LOGINBus berhenti tepat di depan gerbang kampus. Suara pintu otomatis yang terbuka membuat Nayla tersentak pelan. Ia berdiri, merapikan tali tas, lalu turun perlahan ke trotoar. Udara panas Jakarta mulai terasa menusuk, membuat keningnya sedikit berkeringat.
Kampus sudah ramai. Mahasiswa berlalu-lalang, sebagian membawa kopi, sebagian berjalan cepat karena takut terlambat kelas. Semuanya tampak sibuk dengan hidup masing-masing, seolah dunia mereka sudah tertata rapi. Nayla menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Ia tahu ke mana harus pergi. Gedung administrasi—bangunan yang selalu membuatnya merasa kecil. Setiap langkah menuju sana terasa makin berat. Mungkin karena ia tahu, peluang untuk diberi keringanan sangat kecil. Tapi tetap saja ia datang; tidak mencoba lebih menyakitkan daripada ditolak. Lorong gedung administrasi dipenuhi suara printer, dering telepon, dan langkah pegawai. Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa mengantre untuk mengurus KRS. Di sisi lain, ada yang menunggu tanda tangan legalisasi. Nayla berdiri di antrean “Pembayaran & Keuangan”. Di depan meja itu, seorang staf perempuan dengan kacamata tebal mengetik dengan kecepatan luar biasa, tanpa melihat antrian sama sekali. Setelah beberapa menit, akhirnya giliran Nayla. “Selamat pagi, Bu.” Nayla memaksakan senyum sopan. Staf itu mengangkat kepala, menatap Nayla dari ujung rambut hingga ujung sepatu. “Iya. Ada apa?” “Saya… ingin tanya tentang kemungkinan keringanan pembayaran. Saya… saya kehilangan beasiswa. Dan—” Belum selesai, perempuan itu sudah menghela napas panjang, seolah mendengar sesuatu yang sangat melelahkan. “Nama?” “Nayla Prameswari, Bu.” Ia menyerahkan map berisi surat evaluasi beasiswa dan bukti tagihan. Staf itu menerima dengan satu tangan, lalu memeriksa lembaran-lembarannya. Sesekali matanya mengerut, seperti mencari-cari sesuatu yang janggal. Akhirnya ia menatap Nayla lagi. “Ini sudah jelas.” Suaranya datar tapi tajam. “Beasiswanya dicabut karena IPK turun. Dan uang kuliahmu menunggak dari semester kemarin. Kamu sudah dikasih waktu cukup panjang.” Nayla mengangguk kecil. “Saya tahu, Bu. Itu sebabnya saya ingin meminta… keringanan. Mungkin dicicil? Atau perpanjangan waktu?” Staf itu tertawa kecil. Sinis. “Cicil? Perpanjangan waktu? Kamu pikir kampus ini apa? Kantor amal?” Beberapa mahasiswa yang sedang duduk di kursi tunggu mulai menoleh. “Nggak, Bu… saya cuma, saya pikir ada prosedur tertentu—” “Dengarkan saya baik-baik.” Staf itu mencondongkan tubuh, suaranya meninggi. “Kalau kamu nggak mampu bayar, ya jangan maksa kuliah. Banyak kok kampus lain yang lebih… sesuai kemampuan.” Nayla merasa wajahnya panas. “Bu… saya bukan nggak mau bayar, tapi saya… saya sedang berusaha.” Staf itu berdiri dari kursinya, membuat orang-orang di sekitar langsung melirik. “Semua mahasiswa juga berusaha! Tapi nggak semuanya merengek minta keringanan seperti ini.” “Aku… aku tidak merengek,” suara Nayla pecah tanpa ia sadari “Oh iya? Terus ini apa?” Staf itu mengangkat surat tunggakan sambil tertawa kecil. “Aduh, jangan drama deh. Kampus ini punya standar. Kalau nggak mampu, ya keluar. Simple.” Hening mendadak menyelimuti ruangan. Beberapa mahasiswa berhenti mengetik di ponsel mereka, memperhatikan. Nayla bisa merasakan jantungnya menggedor telinga, napasnya mulai tak teratur. Ia mencoba menjelaskan lagi, tapi tenggorokannya tercekat. Staf itu menatapnya lama—lama sekali—sebelum akhirnya menutup map dengan kasar dan mendorongnya ke meja. “Saya ulangi untuk terakhir kali,” katanya, jelas dan keras. “Tidak ada keringanan. Tidak ada cicilan. Tidak ada dispensasi. Kalau sampai tujuh hari tidak dibayar, statusmu dinonaktifkan.” Nayla memegang map itu dengan tangan gemetar. Orang-orang masih memperhatikan. Seseorang di sudut ruangan berbisik pelan “Kasihan banget… tapi ya gimana, ini kampus swasta…” Bisikan itu menusuk lebih keras daripada kata-kata staf tadi. Nayla menelan ludah, mencoba menahan air mata yang sudah mendesak di pelupuk. “Baik, Bu. Terima kasih,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar. Ia memutar badan, langkahnya goyah. Setiap meter yang ia tempuh di lorong itu terasa seperti satu kilometer. Dunia berputar samar-samar. Pandangan mulai kabur. Lalu suara-suara di sekitarnya perlahan memudar. Sampai akhirnya ia berhenti tepat di depan mesin fotokopi yang berdiri di luar ruang administrasi. Kedua lututnya tiba-tiba melemas. “Nay? Eh, Nayla? Kamu nggak apa-apa?” Suara perempuan itu samar. Salah satu mahasiswi mengenali Nayla, tapi wajahnya tidak jelas. Nayla mencoba menjawab—namun yang keluar hanya desahan. Tangannya mencari pegangan, tapi tidak menemukan apa pun. Ruangan terasa berputar cepat. Dan semuanya gelap. Ketika ia membuka mata, Nayla terbaring di bangku panjang dekat taman kampus. Udara lebih sejuk, mungkin karena ia berada di bawah pohon besar. Seorang mahasiswa laki-laki berdiri di dekatnya. “Mbaknya pingsan tadi di depan administrasi. Aku bawa ke sini biar nggak rame,” katanya pelan. Nayla mencoba bangun sedikit. “Maaf… aku… aku nggak apa-apa.” “Kamu yakin?” tanya laki-laki itu. Nayla mengangguk cepat. “Iya. Terima kasih. Aku cuma… capek.” Ia tidak ingin menjelaskan apa pun. Tidak ingin siapapun tahu apa yang baru saja terjadi. Laki-laki itu akhirnya pergi setelah memastikan ia baik-baik saja. Begitu ia hilang dari pandangan, Nayla menekuk lutut dan merunduk. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah Ia menangis tanpa suara, hanya bahunya yang terguncang. Tangannya menutupi wajah, seolah ingin menyembunyikan diri dari dunia. Mungkin inilah titik terendah dari hidupnya. Beasiswa hilang. Tunggakan menumpuk. Ibu tidak peduli. Kampus mempermalukannya. Dan tujuh hari terasa seperti hitungan detik. Nayla menghapus air matanya buru-buru ketika sekelompok mahasiswa lewat sambil bercanda. Ia menunduk lebih dalam, berharap mereka tidak memperhatikannya. Tapi bahkan setelah langkah mereka menjauh, dadanya masih terasa sesak. Ia mengusap wajah dengan punggung tangan—gerakan cepat, gugup—lalu menarik napas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri. Meski begitu, tubuhnya masih terasa ringan seperti kapas, sisa efek pingsan yang belum hilang sepenuhnya. Seketika ponselnya bergetar di dalam tas. Nayla menatap layar. Nomor tak dikenal. Untuk sesaat ia ragu. Biasanya ia mengabaikan nomor asing—tiba-tiba ada rasa takut akan berita buruk lain. Tapi entah kenapa kali ini, ibu jarinya bergerak sendiri menekan tombol hijau. “Halo… dengan siapa ya?” suaranya pelan dan serak. Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Hanya bunyi napas samar dari seberang. “Nayla?” suara laki-laki. Dalam, tenang, dan… familiar. Nayla mengerutkan kening. “Iya. Ini siapa?” “Rafael.” Dadanya langsung berhenti bergerak sejenak, seperti lupa bernapas.Mobil melaju keluar dari kompleks itu tanpa suara selain deru mesin yang terlalu halus untuk menenggelamkan apa pun. Jalanan tampak biasa saja—lampu-lampu rumah, pepohonan yang berbaris rapi, portal satpam yang perlahan menjauh—tapi bagi Nayla, semuanya terasa seperti lorong sempit yang menekan dada. Ia baru sadar napasnya pendek-pendek. Kotak cake masih di pangkuannya. Tidak bergeser sejak tadi, seolah benda itu menolak dilupakan. Tangan Nayla sempat meraih setir, lalu kembali menahan kotak itu, refleks seperti sedang memeluk sesuatu yang rapuh. Di kursi belakang, Revania bersandar malas, lalu mulai menggerak-gerakkan kakinya. “Bu,” katanya tiba-tiba, suaranya dibuat ringan. “Angel itu baik, ya.” Nayla menatap lurus ke depan. “Iya.” “Dia enggak sok pamer. Padahal rumahnya gede.” “Iya.” “Terus dia ngajak aku sama Kak Ravin lihat kolam renangnya. Airnya biru banget.” “Iya.” Revania berhenti. Menyipitkan mata, mencondongkan badan sedikit ke depan. “Ibu kenapa jawabnya satu ka
Tangan Larissa mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, tapi suaranya tetap terjaga saat akhirnya berkata, “Sepertinya… dunia memang lucu, ya.” Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Sunyi mengisi ruang di antara mereka. Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Nayla tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang kotak cake itu, jari-jarinya mengeras seolah benda kecil itu satu-satunya penyangga agar ia tetap berdiri. “Lucu bukan kata yang akan saya pakai,” jawab Nayla akhirnya, pelan tapi tegas. “Tapi saya setuju… ini ironi.” Larissa tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Masuklah,” katanya, memberi jalan. “Anak-anakmu masih di dalam.” Nayla melangkah masuk. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai rumah itu menyimpan sesuatu yang tak kasatmata. Matanya langsung tertuju ke dua sosok yang dikenalnya. “Van.” “Ravin.” “Ibu
“Larissa.” Suara Rafael terdengar dari seberang, rendah dan tenang seperti biasa. Terlalu tenang untuk kepala Larissa yang sedang penuh gema. “Iya,” jawabnya pelan. “Teman-teman Angel masih di rumah?” Larissa menutup mata sejenak. “Masih,” jawab Larissa. “Kenapa?” “Aku mau beliin pizza. Sekalian makan bareng sebelum mereka dijemput.” Larissa menahan napas. Ujung jarinya mencengkeram ponsel. “Rafael,” katanya akhirnya, suaranya turun satu nada, “kamu cepat pulang.” Hening sepersekian detik. “Kenapa?” tanya Rafael. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Nada itu. Rafael mengenalnya terlalu lama untuk tidak menangkap isyaratnya. “Baik,” jawabnya. “Aku langsung ke rumah.” Telepon terputus. Larissa menurunkan ponsel perlahan. Dadanya terasa sempit. Ia menoleh ke ruang keluarga—ke arah sofa tempat Ravindra duduk, ke arah lantai tempat Angel dan Revania tertawa kecil karena pion permainan saling bertabrakan. Anak-anak itu masih tertawa. Belum tahu apa-apa. 🌷?
Bel pulang berbunyi nyaring, memotong sisa konsentrasi yang sejak pagi tidak pernah benar-benar utuh. Angel menutup bukunya lebih cepat dari biasanya. Ia menoleh ke samping—ke arah bangku yang sejak awal semester selalu diisi dua orang. Revania masih merapikan alat tulisnya, rambutnya terikat rapi, gerakannya tenang. “Kamu langsung pulang?” tanya Angel sambil menyampirkan tas. Revania mengangkat wajah. “Iya. Kenapa?” Angel mengetuk meja pelan. Kebiasaan kecil setiap kali ia gugup. “Mau main ke rumahku?” Revania berhenti. “Ke rumah kamu?” “Iya,” Angel mengangguk cepat. “Cuma sebentar.” Revania menimbang sejenak. “Aku harus izin ibu dulu.” “Ya,” Angel tersenyum. “Aku juga.” Mereka berjalan keluar kelas berdampingan. Di lorong, seorang siswa laki-laki berhenti tak jauh dari mereka, tas disampirkan satu bahu. “Van.” Revania menoleh. “Ravin.” Ravindra berdiri santai. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya awas. “Angel ngajak main ke rumahnya,” kata Revania. Ravindra menatap An
Angel baru menyadarinya saat bel berbunyi. Bukan karena suara bel itu sendiri, tapi karena Revania berdiri terlalu dekat dengannya di lorong kelas. Terlalu dekat untuk tidak diperhatikan. Angel tidak sengaja. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya melirik sekilas, seperti biasa. Tapi kali ini, matanya tertahan lebih lama. Hidung itu. Lengkung alisnya. Cara Revania mengerutkan dahi saat membaca pengumuman di papan mading. Angel menelan ludah. Kenapa mirip? “Ngapain bengong?” suara Revania menyentaknya. Angel tersenyum cepat. “Enggak. Liat jadwal aja.” Revania ikut menoleh ke papan. “Oh. Kupikir kamu ngelamun.” “Emang kelihatan?” Angel mencoba tertawa. “Iya dikit,” jawab Revania santai. “Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” Angel mengangkat bahu. “Biasa.” Revania tidak memaksa. Ia memang seperti itu—tidak suka menekan. Tapi justru sikap itulah yang membuat Angel semakin memperhatikan. Saat mereka berjalan menuju kelas, Ravindra muncul
Rafael menutup pintu apartemen Nayla dengan pelan. Terlalu pelan, seperti takut suara itu akan mengingatkannya bahwa barusan hidupnya bergeser ke arah yang tidak pernah ia rencanakan. Dua anak. Darah dagingnya. Ia berdiri di lorong apartemen cukup lama, punggungnya menempel ke pintu, dada naik turun tidak beraturan. “Gila…” gumamnya pelan. Tangannya meraba saku jas, menemukan ponsel. Ia menatap layar kosong beberapa detik, lalu menekan satu nama tanpa pikir panjang. Arman. Nada sambung terdengar lama. “Lo nelpon malam-malam gini pasti ada masalah,” suara Arman terdengar setengah mengantuk. “Apa?” “Kita ketemu,” kata Rafael singkat. “Sekarang.” Arman terdiam sejenak. “Raf—” “Sekarang, Man.” Nada suara Rafael membuat Arman langsung siaga. “Oke. Tempat biasa.” Telepon ditutup. Rafael memasukkan ponsel ke saku, mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Kafe itu hampir kosong. Lampu kuni







