Share

Demi Pernikahan yang Bahagia
Demi Pernikahan yang Bahagia
Author: Reartha

Chapter 1

Author: Reartha
last update publish date: 2026-04-16 19:56:30

Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.

Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir jalan trotoar.

Mesin mobil itu sudah berkali-kali dicoba untuk dinyalakan kembali, tetapi tetap tidak menyala.

Yusallia Callisto-gadis muda pemilik dari mobil itu akhirnya hanya dapat menghela napas lelah sambil bergumam pelan, sebelum membuka pintu mobil- keluar dari mobilnya.

"Oh, tidak... Kenapa harus sekarang sih..." Gumamnya kecil.

Begitu kakinya menyentuh aspal yang basah oleh genangan air dan pakaiannya yang terkena dinginnya air hujan.

Dengan cepat tetesan hujan deras membasahi tidak hanya pakaiannya tapi juga rambutnya.

Berdiri di samping mobilnya yang mogok, Yusallia memandangi jalan gelap yang kosong tanpa satupun kendaraan lain yang lewat dengan tangan yang mengandah berusaha menghalau tetesan air hujan mengenai kepalanya.

Dengan cemas, Yusallia berharap akan adanya bantuan yang dapat menolongnya. Karena sejak sebelumnya dia telah berusaha menghubungi bala bantuan, tetapi dikarenakan hujan deras, jaringan panggilan menjadi sulit untuk dilakukan.

Padahal sekarang sudah hampir jam dua belas malam, dan dia baru saja pulang dari pekerjaannya di rumah sakit. Tapi sekarang dikarenakan mobilnya yang mogok, dia justru harus terjebak di jalan gelap yang sepi di tengah hujan deras yang mengguyur kota.

Dan setelah menunggu beberapa cukup lama, akhirnya Yusallia dapat melihat sebuah lampu mobil yang terlihat berjalan mendekat dari kejauhan melewati jalan tersebut.

Mobil bewarna hitam gelap itu melaju dengan kecepatan stabil hampir mendekat kearah tempat mobilnya berhenti.

Dan dengan berani, Yusallia berusaha menjulurkan tangannya ke depan berharap dapat menghentikan mobil itu untuk mendapatkan bantuan.

Dan setelah menunggu beberapa detik, akhirnya mobil itu pun berhenti tepat di samping mobilnya yang mogok.

Pintu mobil gelap tersebut pun terbuka, dan kemudian menampilkan seorang pria muda yang hampir keliatan berusia 30 tahun-keluar dari mobil tersebut.

Dengan tenang pria tersebut berjalan menghampiri Yusallia dengan payung di tangannya. Dan berkata dengan suara keras agar terdengar di tengah suara hujan yang terdengar deras.

"Ada apa? Apakah ada yang bermasalah pada mobil mu?" Tanya pria itu dengan suara keras namun dengan nada yang tenang kepada Yusallia.

"Iya, tidak tau kenapa mobilnya tiba-tiba mati." Jawab Yusallia dengan suara keras dan mengangguk pelan.

"Sepertinya mesinnya ada yang bermasalah, lebih baik coba untuk menghubungi bengkel." Saran pria itu kepada Yusallia.

"Aku sudah berusaha menghubungi bantuan, tapi tidak bisa karena jaringannya sedang tidak bagus disebabkan hujan." Jawab Yusallia jujur.

"Begitu ya... Berarti kamu sudah terjebak disini sangat lama? Apakah tidak apa-apa." Tanya pria itu lagi mencoba memastikan keadaan Yusallia.

"Sejujurnya, tidak terlalu lama dan tidak apa-apa, aku baik-baik saja, hanya kehujanan karena tadi tidak sempat membawa payung." Jawab Yusallia jujur-berusaha untuk tidak membuat pria itu khawatir.

Mendengar jawaban dari Yusallia, akhirnya pria itu pun mengambil payung cadangan yang dia simpan di mobilnya, dan kemudian memberikannya pada Yusallia.

"Ini ambilah, aku tadi membawa dua payung." Kata pria itu sambil menyerahkan satu payung kecil yang dia pegang di tangan satunya kepada Yusallia.

"Terima kasih... " Ucap Yusallia sambil membuka payung kecil tersebut dan mulai memayungi dirinya sendiri dengan payung tersebut.

Beberapa saat mereka hanya berdiri diam di tengah suara hujan yang terus turun dan juga jalan yang semakin terasa sepi.

Dengan tenang, pria itu akhirnya berkata lagi kepada Yusallia.

"Sekarang sudah hampir tengah malam, dan sepertinya juga sudah tidak ada lagi kendaraan yang melewati jalan ini, tidak terlalu aman jika membiarkan mu sendirian menunggu hujan reda disini. "

Mendengar itu, Yusallia hanya menatap pria itu bingung tanpa memberi jawaban apapun, karena sebenarnya Yusallia sendiri juga tau bahwa dia tidak bisa untuk hanya diam sendirian menunggu hujan reda di jalan tersebut, tapi mencari transportasi umum pun pasti sulit dalam keadaan saat ini.

"Uhm... Kalau tidak keberatan dan bila anda mau, mungkin saya dapat mengantar anda pulang, karena sepertinya mencari transportasi umum juga sulit saat ini." Kata pria itu lagi kepada Yusallia.

Yusallia hanya diam, berpikir apakah tidak apa untuk menerima bantuan dari pria yang tidak dia kenali itu. Tapi, dia sadar apa yang dikatakan pria itu benar, dan mungkin hanya pria itu yang dapat membantunya di keadaan saat ini.

"Uhm... Sebenarnya aku tidak masalah, tapi apakah ini tidak merepotkanmu?" Kata Yusallia bertanya kepada pria itu juga. Karena sejujurnya Yusallia takut bahwa dirinya dapat merepotkan pria yang tidak dia kenali tersebut.

"Tidak apa-apa, ini tidak merepotkan saya sama sekali. Nanti, terkait mobil mu, kamu bisa tinggalkan disini sampai kamu bisa menelpon bengkel untuk menjemputnya." Jawab pria itu dengan jujur sambil memberi saran lain terkait mobil yang mogok tersebut kepada Yusallia.

"Baiklah, terima kasih." Kata Yusallia yang kemudian mengikuti pria itu yang mengantarkannya ke kursi penumpang depan.

"Tidak masalah." Kata pria itu sambil membuka pintu penumpang dan membiarkan Yusallia masuk ke dalam mobil gelap pria itu.

Beberapa menit kemudian mereka berdua pun akhirnya sudah berada di dalam mobil gelap pria itu.

Sebelum menyalakan mesin mobilnya, pria itu mengambil jaket di bagian belakang, dan memberikan jaket tersebut kepada Yusallia.

"Pakailah jaket ini, agar anda tidak terlalu merasa kedinginan." Kata pria itu sembari menyerahkan jaketnya kepada Yusallia.

"Uhm... Terima kasih." Jawab Yusallia yang kemudian berusaha memakai jaket tersebut sebelum memasang seatbelt.

Sedangkan pria itu hanya menjawab dengan senyuman dan langsung menyalakan mesin mobilnya-setelah memasangkan seatbelt pada dirinya sendiri.

Mobil bergerak dengan stabil meninggalkan jalan tempat mobil Yusallia yang mogok dibelakang.

Selama perjalanan suasana di dalam mobil terasa lebih hangat dibandingkan udara dingin di luar. Suara hujan yang menghantam kaca mobil terdengar samar, menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan diantara keduanya.

Beberapa menit berlalu dalam keterdiaman, pria itu akhirnya mencoba membuka percakapan diantara mereka.

"Ngomong-ngomong... Perkenalkan saya Rionegro."

Mendengar pria itu membuka suara dan memperkenalkan diri, akhirnya Yusallia pun menoleh sedikit kearah pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Rionegro.

"Yusallia." jawab Yusallia singkat dalam memperkenalkan dirinya.

Mendengar jawaban Yusallia, Rionegro hanya mengangguk kecil dan kembali memfokuskan diri pada kemudi dan jalan di depan.

Tidak ada yang menyadari pada malam itu bahwa dari sebuah pertemuan dan perkenalan singkat yang kelak akan menghubungkan mereka kembali pada satu hal yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 6

    Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya. Bukan karena matahari yang terburu-buru naik, bukan juga karena suara aktivitas rumah yang ramai. Tapi karena Yusallia sendiri yang memilih untuk bangun lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Jam di dinding kamarnya bahkan belum menunjukkan pukul enam ketika ia sudah duduk di tepi tempat tidur. Rambut panjangnya masih sedikit berantakan, jatuh di bahunya tanpa sempat dirapikan. Matanya belum sepenuhnya segar, tapi pikirannya sudah lebih dulu terbangun. Sunyi. Rumah itu masih terlalu sunyi untuk ukuran pagi. Biasanya, di jam seperti ini, suara langkah asisten rumah tangga sudah mulai terdengar dari bawah. Kadang suara televisi dari ruang keluarga sudah menyala pelan. Tapi hari ini... semuanya terasa lebih lambat. Yusallia menghela napas pelan. Tangannya meraih ponsel di samping tempat tidur. Ia hanya menatap layar kosong itu beberapa detik, tanpa benar-benar membuka apa pun. Ia menutup matanya sebentar. "Lebih baik pergi le

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 5

    Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah lelah. Seorang pria paruh baya, dengan lingkar hitam di bawah mata dan tangan yang terus bergerak gelisah di pangkuannya. Yusallia menyambutnya dengan suara yang tenang, senyum yang tidak berlebihan, dan tatapan yang cukup hangat untuk membuat orang lain merasa didengar. Seperti biasanya. Ia mendengarkan. Mencatat. Dan mengajukan pertanyaan dengan ritme yang pelan, tidak memaksa, tapi juga tidak memberi ruang untuk menghindar. Satu pasien selesai. Lalu berikutnya masuk. Dan berikutnya lagi. Tanpa jeda. Tanpa napas panjang di antara waktu. Hari itu... berbeda. "Dok, pasien berikutnya sudah menunggu dari tadi," ujar perawat asistennya pelan dari balik pintu. Yusallia sempa

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 4

    Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang masih segar bercampur dengan hiruk-pikuk yang khas—ramai, hidup, dan penuh gerak. Rionegro memarkir mobilnya dengan tenang. Ia melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di wajahnya, lalu menyimpannya ke dalam mobil. Kemeja yang ia kenakan tetap rapi seperti biasa, tanpa banyak usaha. Pada dirinya, kerapian memang selalu tampak seperti sesuatu yang alami, bukan hasil dari terlalu banyak perhatian. Ia melangkah keluar dari area parkir dengan gerakan santai. Langkahnya panjang, mantap, dan tidak tergesa. Namun alih-alih langsung menuju gedung fakultas, ia justru berbelok ke arah lain—ke sebuah kafe kecil yang letaknya tidak jauh dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tempat ia mengajar

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 3

    Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-benar padam. Udara terasa lembap dan sejuk, cukup untuk membuat siapa pun menarik napas sedikit lebih dalam sebelum memulai hari. Yusallia turun dari taksi online dengan langkah yang hati-hati. Ujung sepatunya menyentuh permukaan parkiran rumah sakit yang masih basah, menimbulkan bunyi pelan yang segera tenggelam di antara suara kendaraan lain yang datang dan pergi. Rambut panjangnya dibiarkan terurai rapi, bergerak lembut diterpa angin pagi. Tangannya menggenggam tas kerja sedikit lebih erat dari biasanya, sementara pikirannya masih seperti tertinggal beberapa jam di belakang. Entah kenapa, kejadian semalam belum juga benar-benar pergi dari kepalanya. Semuanya masih terasa terlalu jelas.

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 2

    Mobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang belum juga reda sejak tadi. Lampu taman yang berjajar di pinggir jalan memantulkan kilau lembut di permukaan aspal yang licin, menciptakan suasana malam yang terasa lebih hening dari biasanya.Di kursi penumpang, Yusallia yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya menoleh ke arah jendela. Pandangannya menyapu jalanan yang perlahan terasa semakin akrab. Ada tikungan kecil yang ia kenali, pagar rumah-rumah yang tidak asing, dan pohon besar di ujung jalan yang selama ini selalu menjadi penanda bahwa rumahnya sudah dekat.Ia pulang.Kesadaran itu seharusnya membuatnya lega. Dan memang, sebagian dari dirinya merasa begitu. Tetapi di saat yang sama, ada sesuatu yang lain yang ikut mengendap di dadany

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 1

    Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir jalan trotoar.Mesin mobil itu sudah berkali-kali dicoba untuk dinyalakan kembali, tetapi tetap tidak menyala.Yusallia Callisto-gadis muda pemilik dari mobil itu akhirnya hanya dapat menghela napas lelah sambil bergumam pelan, sebelum membuka pintu mobil- keluar dari mobilnya."Oh, tidak... Kenapa harus sekarang sih..." Gumamnya kecil.Begitu kakinya menyentuh aspal yang basah oleh genangan air dan pakaiannya yang terkena dinginnya air hujan.Dengan cepat tetesan hujan deras membasahi tidak hanya pakaiannya tapi juga rambutnya.Berdiri di samping mobilnya yang mogok, Yusallia memandangi jalan gelap yang kosong tanpa satupun kendaraan lain yang lewat dengan tangan yang mengandah berusaha mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status