LOGINPagi-pagi, Rionegro akan bangun lebih dulu. Ia membuat sarapan sederhana, meskipun lebih sering hanya menyiapkan makanan yang sudah dikirim mama Yusallia atau pesanan khusus yang aman untuk kehamilan. Setelah itu, ia membangunkan Yusallia dengan suara pelan, bukan dengan terburu-buru.
“Yusa.”“Hm?”“Bangun sebentar. Makan dulu.”Yusallia sering membuka mata dengan malas. “Lima menit.”“Kamu bilang lima menit kemarin, lalu tidur lagi tiga puluh meniYusallia melihat lagi daftar di laptop.“Kamar bayi ini maksudnya kamar kosong sebelah ruang kerja?”“Iya.”“Kamu mau ubah semua?”“Tidak semua. Tapi sebagian besar.”“Ruang kerja kamu?”“Aku bisa pindah ke ruang tengah.”Yusallia langsung menatapnya. “Rion, itu ruang kerja kamu.”“Bayi-bayi butuh kamar.”“Tapi kamu juga butuh tempat kerja.”“Aku bisa menyesuaikan.”Yusallia menghela napas kecil. “Kamu nggak harus mengalahkan semua hal milikmu untuk kami.”Rionegro terdiam.Yusallia menatapnya lebih lembut. “Aku tahu kamu mau siap. Aku tahu kamu mau semua aman. Tapi masa depan kita bukan cuma tentang menghapus hidup kamu supaya jadi ruang untuk aku dan bayi-bayi.”Rionegro tidak langsung menjawab.Kalimat itu mengenai sesuatu di dalam dirinya.Sejak kecil, ia terbiasa memahami keluarga sebagai sesuatu yang menuntut pengorbanan diam-diam. Ora
Setelah hari itu, semuanya berubah lagi.Bukan berubah dengan cara yang menakutkan seperti ketika Yusallia mengalami kecelakaan.Bukan juga berubah dengan cara yang mengguncang seperti ketika keluarga Arvantara runtuh dan nama Bagas Arvantara memenuhi berita.Perubahan kali ini datang lebih lembut.Lebih hangat.Namun tetap besar.Sangat besar.Karena sejak dokter mengatakan bahwa bayi mereka kembar, apartemen yang sebelumnya terasa cukup untuk mereka berdua mendadak terlihat seperti tempat yang harus dipikirkan ulang dari awal.Sofa yang dulu hanya menjadi tempat Yusallia bersandar sambil menonton atau membaca buku, sekarang mulai dibayangkan sebagai tempat dua bayi mungkin tertidur sebentar di pelukan mereka.Kamar kosong di dekat ruang kerja Rionegro, yang selama ini hanya dipakai untuk menyimpan beberapa barang tambahan, tiba-tiba berubah menjadi ruangan yang paling sering dilihat Rionegro setiap pa
Setelah pemeriksaan selesai, Yusallia duduk di kursi dengan gerakan pelan. Rionegro membantunya memakai cardigan, masih dengan wajah yang seperti belum sepenuhnya kembali dari keterkejutan.Dokter memberikan hasil cetak USG kepada mereka.“Ini saya cetakkan dua gambar. Nanti bisa disimpan.”Yusallia menerima lembar itu dengan tangan gemetar.Ia menatap dua gambar kecil berwarna hitam putih itu.Sulit dipahami oleh mata orang awam.Namun baginya, gambar itu terasa seperti dunia baru.“Ini mereka?” bisiknya.Dokter mengangguk. “Iya. Ini bayi pertama, dan ini bayi kedua.”Rionegro menatap gambar itu.Lama.Terlalu lama.Yusallia menoleh padanya. “Kamu masih hidup?”Rionegro berkedip. “Iya.”“Kamu diam banget.”“Aku sedang berpikir.”“Jangan terlalu banyak berpikir.”“Sulit.”“Apa yang kamu pikirkan?”Rionegro menatap
Dokter kandungan mereka menyambut dengan senyum ramah ketika mereka masuk ke ruang pemeriksaan.“Selamat pagi, Ibu Yusallia. Pak Rionegro.”“Pagi, Dok,” jawab Yusallia.Rionegro mengangguk sopan. “Pagi, Dok.”Dokter membuka catatan kontrol sebelumnya. “Hari ini usia kandungannya sudah masuk empat bulan, ya. Bagaimana keluhannya?”“Sudah lebih baik, Dok,” jawab Yusallia. “Kadang masih cepat capek, tapi tidak separah sebelumnya.”“Pusing?”“Kadang sedikit kalau berdiri terlalu lama.”Rionegro langsung menambahkan, “Mualnya berkurang. Nafsu makan lebih baik, tapi porsinya masih kecil. Tidurnya lebih teratur, walaupun beberapa kali masih terbangun tengah malam.”Yusallia menoleh pelan. “Rion.”Dokter tertawa kecil. “Saya selalu terbantu dengan laporan Pak Rionegro.”Rionegro terlihat tenang. “Saya mencatat beberapa hal.”Yusallia menatap dokter. “Jangan dipuji, Dok. Nanti dia maki
Pagi itu, Rionegro sudah siap jauh lebih awal dari jadwal kontrol kandungan Yusallia.Terlalu awal.Bahkan ketika Yusallia baru keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan cardigan lembut yang belum terkancing sempurna, Rionegro sudah berdiri di ruang tengah dengan kemeja rapi, tas kecil di tangan, dan map kontrol kandungan yang sepertinya sudah ia buka lebih dari tiga kali sejak subuh.Yusallia berhenti di ambang pintu kamar.Ia menatap Rionegro.Lalu menatap jam dinding.Lalu kembali menatap Rionegro.“Rion.”“Hm?”“Kontrolnya jam sepuluh.”“Iya.”“Sekarang baru jam delapan lewat lima belas.”“Aku tahu.”Yusallia mengernyit pelan. “Kamu mau kita berangkat sekarang?”“Tidak sekarang.”“Bagus.”“Lima belas menit lagi.”Yusallia memejamkan mata sebentar.“Rionegro.”Rionegro menoleh penuh. “Apa
Beberapa hari berikutnya berjalan dengan irama yang hampir sama. Pagi dengan sarapan yang sering kali terlalu diawasi. Siang dengan Rionegro bekerja dari ruang tengah sambil terus memperhatikan Yusallia. Sore dengan jalan pelan di dalam apartemen atau balkon kecil yang menghadap kota. Malam dengan buku bayi, obrolan pendek, dan rasa lelah yang tidak lagi terasa sendirian. Kadang Yusallia duduk di sofa sambil melihat Rionegro mengajar kelas daring dari meja kerja. Ia mendengarnya menjelaskan materi dengan suara tenang, profesional, dan sangat berbeda dari cara Rionegro berbicara padanya. Setelah kelas selesai, Yusallia menatapnya sambil tersenyum. “Kamu kalau jadi dosen serius banget.” Rionegro menutup laptop. “Memang harus serius.” “Mahasiswa kamu takut nggak?” “Kenapa harus takut?” “Karena muka kamu.” Rio
Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang ma
Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-be
Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah le
Mobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang bel







