Share

Chapter 4

Author: Reartha
last update publish date: 2026-04-22 07:56:43

Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda.

Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang masih segar bercampur dengan hiruk-pikuk yang khas—ramai, hidup, dan penuh gerak.

Rionegro memarkir mobilnya dengan tenang.

Ia melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di wajahnya, lalu menyimpannya ke dalam mobil. Kemeja yang ia kenakan tetap rapi seperti biasa, tanpa banyak usaha. Pada dirinya, kerapian memang selalu tampak seperti sesuatu yang alami, bukan hasil dari terlalu banyak perhatian.

Ia melangkah keluar dari area parkir dengan gerakan santai. Langkahnya panjang, mantap, dan tidak tergesa. Namun alih-alih langsung menuju gedung fakultas, ia justru berbelok ke arah lain—ke sebuah kafe kecil yang letaknya tidak jauh dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tempat ia mengajar.

Tempat itu sudah terlalu akrab baginya.

Begitu pintu kaca didorong, aroma kopi langsung menyambut. Hangat, pekat, dan menenangkan. Suasana di dalam kafe belum terlalu ramai. Beberapa mahasiswa duduk di sudut sambil membuka laptop, sebagian lain hanya menikmati sarapan cepat sebelum kelas dimulai. Musik pelan terdengar samar, cukup untuk mengisi ruang tanpa mengganggu.

Di salah satu sudut, seseorang sudah duduk santai dengan satu kaki disilangkan dan secangkir kopi di tangannya.

Savira.

Temannya yang dulu sempat menjadi juniornya saat kuliah, dan sekarang menjadi rekan kerja di kampus yang sama.

Begitu melihat Rionegro mendekat, Savira mengangkat pandangan, lalu menyeringai tipis.

“Tumben lo telat dikit.”

Rionegro menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa banyak basa-basi. “Masih jam segini dibilang telat?”

Savira mengangkat bahu ringan. “Buat ukuran lo, iya.”

Rionegro hanya mendengus pelan. Ia memberi isyarat ke barista untuk memesan kopi seperti biasa, lalu menyandarkan tubuh sebentar di kursinya.

Beberapa detik hening.

Kemudian Savira menyipitkan mata, memperhatikan wajah Rionegro sedikit lebih lama dari biasanya.

“Lo kenapa?” tanyanya tiba-tiba.

Rionegro mengangkat alis. “Kenapa gimana?”

“Wajah lo beda,” jawab Savira santai sambil menyesap kopinya. “Kayak habis kejadian sesuatu yang nggak lo duga.”

Rionegro mendengus pelan. “Lebay.”

“Serius.” Savira menyandarkan punggung ke kursinya, tetap menatap pria di depannya penuh selidik. “Lo habis ngalamin apa?”

Rionegro sempat terdiam sebentar.

Lalu entah kenapa, justru tawa kecil lolos dari bibirnya.

“Semalem gue habis nolong cewek.”

Alis Savira langsung terangkat tinggi. “Oh?”

“Nggak sengaja ketemu di jalan. Mobilnya mogok, hujan deras.”

Penjelasan itu disampaikan singkat, nyaris datar, seolah ia sedang bercerita tentang hal biasa. Tapi justru karena singkat itulah Savira semakin tertarik.

“Cewek?” ulangnya dengan senyum yang makin lebar.

Rionegro melirik tajam. “Ya, masa gue ngarang?”

“Siapa tahu,” balas Savira santai. “Lanjut.”

Rionegro menggeleng kecil, tetapi tetap melanjutkan. Ia menceritakan bagaimana ia menemukan Yusallia di pinggir jalan, berdiri sendirian dalam hujan deras, bagaimana mobilnya mogok, dan bagaimana pada akhirnya ia memutuskan untuk mengantar perempuan itu pulang.

Tidak ada detail yang berlebihan. Tidak ada nada dramatis. Hanya potongan-potongan cerita yang disampaikan seperlunya.

Tapi itu sudah cukup membuat Savira menyeringai penuh arti.

“Terus?” tanya Savira sambil mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Cantik nggak ceweknya?”

Rionegro langsung mengembuskan napas panjang. “Pertanyaan lo selalu itu.”

“Jawab dulu.”

Rionegro terdiam sejenak.

Lalu, seolah malas meladeni tapi tetap menjawab, ia berkata, “...Lumayan.”

Savira langsung tertawa pelan. “Wah. Kalau dari lo bilang ‘lumayan’, itu artinya udah di atas rata-rata.”

“Biasa aja,” elak Rionegro.

“Namanya siapa?”

Saat kopi Rionegro datang dan diletakkan di atas meja, pria itu menatap cangkirnya sebentar sebelum menjawab, “Yusallia.”

Savira mengulang nama itu pelan, seolah sedang mencicipi bunyinya. “Yusallia...”

Lalu ia tersenyum miring. “Nama yang bagus.”

Rionegro tidak menanggapi. Ia hanya menyeruput kopinya pelan, seolah itu lebih penting daripada semua godaan Savira.

Namun perempuan itu belum selesai.

“Lo nggak biasanya cerita beginian.”

“Ini juga nggak penting,” kata Rionegro, masih tidak menoleh langsung ke arahnya.

Savira tertawa kecil. “Kalau nggak penting, lo nggak bakal cerita.”

Kali ini Rionegro tidak segera menjawab.

Keheningan singkat itu justru membuat Savira semakin yakin pada bacaannya sendiri. Ia menatap Rionegro beberapa detik, lalu berkata dengan santai, “Lo tertarik, ya?”

“Enggak,” jawab Rionegro cepat.

Terlalu cepat.

Savira langsung terkekeh. “Iya deh, terserah lo.”

Rionegro menggeleng pelan, tetapi sudut bibirnya sempat terangkat tipis. Reaksi kecil yang tidak luput dari perhatian Savira.

Obrolan mereka lalu berlanjut pada hal-hal lain. Mahasiswa yang mulai susah diatur menjelang akhir semester. Dosen lain yang kabarnya akan pindah kampus. Gosip kecil di lingkungan fakultas. Topik-topik ringan yang biasa mereka bahas kalau sedang sempat duduk bersama.

Waktu berjalan tanpa terlalu terasa.

Sampai Savira melirik jam di pergelangan tangannya. “Hampir jam sembilan.”

Rionegro ikut melihat jamnya, lalu mengembuskan napas pelan. “Gue harus ke kelas.”

Ia berdiri, merapikan sedikit bagian depan kemejanya, lalu mengambil cangkirnya untuk menyesap sisa kopi.

Savira masih duduk santai, tetapi matanya tetap mengikuti gerakan Rionegro seolah masih ingin menggodanya satu kali lagi.

“Gue duluan,” kata Rionegro.

“Oke,” balas Savira ringan.

Tanpa banyak bicara lagi, Rionegro berbalik dan berjalan keluar dari kafe.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 108

    Enam tahun kemudian.Rumah itu tidak lagi sunyi.Dulu, apartemen Rionegro selalu rapi. Terlalu rapi. Sofa selalu berada di posisi yang sama. Buku-buku tersusun sesuai kategori. Meja kerja tidak pernah dipenuhi benda yang tidak perlu. Bahkan suara langkah kaki pun terasa seperti harus lebih pelan agar tidak mengganggu ketenangan di dalamnya.Namun sekarang, ketenangan itu sudah lama pergi.Dan anehnya, Rionegro tidak pernah benar-benar merindukannya.Pagi itu, ruang tengah dipenuhi suara langkah kecil yang berlari dari kamar menuju meja makan. Dua anak berusia enam tahun berkejaran sambil membawa boneka dan mobil-mobilan kecil. Di lantai, beberapa pensil warna berserakan. Di sofa, ada selimut kecil bergambar beruang yang tersangkut di sandaran. Di meja rendah, ada buku cerita anak yang terbuka, satu gelas susu yang belum habis, dan gambar krayon berbentuk rumah dengan empat orang di depannya.Rumah itu berantakan.

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 107

    Kontraksi itu datang menjelang subuh.Awalnya hanya rasa tidak nyaman yang membuat Yusallia terbangun dengan napas pelan dan kening berkerut. Ia sempat berpikir itu hanya pegal biasa, karena beberapa minggu terakhir tubuhnya memang semakin mudah lelah. Perutnya yang membesar karena dua kehidupan kecil di dalamnya sering membuatnya sulit tidur nyenyak.Namun beberapa menit kemudian, rasa sakit itu datang lagi.Lebih kuat.Lebih jelas.Yusallia menggenggam ujung selimut.“Rion,” panggilnya lirih.Rionegro langsung terbangun.Bukan perlahan.Bukan dengan wajah bingung orang baru bangun tidur.Ia langsung duduk, seolah sejak awal tubuhnya memang hanya tidur setengah sadar untuk menunggu sesuatu terjadi.“Yusa?” suaranya berat, tetapi matanya langsung fokus. “Kamu sakit?”Yusallia menarik napas pelan. “Kontraksi.”Satu kata itu membuat wajah Rionegro berubah.Ia d

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 106

    Malamnya, setelah Damian pulang, apartemen kembali tenang.Yusallia duduk di sofa sambil memegang salah satu brosur kamar bayi. Rionegro duduk di lantai dekat meja, mengukur ulang denah sederhana yang sudah ia gambar sendiri.Yusallia menatapnya lama.Rambut Rionegro sedikit jatuh ke dahi. Kemejanya sudah tidak serapi pagi tadi. Lengan bajunya tergulung sampai siku. Wajahnya masih fokus, tetapi tidak setegang sebelumnya.Di depannya, ada begitu banyak catatan.Kamar bayi.Keamanan.Pengasuh.Kesehatan.Jadwal.Keuangan.Kontrol kandungan.Batas pekerjaan.Rencana setelah bayi lahir.Semua hal itu mungkin terlihat berlebihan bagi orang lain.Namun Yusallia melihat sesuatu yang berbeda.Ia melihat seorang pria yang sedang membangun masa depan dengan tangannya sendiri.Bukan masa depan yang hanya ia bicarakan.Bukan janji koso

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 105

    Yusallia melihat lagi daftar di laptop.“Kamar bayi ini maksudnya kamar kosong sebelah ruang kerja?”“Iya.”“Kamu mau ubah semua?”“Tidak semua. Tapi sebagian besar.”“Ruang kerja kamu?”“Aku bisa pindah ke ruang tengah.”Yusallia langsung menatapnya. “Rion, itu ruang kerja kamu.”“Bayi-bayi butuh kamar.”“Tapi kamu juga butuh tempat kerja.”“Aku bisa menyesuaikan.”Yusallia menghela napas kecil. “Kamu nggak harus mengalahkan semua hal milikmu untuk kami.”Rionegro terdiam.Yusallia menatapnya lebih lembut. “Aku tahu kamu mau siap. Aku tahu kamu mau semua aman. Tapi masa depan kita bukan cuma tentang menghapus hidup kamu supaya jadi ruang untuk aku dan bayi-bayi.”Rionegro tidak langsung menjawab.Kalimat itu mengenai sesuatu di dalam dirinya.Sejak kecil, ia terbiasa memahami keluarga sebagai sesuatu yang menuntut pengorbanan diam-diam. Ora

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 104

    Setelah hari itu, semuanya berubah lagi.Bukan berubah dengan cara yang menakutkan seperti ketika Yusallia mengalami kecelakaan.Bukan juga berubah dengan cara yang mengguncang seperti ketika keluarga Arvantara runtuh dan nama Bagas Arvantara memenuhi berita.Perubahan kali ini datang lebih lembut.Lebih hangat.Namun tetap besar.Sangat besar.Karena sejak dokter mengatakan bahwa bayi mereka kembar, apartemen yang sebelumnya terasa cukup untuk mereka berdua mendadak terlihat seperti tempat yang harus dipikirkan ulang dari awal.Sofa yang dulu hanya menjadi tempat Yusallia bersandar sambil menonton atau membaca buku, sekarang mulai dibayangkan sebagai tempat dua bayi mungkin tertidur sebentar di pelukan mereka.Kamar kosong di dekat ruang kerja Rionegro, yang selama ini hanya dipakai untuk menyimpan beberapa barang tambahan, tiba-tiba berubah menjadi ruangan yang paling sering dilihat Rionegro setiap pa

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 103

    Setelah pemeriksaan selesai, Yusallia duduk di kursi dengan gerakan pelan. Rionegro membantunya memakai cardigan, masih dengan wajah yang seperti belum sepenuhnya kembali dari keterkejutan.Dokter memberikan hasil cetak USG kepada mereka.“Ini saya cetakkan dua gambar. Nanti bisa disimpan.”Yusallia menerima lembar itu dengan tangan gemetar.Ia menatap dua gambar kecil berwarna hitam putih itu.Sulit dipahami oleh mata orang awam.Namun baginya, gambar itu terasa seperti dunia baru.“Ini mereka?” bisiknya.Dokter mengangguk. “Iya. Ini bayi pertama, dan ini bayi kedua.”Rionegro menatap gambar itu.Lama.Terlalu lama.Yusallia menoleh padanya. “Kamu masih hidup?”Rionegro berkedip. “Iya.”“Kamu diam banget.”“Aku sedang berpikir.”“Jangan terlalu banyak berpikir.”“Sulit.”“Apa yang kamu pikirkan?”Rionegro menatap

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 5

    Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah le

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 3

    Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-be

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 2

    Mobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang bel

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 1

    Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status