MasukArnie berjalan ke dapur, setelah sampai dapur ia langsung mencari bahan makanan yang akan ia masak untuk sarapan suami, mertua, kakak ipar, serta keponakan suaminya itu.
"Makanan apa yang mereka gak sukai ya?" gumam Arnie. Selama ini Arnie selalu melayani keluarga suaminya dengan tulus, meski diperlakukan tidak baik, ia tetap sabar. Namun, kini setelah tahu suami dan mertua nya menyimpan kebencian yang tak berdasar padanya, Arnie ingin memberi sedikit balasan pada perlakuan buruk mereka. "Nasi goreng pedas, biar aja mereka kepedesan atau mulas pagi-pagi karena makan masakanku!" gumam Arnie. Arnie mulai memotong bawang, cabai, dan menyiapkan bumbu serta toping untuk nasi goreng. Setelah itu ia mulai memasak, aroma lezat dari masakan Arnie mulai menyebar hingga menusuk indera penciuman orang-orang yang sudah lapar di rumah itu. Arnie selesai memasak, tetapi sebelum nasi goreng itu dihidangkan di meja makan, ia memisahkan 2 piring untuk ia dan mbok Inah sarapan. Sebab setiap hari Arnie sarapan, makan siang, atau makan malam selalu bersama mbok Inah, mertua dan suaminya tak mengizinkan Arnie makan satu meja dengan mereka. "Yang dua porsi untuk aku dan mbok Inah sudah aman, sekarang untuk kalian aku kasih yang spesial," ucap Arnie sambil tersenyum puas. Wanita itu mencampurkan satu piring sambal yang sebelumya sudah ia siapkan, lalu nasi goreng itu ia aduk kembali hingga rasanya merata, setelah itu ia hidangkan diatas meja makan. "Cuma nasi goreng?!" tanya Murni dengan nada tinggi. "Kan udah kesiangan, Mah. Yang cepet dan bahan-bahan ada di rumah cuma itu, jadi aku bikin yang praktis. Kalau kelamaan masak, nanti Mama keburu kelaparan, aku lagi yang di salahin!" jawab Arnie. "Sudah pintar menjawab kamu ya sekarang!" ucap Murni kesal. "Mah, sudahlah. Tadi Mama bilang lapar, dari pada marah-marah mending makan aja," ucap Daren. Arnie menghela nafas, lalu berjalan kembali ke dapur. Sementara Murni mendengus kesal melihat Arnie yang kini berani melawannya, Maya pun mengepalkan tangan di bawah meja, ia merasa kesal karena Daren malah menghentikan mama nya yang sedang marah pada Arnie. "Biasanya Daren cuek kalau Arnie di marahi atau di maki-maki mama. Kenapa aku merasa sekarang dia sengaja membuat mama nya berhenti menyerang Arnie, jangan-jangan Daren mulai menyukai dan melindungi Arnie?" gumam Maya dalam hati. Daren duduk di meja makan, Murni, Maya, dan Clarisa pun ikut duduk. Mereka mulai menyantap nasi goreng buatan Arnie, tetapi baru satu sendok masuk ke mulut Clarisa, anak itu langsung menjerit. "Mama, ini pedas banget," teriak Clarisa. Anak itu langsung memimum air putih karena kepedesan. "Iya, nasi goreng ini pedas banget, Arnie pasti sengaja. Kasihan Clarisa," ucap Maya. Murni pun merasa kepedesan, ia langsung minum air putih, menggebrak meja dan meneriaki nama Arnie. Namun, menantunya itu tak menjawab atau mendatanginya seperti biasa. "Arnie ... Kamu sengaja mau ngeracunin aku dan cucu ku?!" teriak Murni. "Maaf, Nyonya. Non Arnie sudah pergi ke pasar, banyak bahan makanan yang habis di dapur," ucap mbok Inah. "Arnie ke pasar?" tanya Daren terkejut. Biasanya Arnie selalu pamit atau izin terlebih dahulu jika keluar rumah, meski itu hanya pergi ke pasar. Namun, hari ini ia pergi tanpa pamit, Daren menarik ponselnya di saku, mengecek mungkin Arnie pamit lewat chat. Namun, di ponsel itu pun tak ada pesan apa-apa. "Mah, Arnie pasti senagaja masak pedas kaya gini. Terus dia juga sengaja cepat-cepat pergi ke pasar biar gak di marahi Mama," ucap Maya. "Kurang ajar! Lihat saja nanti, dia pikir bisa terus menghindar!" ucap Murni kesal. Daren tak mengatakan apa-apa, dengan ekpresi datar ia bangkit dari duduknya lalu hendak pergi kerja. Maya lagi-lagi memperhatikan tingkah Daren, biasanya jika sang mama sudah kesal dengan Arnie, Daren akan berjanji pada sang mama jika ia akan memberi pelajaran pada Arnie. Namun, hari ini Daren tak mengatakan apa-apa. "Daren–" Belum sempat Maya melanjutkan ucapannya, Daren sudah memotong. "Aku mau berangkat ke kantor, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" ucap Daren lalu pergi meninggalkan rumah itu. Sarapan pagi itu kacau, Arnie pun pergi hingga membuat Murni tidak bisa melampiaskan emosinya. Ia memilih untuk sarapan di luar karena sebentar lagi akan ada janji bertemu dengan teman di luar, sementara Maya pergi mengantar Clarisa sekolah, setelah itu pergi dengan temannya, kembali ke rumah siang bahkan sore. Sementara di pasar Arnie sudah membeli beberapa sayur dan kebutuhan dapur, ia bergegas pulang menggunakan ojek. "Sekarang pasti rumah sudah sepi seperti biasa, mereka orang-orang sibuk tidak jelas. Sudah waktunya aku cari bukti tentang kematian Dena," gumam Arnie. Setelah ojek yang mengantar Arnie sampai di depan rumah mewah Daren, ia meminta tolong mbok Inah untuk merapihkan belanjaan yang ia bawa. "Bi tolong di cuci dan di simpan di kulkas ya! Saya belum mandi dari pagi, gak enak," ucap Arnie. "Iya, Non. Oh ya, tadi pagi nyonya marah katanya nasi goreng buatan non Arnie kepedesan, padahal yang mbok makan enak kok gak kepedesan," ucap mbok Inah. "Hahaha ... Terus gimana, Mbok?" tanya Arnie sambil tertawa. "Gak jadi di makan, nyonya teriak-teriak manggil Non Arnie, tapi mbok bilang non sudah pergi ke pasar. Nyonya jadi makin kesal, mbok heran kok non Arnie kuat sih punya mertua dan suami jahat kaya gitu," ucap mbok Inah. Arnie tertawa dan menggelengkan kepala, ia berjalan menuju kamar meninggalkan bi Inah. Dalam hatinya bergumam lirih. "Aku memang bodoh, Mbok. Semua orang tahu jika mertua dan suamiku tidak baik padaku, tapi aku masih saja berharap mereka berubah. Namun sekarang aku sudah tidak berharap lagi." Arnie bergegas mandi, setelah itu mengambil kunci kamar Dena dan masuk ke kamar itu. Ia kembali menarik nafas panjang, mengingat momen manis bersama Dena, membuatnya merasa sesak. "Dena, harus mulai dari mana aku mencari bukti jika aku tidak terlibat dalam kasus kematianmu?" gumam Arnie. Ia membuka laci di meja belajar Dena, lalu melihat laptop, ponsel, dan buku diary Dena yang sudah tak pernah tersentuh. Barang pertama yang Arnie ambil adalah diary, perlahan ia membuka dan membaca isinya. Tak ada yang aneh, hingga Arnie terkejut ketika ada selembar kertas yang jatuh dari selipan buku itu, Arnie membaca tulisan itu yang menuliskan jika Dena membenci Maya. ~ Dear dairy Malam ini aku menghadiri pesta ulang tahun teman yang diadakan di salah satu hotel, semua berjalan happy. Namun saat mau pulang aku gak sengaja lihat kak Maya masuk ke hotel sama lelaki. Awalnya aku kira lelaki itu kak Dimas, tapi setelah aku ikuti ternyata lelaki itu bukan kak Dimas. Yang membuat aku kesal kak Maya dan lelaki itu begitu mesra, aku diam-diam ikuti mereka sampai masuk ke salah satu kamar, gak nyangka banget, aku benci banget sama Kak Maya. Berani-beraninya dia selingkuh di belakang kak Dimas. Lihat aja aku akan kumpulkan bukti, lalu aku kasih tahu kak Dimas kelakuan kotor kak Maya~ Arnie memeluk diary itu. "Masalah perselingkuhan Maya ini, apa ada hubungannya dengan kematian Dena? Tapi tulisan ini gak bisa membuktikan apapun. Oh ya, bukannya waktu itu kak Dimas dan mas Daren udah cari rekaman cctv tempat kejadian kecelakaan ya? Dimana rekaman itu ya?" Arnie mencoba membuka laptop Dena, berharap ada rekaman cctv di lokasi kejadian dalam laptop itu. Namun, belum sempat menemukan apapun, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari ibunya dan Arnie langsung mengangkatnya, begitu mendengar suara sang ibu yang menjelaskan situasi di rumahnya, Arnie pun terkejut. "Apa? Ibu serius, ibu engga bercanda, kan?!""Mah beneran Arnie nungguin aku di rumah sakit?" tanyanya lirih tanpa menoleh.Murni menahan air mata. "Iya, Arnie sudah menunggu."Daren tertawa kecil, lalu berbisik, "Aku sudah rapih, sudah wangi. Arnie pasti senang ketemu sama aku!"Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Murni turun lebih dulu, lalu membantu Daren turun.Di ruang tunggu, Daren terlihat gelisah. Kakinya tak berhenti bergerak, tangannya gemetar."Mah, kok Arnie gak ada? Dia bohong sama aku, ya?" tanyanya tiba-tiba.Murni menatap wajah kakaknya itu. "Sabar ya, nanti juga dia kesini."Tak lama, seorang psikolog wanita paruh baya memanggil nama Daren."Mas Daren, silakan masuk."Di ruang konsultasi yang tenang dan beraroma lavender, Daren duduk berhadapan dengan psikolog itu. Murni duduk di sampingnya."Saya Dokter Ratna," ucap wanita itu lembut. "Mas Daren, bisa cerita apa yang Mas rasakan?"Daren terdiam dia menatap dokter tersebut, lalu wajah dokter itu beruba
"Sudahlah, Daren. Lupakan dan ikhlaskan saja, mungkin kamu dan Arnie memang tidak berjodoh," ucap Murni mencoba untuk menenangkan anaknya.Daren menggelengkan kepalanya, tatapannya kosong, air mata menetes di pipinya. Ia masih tak mau menerima kenyataan jika Arnie sudah menjadi istri dari lelaki lain, ia tak mau menerima ucapan sang mama jika ia dan Arnie memang tidak berjodoh."Mama tahu kan, Arnie sudah lama cinta sama aku, dia pasti akan kembali sama aku. Sekarang dia cuma lagi marah, nanti kalau dia gak marah lagi dia akan tinggalin lelaki itu dan kembali padaku," ucap Daren sambil tersenyum dan mengusap air matanya.Senyum dan tatapan mata Daren membuat Murni khawatir, ia menggenggam tangan Daren dan berusaha menguatkan serta menyadarkan nya."Daren, jangan buat mama takut. Masa depan masih panjang, jika Arnie tidak bisa jadi istrimu, dia pasti masih mau jadi temanmu," ucap Murni."Mama, Arnie adalah istri ku bukan temanku," ucap Daren sambil tertawa.Ia merebahkan tubuhnya diata
"Saya terima nikah dan kawinnya Arnie Ghasani binti Supriyadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Frans dengan sekali tarikan nafas."Bagaimana para saksi?" tanya penghulu."Sah.""Sah.""Sah.""Sah."Arnie meneteskan air matanya lalu mencium tangan Frans, ia tak pernah menyangka jika hari yang pertunangan yang sudah disiapkan, akan menjadi hari pernikahannya dengan pengacara tampan yang lebih dulu mencintainya. Sementara Frans mencium kening Arnie dan menghela nafas lega, ia merasa senang karena tidak harus menunggu selama setahun untuk menjadikan Arnie istrinya.Beberapa hari yang lalu. "Pertunangannya dibatalkan kita langsung menikah saja, mau ya!" ucap Frans."Kalau begitu aku setuju, lebih baik Arnie dan Frans langsung menikah saja. Daren memang sudah diamankan, tapi aku takut ada lelaki lain yang menginginkan Arnie dan melakukan hal yang seperti Daren lakukan," ucap Arga."Dengar Arnie, kakakmu sudah setuju. Jadi kita tidak perlu tunangan lagi langsung menikah saja
"Dobrak pintunya!" ucap Arga setelah yakin jika di dalam ada adiknya, suara teriakan Arnie membuat Arga dan Frans khawatir.Anak buah Arga mendobrak pintu apartemen yang terkunci itu, setelah berhasil terbuka Frans, Arga, dan Wira berlari memasuki unit tersebut.Darah Frans mendidih saat melihat Arnie diatas sofa dengan tangan dan kaki terikat, Daren sedang memaksa untuk melecehkan nya. Frans menarik Daren dengan kasar lalu memukulnya membabi buta, sementara Arga melepas ikatan di tangan dan kaki Arnie. Janda cantik itu langsung memeluk sang kakak dengan gemetar."Kurang ajar kau! Berani-beraninya melakukan ini pada Arnie, kau pantas mati ...!" teriak Frans sambil terus memukuli Daren.Daren tak bisa membalas, tubuhnya lemah sudah babak belur oleh pukulan Frans, ia tak siap untuk melawan.Melihat Frans yang hampir kehilangan kendali, Wira menahannya."Cukup, Frans. Kau bisa membunuhnya!" ucap Wira seraya menahan tubuh pengacara tampan itu."Lepas! Jangan halangi aku, dia memang panta
Entah mengapa sejak pagi perasaan Frans gelisah dan tidak tenang, setelah selesai persidangan ia langsung membereskan berkas-berkas kasus lain. Niatnya malam ini akan lembur, tetapi karena ia selalu kepikiran Arnie pengacara tampan itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang."Kenapa aku ini? Apa karena siang tadi gak makan bareng dia jadi gak bisa tenang sama sekali," gumam Frans.Ia berjalan keluar kantor firma hukum, menatap gedung bertingkat di seberangnya. Perusahaan milik keluarga Natasya tempat Arnie bekerja nampak sudah sepi karena jam kerja pun sudah lewat."Sepertinya Arnie sudah pulang," gumam Frans.Ia akhirnya memutuskan untuk pulang, di jalan ia membeli kue kesukaan Arnie, ia berniat memberikannya nanti di rumah Arnie.Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Frans sampai di gerbang rumah Arnie. Security langsung membuka gerbang karena sudah mengenali Frans."Lho, pak Frans gak sama Bu Arnie," ucap security."Iya saya lembur dulu tadi, Arnie udah pulang duluan kan?" tanya Fr
"Tidak ...!" teriak Daren.Lelaki itu emosi dan hendak menyerang Frans, tetapi Frans sudah lebih dulu masuk kedalam mobil dan tancap gas. Sehingga Daren tak memiliki kesempatan untuk memukul Frans.Keesokan harinya, Arnie dan Frans bekerja seperti biasa. Pagi-pagi biasanya kurir bunga yang mengirim buket ke perusahaan Arnie, tetapi pagi ini tidak ada. Arnie dan Frans mengira jika Daren sudah menyerah karena ketegasan Arnie tadi malam."Syukurlah jika memang dia sudah menyerah, aku jadi tidak khawatir lagi," ucap Frans."Aku berharap dia benar-benar pergi dan gak muncul lagi di hadapanku," ucap Arnie."Semoga saja, tapi kalau dia muncul lagi kamu gak usah takut. Aku pasti siap melindungi kamu," ucap Frans."Udah sana kerja! Nanti kesiangan, hari ini ada sidang kan!" ucap Arnie."Iya, hari ini aku ada sidang. Setelah itu sepertinya lembur membereskan berkas lain agar hari pertunangan kita nanti aku bisa sedikit santai," ucap Frans.Arnie menganggukan kepalanya, ia tahu pekerjaan Frans s
Arnie segera bergegas ke kamar, lalu merebahkan tubuh di sofa dan menutup dengan selimut. Ia berpura-pura tidur agar Daren tak tahu jika ia baru saja masuk ke kamar Dena.Krieek ....Suara pintu kamar terbuka dengan kencang, Daren masuk dalam keadaan mabuk, lalu ia langsung berjongkok di hadapan Ar
"Arnie!" Suara bariton Daren membuat Arnie tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu berjalan gagah mendekat kearah sang istri, lalu dengan kasar menarik tangan istrinya hingga Arnie yang sedang duduk di sofa berdiri."Punya keberanian dari mana kamu sampai berani membantahku?!" ucap Daren denga
"Kurang ajar kamu!" teriak Murni.Ia tak menyangka Arnie yang biasanya hanya diam saat dihina dan di perlakukan buruk, sekarang berani menangkis tangan Murni yang hendak menamparnya, bukan hanya itu. Bahkan Arnie menghempaskan tangan Murni dengan kuat hingga Murni terhuyung dan jatuh ke lantai."Ma
"Tidak, Ayah. Aku tidak bisa pulang ke rumah ayah dan ibu, aku harus pulang ke rumah mas Daren," ucap Arnie."Selama 2 tahun ayah selalu memperhatikan mu dari kejauhan, ayah tahu bagaimana keluarga mereka memperlakukan mu. Walaupun keluarga kita orang miskin, tidak seharusnya mereka memperlakukan k







