Share

Chapter 2

Author: Reartha
last update publish date: 2026-04-16 20:00:52

Mobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang belum juga reda sejak tadi. Lampu taman yang berjajar di pinggir jalan memantulkan kilau lembut di permukaan aspal yang licin, menciptakan suasana malam yang terasa lebih hening dari biasanya.

Di kursi penumpang, Yusallia yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya menoleh ke arah jendela. Pandangannya menyapu jalanan yang perlahan terasa semakin akrab. Ada tikungan kecil yang ia kenali, pagar rumah-rumah yang tidak asing, dan pohon besar di ujung jalan yang selama ini selalu menjadi penanda bahwa rumahnya sudah dekat.

Ia pulang.

Kesadaran itu seharusnya membuatnya lega. Dan memang, sebagian dari dirinya merasa begitu. Tetapi di saat yang sama, ada sesuatu yang lain yang ikut mengendap di dadanya—perasaan samar yang sulit ia beri nama setelah malam yang tidak biasa itu.

Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang berdiri di ujung jalan. Halaman depannya terlihat basah oleh hujan, sementara lampu teras menyala temaram, memantulkan cahaya lembut ke pagar besi dan jalan setapak menuju pintu utama.

Rionegro mematikan mesin mobil. Seketika, suara hujan yang tadi tertahan oleh deru mesin kembali terdengar lebih jelas. Air jatuh pelan di atap mobil, di dedaunan, dan di jalan yang mulai dipenuhi genangan tipis.

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.

Yusallia melepas sabuk pengaman yang melintang di tubuhnya, lalu menoleh ke arah pria yang duduk di kursi kemudi. Wajahnya masih sedikit basah oleh sisa hujan tadi, rambutnya belum sepenuhnya kering, tetapi sorot matanya kini jauh lebih tenang dibanding saat mereka pertama kali bertemu di pinggir jalan.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucapnya tulus.

Rionegro menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil. “Tidak masalah.”

Jawaban itu singkat. Datar. Tapi tidak terdengar dingin. Justru ada ketenangan yang aneh dari caranya berbicara, seolah memang tidak menganggap pertolongannya sebagai sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

Setelah itu, keheningan kembali turun di dalam mobil.

Yusallia sebenarnya bisa saja langsung membuka pintu dan turun. Ia sudah sampai di rumah. Situasinya juga seharusnya selesai sampai di sana. Namun entah kenapa, tangannya belum juga bergerak ke gagang pintu. Ada sesuatu yang masih menggantung di ujung lidahnya, sesuatu yang membuatnya merasa tidak enak jika ia pergi begitu saja.

Akhirnya, ia kembali membuka suara.

“Uhm... tentang tadi...”

Rionegro sedikit menoleh, menunggu kelanjutan kalimatnya tanpa mendesak.

Yusallia sempat ragu sepersekian detik, lalu melanjutkan, “Terima kasih sudah nolongin aku malam ini. Kalau nggak ada kamu, mungkin sampai sekarang aku masih berdiri di pinggir jalan itu.”

Kali ini, Rionegro tidak langsung menjawab. Ia menatap Yusallia beberapa saat, seolah menimbang kata-kata yang tepat, sebelum akhirnya berkata dengan nada tetap tenang, “Siapa pun yang lewat mungkin akan melakukan hal yang sama.”

Yusallia tersenyum kecil mendengar itu.

Ia tahu pria itu mungkin hanya merendah. Karena kenyataannya, tidak semua orang akan berhenti di tengah hujan deras, menjelang tengah malam, hanya untuk membantu orang asing yang mobilnya mogok di jalan sepi. Banyak orang akan memilih terus melaju. Banyak yang mungkin bahkan tidak mau ambil risiko.

Tetapi Rionegro berhenti.

Dan hal kecil itu, entah kenapa, terasa berarti.

Maka sebelum keberaniannya hilang, Yusallia memutuskan untuk mengatakan apa yang sejak tadi muncul spontan di kepalanya.

“Sebagai ucapan terima kasih...” katanya pelan, lalu berhenti sesaat. “Kalau kamu nggak sibuk besok... gimana kalau aku traktir makan siang?”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Begitu selesai mengucapkannya, Yusallia sendiri langsung terdiam, sedikit terkejut dengan keberaniannya. Ia tidak benar-benar merencanakan ajakan itu. Bahkan ia baru mengenal pria ini malam ini. Tetapi kata-kata itu sudah telanjur meluncur, dan kini menggantung di antara mereka bersama bunyi hujan yang masih turun pelan di luar.

Rionegro juga tampak tidak langsung menjawab.

Ia menatap Yusallia beberapa saat, seolah mencoba memahami apakah perempuan itu sungguh-sungguh atau hanya bicara karena canggung. Ekspresinya tidak banyak berubah, tetapi ada semacam keheningan yang terasa lebih panjang dari sebelumnya.

“Tidak perlu sampai begitu,” jawabnya akhirnya.

Jawaban itu cukup sopan, cukup wajar, dan sebenarnya bisa menjadi akhir dari pembicaraan. Namun entah dari mana datangnya, Yusallia justru menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa,” katanya. “Aku memang benar-benar ingin berterima kasih dengan cara yang lebih baik.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang berusaha dibuat lebih santai, “Lagipula... cuma makan siang. Nggak terlalu merepotkan, kan?”

Rionegro tidak segera menjawab. Ia kembali diam, sementara suara hujan menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruang sempit di antara mereka. Lampu teras rumah Yusallia memantul samar di kaca jendela mobil. Dari luar, suasana tampak tenang. Dari dalam, ada sesuatu yang sedang menunggu diputuskan.

Beberapa detik kemudian, Rionegro mengembuskan napas kecil.

“Baiklah.”

Yusallia menatapnya, sedikit terkejut. “Benarkah?”

Rionegro mengangguk sekali. “Kalau besok saya tidak ada jadwal yang mendesak, saya bisa meluangkan waktu.”

Kalimat itu terdengar formal. Sangat dirinya. Tapi bagi Yusallia, itu sudah lebih dari cukup.

Wajahnya langsung tampak sedikit lebih cerah. “Baik! Kalau begitu aku hubungi kamu besok.”

Baru setelah kalimat itu keluar, ia menyadari sesuatu yang sangat penting.

Ia bahkan belum punya nomor telepon pria itu.

Rionegro seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya. Tanpa komentar apa pun, ia mengambil ponsel dari saku dan menyerahkannya pada Yusallia.

“Masukkan nomor teleponmu.”

Yusallia menerima ponsel itu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat karena alasan yang bahkan tidak ia mengerti. Ia segera mengetikkan nomornya, memastikan tidak ada angka yang salah, lalu mengembalikannya.

“Sudah.”

Rionegro melihat layarnya sekilas, lalu menyimpan ponsel itu kembali. “Baik.”

Dan lagi-lagi, mereka terdiam.

Namun keheningan kali ini terasa berbeda. Tidak secanggung sebelumnya. Tidak pula terlalu asing. Lebih seperti jeda yang lembut, seolah masing-masing sedang mencerna apa yang baru saja terjadi malam itu.

Pada akhirnya, Yusallia meraih gagang pintu dan membukanya.

Begitu ia turun dari mobil, udara malam yang dingin langsung menyambutnya. Aroma hujan yang segar bercampur dengan wangi tanah basah dan dedaunan. Ia berdiri sebentar di samping pintu mobil sebelum menoleh kembali ke arah Rionegro yang masih duduk di balik kemudi.

“Sekali lagi... terima kasih,” katanya.

Rionegro membalas dengan anggukan kecil. “Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Yusallia menutup pintu mobil perlahan, lalu berjalan menuju pagar rumahnya. Langkahnya tenang, meski kepalanya dipenuhi banyak hal. Dari belakang, ia bisa merasakan bahwa mobil itu belum juga pergi.

Dan benar saja.

Saat membuka pagar lalu melangkah masuk ke halaman, ia sempat menoleh sekali lagi ke belakang. Mobil Rionegro masih berada di tempat yang sama. Mesin belum dinyalakan. Lampunya masih mati. Seolah pria itu menunggu sampai ia benar-benar masuk dengan aman sebelum pergi.

Sesuatu yang sederhana.

Tetapi entah kenapa membuat sudut bibir Yusallia terangkat tanpa sadar.

Ia mengangkat satu tangannya sedikit, melambai kecil dengan senyum tipis.

Dari dalam mobil, Rionegro membalasnya dengan anggukan pelan.

Beberapa detik kemudian, barulah mesin mobil menyala lagi. Lampu depan menerangi jalan yang basah, lalu perlahan mobil itu bergerak menjauh. Yusallia berdiri sebentar di tempatnya, memandangi mobil hitam itu sampai lampunya menghilang di ujung jalan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 107

    Kontraksi itu datang menjelang subuh.Awalnya hanya rasa tidak nyaman yang membuat Yusallia terbangun dengan napas pelan dan kening berkerut. Ia sempat berpikir itu hanya pegal biasa, karena beberapa minggu terakhir tubuhnya memang semakin mudah lelah. Perutnya yang membesar karena dua kehidupan kecil di dalamnya sering membuatnya sulit tidur nyenyak.Namun beberapa menit kemudian, rasa sakit itu datang lagi.Lebih kuat.Lebih jelas.Yusallia menggenggam ujung selimut.“Rion,” panggilnya lirih.Rionegro langsung terbangun.Bukan perlahan.Bukan dengan wajah bingung orang baru bangun tidur.Ia langsung duduk, seolah sejak awal tubuhnya memang hanya tidur setengah sadar untuk menunggu sesuatu terjadi.“Yusa?” suaranya berat, tetapi matanya langsung fokus. “Kamu sakit?”Yusallia menarik napas pelan. “Kontraksi.”Satu kata itu membuat wajah Rionegro berubah.Ia d

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 106

    Malamnya, setelah Damian pulang, apartemen kembali tenang.Yusallia duduk di sofa sambil memegang salah satu brosur kamar bayi. Rionegro duduk di lantai dekat meja, mengukur ulang denah sederhana yang sudah ia gambar sendiri.Yusallia menatapnya lama.Rambut Rionegro sedikit jatuh ke dahi. Kemejanya sudah tidak serapi pagi tadi. Lengan bajunya tergulung sampai siku. Wajahnya masih fokus, tetapi tidak setegang sebelumnya.Di depannya, ada begitu banyak catatan.Kamar bayi.Keamanan.Pengasuh.Kesehatan.Jadwal.Keuangan.Kontrol kandungan.Batas pekerjaan.Rencana setelah bayi lahir.Semua hal itu mungkin terlihat berlebihan bagi orang lain.Namun Yusallia melihat sesuatu yang berbeda.Ia melihat seorang pria yang sedang membangun masa depan dengan tangannya sendiri.Bukan masa depan yang hanya ia bicarakan.Bukan janji koso

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 105

    Yusallia melihat lagi daftar di laptop.“Kamar bayi ini maksudnya kamar kosong sebelah ruang kerja?”“Iya.”“Kamu mau ubah semua?”“Tidak semua. Tapi sebagian besar.”“Ruang kerja kamu?”“Aku bisa pindah ke ruang tengah.”Yusallia langsung menatapnya. “Rion, itu ruang kerja kamu.”“Bayi-bayi butuh kamar.”“Tapi kamu juga butuh tempat kerja.”“Aku bisa menyesuaikan.”Yusallia menghela napas kecil. “Kamu nggak harus mengalahkan semua hal milikmu untuk kami.”Rionegro terdiam.Yusallia menatapnya lebih lembut. “Aku tahu kamu mau siap. Aku tahu kamu mau semua aman. Tapi masa depan kita bukan cuma tentang menghapus hidup kamu supaya jadi ruang untuk aku dan bayi-bayi.”Rionegro tidak langsung menjawab.Kalimat itu mengenai sesuatu di dalam dirinya.Sejak kecil, ia terbiasa memahami keluarga sebagai sesuatu yang menuntut pengorbanan diam-diam. Ora

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 104

    Setelah hari itu, semuanya berubah lagi.Bukan berubah dengan cara yang menakutkan seperti ketika Yusallia mengalami kecelakaan.Bukan juga berubah dengan cara yang mengguncang seperti ketika keluarga Arvantara runtuh dan nama Bagas Arvantara memenuhi berita.Perubahan kali ini datang lebih lembut.Lebih hangat.Namun tetap besar.Sangat besar.Karena sejak dokter mengatakan bahwa bayi mereka kembar, apartemen yang sebelumnya terasa cukup untuk mereka berdua mendadak terlihat seperti tempat yang harus dipikirkan ulang dari awal.Sofa yang dulu hanya menjadi tempat Yusallia bersandar sambil menonton atau membaca buku, sekarang mulai dibayangkan sebagai tempat dua bayi mungkin tertidur sebentar di pelukan mereka.Kamar kosong di dekat ruang kerja Rionegro, yang selama ini hanya dipakai untuk menyimpan beberapa barang tambahan, tiba-tiba berubah menjadi ruangan yang paling sering dilihat Rionegro setiap pa

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 103

    Setelah pemeriksaan selesai, Yusallia duduk di kursi dengan gerakan pelan. Rionegro membantunya memakai cardigan, masih dengan wajah yang seperti belum sepenuhnya kembali dari keterkejutan.Dokter memberikan hasil cetak USG kepada mereka.“Ini saya cetakkan dua gambar. Nanti bisa disimpan.”Yusallia menerima lembar itu dengan tangan gemetar.Ia menatap dua gambar kecil berwarna hitam putih itu.Sulit dipahami oleh mata orang awam.Namun baginya, gambar itu terasa seperti dunia baru.“Ini mereka?” bisiknya.Dokter mengangguk. “Iya. Ini bayi pertama, dan ini bayi kedua.”Rionegro menatap gambar itu.Lama.Terlalu lama.Yusallia menoleh padanya. “Kamu masih hidup?”Rionegro berkedip. “Iya.”“Kamu diam banget.”“Aku sedang berpikir.”“Jangan terlalu banyak berpikir.”“Sulit.”“Apa yang kamu pikirkan?”Rionegro menatap

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 102

    Dokter kandungan mereka menyambut dengan senyum ramah ketika mereka masuk ke ruang pemeriksaan.“Selamat pagi, Ibu Yusallia. Pak Rionegro.”“Pagi, Dok,” jawab Yusallia.Rionegro mengangguk sopan. “Pagi, Dok.”Dokter membuka catatan kontrol sebelumnya. “Hari ini usia kandungannya sudah masuk empat bulan, ya. Bagaimana keluhannya?”“Sudah lebih baik, Dok,” jawab Yusallia. “Kadang masih cepat capek, tapi tidak separah sebelumnya.”“Pusing?”“Kadang sedikit kalau berdiri terlalu lama.”Rionegro langsung menambahkan, “Mualnya berkurang. Nafsu makan lebih baik, tapi porsinya masih kecil. Tidurnya lebih teratur, walaupun beberapa kali masih terbangun tengah malam.”Yusallia menoleh pelan. “Rion.”Dokter tertawa kecil. “Saya selalu terbantu dengan laporan Pak Rionegro.”Rionegro terlihat tenang. “Saya mencatat beberapa hal.”Yusallia menatap dokter. “Jangan dipuji, Dok. Nanti dia maki

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 4

    Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang ma

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 5

    Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah le

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 3

    Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-be

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 1

    Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status