Se connecterHari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia.
Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah lelah. Seorang pria paruh baya, dengan lingkar hitam di bawah mata dan tangan yang terus bergerak gelisah di pangkuannya. Yusallia menyambutnya dengan suara yang tenang, senyum yang tidak berlebihan, dan tatapan yang cukup hangat untuk membuat orang lain merasa didengar. Seperti biasanya. Ia mendengarkan. Mencatat. Dan mengajukan pertanyaan dengan ritme yang pelan, tidak memaksa, tapi juga tidak memberi ruang untuk menghindar. Satu pasien selesai. Lalu berikutnya masuk. Dan berikutnya lagi. Tanpa jeda. Tanpa napas panjang di antara waktu. Hari itu... berbeda. "Dok, pasien berikutnya sudah menunggu dari tadi," ujar perawat asistennya pelan dari balik pintu. Yusallia sempat melirik jam di dinding. Baru pukul sepuluh lewat sedikit. Tapi rasanya seperti sudah siang. "Masukkan saja," jawabnya singkat, sambil merapikan catatan di mejanya. Pasien kedua. Perempuan muda, mungkin seusianya. Tapi matanya kosong. Cara bicaranya lambat. Dan setiap kata yang keluar terasa seperti ditarik dari tempat yang sangat dalam. Yusallia tidak buru-buru. Ia tahu, beberapa luka tidak bisa disentuh dengan tergesa. Ia duduk lebih lama dari yang seharusnya. Memberi ruang. Memberi waktu. Dan tanpa sadar... itu memakan waktunya sendiri. Ketika pasien itu keluar, ia sempat menghela napas panjang. Tapi belum sempat benar-benar menenangkan diri"Dok, ada pasien tambahan. Tadi daftar mendadak," kata perawat lagi. Yusallia menoleh. Alisnya sedikit mengernyit. "Tambahan lagi?" "Iya, dok. Hari ini poli jiwa penuh banget." Ia diam sejenak. Lalu mengangguk kecil. "Masukkan saja." Dan begitu saja... hari itu terus berjalan tanpa henti. *** Menjelang siang, ruangan itu mulai terasa lebih padat. Bukan secara fisik. Tapi secara... emosi. Setiap pasien datang dengan ceritanya masing-masing. Ada yang kehilangan arah. Ada yang kehilangan semangat. Ada yang bahkan sudah kehilangan dirinya sendiri. Dan Yusallia... ada di tengah semua itu. Menjadi tempat mereka berbicara. Menjadi tempat mereka menjatuhkan lelah. Menjadi tempat mereka... sedikit demi sedikit mencoba bertahan. Ia tidak pernah mengeluh. Tapi di sela-sela waktu yang nyaris tidak ada itu... pikirannya sempat melayang. Sekilas, ia mengingat. Janji makan siang, dan satu nama yang entah kenapa masih ia ingat sejak semalam. Rionegro. Tangannya yang sedang menulis sempat berhenti sejenak. Hanya satu detik. Lalu kembali bergerak. "Fokus," gumamnya pelan. Ia bahkan tidak sempat mengecek ponselnya. Tidak sempat membuka layar. Tidak sempat mengingat... bahwa hari ini ia punya janji. *** Jam menunjukkan pukul satu siang. Tapi Yusallia belum beranjak dari kursinya. "Dok, mau istirahat dulu?" tanya perawat asistennya dengan nada ragu. Yusallia melirik ke arah luar ruangan, di mana masih ada beberapa pasien yang menunggu. Ia menggeleng pelan. "Nanti saja." Perawat itu hanya mengangguk, walau terlihat sedikit khawatir. Dan seperti itu... waktu terus berjalan. Tanpa memberi ruang untuk berhenti. *** Di sisi lain kota, suasana yang berbeda terasa di dalam ruang kelas. Rionegro berdiri di depan, dengan papan tulis di belakangnya yang sudah penuh dengan tulisan. Suaranya tenang, jelas, dan teratur. Setiap kalimat yang keluar terasa terstruktur dengan baik, seperti sudah tersusun rapi di kepalanya. Mahasiswa di depannya memperhatikan. Beberapa mencatat. Beberapa hanya mendengarkan. Dan seperti biasa... kelasnya berjalan tanpa hambatan. Sampai akhirnya, ia menyudahi kelasnya "Baik, kita cukupkan sampai di sini untuk hari ini." Suara kursi bergeser. Buku ditutup. Dan satu per satu mahasiswa mulai keluar dari ruangan. Rionegro merapikan catatannya dengan santai. Tidak terburu-buru. Sampai ruangan itu hampir kosong. Barulah ia mengambil ponselnya. Layar menyala. Dan entah kenapa... tanpa perlu berpikir lama, jarinya langsung bergerak mencari satu nomor yang baru ia simpan semalam. Yusallia. Ia menatap nama itu beberapa detik. Lalu menekan tombol panggil. Nada sambung pun terdengar. *** Di dalam ruang praktiknya, Yusallia yang sedang menuliskan resep sedikit terkejut ketika ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas. Nomor tidak dikenal. Alisnya sedikit mengernyit. Biasanya ia tidak akan mengangkat telepon di tengah jam praktik. Tapi entah kenapa kali ini ia ragu sejenak. Dan setelah memikirkan banyak kemungkinan akhirnya ia mengangkatnya. "Hallo?" suaranya tetap tenang, walau sedikit lebih cepat dari biasanya. Di seberang sana, Rionegro tersenyum tipis mendengar suara itu. "Selamat siang." Yusallia diam sejenak. Suara itu familiar. Tapi ia tidak langsung yakin. "Maaf... ini dengan siapa?" tanyanya hati-hati. Ada jeda singkat. "Saya Rionegro" Dan seketika itu juga, ingatan Yusallia kembali. "Oh..." gumamnya pelan, sedikit terkejut. "Iya... maaf, aku belum sempat simpan nomor kamu." Rionegro mengangguk kecil, walau tentu saja tidak terlihat."Tidak apa-apa." Ada jeda singkat lagi. Rionegro kemudian langsung masuk ke tujuan. "Saya hanya ingin memastikan... mengenai janji makan siang kita hari ini." Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Yusallia langsung terdiam. Matanya refleks melirik ke arah jam. Dan saat itu juga-Ia tersadar. Janji itu. Ia benar-benar... lupa. Bukan karena tidak penting. Tapi karena hari ini terlalu padat. Tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat. "Rionegro..." suaranya berubah sedikit lebih pelan. "Aku... minta maaf." Nada suaranya jujur tidak dibuat-buat."Sepertinya aku belum bisa menepati janji makan siang kita hari ini." Di seberang sana, Rionegro tidak langsung menjawab. Memberi ruang. Seperti yang biasa ia lakukan. Yusallia melanjutkan, "Hari ini pasien di poli jiwa lagi sangat ramai. Dari pagi sampai sekarang belum berhenti... dan aku bahkan belum sempat istirahat." Ia menarik napas pelan. "Aku benar-benar tidak bisa keluar dari rumah sakit hari ini." Jujur apa adanya. Tanpa alasan berlebihan. Hanya kenyataan. Beberapa detik hening. Lalu Rionegro membalas "Tidak masalah." Jawaban itu datang dengan tenang. Tanpa nada kecewa dan tekanan "Janji makan siang itu tidak perlu Anda pikirkan sekarang," lanjut Rionegro. "Yang penting, Anda fokus dulu dengan pekerjaan Anda dan pasien-pasien Anda." Sederhana. Tapi entah kenapa... membuat Yusallia sedikit terdiam. Ada sesuatu dari cara pria itu bicara. Tenang. Mengerti. Tanpa membuatnya merasa bersalah. Yusallia menunduk sedikit, walau ia tahu itu tidak terlihat."Terima kasih... ya." Nada suaranya lebih lembut dan tulus. "Sudah mengerti kondisi aku." Rionegro tidak menjawab langsung. Dan Yusallia melanjutkan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ringan. "Tapi aku tetap akan mentraktir kamu nanti. Bukan hari ini... tapi di lain waktu. Anggap saja balas budi karena sudah menolong aku kemarin." Ada sedikit senyum di suaranya walau samar. "Dan... aku minta maaf karena harus membatalkan janji hari ini." Rionegro menarik napas pelan. Lalu menjawab dengan nada yang sama tenangnya "Tidak apa-apa." Singkat, tapi cukup, tanpa adanya tuntutan dan penekanan. Hanya penerimaan. Beberapa detik hening lagi. Seolah keduanya sama-sama tidak tahu harus menambahkan apa. Sampai akhirnya "Baik... kalau begitu saya tidak akan mengganggu Anda lebih lama," kata Rionegro. "Iya," jawab Yusallia pelan. "Terima kasih sudah menghubungi." "Selamat melanjutkan pekerjaan." Dan sambungan itu pun terputus.Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya. Bukan karena matahari yang terburu-buru naik, bukan juga karena suara aktivitas rumah yang ramai. Tapi karena Yusallia sendiri yang memilih untuk bangun lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Jam di dinding kamarnya bahkan belum menunjukkan pukul enam ketika ia sudah duduk di tepi tempat tidur. Rambut panjangnya masih sedikit berantakan, jatuh di bahunya tanpa sempat dirapikan. Matanya belum sepenuhnya segar, tapi pikirannya sudah lebih dulu terbangun. Sunyi. Rumah itu masih terlalu sunyi untuk ukuran pagi. Biasanya, di jam seperti ini, suara langkah asisten rumah tangga sudah mulai terdengar dari bawah. Kadang suara televisi dari ruang keluarga sudah menyala pelan. Tapi hari ini... semuanya terasa lebih lambat. Yusallia menghela napas pelan. Tangannya meraih ponsel di samping tempat tidur. Ia hanya menatap layar kosong itu beberapa detik, tanpa benar-benar membuka apa pun. Ia menutup matanya sebentar. "Lebih baik pergi le
Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah lelah. Seorang pria paruh baya, dengan lingkar hitam di bawah mata dan tangan yang terus bergerak gelisah di pangkuannya. Yusallia menyambutnya dengan suara yang tenang, senyum yang tidak berlebihan, dan tatapan yang cukup hangat untuk membuat orang lain merasa didengar. Seperti biasanya. Ia mendengarkan. Mencatat. Dan mengajukan pertanyaan dengan ritme yang pelan, tidak memaksa, tapi juga tidak memberi ruang untuk menghindar. Satu pasien selesai. Lalu berikutnya masuk. Dan berikutnya lagi. Tanpa jeda. Tanpa napas panjang di antara waktu. Hari itu... berbeda. "Dok, pasien berikutnya sudah menunggu dari tadi," ujar perawat asistennya pelan dari balik pintu. Yusallia sempa
Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang masih segar bercampur dengan hiruk-pikuk yang khas—ramai, hidup, dan penuh gerak. Rionegro memarkir mobilnya dengan tenang. Ia melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di wajahnya, lalu menyimpannya ke dalam mobil. Kemeja yang ia kenakan tetap rapi seperti biasa, tanpa banyak usaha. Pada dirinya, kerapian memang selalu tampak seperti sesuatu yang alami, bukan hasil dari terlalu banyak perhatian. Ia melangkah keluar dari area parkir dengan gerakan santai. Langkahnya panjang, mantap, dan tidak tergesa. Namun alih-alih langsung menuju gedung fakultas, ia justru berbelok ke arah lain—ke sebuah kafe kecil yang letaknya tidak jauh dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tempat ia mengajar
Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-benar padam. Udara terasa lembap dan sejuk, cukup untuk membuat siapa pun menarik napas sedikit lebih dalam sebelum memulai hari. Yusallia turun dari taksi online dengan langkah yang hati-hati. Ujung sepatunya menyentuh permukaan parkiran rumah sakit yang masih basah, menimbulkan bunyi pelan yang segera tenggelam di antara suara kendaraan lain yang datang dan pergi. Rambut panjangnya dibiarkan terurai rapi, bergerak lembut diterpa angin pagi. Tangannya menggenggam tas kerja sedikit lebih erat dari biasanya, sementara pikirannya masih seperti tertinggal beberapa jam di belakang. Entah kenapa, kejadian semalam belum juga benar-benar pergi dari kepalanya. Semuanya masih terasa terlalu jelas.
Mobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang belum juga reda sejak tadi. Lampu taman yang berjajar di pinggir jalan memantulkan kilau lembut di permukaan aspal yang licin, menciptakan suasana malam yang terasa lebih hening dari biasanya.Di kursi penumpang, Yusallia yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya menoleh ke arah jendela. Pandangannya menyapu jalanan yang perlahan terasa semakin akrab. Ada tikungan kecil yang ia kenali, pagar rumah-rumah yang tidak asing, dan pohon besar di ujung jalan yang selama ini selalu menjadi penanda bahwa rumahnya sudah dekat.Ia pulang.Kesadaran itu seharusnya membuatnya lega. Dan memang, sebagian dari dirinya merasa begitu. Tetapi di saat yang sama, ada sesuatu yang lain yang ikut mengendap di dadany
Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir jalan trotoar.Mesin mobil itu sudah berkali-kali dicoba untuk dinyalakan kembali, tetapi tetap tidak menyala.Yusallia Callisto-gadis muda pemilik dari mobil itu akhirnya hanya dapat menghela napas lelah sambil bergumam pelan, sebelum membuka pintu mobil- keluar dari mobilnya."Oh, tidak... Kenapa harus sekarang sih..." Gumamnya kecil.Begitu kakinya menyentuh aspal yang basah oleh genangan air dan pakaiannya yang terkena dinginnya air hujan.Dengan cepat tetesan hujan deras membasahi tidak hanya pakaiannya tapi juga rambutnya.Berdiri di samping mobilnya yang mogok, Yusallia memandangi jalan gelap yang kosong tanpa satupun kendaraan lain yang lewat dengan tangan yang mengandah berusaha mengh







