Larissa menahan napas. Ujung jarinya mencengkeram ponsel. “Rafael,” katanya akhirnya, suaranya turun satu nada, “kamu cepat pulang.” Hening sepersekian detik. “Kenapa?” tanya Rafael. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Nada itu. Rafael mengenalnya terlalu lama untuk tidak menangkap isyaratnya. “Baik,” jawabnya. “Aku langsung ke rumah.” Telepon terputus. Larissa menurunkan ponsel perlahan. Dadanya terasa sempit. Ia menoleh ke ruang keluarga—ke arah sofa tempat Ravindra duduk, ke arah lantai tempat Angel dan Revania tertawa kecil karena pion permainan saling bertabrakan. Anak-anak itu masih tertawa. Belum tahu apa-apa. 🌷?

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 126-Cermin yang Terlalu Jelas

    Bel pulang berbunyi nyaring, memotong sisa konsentrasi yang sejak pagi tidak pernah benar-benar utuh. Angel menutup bukunya lebih cepat dari biasanya. Ia menoleh ke samping—ke arah bangku yang sejak awal semester selalu diisi dua orang. Revania masih merapikan alat tulisnya, rambutnya terikat rapi, gerakannya tenang. “Kamu langsung pulang?” tanya Angel sambil menyampirkan tas. Revania mengangkat wajah. “Iya. Kenapa?” Angel mengetuk meja pelan. Kebiasaan kecil setiap kali ia gugup. “Mau main ke rumahku?” Revania berhenti. “Ke rumah kamu?” “Iya,” Angel mengangguk cepat. “Cuma sebentar.” Revania menimbang sejenak. “Aku harus izin ibu dulu.” “Ya,” Angel tersenyum. “Aku juga.” Mereka berjalan keluar kelas berdampingan. Di lorong, seorang siswa laki-laki berhenti tak jauh dari mereka, tas disampirkan satu bahu. “Van.” Revania menoleh. “Ravin.” Ravindra berdiri santai. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya awas. “Angel ngajak main ke rumahnya,” kata Revania. Ravindra menatap An

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab123-Ketika Wajah Tidak Bisa Disembunyikan

    Angel baru menyadarinya saat bel berbunyi. Bukan karena suara bel itu sendiri, tapi karena Revania berdiri terlalu dekat dengannya di lorong kelas. Terlalu dekat untuk tidak diperhatikan. Angel tidak sengaja. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya melirik sekilas, seperti biasa. Tapi kali ini, matanya tertahan lebih lama. Hidung itu. Lengkung alisnya. Cara Revania mengerutkan dahi saat membaca pengumuman di papan mading. Angel menelan ludah. Kenapa mirip? “Ngapain bengong?” suara Revania menyentaknya. Angel tersenyum cepat. “Enggak. Liat jadwal aja.” Revania ikut menoleh ke papan. “Oh. Kupikir kamu ngelamun.” “Emang kelihatan?” Angel mencoba tertawa. “Iya dikit,” jawab Revania santai. “Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” Angel mengangkat bahu. “Biasa.” Revania tidak memaksa. Ia memang seperti itu—tidak suka menekan. Tapi justru sikap itulah yang membuat Angel semakin memperhatikan. Saat mereka berjalan menuju kelas, Ravindra muncul

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 125-“Tiga Anak, Satu Ayah”

    Rafael menutup pintu apartemen Nayla dengan pelan. Terlalu pelan, seperti takut suara itu akan mengingatkannya bahwa barusan hidupnya bergeser ke arah yang tidak pernah ia rencanakan. Dua anak. Darah dagingnya. Ia berdiri di lorong apartemen cukup lama, punggungnya menempel ke pintu, dada naik turun tidak beraturan. “Gila…” gumamnya pelan. Tangannya meraba saku jas, menemukan ponsel. Ia menatap layar kosong beberapa detik, lalu menekan satu nama tanpa pikir panjang. Arman. Nada sambung terdengar lama. “Lo nelpon malam-malam gini pasti ada masalah,” suara Arman terdengar setengah mengantuk. “Apa?” “Kita ketemu,” kata Rafael singkat. “Sekarang.” Arman terdiam sejenak. “Raf—” “Sekarang, Man.” Nada suara Rafael membuat Arman langsung siaga. “Oke. Tempat biasa.” Telepon ditutup. Rafael memasukkan ponsel ke saku, mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Kafe itu hampir kosong. Lampu kuni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status