LOGINHari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia.
Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah lelah. Seorang pria paruh baya, dengan lingkar hitam di bawah mata dan tangan yang terus bergerak gelisah di pangkuannya. Yusallia menyambutnya dengan suara yang tenang, senyum yang tidak berlebihan, dan tatapan yang cukup hangat untuk membuat orang lain merasa didengar. Seperti biasanya. Ia mendengarkan. Mencatat. Dan mengajukan pertanyaan dengan ritme yang pelan, tidak memaksa, tapi juga tidak memberi ruang untuk menghindar. Satu pasien selesai. Lalu berikutnya masuk. Dan berikutnya lagi. Tanpa jeda. Tanpa napas panjang di antara waktu. Hari itu... berbeda. "Dok, pasien berikutnya sudah menunggu dari tadi," ujar perawat asistennya pelan dari balik pintu. Yusallia sempat melirik jam di dinding. Baru pukul sepuluh lewat sedikit. Tapi rasanya seperti sudah siang. "Masukkan saja," jawabnya singkat, sambil merapikan catatan di mejanya. Pasien kedua. Perempuan muda, mungkin seusianya. Tapi matanya kosong. Cara bicaranya lambat. Dan setiap kata yang keluar terasa seperti ditarik dari tempat yang sangat dalam. Yusallia tidak buru-buru. Ia tahu, beberapa luka tidak bisa disentuh dengan tergesa. Ia duduk lebih lama dari yang seharusnya. Memberi ruang. Memberi waktu. Dan tanpa sadar... itu memakan waktunya sendiri. Ketika pasien itu keluar, ia sempat menghela napas panjang. Tapi belum sempat benar-benar menenangkan diri"Dok, ada pasien tambahan. Tadi daftar mendadak," kata perawat lagi. Yusallia menoleh. Alisnya sedikit mengernyit. "Tambahan lagi?" "Iya, dok. Hari ini poli jiwa penuh banget." Ia diam sejenak. Lalu mengangguk kecil. "Masukkan saja." Dan begitu saja... hari itu terus berjalan tanpa henti. --- Menjelang siang, ruangan itu mulai terasa lebih padat. Bukan secara fisik. Tapi secara... emosi. Setiap pasien datang dengan ceritanya masing-masing. Ada yang kehilangan arah. Ada yang kehilangan semangat. Ada yang bahkan sudah kehilangan dirinya sendiri. Dan Yusallia... ada di tengah semua itu. Menjadi tempat mereka berbicara. Menjadi tempat mereka menjatuhkan lelah. Menjadi tempat mereka... sedikit demi sedikit mencoba bertahan. Ia tidak pernah mengeluh. Tapi di sela-sela waktu yang nyaris tidak ada itu... pikirannya sempat melayang. Sekilas, ia mengingat. Janji makan siang, dan satu nama yang entah kenapa masih ia ingat sejak semalam. Rionegro. Tangannya yang sedang menulis sempat berhenti sejenak. Hanya satu detik. Lalu kembali bergerak. "Fokus," gumamnya pelan. Ia bahkan tidak sempat mengecek ponselnya. Tidak sempat membuka layar. Tidak sempat mengingat... bahwa hari ini ia punya janji. --- Jam menunjukkan pukul satu siang. Tapi Yusallia belum beranjak dari kursinya. "Dok, mau istirahat dulu?" tanya perawat asistennya dengan nada ragu. Yusallia melirik ke arah luar ruangan, di mana masih ada beberapa pasien yang menunggu. Ia menggeleng pelan. "Nanti saja." Perawat itu hanya mengangguk, walau terlihat sedikit khawatir. Dan seperti itu... waktu terus berjalan. Tanpa memberi ruang untuk berhenti. --- Di sisi lain kota, suasana yang berbeda terasa di dalam ruang kelas. Rionegro berdiri di depan, dengan papan tulis di belakangnya yang sudah penuh dengan tulisan. Suaranya tenang, jelas, dan teratur. Setiap kalimat yang keluar terasa terstruktur dengan baik, seperti sudah tersusun rapi di kepalanya. Mahasiswa di depannya memperhatikan. Beberapa mencatat. Beberapa hanya mendengarkan. Dan seperti biasa... kelasnya berjalan tanpa hambatan. Sampai akhirnya, ia menyudahi kelasnya "Baik, kita cukupkan sampai di sini untuk hari ini." Suara kursi bergeser. Buku ditutup. Dan satu per satu mahasiswa mulai keluar dari ruangan. Rionegro merapikan catatannya dengan santai. Tidak terburu-buru. Sampai ruangan itu hampir kosong. Barulah ia mengambil ponselnya. Layar menyala. Dan entah kenapa... tanpa perlu berpikir lama, jarinya langsung bergerak mencari satu nomor yang baru ia simpan semalam. Yusallia. Ia menatap nama itu beberapa detik. Lalu menekan tombol panggil. Nada sambung pun terdengar. --- Di dalam ruang praktiknya, Yusallia yang sedang menuliskan resep sedikit terkejut ketika ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas. Nomor tidak dikenal. Alisnya sedikit mengernyit. Biasanya ia tidak akan mengangkat telepon di tengah jam praktik. Tapi entah kenapa kali ini ia ragu sejenak. Dan setelah memikirkan banyak kemungkinan akhirnya ia mengangkatnya. "Hallo?" suaranya tetap tenang, walau sedikit lebih cepat dari biasanya. Di seberang sana, Rionegro tersenyum tipis mendengar suara itu. "Selamat siang." Yusallia diam sejenak. Suara itu familiar. Tapi ia tidak langsung yakin. "Maaf... ini dengan siapa?" tanyanya hati-hati. Ada jeda singkat. "Saya Rionegro" Dan seketika itu juga, ingatan Yusallia kembali. "Oh..." gumamnya pelan, sedikit terkejut. "Iya... maaf, aku belum sempat simpan nomor kamu." Rionegro mengangguk kecil, walau tentu saja tidak terlihat."Tidak apa-apa." Ada jeda singkat lagi. Rionegro kemudian langsung masuk ke tujuan. "Saya hanya ingin memastikan... mengenai janji makan siang kita hari ini." Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Yusallia langsung terdiam. Matanya refleks melirik ke arah jam. Dan saat itu juga-Ia tersadar. Janji itu. Ia benar-benar... lupa. Bukan karena tidak penting. Tapi karena hari ini terlalu padat. Tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat. "Rionegro..." suaranya berubah sedikit lebih pelan. "Aku... minta maaf." Nada suaranya jujur tidak dibuat-buat."Sepertinya aku belum bisa menepati janji makan siang kita hari ini." Di seberang sana, Rionegro tidak langsung menjawab. Memberi ruang. Seperti yang biasa ia lakukan. Yusallia melanjutkan, "Hari ini pasien di poli jiwa lagi sangat ramai. Dari pagi sampai sekarang belum berhenti... dan aku bahkan belum sempat istirahat." Ia menarik napas pelan. "Aku benar-benar tidak bisa keluar dari rumah sakit hari ini." Jujur apa adanya. Tanpa alasan berlebihan. Hanya kenyataan. Beberapa detik hening. Lalu Rionegro membalas "Tidak masalah." Jawaban itu datang dengan tenang. Tanpa nada kecewa dan tekanan "Janji makan siang itu tidak perlu Anda pikirkan sekarang," lanjut Rionegro. "Yang penting, Anda fokus dulu dengan pekerjaan Anda dan pasien-pasien Anda." Sederhana. Tapi entah kenapa... membuat Yusallia sedikit terdiam. Ada sesuatu dari cara pria itu bicara. Tenang. Mengerti. Tanpa membuatnya merasa bersalah. Yusallia menunduk sedikit, walau ia tahu itu tidak terlihat."Terima kasih... ya." Nada suaranya lebih lembut dan tulus. "Sudah mengerti kondisi aku." Rionegro tidak menjawab langsung. Dan Yusallia melanjutkan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ringan. "Tapi aku tetap akan mentraktir kamu nanti. Bukan hari ini... tapi di lain waktu. Anggap saja balas budi karena sudah menolong aku kemarin." Ada sedikit senyum di suaranya walau samar. "Dan... aku minta maaf karena harus membatalkan janji hari ini." Rionegro menarik napas pelan. Lalu menjawab dengan nada yang sama tenangnya "Tidak apa-apa." Singkat, tapi cukup, tanpa adanya tuntutan dan penekanan. Hanya penerimaan. Beberapa detik hening lagi. Seolah keduanya sama-sama tidak tahu harus menambahkan apa. Sampai akhirnya "Baik... kalau begitu saya tidak akan mengganggu Anda lebih lama," kata Rionegro. "Iya," jawab Yusallia pelan. "Terima kasih sudah menghubungi." "Selamat melanjutkan pekerjaan." Dan sambungan itu pun terputus.Enam tahun kemudian.Rumah itu tidak lagi sunyi.Dulu, apartemen Rionegro selalu rapi. Terlalu rapi. Sofa selalu berada di posisi yang sama. Buku-buku tersusun sesuai kategori. Meja kerja tidak pernah dipenuhi benda yang tidak perlu. Bahkan suara langkah kaki pun terasa seperti harus lebih pelan agar tidak mengganggu ketenangan di dalamnya.Namun sekarang, ketenangan itu sudah lama pergi.Dan anehnya, Rionegro tidak pernah benar-benar merindukannya.Pagi itu, ruang tengah dipenuhi suara langkah kecil yang berlari dari kamar menuju meja makan. Dua anak berusia enam tahun berkejaran sambil membawa boneka dan mobil-mobilan kecil. Di lantai, beberapa pensil warna berserakan. Di sofa, ada selimut kecil bergambar beruang yang tersangkut di sandaran. Di meja rendah, ada buku cerita anak yang terbuka, satu gelas susu yang belum habis, dan gambar krayon berbentuk rumah dengan empat orang di depannya.Rumah itu berantakan.
Kontraksi itu datang menjelang subuh.Awalnya hanya rasa tidak nyaman yang membuat Yusallia terbangun dengan napas pelan dan kening berkerut. Ia sempat berpikir itu hanya pegal biasa, karena beberapa minggu terakhir tubuhnya memang semakin mudah lelah. Perutnya yang membesar karena dua kehidupan kecil di dalamnya sering membuatnya sulit tidur nyenyak.Namun beberapa menit kemudian, rasa sakit itu datang lagi.Lebih kuat.Lebih jelas.Yusallia menggenggam ujung selimut.“Rion,” panggilnya lirih.Rionegro langsung terbangun.Bukan perlahan.Bukan dengan wajah bingung orang baru bangun tidur.Ia langsung duduk, seolah sejak awal tubuhnya memang hanya tidur setengah sadar untuk menunggu sesuatu terjadi.“Yusa?” suaranya berat, tetapi matanya langsung fokus. “Kamu sakit?”Yusallia menarik napas pelan. “Kontraksi.”Satu kata itu membuat wajah Rionegro berubah.Ia d
Malamnya, setelah Damian pulang, apartemen kembali tenang.Yusallia duduk di sofa sambil memegang salah satu brosur kamar bayi. Rionegro duduk di lantai dekat meja, mengukur ulang denah sederhana yang sudah ia gambar sendiri.Yusallia menatapnya lama.Rambut Rionegro sedikit jatuh ke dahi. Kemejanya sudah tidak serapi pagi tadi. Lengan bajunya tergulung sampai siku. Wajahnya masih fokus, tetapi tidak setegang sebelumnya.Di depannya, ada begitu banyak catatan.Kamar bayi.Keamanan.Pengasuh.Kesehatan.Jadwal.Keuangan.Kontrol kandungan.Batas pekerjaan.Rencana setelah bayi lahir.Semua hal itu mungkin terlihat berlebihan bagi orang lain.Namun Yusallia melihat sesuatu yang berbeda.Ia melihat seorang pria yang sedang membangun masa depan dengan tangannya sendiri.Bukan masa depan yang hanya ia bicarakan.Bukan janji koso
Yusallia melihat lagi daftar di laptop.“Kamar bayi ini maksudnya kamar kosong sebelah ruang kerja?”“Iya.”“Kamu mau ubah semua?”“Tidak semua. Tapi sebagian besar.”“Ruang kerja kamu?”“Aku bisa pindah ke ruang tengah.”Yusallia langsung menatapnya. “Rion, itu ruang kerja kamu.”“Bayi-bayi butuh kamar.”“Tapi kamu juga butuh tempat kerja.”“Aku bisa menyesuaikan.”Yusallia menghela napas kecil. “Kamu nggak harus mengalahkan semua hal milikmu untuk kami.”Rionegro terdiam.Yusallia menatapnya lebih lembut. “Aku tahu kamu mau siap. Aku tahu kamu mau semua aman. Tapi masa depan kita bukan cuma tentang menghapus hidup kamu supaya jadi ruang untuk aku dan bayi-bayi.”Rionegro tidak langsung menjawab.Kalimat itu mengenai sesuatu di dalam dirinya.Sejak kecil, ia terbiasa memahami keluarga sebagai sesuatu yang menuntut pengorbanan diam-diam. Ora
Setelah hari itu, semuanya berubah lagi.Bukan berubah dengan cara yang menakutkan seperti ketika Yusallia mengalami kecelakaan.Bukan juga berubah dengan cara yang mengguncang seperti ketika keluarga Arvantara runtuh dan nama Bagas Arvantara memenuhi berita.Perubahan kali ini datang lebih lembut.Lebih hangat.Namun tetap besar.Sangat besar.Karena sejak dokter mengatakan bahwa bayi mereka kembar, apartemen yang sebelumnya terasa cukup untuk mereka berdua mendadak terlihat seperti tempat yang harus dipikirkan ulang dari awal.Sofa yang dulu hanya menjadi tempat Yusallia bersandar sambil menonton atau membaca buku, sekarang mulai dibayangkan sebagai tempat dua bayi mungkin tertidur sebentar di pelukan mereka.Kamar kosong di dekat ruang kerja Rionegro, yang selama ini hanya dipakai untuk menyimpan beberapa barang tambahan, tiba-tiba berubah menjadi ruangan yang paling sering dilihat Rionegro setiap pa
Setelah pemeriksaan selesai, Yusallia duduk di kursi dengan gerakan pelan. Rionegro membantunya memakai cardigan, masih dengan wajah yang seperti belum sepenuhnya kembali dari keterkejutan.Dokter memberikan hasil cetak USG kepada mereka.“Ini saya cetakkan dua gambar. Nanti bisa disimpan.”Yusallia menerima lembar itu dengan tangan gemetar.Ia menatap dua gambar kecil berwarna hitam putih itu.Sulit dipahami oleh mata orang awam.Namun baginya, gambar itu terasa seperti dunia baru.“Ini mereka?” bisiknya.Dokter mengangguk. “Iya. Ini bayi pertama, dan ini bayi kedua.”Rionegro menatap gambar itu.Lama.Terlalu lama.Yusallia menoleh padanya. “Kamu masih hidup?”Rionegro berkedip. “Iya.”“Kamu diam banget.”“Aku sedang berpikir.”“Jangan terlalu banyak berpikir.”“Sulit.”“Apa yang kamu pikirkan?”Rionegro menatap
Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang ma
Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-be
Mobil berwarna hitam itu akhirnya memperlambat lajunya ketika memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati. Deretan pohon di sepanjang sisi jalan tampak basah kuyup, daun-daunnya masih meneteskan air hujan yang bel
Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir ja







