LOGINMobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang belum juga reda sejak tadi. Lampu taman yang berjajar di pinggir jalan memantulkan kilau lembut di permukaan aspal yang licin, menciptakan suasana malam yang terasa lebih hening dari biasanya.
Di kursi penumpang, Yusallia yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya menoleh ke arah jendela. Pandangannya menyapu jalanan yang perlahan terasa semakin akrab. Ada tikungan kecil yang ia kenali, pagar rumah-rumah yang tidak asing, dan pohon besar di ujung jalan yang selama ini selalu menjadi penanda bahwa rumahnya sudah dekat. Ia pulang. Kesadaran itu seharusnya membuatnya lega. Dan memang, sebagian dari dirinya merasa begitu. Tetapi di saat yang sama, ada sesuatu yang lain yang ikut mengendap di dadanya—perasaan samar yang sulit ia beri nama setelah malam yang tidak biasa itu. Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang berdiri di ujung jalan. Halaman depannya terlihat basah oleh hujan, sementara lampu teras menyala temaram, memantulkan cahaya lembut ke pagar besi dan jalan setapak menuju pintu utama. Rionegro mematikan mesin mobil. Seketika, suara hujan yang tadi tertahan oleh deru mesin kembali terdengar lebih jelas. Air jatuh pelan di atap mobil, di dedaunan, dan di jalan yang mulai dipenuhi genangan tipis. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Yusallia melepas sabuk pengaman yang melintang di tubuhnya, lalu menoleh ke arah pria yang duduk di kursi kemudi. Wajahnya masih sedikit basah oleh sisa hujan tadi, rambutnya belum sepenuhnya kering, tetapi sorot matanya kini jauh lebih tenang dibanding saat mereka pertama kali bertemu di pinggir jalan. “Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucapnya tulus. Rionegro menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil. “Tidak masalah.” Jawaban itu singkat. Datar. Tapi tidak terdengar dingin. Justru ada ketenangan yang aneh dari caranya berbicara, seolah memang tidak menganggap pertolongannya sebagai sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Setelah itu, keheningan kembali turun di dalam mobil. Yusallia sebenarnya bisa saja langsung membuka pintu dan turun. Ia sudah sampai di rumah. Situasinya juga seharusnya selesai sampai di sana. Namun entah kenapa, tangannya belum juga bergerak ke gagang pintu. Ada sesuatu yang masih menggantung di ujung lidahnya, sesuatu yang membuatnya merasa tidak enak jika ia pergi begitu saja. Akhirnya, ia kembali membuka suara. “Uhm... tentang tadi...” Rionegro sedikit menoleh, menunggu kelanjutan kalimatnya tanpa mendesak. Yusallia sempat ragu sepersekian detik, lalu melanjutkan, “Terima kasih sudah nolongin aku malam ini. Kalau nggak ada kamu, mungkin sampai sekarang aku masih berdiri di pinggir jalan itu.” Kali ini, Rionegro tidak langsung menjawab. Ia menatap Yusallia beberapa saat, seolah menimbang kata-kata yang tepat, sebelum akhirnya berkata dengan nada tetap tenang, “Siapa pun yang lewat mungkin akan melakukan hal yang sama.” Yusallia tersenyum kecil mendengar itu. Ia tahu pria itu mungkin hanya merendah. Karena kenyataannya, tidak semua orang akan berhenti di tengah hujan deras, menjelang tengah malam, hanya untuk membantu orang asing yang mobilnya mogok di jalan sepi. Banyak orang akan memilih terus melaju. Banyak yang mungkin bahkan tidak mau ambil risiko. Tetapi Rionegro berhenti. Dan hal kecil itu, entah kenapa, terasa berarti. Maka sebelum keberaniannya hilang, Yusallia memutuskan untuk mengatakan apa yang sejak tadi muncul spontan di kepalanya. “Sebagai ucapan terima kasih...” katanya pelan, lalu berhenti sesaat. “Kalau kamu nggak sibuk besok... gimana kalau aku traktir makan siang?” Kalimat itu keluar begitu saja. Begitu selesai mengucapkannya, Yusallia sendiri langsung terdiam, sedikit terkejut dengan keberaniannya. Ia tidak benar-benar merencanakan ajakan itu. Bahkan ia baru mengenal pria ini malam ini. Tetapi kata-kata itu sudah telanjur meluncur, dan kini menggantung di antara mereka bersama bunyi hujan yang masih turun pelan di luar. Rionegro juga tampak tidak langsung menjawab. Ia menatap Yusallia beberapa saat, seolah mencoba memahami apakah perempuan itu sungguh-sungguh atau hanya bicara karena canggung. Ekspresinya tidak banyak berubah, tetapi ada semacam keheningan yang terasa lebih panjang dari sebelumnya. “Tidak perlu sampai begitu,” jawabnya akhirnya. Jawaban itu cukup sopan, cukup wajar, dan sebenarnya bisa menjadi akhir dari pembicaraan. Namun entah dari mana datangnya, Yusallia justru menggeleng pelan. “Tidak apa-apa,” katanya. “Aku memang benar-benar ingin berterima kasih dengan cara yang lebih baik.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang berusaha dibuat lebih santai, “Lagipula... cuma makan siang. Nggak terlalu merepotkan, kan?” Rionegro tidak segera menjawab. Ia kembali diam, sementara suara hujan menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruang sempit di antara mereka. Lampu teras rumah Yusallia memantul samar di kaca jendela mobil. Dari luar, suasana tampak tenang. Dari dalam, ada sesuatu yang sedang menunggu diputuskan. Beberapa detik kemudian, Rionegro mengembuskan napas kecil. “Baiklah.” Yusallia menatapnya, sedikit terkejut. “Benarkah?” Rionegro mengangguk sekali. “Kalau besok saya tidak ada jadwal yang mendesak, saya bisa meluangkan waktu.” Kalimat itu terdengar formal. Sangat dirinya. Tapi bagi Yusallia, itu sudah lebih dari cukup. Wajahnya langsung tampak sedikit lebih cerah. “Baik! Kalau begitu aku hubungi kamu besok.” Baru setelah kalimat itu keluar, ia menyadari sesuatu yang sangat penting. Ia bahkan belum punya nomor telepon pria itu. Rionegro seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya. Tanpa komentar apa pun, ia mengambil ponsel dari saku dan menyerahkannya pada Yusallia. “Masukkan nomor teleponmu.” Yusallia menerima ponsel itu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat karena alasan yang bahkan tidak ia mengerti. Ia segera mengetikkan nomornya, memastikan tidak ada angka yang salah, lalu mengembalikannya. “Sudah.” Rionegro melihat layarnya sekilas, lalu menyimpan ponsel itu kembali. “Baik.” Dan lagi-lagi, mereka terdiam. Namun keheningan kali ini terasa berbeda. Tidak secanggung sebelumnya. Tidak pula terlalu asing. Lebih seperti jeda yang lembut, seolah masing-masing sedang mencerna apa yang baru saja terjadi malam itu. Pada akhirnya, Yusallia meraih gagang pintu dan membukanya. Begitu ia turun dari mobil, udara malam yang dingin langsung menyambutnya. Aroma hujan yang segar bercampur dengan wangi tanah basah dan dedaunan. Ia berdiri sebentar di samping pintu mobil sebelum menoleh kembali ke arah Rionegro yang masih duduk di balik kemudi. “Sekali lagi... terima kasih,” katanya. Rionegro membalas dengan anggukan kecil. “Selamat malam.” “Selamat malam.” Yusallia menutup pintu mobil perlahan, lalu berjalan menuju pagar rumahnya. Langkahnya tenang, meski kepalanya dipenuhi banyak hal. Dari belakang, ia bisa merasakan bahwa mobil itu belum juga pergi. Dan benar saja. Saat membuka pagar lalu melangkah masuk ke halaman, ia sempat menoleh sekali lagi ke belakang. Mobil Rionegro masih berada di tempat yang sama. Mesin belum dinyalakan. Lampunya masih mati. Seolah pria itu menunggu sampai ia benar-benar masuk dengan aman sebelum pergi. Sesuatu yang sederhana. Tetapi entah kenapa membuat sudut bibir Yusallia terangkat tanpa sadar. Ia mengangkat satu tangannya sedikit, melambai kecil dengan senyum tipis. Dari dalam mobil, Rionegro membalasnya dengan anggukan pelan. Beberapa detik kemudian, barulah mesin mobil menyala lagi. Lampu depan menerangi jalan yang basah, lalu perlahan mobil itu bergerak menjauh. Yusallia berdiri sebentar di tempatnya, memandangi mobil hitam itu sampai lampunya menghilang di ujung jalan.Malam itu, apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan sunyi yang tenang. Bukan juga sunyi yang nyaman seperti malam-malam awal ketika mereka masih sama-sama belajar tinggal di bawah atap yang sama. Sunyi kali ini terasa seperti sesuatu yang menahan napas, menunggu pecah, menunggu satu kalimat saja terucap agar semuanya berubah bentuk.Setelah pulang dari kafe, Yusallia dan Rionegro tidak banyak bicara.Mereka masuk ke apartemen bersama, melepas sepatu, lalu berjalan ke ruang tengah dengan langkah yang sama-sama pelan. Lampu masih menyala hangat. Ruangan masih rapi. Gelas air di meja masih seperti tadi. Tapi suasana di dalamnya sudah berbeda. Terlalu rapat. Terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak diucapkan.Rionegro berdiri sebentar di dekat meja, meletakkan ponsel dan dompetnya seperti biasa. Gerakannya tetap tenang. Terlalu tenang, sampai membuat dada Yusallia terasa semakin sesak. Seolah apa pun yang baru saja ia lihat-Bryan yang mendengarn
Sore itu turun perlahan dengan warna langit yang pucat dan perasaan Yusallia yang jauh lebih berat dari biasanya. Apartemen tetap tenang seperti hari-hari sebelumnya. Terlalu tenang, malah. Jam dinding berdetak halus. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dari jendela besar ruang tengah, gedung-gedung Jakarta berdiri dengan cahaya sore yang mulai turun, sementara di dalam sana, Yusallia duduk sendiri di ujung sofa sambil memeluk bantal kecil di pangkuannya. Rionegro ada di rumah. Seperti biasa untuk akhir pekan, pria itu lebih banyak berada di apartemen. Kadang di ruang kerja kecilnya. Kadang di dapur. Kadang hanya berjalan singkat ke ruang tengah untuk memastikan Yusallia sudah minum, sudah makan, atau tidak berdiri terlalu lama. Semua tetap seperti biasanya. Semua tetap tepat. Semua tetap penuh perhatian. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Yusallia terasa semakin sesak. Karena perhatian Rionegro t
Semakin hari, tubuh Yusallia semakin jelas berubah.Bukan perubahan yang datang tiba-tiba lalu mengejutkan semuanya sekaligus. Lebih seperti sesuatu yang tumbuh pelan, tapi pasti. Perutnya mulai tampak lebih nyata. Langkahnya kadang melambat tanpa ia rencanakan. Punggungnya lebih sering terasa pegal menjelang malam. Dan meskipun ia masih bisa menjalani hari-harinya dengan cukup baik, ada banyak hal kecil yang kini menuntut perhatian lebih.Rionegro melihat semuanya.Terlalu jelas, mungkin.Dan sejak perubahan itu semakin tampak, pria itu juga berubah. Bukan menjadi lebih lembut. Bukan menjadi lebih terbuka. Justru menjadi lebih protektif dengan cara yang semakin kaku.Awalnya, Yusallia tidak terlalu mempermasalahkannya.Ia menganggap itu wajar. Wajar kalau Rionegro jadi lebih sering mengingatkan. Wajar kalau pria itu lebih memperhatikan apa yang ia makan, bagaimana ia berjalan, seberapa lama ia berdiri, atau apakah tas yang dibaw
Hari-hari setelah itu tetap berjalan. Dan justru karena semuanya tetap berjalan seperti biasa, hati Yusallia terasa semakin berat. Pagi masih datang tepat waktu. Alarm masih berbunyi. Cahaya matahari masih jatuh di lantai apartemen dengan warna lembut yang sama. Rionegro masih bangun lebih dulu di banyak hari, menyalakan lampu dapur, menyiapkan sarapan sederhana, memeriksa jam, lalu memastikan vitamin dan susu Yusallia tidak terlewat. Rumah sakit tetap sibuk. Kampus tetap menuntut waktu Rionegro. Malam tetap kembali membawa mereka ke bawah atap yang sama. Tidak ada yang benar-benar berubah dari luar. Namun di dalam diri Yusallia, semuanya justru terasa bergerak ke arah yang semakin melelahkan. Ia menjalani hari-harinya dengan tubuh yang tetap bergerak, dengan senyum yang masih bisa dipasang, dengan jawaban-jawaban yang masih terdengar normal saat orang lain bertanya kabarnya. Di rumah sakit, ia tetap menjadi
Hari Minggu itu datang dengan cara yang terlalu tenang untuk hati Yusallia yang sudah terlalu penuh.Pagi turun perlahan ke apartemen mereka lewat cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai ruang tengah, jatuh di lantai, di tepian sofa, dan di wajah seorang pria yang tertidur di sana dengan kepala sedikit miring ke satu sisi. Televisi mati. Laptop di meja masih terbuka setengah. Satu gelas air tinggal separuh. Dan di ruang yang begitu sunyi itu, Yusallia berdiri diam di ambang lorong sambil memandang Rionegro lebih lama dari yang seharusnya.Semalam pria itu tertidur di sofa.Bukan karena ada masalah besar. Bukan pula karena mereka bertengkar. Beberapa hari terakhir justru tidak ada pertengkaran sama sekali. Hanya ada sunyi yang panjang, hati-hati, dan dingin. Rionegro tetap menjalankan semuanya seperti biasa-makanan, jadwal, obat, pengingat kecil, dan segala bentuk perhatian yang bisa ia ukur. Sementara Yusallia, pelan-pelan, belajar hidup di dalam per
Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau. Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar. Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dib
Malam itu turun dengan cara yang lebih lembut dari biasanya.Setelah kontrol kandungan siang tadi, setelah perjalanan pulang yang terasa lebih tenang dari biasanya, dan setelah makan malam sederhana yang hampir seluruhnya mereka habiskan dalam diam yang tidak lagi canggung, apartemen Rio
Hari Jumat itu datang dengan langit yang sedikit mendung, seolah pagi memang sengaja dibuat lebih lembut dari biasanya.Sejak bangun, Yusallia sudah tahu hari itu akan terasa berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang besar dari luar. Bukan juga karena suasana apartemen berubah menjadi lebih
Pelayan datang membawa makanan mereka, meletakkannya di meja, lalu pergi lagi. Savira tidak menyentuh makanannya. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada pria di depannya. Rionegro juga tidak langsung makan. Jari-jarinya bergerak pelan di sisi cangkir kopi, lalu berhenti.
Siang hari di kampus selalu punya suasana yang khas. Tidak pernah benar-benar tenang, tetapi juga tidak sampai terasa sesak. Di sekitar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, mahasiswa berlalu-lalang dengan ritme yang nyaris sama setiap awal minggu. Ada yang berjalan cepat sambil menatap jam







