Home / Romansa / Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan / BAB 5 – Rafael Menyaksikan Semuanya

Share

BAB 5 – Rafael Menyaksikan Semuanya

Author: Mommy Sea
last update Last Updated: 2025-11-28 21:58:50

Rafael tidak pernah menyangka hari itu ia akan datang ke kampus tempat Nayla kuliah. Bukan untuk urusan pribadi, tentu saja—ia tidak tahu Nayla ada di sini. Ia datang karena undangan rapat mengenai kerja sama program magang antara perusahaannya dan fakultas bisnis. Agenda singkat, formal, dan biasanya membosankan. Ia bahkan berencana pulang segera setelah pidato sambutan.

Namun langkahnya terhenti bahkan sebelum ia sempat mencapai lobi gedung fakultas.

Di lorong depan administrasi, kerumunan kecil terbentuk. Tidak besar, hanya tiga atau empat mahasiswa yang berdiri sambil berbisik. Rafael tidak tertarik, sampai seseorang menyebut nama.

“…kasihan banget Nayla…”

Langkahnya langsung berhenti.

Ia menoleh—mencoba memastikan telinganya tidak salah dengar.

Lalu ia melihatnya.

Nayla.

Gadis itu berdiri terpaku di tengah lorong, memeluk map cokelat seperti memeluk sisa-sisa hidupnya yang hampir jatuh. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar, dan sorot matanya kosong seperti seseorang yang baru saja dipatahkan.

Rafael merasakan sesuatu menyeret dadanya turun. Bukan kasihan—lebih dari itu. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan ketika melihat orang asing dalam kesulitan.

Nayla bukan sekadar siapapun.

Ia mengamati dari kejauhan. Tepat saat itu, Nayla melangkah keluar dari ruang administrasi dengan tubuh yang hampir ambruk. Rafael melihat semuanya dengan jelas: bagaimana gadis itu berusaha tetap tegak, bagaimana tangannya gemetar memegang map, bagaimana ia mengedip cepat, mencoba menahan air mata.

Lalu ia melihat apa yang membuat darahnya panas.

Staf administrasi di dalam ruangan itu tertawa kecil sambil mengibaskan tangannya, seolah Nayla hanyalah gangguan kecil. Beberapa mahasiswa ikut menatap dengan rasa iba bercampur gosip.

Rafael mengepalkan tangan. Tidak sopan. Tidak profesional. Tidak manusiawi.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam, tapi cukup melihat wajah Nayla untuk mengerti bahwa sesuatu yang buruk sudah menimpanya.

Nayla mulai berjalan—pelan, goyah, seperti orang yang setiap langkahnya menahan beban yang terlalu berat. Rafael maju satu langkah hendak menghampiri, tapi ia berhenti. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak ingin terlihat seperti pria asing yang tiba-tiba ikut campur.

Tapi ketika Nayla berhenti di depan mesin fotokopi, tubuhnya limbung, Rafael langsung bergerak.

Namun ia terlambat setengah detik.

Nayla ambruk.

Gadis itu jatuh perlahan, bukan terhempas. Seperti boneka kain yang kehabisan tenaga. Rafael berlari, tapi seorang mahasiswi yang berada lebih dekat sigap memegang bahu Nayla. Tidak cukup untuk menahan sepenuhnya—tapi cukup mencegah ia terbanting.

“Nay? Kamu nggak apa-apa?” suara mahasiswi itu panik.

Rafael berhenti dua meter dari mereka. Jantungnya berdetak tidak karuan. Napasnya seperti tertahan. Ia ingin menyingkirkan semua orang dari sekitar, ingin memeriksa Nayla sendiri.

Tapi ia tidak punya hak untuk itu.

Ia hanya bisa melihat.

Mahasiswi itu memanggil seorang teman laki-laki. Bersama-sama, mereka membawa Nayla ke bangku taman di dekat gedung administrasi. Rafael mengikuti dari jauh, menjaga jarak, tapi tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Ia melihat bagaimana Nayla mencoba bangun, bagaimana ia meminta maaf padahal tidak salah, bagaimana ia memaksa tersenyum untuk menenangkan orang yang menolongnya.

Lalu mahasiswa itu pergi.

Dan Nayla… runtuh.

Rafael menyaksikan bagaimana bahu itu terguncang, bagaimana tangan Nayla menutupi wajah, bagaimana ia menangis tanpa suara—tangisan paling sunyi dan paling menyakitkan yang pernah dilihat Rafael dalam hidupnya.

Di titik itu, Rafael tidak bisa lagi berdiri diam.

Ia melangkah maju. Tidak cepat. Tidak lambat. Berhenti lima langkah dari bangku tempat Nayla menangis. Ia ingin bicara, tapi suara macet di tenggorokan. Ia meraih ponselnya, bingung, ingin meminta tolong siapa pun—dokter kampus, satpam, dosen.

Tapi akhirnya yang ia lakukan hanyalah berdiri di sana—diam, namun waspada. Menjaga dari kejauhan.

Ketika sekelompok mahasiswa lewat sambil tertawa, Rafael memperhatikan betapa Nayla buru-buru menghapus air mata, menunduk dalam-dalam, seolah malu terlihat rapuh.

Ia menunduk begitu rendah sampai bahunya yang kecil bergetar.

Ada sesuatu dalam gerakan itu yang menusuk Rafael lebih keras daripada yang ia antisipasi.

Ia ingin menghampiri. Ingin duduk di sampingnya dan bilang: Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian.

Namun akal sehatnya menahan. Nayla mungkin akan ketakutan jika pria tak dikenal tiba-tiba mendekatinya di saat seperti ini.

Jadi ia menunggu.

Ketika ponsel Nayla bergetar, Rafael memperhatikan tubuhnya menegang. Gadis itu menatap layar lama sekali sebelum akhirnya mengangkat.

Rafael mendengar suaranya—pelan, serak, dan patah.

“Halo… dengan siapa ya?”

Satu detik kemudian, Rafael tahu ia tidak bisa diam lebih lama.

Bukan karena ia ingin menjadi pahlawan. Tapi karena suara Nayla terdengar seperti seseorang yang sedang duduk tepat di tepi jurang.

Ia menghubungi Pak Harun beberapa menit sebelumnya—berpura-pura butuh kontak mahasiswa magang. Nyatanya, ia hanya ingin memastikan Nayla aman setelah melihatnya berjalan seperti bayangan.

Ketika Nayla tidak menjawab teleponnya, Rafael sempat panik.

Jadi saat Nayla akhirnya mengangkat, ia hanya bisa mengucapkan satu kata:

“Nayla?”

Hening. Rafael merasakan jantungnya memukul dadanya sendiri.

“Iya. Ini siapa?”

“Rafael.”

Ia bisa mendengar perubahan napas Nayla—kaget, bingung, takut, tapi juga… ada sedikit rasa lega? Rafael tidak tahu pasti.

“Aku tanya ke Pak Harun,” katanya jujur ketika Nayla bertanya bagaimana ia mendapatkan nomor itu.

“Kalau kamu perlu bantuan hubungi aku. Kapan saja,” ucap Rafael.

Dan itu bukan basa-basi.

Itu janji.

Setelah telepon berakhir, Rafael masih berdiri di sana, memperhatikan Nayla berdiri perlahan sambil menghapus air mata terakhir yang tersisa di sudut matanya.

Ia mengikuti dari kejauhan saat gadis itu berjalan keluar dari area kampus, langkahnya gemetar tapi tetap maju. Tidak ada yang melihat betapa keras Nayla berusaha untuk tidak runtuh lagi.

Rafael mengikuti langkah Nayla dengan jarak aman, memastikan ia tidak terlihat mencurigakan. Setiap beberapa meter, Nayla berhenti sebentar—mengatur napas, mengusap hidung, atau sekadar menatap lantai seolah menenangkan diri. Rafael melihat semuanya. Dan entah kenapa, setiap jeda langkah itu membuat dadanya ikut mengencang.

Ketika Nayla menyeberang menuju halte kecil dekat gerbang kampus, Rafael memperlambat langkah. Ia tidak boleh terlalu dekat. Kalau Nayla merasa diikuti, itu hanya akan memperburuk keadaan. Jadi ia memilih berhenti di samping gedung perpustakaan, pura-pura melihat ponsel sambil sesekali mengintip arah halte.

Nayla duduk di bangku paling ujung, menunduk, meremas map cokelat itu seperti pegangan terakhir yang ia punya. Dari kejauhan, Rafael bisa melihat betapa kecilnya tubuh itu di tengah hiruk pikuk mahasiswa lain. Seperti seseorang yang berusaha menghilang, tapi justru terlihat paling sendirian.

Bus datang beberapa menit kemudian. Nayla berdiri terlalu cepat, hampir kehilangan keseimbangan. Rafael sempat maju satu langkah—refleks—kemudian menahan diri lagi. Nayla naik, memilih kursi dekat jendela. Sesaat sebelum bus melaju, ia menatap keluar.

Rafael tidak yakin apakah Nayla melihatnya. Yang ia tahu, mata itu terlihat merah dan lelah. Tapi ada sedikit tekad di sana—seperti seseorang yang memaksa dirinya tetap hidup meskipun dunia sedang tidak ramah.

Bus bergerak. Rafael mengikuti dengan tatapan berat, sampai kendaraan itu hilang di tikungan.

Untuk beberapa saat ia berdiri sendirian di depan kampus, merasakan sesuatu yang tak ia mengerti memenuhi dadanya. Nayla telah pergi—tapi bayangan gadis itu, duduk dengan map yang hampir kusut dalam genggamannya, masih ada di kepalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 129-“Pertanyaan yang Tidak Siap Kujawab”

    Mobil melaju keluar dari kompleks itu tanpa suara selain deru mesin yang terlalu halus untuk menenggelamkan apa pun. Jalanan tampak biasa saja—lampu-lampu rumah, pepohonan yang berbaris rapi, portal satpam yang perlahan menjauh—tapi bagi Nayla, semuanya terasa seperti lorong sempit yang menekan dada. Ia baru sadar napasnya pendek-pendek. Kotak cake masih di pangkuannya. Tidak bergeser sejak tadi, seolah benda itu menolak dilupakan. Tangan Nayla sempat meraih setir, lalu kembali menahan kotak itu, refleks seperti sedang memeluk sesuatu yang rapuh. Di kursi belakang, Revania bersandar malas, lalu mulai menggerak-gerakkan kakinya. “Bu,” katanya tiba-tiba, suaranya dibuat ringan. “Angel itu baik, ya.” Nayla menatap lurus ke depan. “Iya.” “Dia enggak sok pamer. Padahal rumahnya gede.” “Iya.” “Terus dia ngajak aku sama Kak Ravin lihat kolam renangnya. Airnya biru banget.” “Iya.” Revania berhenti. Menyipitkan mata, mencondongkan badan sedikit ke depan. “Ibu kenapa jawabnya satu ka

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 128-“Rahasia Itu Berdiri di Ruang Tamu”

    Tangan Larissa mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, tapi suaranya tetap terjaga saat akhirnya berkata, “Sepertinya… dunia memang lucu, ya.” Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Sunyi mengisi ruang di antara mereka. Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Nayla tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang kotak cake itu, jari-jarinya mengeras seolah benda kecil itu satu-satunya penyangga agar ia tetap berdiri. “Lucu bukan kata yang akan saya pakai,” jawab Nayla akhirnya, pelan tapi tegas. “Tapi saya setuju… ini ironi.” Larissa tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Masuklah,” katanya, memberi jalan. “Anak-anakmu masih di dalam.” Nayla melangkah masuk. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai rumah itu menyimpan sesuatu yang tak kasatmata. Matanya langsung tertuju ke dua sosok yang dikenalnya. “Van.” “Ravin.” “Ibu

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab127-“Anak-Anak Itu Ada di Rumah Kami”

    “Larissa.” Suara Rafael terdengar dari seberang, rendah dan tenang seperti biasa. Terlalu tenang untuk kepala Larissa yang sedang penuh gema. “Iya,” jawabnya pelan. “Teman-teman Angel masih di rumah?” Larissa menutup mata sejenak. “Masih,” jawab Larissa. “Kenapa?” “Aku mau beliin pizza. Sekalian makan bareng sebelum mereka dijemput.” Larissa menahan napas. Ujung jarinya mencengkeram ponsel. “Rafael,” katanya akhirnya, suaranya turun satu nada, “kamu cepat pulang.” Hening sepersekian detik. “Kenapa?” tanya Rafael. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Nada itu. Rafael mengenalnya terlalu lama untuk tidak menangkap isyaratnya. “Baik,” jawabnya. “Aku langsung ke rumah.” Telepon terputus. Larissa menurunkan ponsel perlahan. Dadanya terasa sempit. Ia menoleh ke ruang keluarga—ke arah sofa tempat Ravindra duduk, ke arah lantai tempat Angel dan Revania tertawa kecil karena pion permainan saling bertabrakan. Anak-anak itu masih tertawa. Belum tahu apa-apa. 🌷?

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 126-Cermin yang Terlalu Jelas

    Bel pulang berbunyi nyaring, memotong sisa konsentrasi yang sejak pagi tidak pernah benar-benar utuh. Angel menutup bukunya lebih cepat dari biasanya. Ia menoleh ke samping—ke arah bangku yang sejak awal semester selalu diisi dua orang. Revania masih merapikan alat tulisnya, rambutnya terikat rapi, gerakannya tenang. “Kamu langsung pulang?” tanya Angel sambil menyampirkan tas. Revania mengangkat wajah. “Iya. Kenapa?” Angel mengetuk meja pelan. Kebiasaan kecil setiap kali ia gugup. “Mau main ke rumahku?” Revania berhenti. “Ke rumah kamu?” “Iya,” Angel mengangguk cepat. “Cuma sebentar.” Revania menimbang sejenak. “Aku harus izin ibu dulu.” “Ya,” Angel tersenyum. “Aku juga.” Mereka berjalan keluar kelas berdampingan. Di lorong, seorang siswa laki-laki berhenti tak jauh dari mereka, tas disampirkan satu bahu. “Van.” Revania menoleh. “Ravin.” Ravindra berdiri santai. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya awas. “Angel ngajak main ke rumahnya,” kata Revania. Ravindra menatap An

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab123-Ketika Wajah Tidak Bisa Disembunyikan

    Angel baru menyadarinya saat bel berbunyi. Bukan karena suara bel itu sendiri, tapi karena Revania berdiri terlalu dekat dengannya di lorong kelas. Terlalu dekat untuk tidak diperhatikan. Angel tidak sengaja. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya melirik sekilas, seperti biasa. Tapi kali ini, matanya tertahan lebih lama. Hidung itu. Lengkung alisnya. Cara Revania mengerutkan dahi saat membaca pengumuman di papan mading. Angel menelan ludah. Kenapa mirip? “Ngapain bengong?” suara Revania menyentaknya. Angel tersenyum cepat. “Enggak. Liat jadwal aja.” Revania ikut menoleh ke papan. “Oh. Kupikir kamu ngelamun.” “Emang kelihatan?” Angel mencoba tertawa. “Iya dikit,” jawab Revania santai. “Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” Angel mengangkat bahu. “Biasa.” Revania tidak memaksa. Ia memang seperti itu—tidak suka menekan. Tapi justru sikap itulah yang membuat Angel semakin memperhatikan. Saat mereka berjalan menuju kelas, Ravindra muncul

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 125-“Tiga Anak, Satu Ayah”

    Rafael menutup pintu apartemen Nayla dengan pelan. Terlalu pelan, seperti takut suara itu akan mengingatkannya bahwa barusan hidupnya bergeser ke arah yang tidak pernah ia rencanakan. Dua anak. Darah dagingnya. Ia berdiri di lorong apartemen cukup lama, punggungnya menempel ke pintu, dada naik turun tidak beraturan. “Gila…” gumamnya pelan. Tangannya meraba saku jas, menemukan ponsel. Ia menatap layar kosong beberapa detik, lalu menekan satu nama tanpa pikir panjang. Arman. Nada sambung terdengar lama. “Lo nelpon malam-malam gini pasti ada masalah,” suara Arman terdengar setengah mengantuk. “Apa?” “Kita ketemu,” kata Rafael singkat. “Sekarang.” Arman terdiam sejenak. “Raf—” “Sekarang, Man.” Nada suara Rafael membuat Arman langsung siaga. “Oke. Tempat biasa.” Telepon ditutup. Rafael memasukkan ponsel ke saku, mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Kafe itu hampir kosong. Lampu kuni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status