Share

Chapter 3

Author: Reartha
last update publish date: 2026-04-16 20:15:21

Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-benar padam. Udara terasa lembap dan sejuk, cukup untuk membuat siapa pun menarik napas sedikit lebih dalam sebelum memulai hari.

Yusallia turun dari taksi online dengan langkah yang hati-hati. Ujung sepatunya menyentuh permukaan parkiran rumah sakit yang masih basah, menimbulkan bunyi pelan yang segera tenggelam di antara suara kendaraan lain yang datang dan pergi. Rambut panjangnya dibiarkan terurai rapi, bergerak lembut diterpa angin pagi. Tangannya menggenggam tas kerja sedikit lebih erat dari biasanya, sementara pikirannya masih seperti tertinggal beberapa jam di belakang.

Entah kenapa, kejadian semalam belum juga benar-benar pergi dari kepalanya.

Semuanya masih terasa terlalu jelas.

Jalanan sepi yang diguyur hujan deras. Mobilnya yang mendadak mogok. Dan seorang pria asing yang tiba-tiba berhenti, lalu menawarkan bantuan dengan cara yang tenang, seolah menolong orang lain di tengah malam dan hujan badai adalah hal paling biasa di dunia.

Yusallia mengembuskan napas perlahan.

“Fokus, Yusa...” gumamnya pelan, lebih seperti mengingatkan dirinya sendiri daripada benar-benar mengusir pikirannya.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah sakit, suasana langsung berubah. Bau antiseptik yang khas menyambutnya lebih dulu, diikuti suara langkah kaki para perawat yang berjalan cepat, bunyi troli yang sesekali lewat, serta beberapa pasien yang sudah duduk menunggu sejak pagi. Ritme yang sibuk itu terasa begitu akrab baginya. Tempat ini selalu punya caranya sendiri untuk membuat pikirannya kembali tertata.

“Dokter Yusallia, selamat pagi!”

Sapaan ramah dari salah satu perawat membuatnya menoleh. Ia segera membalas dengan senyum tipis dan anggukan kecil.

“Pagi.”

Ia melanjutkan langkah menuju ruang praktiknya. Saat mendorong pintu hingga terbuka dan masuk ke dalam, Yusallia langsung disambut oleh pemandangan yang sudah begitu ia hafal. Meja kerjanya tertata rapi, kursi pasien berada di tempat semestinya, dan jendela besar di samping ruangan memperlihatkan langit pagi yang masih muram. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama seperti hari-hari sebelumnya.

Namun anehnya, justru di tengah hal-hal yang begitu biasa itu, pikirannya malah kembali melayang.

Yusallia duduk perlahan di kursinya. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Tatapannya lurus ke depan, tetapi isi kepalanya dipenuhi potongan-potongan kecil dari malam kemarin. Suara hujan yang memukul kaca mobil. Jaket hangat yang dipinjamkan padanya. Dan cara pria itu berbicara—singkat, tidak banyak bertanya, tidak mencoba terlalu dekat, tetapi tetap membuatnya merasa aman.

Rionegro.

Nama itu melintas begitu saja di benaknya, membuat Yusallia sedikit mengernyit.

'Aneh.' pikirnya.

Biasanya ia cukup pandai menjaga jarak dengan orang baru. Apalagi dengan orang asing yang baru ia temui sekali. Ia bukan tipe orang yang mudah merasa nyaman, apalagi sampai memikirkan seseorang lebih lama dari yang seharusnya. Tapi semalam terasa berbeda.

Mungkin karena situasinya.

Mungkin karena hujan.

Mungkin karena ia benar-benar sedang sendirian dan lelah.

Atau mungkin, justru karena pria itu tidak berusaha menjadi apa pun selain dirinya sendiri.

Yusallia menggeleng pelan, seolah gerakan kecil itu cukup untuk membubarkan pikirannya.

“Itu cuma kebetulan,” gumamnya lagi, kali ini lebih tegas.

Ia berusaha memegang kalimat itu sebagai sesuatu yang masuk akal. Dan memang, apa lagi yang bisa disebut dari pertemuan singkat di tengah jalan selain kebetulan? Ia bertemu seseorang. Orang itu menolongnya. Selesai. Seharusnya sesederhana itu.

Ketukan di pintu membuat Yusallia langsung kembali ke kenyataan.

“Dok, pasien pertama sudah siap,” ujar perawat asistennya dari balik pintu.

Yusallia segera berdiri. Ia merapikan jas dokternya, menarik napas dalam, lalu mengatur kembali wajah dan suaranya ke tempat yang paling ia kenal: tenang, profesional, dan siap mendengarkan.

“persilahkan pasien pertama untuk masuk,” katanya.

Pintu pun terbuka, dan hari sibuknya resmi dimulai.

Seperti biasa, ia akan duduk berhadapan dengan banyak orang, mendengarkan keresahan yang mereka simpan, membantu mereka menata ulang isi kepala dan hati yang kusut. Rumah sakit akan menarik seluruh fokusnya, sedikit demi sedikit, sampai tak ada ruang tersisa untuk memikirkan hal lain.

Atau setidaknya, begitulah yang ia harapkan.

Karena walaupun pagi itu sudah kembali berjalan seperti biasanya, Yusallia tahu satu hal kecil yang tidak bisa ia bantah: ada bagian dari dirinya yang belum benar-benar meninggalkan malam kemarin. Dan entah kenapa, itulah yang justru membuatnya sedikit tidak tenang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 68

    Malam itu, apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan sunyi yang tenang. Bukan juga sunyi yang nyaman seperti malam-malam awal ketika mereka masih sama-sama belajar tinggal di bawah atap yang sama. Sunyi kali ini terasa seperti sesuatu yang menahan napas, menunggu pecah, menunggu satu kalimat saja terucap agar semuanya berubah bentuk.Setelah pulang dari kafe, Yusallia dan Rionegro tidak banyak bicara.Mereka masuk ke apartemen bersama, melepas sepatu, lalu berjalan ke ruang tengah dengan langkah yang sama-sama pelan. Lampu masih menyala hangat. Ruangan masih rapi. Gelas air di meja masih seperti tadi. Tapi suasana di dalamnya sudah berbeda. Terlalu rapat. Terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak diucapkan.Rionegro berdiri sebentar di dekat meja, meletakkan ponsel dan dompetnya seperti biasa. Gerakannya tetap tenang. Terlalu tenang, sampai membuat dada Yusallia terasa semakin sesak. Seolah apa pun yang baru saja ia lihat-Bryan yang mendengarn

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 67

    Sore itu turun perlahan dengan warna langit yang pucat dan perasaan Yusallia yang jauh lebih berat dari biasanya. Apartemen tetap tenang seperti hari-hari sebelumnya. Terlalu tenang, malah. Jam dinding berdetak halus. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dari jendela besar ruang tengah, gedung-gedung Jakarta berdiri dengan cahaya sore yang mulai turun, sementara di dalam sana, Yusallia duduk sendiri di ujung sofa sambil memeluk bantal kecil di pangkuannya. Rionegro ada di rumah. Seperti biasa untuk akhir pekan, pria itu lebih banyak berada di apartemen. Kadang di ruang kerja kecilnya. Kadang di dapur. Kadang hanya berjalan singkat ke ruang tengah untuk memastikan Yusallia sudah minum, sudah makan, atau tidak berdiri terlalu lama. Semua tetap seperti biasanya. Semua tetap tepat. Semua tetap penuh perhatian. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Yusallia terasa semakin sesak. Karena perhatian Rionegro t

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 66

    Semakin hari, tubuh Yusallia semakin jelas berubah.Bukan perubahan yang datang tiba-tiba lalu mengejutkan semuanya sekaligus. Lebih seperti sesuatu yang tumbuh pelan, tapi pasti. Perutnya mulai tampak lebih nyata. Langkahnya kadang melambat tanpa ia rencanakan. Punggungnya lebih sering terasa pegal menjelang malam. Dan meskipun ia masih bisa menjalani hari-harinya dengan cukup baik, ada banyak hal kecil yang kini menuntut perhatian lebih.Rionegro melihat semuanya.Terlalu jelas, mungkin.Dan sejak perubahan itu semakin tampak, pria itu juga berubah. Bukan menjadi lebih lembut. Bukan menjadi lebih terbuka. Justru menjadi lebih protektif dengan cara yang semakin kaku.Awalnya, Yusallia tidak terlalu mempermasalahkannya.Ia menganggap itu wajar. Wajar kalau Rionegro jadi lebih sering mengingatkan. Wajar kalau pria itu lebih memperhatikan apa yang ia makan, bagaimana ia berjalan, seberapa lama ia berdiri, atau apakah tas yang dibaw

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 65

    Hari-hari setelah itu tetap berjalan. Dan justru karena semuanya tetap berjalan seperti biasa, hati Yusallia terasa semakin berat. Pagi masih datang tepat waktu. Alarm masih berbunyi. Cahaya matahari masih jatuh di lantai apartemen dengan warna lembut yang sama. Rionegro masih bangun lebih dulu di banyak hari, menyalakan lampu dapur, menyiapkan sarapan sederhana, memeriksa jam, lalu memastikan vitamin dan susu Yusallia tidak terlewat. Rumah sakit tetap sibuk. Kampus tetap menuntut waktu Rionegro. Malam tetap kembali membawa mereka ke bawah atap yang sama. Tidak ada yang benar-benar berubah dari luar. Namun di dalam diri Yusallia, semuanya justru terasa bergerak ke arah yang semakin melelahkan. Ia menjalani hari-harinya dengan tubuh yang tetap bergerak, dengan senyum yang masih bisa dipasang, dengan jawaban-jawaban yang masih terdengar normal saat orang lain bertanya kabarnya. Di rumah sakit, ia tetap menjadi

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 64

    Hari Minggu itu datang dengan cara yang terlalu tenang untuk hati Yusallia yang sudah terlalu penuh.Pagi turun perlahan ke apartemen mereka lewat cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai ruang tengah, jatuh di lantai, di tepian sofa, dan di wajah seorang pria yang tertidur di sana dengan kepala sedikit miring ke satu sisi. Televisi mati. Laptop di meja masih terbuka setengah. Satu gelas air tinggal separuh. Dan di ruang yang begitu sunyi itu, Yusallia berdiri diam di ambang lorong sambil memandang Rionegro lebih lama dari yang seharusnya.Semalam pria itu tertidur di sofa.Bukan karena ada masalah besar. Bukan pula karena mereka bertengkar. Beberapa hari terakhir justru tidak ada pertengkaran sama sekali. Hanya ada sunyi yang panjang, hati-hati, dan dingin. Rionegro tetap menjalankan semuanya seperti biasa-makanan, jadwal, obat, pengingat kecil, dan segala bentuk perhatian yang bisa ia ukur. Sementara Yusallia, pelan-pelan, belajar hidup di dalam per

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 63

    Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau. Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar. Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dib

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 59

    Malam itu turun dengan cara yang lebih lembut dari biasanya.Setelah kontrol kandungan siang tadi, setelah perjalanan pulang yang terasa lebih tenang dari biasanya, dan setelah makan malam sederhana yang hampir seluruhnya mereka habiskan dalam diam yang tidak lagi canggung, apartemen Rio

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 58

    Hari Jumat itu datang dengan langit yang sedikit mendung, seolah pagi memang sengaja dibuat lebih lembut dari biasanya.Sejak bangun, Yusallia sudah tahu hari itu akan terasa berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang besar dari luar. Bukan juga karena suasana apartemen berubah menjadi lebih

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 48

    Pelayan datang membawa makanan mereka, meletakkannya di meja, lalu pergi lagi. Savira tidak menyentuh makanannya. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada pria di depannya. Rionegro juga tidak langsung makan. Jari-jarinya bergerak pelan di sisi cangkir kopi, lalu berhenti.

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 47

    Siang hari di kampus selalu punya suasana yang khas. Tidak pernah benar-benar tenang, tetapi juga tidak sampai terasa sesak. Di sekitar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, mahasiswa berlalu-lalang dengan ritme yang nyaris sama setiap awal minggu. Ada yang berjalan cepat sambil menatap jam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status