Beranda / Romansa / Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan / BAB 6 — “Kamu Butuh Bantuan?”

Share

BAB 6 — “Kamu Butuh Bantuan?”

Penulis: Mommy Sea
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-28 22:12:18

Nayla tidak langsung menjawab. Ponsel di telinganya terasa berat, seolah benda itu tiba-tiba berubah menjadi batu. Pertanyaan Rafael menggantung di udara, perlahan meresap ke dalam kepalanya, menabrak dinding-dinding rapuh yang tadi berusaha mati-matian ia jaga agar tidak runtuh lagi.

“Kamu… butuh bantuan?”

Kalimat itu sederhana. Namun di telinga Nayla, terdengar berbahaya. Terlalu lembut. Terlalu… mengerti. Badegangan yang sudah ia tahan sejak pagi mendadak pecah lagi di dada.

Ia menarik napas pelan, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun tenggorokannya masih perih karena menangis.

“Aku… baik,” jawab Nayla akhirnya. Bohong. Semuanya terasa jauh dari kata baik. Tapi ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada pria yang hampir tidak ia kenal bahwa hidupnya sedang retak di banyak tempat sekaligus.

Di ujung telepon, Rafael terdiam sejenak. Bukan diam yang dingin. Lebih seperti seseorang yang sedang memilih kata dengan hati-hati, takut melukai, tapi juga takut melepaskan seseorang yang tampak di ambang kejatuhan.

“Nayla,” ucap Rafael pelan, “Aku lihat kamu tadi—”

“Aku cuma pusing,” potong Nayla buru-buru. Suaranya kecil, panik. “Tadi pagi belum sempat makan.”

Rafael menghembuskan napas, terdengar samar di speaker. “Kalau kamu tidak keberatan… aku bisa—”

“Tidak perlu, Pak,” Nayla kembali memotong. “Aku sudah di perjalanan pulang.”

Ia menggigit bibir sendiri keras-keras setelah itu. Ia tahu suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang lari dari sesuatu. Mungkin Rafael juga bisa mendengarnya.

Lalu, suara Rafael terdengar lagi—lebih lembut, lebih hati-hati.

“Aku hanya khawatir.”

Kata itu—khawatir—membuat Nayla menutup mata. Tidak ada satu orang pun dalam hidupnya yang mengucapkan kalimat itu padanya dalam beberapa tahun terakhir, bahkan ibunya sendiri. Keluarga yang harusnya melindunginya sudah berjalan dengan dunia masing-masing. Nayla terlalu sibuk bekerja, kuliah, berjuang mempertahankan hidup—hingga tidak ada ruang untuk menerima kekhawatiran dari siapapun.

Jadi ketika ada seseorang yang mengatakannya, reaksi pertamanya justru adalah takut.

Ia takut kebiasaan yang ia bangun—menanggung semuanya sendirian—akan runtuh begitu saja.

“…terima kasih,” jawab Nayla pelan. Nyaris berbisik. “Tapi aku benar-benar bisa urus sendiri.”

Hening lagi beberapa detik.

“Baik,” suara Rafael akhirnya terdengar, tunduk namun tidak memaksa. “Kalau kamu berubah pikiran, hubungi aku.”

Telepon terputus.

Nayla menurunkan ponselnya. Ia menatap layar yang gelap beberapa lama, merasa seolah sesuatu di dada bergerak pelan—bukan rasa lega, tapi juga bukan rasa takut. Lebih seperti sesuatu yang belum ia mengerti.

Bus berguncang kecil, membuat Nayla bersandar ke jendela. Ia memejamkan mata sebentar, mencoba merapikan isi kepalanya. Namun adegan di kampus tadi terus berputar—tatapan iba mahasiswa, tawa sinis staf administrasi, rasa malu yang memukul dada, dan… wajah Rafael, meski hanya sekilas, ketika ia hampir berlari menghampirinya.

Nayla menggenggam map cokelat itu lebih erat.

“Semua ini cuma hari buruk,” ia bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Nanti juga berlalu.”

Tapi ketika bus berhenti di depan gang kosnya, Nayla tahu hari itu belum selesai.

Di lantai dua kos sederhana itu, lorong kecil sudah sepi. Lampu neon menggantung redup, berkedip-kedip seperti hampir putus. Suara kipas angin tua dari dapur bersama terdengar lirih. Tempat itu selalu terasa sunyi, tapi malam ini kesunyiannya terdengar berbeda—lebih dingin, lebih menekan.

Begitu masuk kamar, Nayla melepaskan tasnya dan langsung terduduk di lantai. Bukan dramatis, hanya karena lututnya memang lemas. Napasnya memburu. Emosinya datang lagi, bergulung seperti gelombang yang sejak tadi ia tekan di bawah permukaan.

Ia menunduk. Sebelah tangannya menutupi wajah, sebelah lagi meremas ujung jaket.

Setelah beberapa menit, ia mendongak. Matanya masih basah, tapi pikiran mulai sedikit jernih. Ia mengeluarkan surat tunggakan dari map, meletakkannya di lantai kamar yang dingin.

Angkanya seperti menghina.

Angka yang tidak mungkin ia bayar bahkan kalau ia bekerja siang malam selama sebulan penuh.

Deadline: tujuh hari.

Nayla menarik napas panjang—panjang sekali—hingga dadanya terasa perih. Ia meraih ponsel, membuka kontak, menatap nomor Rafael yang tadi meneleponnya.

“Aku bukan tipe orang yang bergantung pada siapa pun,” ia berbisik pada dirinya sendiri.

Namun bayangan dirinya yang pingsan, menangis di bangku taman, ditatap iba—semuanya membuat ia bertanya-tanya apakah ia masih sanggup bertahan dengan cara itu.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Satu notifikasi masuk. Chat dari Rafael.

> Sudah sampai rumah? Jangan lupa makan dulu.

Nayla menatap layar itu lama. Pesan pendek, sederhana, tapi terasa lebih hangat dari apa pun yang ia dengar seharian ini.

Jemari Nayla gemetar saat ia membalas.

> Sudah. Terima kasih, Pak.

Balasan datang hampir seketika.

> Kalau kepala kamu masih pusing atau butuh sesuatu… bilang saja.

Nayla menggigit bibir. Ada sesuatu yang mulai menghangat di dada, tipis, rapuh, tapi nyata.

Namun ia menahan diri. Tidak boleh bergantung. Tidak boleh terlihat lemah. Tidak boleh membuat masalahnya menjadi beban orang lain.

Jadi ia membalas dengan kalimat yang paling aman:

> Saya baik-baik saja.

Beberapa menit tidak ada balasan. Nayla mengira percakapan selesai… sampai pesan berikutnya muncul.

> Nayla, besok aku masih ada rapat di fakultas. Kalau kamu di kampus… aku ingin kita bicara sebentar.

Nayla membeku.

Bicara? Tentang apa?

Tentang kejadian tadi? Tentang hidupnya yang berantakan?

Tentang rasa kasihan yang—entah kenapa—ia takut sekaligus butuhkan?

Lalu satu pesan menyusul, hanya tiga kata:

> Kamu butuh bantuan?

Kata-kata yang tadi ia hindari… kini kembali menghantam.

Hening memenuhi kamar kecil itu. Nayla memandang layar ponselnya dengan jantung yang berdegup keras, seolah tubuhnya tahu jawaban yang tidak berani ia ucapkan.

Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

Ia takut.

Takut membuka pintu yang mungkin tidak bisa ia tutup lagi. Takut menerima uluran tangan yang bisa membuatnya bergantung. Tetapi—lebih dari itu—ia takut menghadapi semua ini sendirian.

Untuk pertama kalinya hari itu, Nayla berbisik lirih, hampir tidak terdengar:

“Ya… aku butuh bantuan…”

Namun itu hanya keluar di udara kosong, bukan ke ponsel.

Tangannya gemetar saat ia mengetik balasan.

Belum ia kirimkan, layar ponselnya mati karena timeout.

Nayla menarik napas, menyalakannya lagi, menatap kalimat yang masih menggantung di kolom chat.

Jarinya bergerak…

klik.

Pesan terkirim.

> Mungkin… iya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 129-“Pertanyaan yang Tidak Siap Kujawab”

    Mobil melaju keluar dari kompleks itu tanpa suara selain deru mesin yang terlalu halus untuk menenggelamkan apa pun. Jalanan tampak biasa saja—lampu-lampu rumah, pepohonan yang berbaris rapi, portal satpam yang perlahan menjauh—tapi bagi Nayla, semuanya terasa seperti lorong sempit yang menekan dada. Ia baru sadar napasnya pendek-pendek. Kotak cake masih di pangkuannya. Tidak bergeser sejak tadi, seolah benda itu menolak dilupakan. Tangan Nayla sempat meraih setir, lalu kembali menahan kotak itu, refleks seperti sedang memeluk sesuatu yang rapuh. Di kursi belakang, Revania bersandar malas, lalu mulai menggerak-gerakkan kakinya. “Bu,” katanya tiba-tiba, suaranya dibuat ringan. “Angel itu baik, ya.” Nayla menatap lurus ke depan. “Iya.” “Dia enggak sok pamer. Padahal rumahnya gede.” “Iya.” “Terus dia ngajak aku sama Kak Ravin lihat kolam renangnya. Airnya biru banget.” “Iya.” Revania berhenti. Menyipitkan mata, mencondongkan badan sedikit ke depan. “Ibu kenapa jawabnya satu ka

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 128-“Rahasia Itu Berdiri di Ruang Tamu”

    Tangan Larissa mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, tapi suaranya tetap terjaga saat akhirnya berkata, “Sepertinya… dunia memang lucu, ya.” Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Sunyi mengisi ruang di antara mereka. Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Nayla tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang kotak cake itu, jari-jarinya mengeras seolah benda kecil itu satu-satunya penyangga agar ia tetap berdiri. “Lucu bukan kata yang akan saya pakai,” jawab Nayla akhirnya, pelan tapi tegas. “Tapi saya setuju… ini ironi.” Larissa tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Masuklah,” katanya, memberi jalan. “Anak-anakmu masih di dalam.” Nayla melangkah masuk. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai rumah itu menyimpan sesuatu yang tak kasatmata. Matanya langsung tertuju ke dua sosok yang dikenalnya. “Van.” “Ravin.” “Ibu

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab127-“Anak-Anak Itu Ada di Rumah Kami”

    “Larissa.” Suara Rafael terdengar dari seberang, rendah dan tenang seperti biasa. Terlalu tenang untuk kepala Larissa yang sedang penuh gema. “Iya,” jawabnya pelan. “Teman-teman Angel masih di rumah?” Larissa menutup mata sejenak. “Masih,” jawab Larissa. “Kenapa?” “Aku mau beliin pizza. Sekalian makan bareng sebelum mereka dijemput.” Larissa menahan napas. Ujung jarinya mencengkeram ponsel. “Rafael,” katanya akhirnya, suaranya turun satu nada, “kamu cepat pulang.” Hening sepersekian detik. “Kenapa?” tanya Rafael. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Nada itu. Rafael mengenalnya terlalu lama untuk tidak menangkap isyaratnya. “Baik,” jawabnya. “Aku langsung ke rumah.” Telepon terputus. Larissa menurunkan ponsel perlahan. Dadanya terasa sempit. Ia menoleh ke ruang keluarga—ke arah sofa tempat Ravindra duduk, ke arah lantai tempat Angel dan Revania tertawa kecil karena pion permainan saling bertabrakan. Anak-anak itu masih tertawa. Belum tahu apa-apa. 🌷?

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 126-Cermin yang Terlalu Jelas

    Bel pulang berbunyi nyaring, memotong sisa konsentrasi yang sejak pagi tidak pernah benar-benar utuh. Angel menutup bukunya lebih cepat dari biasanya. Ia menoleh ke samping—ke arah bangku yang sejak awal semester selalu diisi dua orang. Revania masih merapikan alat tulisnya, rambutnya terikat rapi, gerakannya tenang. “Kamu langsung pulang?” tanya Angel sambil menyampirkan tas. Revania mengangkat wajah. “Iya. Kenapa?” Angel mengetuk meja pelan. Kebiasaan kecil setiap kali ia gugup. “Mau main ke rumahku?” Revania berhenti. “Ke rumah kamu?” “Iya,” Angel mengangguk cepat. “Cuma sebentar.” Revania menimbang sejenak. “Aku harus izin ibu dulu.” “Ya,” Angel tersenyum. “Aku juga.” Mereka berjalan keluar kelas berdampingan. Di lorong, seorang siswa laki-laki berhenti tak jauh dari mereka, tas disampirkan satu bahu. “Van.” Revania menoleh. “Ravin.” Ravindra berdiri santai. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya awas. “Angel ngajak main ke rumahnya,” kata Revania. Ravindra menatap An

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab123-Ketika Wajah Tidak Bisa Disembunyikan

    Angel baru menyadarinya saat bel berbunyi. Bukan karena suara bel itu sendiri, tapi karena Revania berdiri terlalu dekat dengannya di lorong kelas. Terlalu dekat untuk tidak diperhatikan. Angel tidak sengaja. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya melirik sekilas, seperti biasa. Tapi kali ini, matanya tertahan lebih lama. Hidung itu. Lengkung alisnya. Cara Revania mengerutkan dahi saat membaca pengumuman di papan mading. Angel menelan ludah. Kenapa mirip? “Ngapain bengong?” suara Revania menyentaknya. Angel tersenyum cepat. “Enggak. Liat jadwal aja.” Revania ikut menoleh ke papan. “Oh. Kupikir kamu ngelamun.” “Emang kelihatan?” Angel mencoba tertawa. “Iya dikit,” jawab Revania santai. “Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” Angel mengangkat bahu. “Biasa.” Revania tidak memaksa. Ia memang seperti itu—tidak suka menekan. Tapi justru sikap itulah yang membuat Angel semakin memperhatikan. Saat mereka berjalan menuju kelas, Ravindra muncul

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    Bab 125-“Tiga Anak, Satu Ayah”

    Rafael menutup pintu apartemen Nayla dengan pelan. Terlalu pelan, seperti takut suara itu akan mengingatkannya bahwa barusan hidupnya bergeser ke arah yang tidak pernah ia rencanakan. Dua anak. Darah dagingnya. Ia berdiri di lorong apartemen cukup lama, punggungnya menempel ke pintu, dada naik turun tidak beraturan. “Gila…” gumamnya pelan. Tangannya meraba saku jas, menemukan ponsel. Ia menatap layar kosong beberapa detik, lalu menekan satu nama tanpa pikir panjang. Arman. Nada sambung terdengar lama. “Lo nelpon malam-malam gini pasti ada masalah,” suara Arman terdengar setengah mengantuk. “Apa?” “Kita ketemu,” kata Rafael singkat. “Sekarang.” Arman terdiam sejenak. “Raf—” “Sekarang, Man.” Nada suara Rafael membuat Arman langsung siaga. “Oke. Tempat biasa.” Telepon ditutup. Rafael memasukkan ponsel ke saku, mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Kafe itu hampir kosong. Lampu kuni

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status