LOGINDi sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda.
Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang masih segar bercampur dengan hiruk-pikuk yang khas—ramai, hidup, dan penuh gerak. Rionegro memarkir mobilnya dengan tenang. Ia melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di wajahnya, lalu menyimpannya ke dalam mobil. Kemeja yang ia kenakan tetap rapi seperti biasa, tanpa banyak usaha. Pada dirinya, kerapian memang selalu tampak seperti sesuatu yang alami, bukan hasil dari terlalu banyak perhatian. Ia melangkah keluar dari area parkir dengan gerakan santai. Langkahnya panjang, mantap, dan tidak tergesa. Namun alih-alih langsung menuju gedung fakultas, ia justru berbelok ke arah lain—ke sebuah kafe kecil yang letaknya tidak jauh dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tempat ia mengajar. Tempat itu sudah terlalu akrab baginya. Begitu pintu kaca didorong, aroma kopi langsung menyambut. Hangat, pekat, dan menenangkan. Suasana di dalam kafe belum terlalu ramai. Beberapa mahasiswa duduk di sudut sambil membuka laptop, sebagian lain hanya menikmati sarapan cepat sebelum kelas dimulai. Musik pelan terdengar samar, cukup untuk mengisi ruang tanpa mengganggu. Di salah satu sudut, seseorang sudah duduk santai dengan satu kaki disilangkan dan secangkir kopi di tangannya. Savira. Temannya yang dulu sempat menjadi juniornya saat kuliah, dan sekarang menjadi rekan kerja di kampus yang sama. Begitu melihat Rionegro mendekat, Savira mengangkat pandangan, lalu menyeringai tipis. “Tumben lo telat dikit.” Rionegro menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa banyak basa-basi. “Masih jam segini dibilang telat?” Savira mengangkat bahu ringan. “Buat ukuran lo, iya.” Rionegro hanya mendengus pelan. Ia memberi isyarat ke barista untuk memesan kopi seperti biasa, lalu menyandarkan tubuh sebentar di kursinya. Beberapa detik hening. Kemudian Savira menyipitkan mata, memperhatikan wajah Rionegro sedikit lebih lama dari biasanya. “Lo kenapa?” tanyanya tiba-tiba. Rionegro mengangkat alis. “Kenapa gimana?” “Wajah lo beda,” jawab Savira santai sambil menyesap kopinya. “Kayak habis kejadian sesuatu yang nggak lo duga.” Rionegro mendengus pelan. “Lebay.” “Serius.” Savira menyandarkan punggung ke kursinya, tetap menatap pria di depannya penuh selidik. “Lo habis ngalamin apa?” Rionegro sempat terdiam sebentar. Lalu entah kenapa, justru tawa kecil lolos dari bibirnya. “Semalem gue habis nolong cewek.” Alis Savira langsung terangkat tinggi. “Oh?” “Nggak sengaja ketemu di jalan. Mobilnya mogok, hujan deras.” Penjelasan itu disampaikan singkat, nyaris datar, seolah ia sedang bercerita tentang hal biasa. Tapi justru karena singkat itulah Savira semakin tertarik. “Cewek?” ulangnya dengan senyum yang makin lebar. Rionegro melirik tajam. “Ya, masa gue ngarang?” “Siapa tahu,” balas Savira santai. “Lanjut.” Rionegro menggeleng kecil, tetapi tetap melanjutkan. Ia menceritakan bagaimana ia menemukan Yusallia di pinggir jalan, berdiri sendirian dalam hujan deras, bagaimana mobilnya mogok, dan bagaimana pada akhirnya ia memutuskan untuk mengantar perempuan itu pulang. Tidak ada detail yang berlebihan. Tidak ada nada dramatis. Hanya potongan-potongan cerita yang disampaikan seperlunya. Tapi itu sudah cukup membuat Savira menyeringai penuh arti. “Terus?” tanya Savira sambil mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Cantik nggak ceweknya?” Rionegro langsung mengembuskan napas panjang. “Pertanyaan lo selalu itu.” “Jawab dulu.” Rionegro terdiam sejenak. Lalu, seolah malas meladeni tapi tetap menjawab, ia berkata, “...Lumayan.” Savira langsung tertawa pelan. “Wah. Kalau dari lo bilang ‘lumayan’, itu artinya udah di atas rata-rata.” “Biasa aja,” elak Rionegro. “Namanya siapa?” Saat kopi Rionegro datang dan diletakkan di atas meja, pria itu menatap cangkirnya sebentar sebelum menjawab, “Yusallia.” Savira mengulang nama itu pelan, seolah sedang mencicipi bunyinya. “Yusallia...” Lalu ia tersenyum miring. “Nama yang bagus.” Rionegro tidak menanggapi. Ia hanya menyeruput kopinya pelan, seolah itu lebih penting daripada semua godaan Savira. Namun perempuan itu belum selesai. “Lo nggak biasanya cerita beginian.” “Ini juga nggak penting,” kata Rionegro, masih tidak menoleh langsung ke arahnya. Savira tertawa kecil. “Kalau nggak penting, lo nggak bakal cerita.” Kali ini Rionegro tidak segera menjawab. Keheningan singkat itu justru membuat Savira semakin yakin pada bacaannya sendiri. Ia menatap Rionegro beberapa detik, lalu berkata dengan santai, “Lo tertarik, ya?” “Enggak,” jawab Rionegro cepat. Terlalu cepat. Savira langsung terkekeh. “Iya deh, terserah lo.” Rionegro menggeleng pelan, tetapi sudut bibirnya sempat terangkat tipis. Reaksi kecil yang tidak luput dari perhatian Savira. Obrolan mereka lalu berlanjut pada hal-hal lain. Mahasiswa yang mulai susah diatur menjelang akhir semester. Dosen lain yang kabarnya akan pindah kampus. Gosip kecil di lingkungan fakultas. Topik-topik ringan yang biasa mereka bahas kalau sedang sempat duduk bersama. Waktu berjalan tanpa terlalu terasa. Sampai Savira melirik jam di pergelangan tangannya. “Hampir jam sembilan.” Rionegro ikut melihat jamnya, lalu mengembuskan napas pelan. “Gue harus ke kelas.” Ia berdiri, merapikan sedikit bagian depan kemejanya, lalu mengambil cangkirnya untuk menyesap sisa kopi. Savira masih duduk santai, tetapi matanya tetap mengikuti gerakan Rionegro seolah masih ingin menggodanya satu kali lagi. “Gue duluan,” kata Rionegro. “Oke,” balas Savira ringan. Tanpa banyak bicara lagi, Rionegro berbalik dan berjalan keluar dari kafe.Malam setelah pertengkaran itu berlalu tanpa benar-benar memberi istirahat pada siapa pun.Di dalam kamar, Yusallia tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah basah dan dada yang masih terasa sesak, sementara di luar sana apartemen tetap sunyi seperti tidak ada apa-apa yang baru saja pecah. Tidak ada suara langkah mendekat ke pintu. Tidak ada ketukan pelan. Tidak ada suara Rionegro yang mencoba meminta ia membuka pintu dan bicara baik-baik. Yang ada hanya hening yang panjang, dingin, dan membuat semuanya terasa semakin nyata.Yusallia memeluk dirinya sendiri cukup lama sampai akhirnya lelah itu datang.Bukan lelah fisik.Bukan juga mual atau pusing yang biasa ia rasakan sejak hamil.Ini jenis lelah yang hidup di hati. Lelah karena terlalu lama menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang. Lelah karena berkali-kali berusaha mengerti, berkali-kali memaklumi, berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa sem
Malam itu, apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan sunyi yang tenang. Bukan juga sunyi yang nyaman seperti malam-malam awal ketika mereka masih sama-sama belajar tinggal di bawah atap yang sama. Sunyi kali ini terasa seperti sesuatu yang menahan napas, menunggu pecah, menunggu satu kalimat saja terucap agar semuanya berubah bentuk.Setelah pulang dari kafe, Yusallia dan Rionegro tidak banyak bicara.Mereka masuk ke apartemen bersama, melepas sepatu, lalu berjalan ke ruang tengah dengan langkah yang sama-sama pelan. Lampu masih menyala hangat. Ruangan masih rapi. Gelas air di meja masih seperti tadi. Tapi suasana di dalamnya sudah berbeda. Terlalu rapat. Terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak diucapkan.Rionegro berdiri sebentar di dekat meja, meletakkan ponsel dan dompetnya seperti biasa. Gerakannya tetap tenang. Terlalu tenang, sampai membuat dada Yusallia terasa semakin sesak. Seolah apa pun yang baru saja ia lihat-Bryan yang mendengarn
Sore itu turun perlahan dengan warna langit yang pucat dan perasaan Yusallia yang jauh lebih berat dari biasanya. Apartemen tetap tenang seperti hari-hari sebelumnya. Terlalu tenang, malah. Jam dinding berdetak halus. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dari jendela besar ruang tengah, gedung-gedung Jakarta berdiri dengan cahaya sore yang mulai turun, sementara di dalam sana, Yusallia duduk sendiri di ujung sofa sambil memeluk bantal kecil di pangkuannya. Rionegro ada di rumah. Seperti biasa untuk akhir pekan, pria itu lebih banyak berada di apartemen. Kadang di ruang kerja kecilnya. Kadang di dapur. Kadang hanya berjalan singkat ke ruang tengah untuk memastikan Yusallia sudah minum, sudah makan, atau tidak berdiri terlalu lama. Semua tetap seperti biasanya. Semua tetap tepat. Semua tetap penuh perhatian. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Yusallia terasa semakin sesak. Karena perhatian Rionegro t
Semakin hari, tubuh Yusallia semakin jelas berubah.Bukan perubahan yang datang tiba-tiba lalu mengejutkan semuanya sekaligus. Lebih seperti sesuatu yang tumbuh pelan, tapi pasti. Perutnya mulai tampak lebih nyata. Langkahnya kadang melambat tanpa ia rencanakan. Punggungnya lebih sering terasa pegal menjelang malam. Dan meskipun ia masih bisa menjalani hari-harinya dengan cukup baik, ada banyak hal kecil yang kini menuntut perhatian lebih.Rionegro melihat semuanya.Terlalu jelas, mungkin.Dan sejak perubahan itu semakin tampak, pria itu juga berubah. Bukan menjadi lebih lembut. Bukan menjadi lebih terbuka. Justru menjadi lebih protektif dengan cara yang semakin kaku.Awalnya, Yusallia tidak terlalu mempermasalahkannya.Ia menganggap itu wajar. Wajar kalau Rionegro jadi lebih sering mengingatkan. Wajar kalau pria itu lebih memperhatikan apa yang ia makan, bagaimana ia berjalan, seberapa lama ia berdiri, atau apakah tas yang dibaw
Hari-hari setelah itu tetap berjalan. Dan justru karena semuanya tetap berjalan seperti biasa, hati Yusallia terasa semakin berat. Pagi masih datang tepat waktu. Alarm masih berbunyi. Cahaya matahari masih jatuh di lantai apartemen dengan warna lembut yang sama. Rionegro masih bangun lebih dulu di banyak hari, menyalakan lampu dapur, menyiapkan sarapan sederhana, memeriksa jam, lalu memastikan vitamin dan susu Yusallia tidak terlewat. Rumah sakit tetap sibuk. Kampus tetap menuntut waktu Rionegro. Malam tetap kembali membawa mereka ke bawah atap yang sama. Tidak ada yang benar-benar berubah dari luar. Namun di dalam diri Yusallia, semuanya justru terasa bergerak ke arah yang semakin melelahkan. Ia menjalani hari-harinya dengan tubuh yang tetap bergerak, dengan senyum yang masih bisa dipasang, dengan jawaban-jawaban yang masih terdengar normal saat orang lain bertanya kabarnya. Di rumah sakit, ia tetap menjadi
Hari Minggu itu datang dengan cara yang terlalu tenang untuk hati Yusallia yang sudah terlalu penuh.Pagi turun perlahan ke apartemen mereka lewat cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai ruang tengah, jatuh di lantai, di tepian sofa, dan di wajah seorang pria yang tertidur di sana dengan kepala sedikit miring ke satu sisi. Televisi mati. Laptop di meja masih terbuka setengah. Satu gelas air tinggal separuh. Dan di ruang yang begitu sunyi itu, Yusallia berdiri diam di ambang lorong sambil memandang Rionegro lebih lama dari yang seharusnya.Semalam pria itu tertidur di sofa.Bukan karena ada masalah besar. Bukan pula karena mereka bertengkar. Beberapa hari terakhir justru tidak ada pertengkaran sama sekali. Hanya ada sunyi yang panjang, hati-hati, dan dingin. Rionegro tetap menjalankan semuanya seperti biasa-makanan, jadwal, obat, pengingat kecil, dan segala bentuk perhatian yang bisa ia ukur. Sementara Yusallia, pelan-pelan, belajar hidup di dalam per
Pukul sembilan malam hampir tiba ketika Rionegro akhirnya menutup laptopnya. Lampu apartemen masih menyala setengah redup, hanya cukup terang untuk menampilkan bayangan samar furnitur modern yang tertata rapi. Tidak banyak dekorasi. Tidak ada benda yang benar-benar berlebihan. Semuanya terasa fungs
Siang hari datang lebih cepat dari yang Yusallia sadari. Jam di dinding ruang praktiknya sudah hampir menunjukkan waktu istirahat makan siang ketika pasien terakhir pagi itu duduk di hadapannya. Seorang perempuan muda yang sejak awal terlihat sedikit cemas, tapi perlahan mulai lebih tenang setelah
Pukul tujuh pagi. Langit Jakarta belum sepenuhnya terang ketika pagi mulai merayap masuk melalui celah-celah gedung tinggi. Cahaya matahari yang masih tipis menyusup pelan ke balkon apartemen, memantul lembut di lantai marmer berwarna pucat yang masih menyimpan dingin malam. Udara pagi terasa tenan
Pagi itu, setelah menurunkan Yusallia di depan rumah sakit, Rionegro kembali memutar setir mobilnya dan perlahan menjauh dari area gedung utama. Bangunan rumah sakit yang menjulang itu pelan-pelan mengecil di kaca spion. Pintu masuk yang beberapa menit lalu menjadi tempat perpisahan singkat mereka







