LOGINHari-hari setelah itu tetap berjalan. Dan justru karena semuanya tetap berjalan seperti biasa, hati Yusallia terasa semakin berat. Pagi masih datang tepat waktu. Alarm masih berbunyi. Cahaya matahari masih jatuh di lantai apartemen dengan warna lembut yang sama. Rionegro masih bangun lebih dulu di banyak hari, menyalakan lampu dapur, menyiapkan sarapan sederhana, memeriksa jam, lalu memastikan vitamin dan susu Yusallia tidak terlewat. Rumah sakit tetap sibuk. Kampus tetap menuntut waktu Rionegro. Malam tetap kembali membawa mereka ke bawah atap yang sama. Tidak ada yang benar-benar berubah dari luar. Namun di dalam diri Yusallia, semuanya justru terasa bergerak ke arah yang semakin melelahkan. Ia menjalani hari-harinya dengan tubuh yang tetap bergerak, dengan senyum yang masih bisa dipasang, dengan jawaban-jawaban yang masih terdengar normal saat orang lain bertanya kabarnya. Di rumah sakit, ia tetap menjadi
Hari Minggu itu datang dengan cara yang terlalu tenang untuk hati Yusallia yang sudah terlalu penuh.Pagi turun perlahan ke apartemen mereka lewat cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai ruang tengah, jatuh di lantai, di tepian sofa, dan di wajah seorang pria yang tertidur di sana dengan kepala sedikit miring ke satu sisi. Televisi mati. Laptop di meja masih terbuka setengah. Satu gelas air tinggal separuh. Dan di ruang yang begitu sunyi itu, Yusallia berdiri diam di ambang lorong sambil memandang Rionegro lebih lama dari yang seharusnya.Semalam pria itu tertidur di sofa.Bukan karena ada masalah besar. Bukan pula karena mereka bertengkar. Beberapa hari terakhir justru tidak ada pertengkaran sama sekali. Hanya ada sunyi yang panjang, hati-hati, dan dingin. Rionegro tetap menjalankan semuanya seperti biasa-makanan, jadwal, obat, pengingat kecil, dan segala bentuk perhatian yang bisa ia ukur. Sementara Yusallia, pelan-pelan, belajar hidup di dalam per
Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau. Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar. Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dib
Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau.Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar.Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin.Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dibaca. Kota di luar
Malam Senin itu datang dengan kelelahan yang menempel tipis di tubuh mereka berdua. Jakarta di luar jendela apartemen masih menyala seperti biasa, dengan lampu-lampu kendaraan yang bergerak panjang di kejauhan dan gedung-gedung tinggi yang tetap hidup bahkan ketika jam kerja orang-orang seharusnya sudah selesai. Di dalam apartemen, suasananya jauh lebih tenang. Lampu ruang tengah dinyalakan seperlunya. Televisi mati. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dan aroma makan malam sederhana yang baru saja selesai mereka santap masih tertinggal tipis di udara. Yusallia baru pulang dari rumah sakit satu jam sebelumnya. Hari itu cukup melelahkan. Bukan hari terburuknya, tetapi cukup padat untuk membuat bahunya terasa berat sejak sore. Sementara Rionegro juga baru kembali dari kampus dengan wajah yang tampak sama tenangnya seperti biasa, hanya sedikit lebih lelah di sekitar mata. Mereka sempat makan malam bersama, berbicara seperlunya tentang hal-hal kecil, jam pu
Siang di awal pekan selalu punya suasana yang khas di lingkungan kampus.Tidak benar-benar tenang, tapi juga tidak sechaotic jam-jam pagi ketika mahasiswa masih berlarian mengejar kelas pertama mereka. Matahari siang jatuh terang di pelataran fakultas, memantul di kaca-kaca gedung dan trotoar yang mulai dipenuhi bayangan pohon. Dari arah jalan utama kampus, suara motor, langkah kaki, dan percakapan mahasiswa terdengar bercampur jadi latar yang terlalu akrab untuk diperhatikan lagi.Di kafe kecil dekat gedung dosen, suasananya tidak jauh berbeda.Beberapa meja terisi dosen yang sedang makan siang cepat sambil membuka laptop, sebagian lain ditempati mahasiswa yang masih mengerjakan tugas meski jam istirahat sudah berjalan. Mesin kopi sesekali mendesis. Sendok beradu pelan dengan cangkir. Dan di salah satu meja dekat jendela, Savira sudah duduk lebih dulu dengan segelas kopi dingin di tangannya.Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu mendecak kec
Selama perjalanan menuju Universitas Indonesia, Yusallia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak kembali ragu. Tangannya menggenggam setir sedikit lebih erat dari biasanya, sementara matanya tetap fokus pada jalanan yang tampak buram oleh hujan. Wiper mobil bergerak ke kanan dan ke
Enam Minggu KemudianSiang itu hujan turun tanpa jeda, mengguyur Jakarta dengan deras seolah langit sedang meluapkan seluruh beban yang dipendamnya sejak pagi. Dari balik kaca mobil, Yusallia memandang jalanan yang berkilau basah oleh air hujan, lampu-lampu kendaraan membentuk garis-gari
Lift apartemen berhenti dengan bunyi pelan yang nyaris tak terdengar. Angka di atas pintu menyala sesaat sebelum akhirnya berganti diam. Begitu pintu lift terbuka, Rionegro segera berdiri lebih tegak. Gerakannya tenang, tetapi ada kewaspadaan yang jelas terlihat dari caranya menoleh cepat ke samp
Lorong VIP terasa jauh lebih tenang dibandingkan ruangan-ruangan di balik pintu yang tadi masih dipenuhi tawa dan musik. Di sini, suara dari dalam hanya terdengar seperti gema yang tertahan, bercampur dengan dengung pendingin ruangan dan langkah kaki yang pelan di atas karpet tebal. Lampu-lampu d







