ログインMata robotik Evan mencoba memindai Elara, menganalisis identitas dan data diri wanita misterius itu. Tapi anehnya, sistem analisisnya seperti menabrak tembok. Tidak ada data. Tidak ada informasi, seolah wanita itu tidak pernah ada di database manapun.
"Kau tidak akan menemukan jawabannya di situ," Elara tersenyum sambil menunjuk mata Evan. "Teknologi canggih memang menakjubkan, tapi ada hal-hal yang tidak bisa dianalisis."
Evan bergerak cepat, mencoba menangkap pergelangan tangan Elara. Tapi wanita itu sudah mengantisipasi. Mereka terlibat pertarungan singkat, Evan dengan kekuatan cybernetic-nya, Elara dengan kelincahan dan teknik yang luar biasa.
Selama beberapa detik, mereka bertukar serangan dengan kecepatan tinggi. Tinju Evan ditangkis dengan lengan Elara. Tendangan Elara ditangkis dengan lutut Evan. Mereka bergerak dalam tarian maut yang brutal sekaligus indah.
Tiba-tiba, mata mereka bertemu. Hijau zamrud bertemu dengan merah cybernetic. Waktu seolah berhenti.
Ada sesuatu dalam tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Evan merasa seperti menatap cermin yang memantulkan dirinya sendiri, sama-sama misterius, sama-sama berbahaya, sama-sama terikat oleh misi yang tidak bisa mereka tinggalkan.
Evan melepaskan cengkeramannya. Elara mundur selangkah, masih menatap matanya.
"Sampai jumpa lagi, Evan tanpa marga," Elara tersenyum, senyumnya mampu membuat jantung naga Evan berdetak lebih cepat.
Suara helikopter terdengar di luar jendela. Elara mundur ke ambang jendela, mengeluarkan pistol pelontar kait lagi.
Kait menancap di landing skid helikopter. Elara melompat keluar jendela, tubuhnya terbang di udara malam sebelum ditarik naik oleh tali.
Evan berlari ke jendela, menatap ke atas. Elara sudah hampir mencapai helikopter, tapi dia masih sempat melambai ke arahnya dengan senyum kemenangan yang menggoda.
Helikopter itu menghilang dalam kegelapan, membawa wanita misterius beserta berkas yang dicurinya.
Evan berdiri di sana, menatap langit malam. Untuk pertama kalinya sejak transformasinya, ia menemukan seseorang yang bisa menandingi dirinya.
Mata robotiknya merekam wajah Elara Phoenix ke dalam memori permanen. Suatu hari, mereka akan bertemu lagi. Dan saat itu tiba, Evan akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya.
"Misi selesai," pemuda itu bergumam, meski matanya masih tertuju ke langit.
***
Ruang Kontrol VVIC
Kepala Godfather Lorenzo melayang dan mendarat dengan benturan keras di atas meja kontrol. Dr. Reema dan empat peneliti lainnya refleks melompat mundur dengan wajah pucat.
Darah masih menetes dari potongan leher itu. Mata Lorenzo melotot menatap mereka dengan tatapan kosong yang mengerikan.
"Ya Tuhan..." salah satu asisten bergumam sambil menutupi mulutnya, mendadak mual dan ingin muntah.
Sementara orang yang mengantarkan kepala Lorenzo kepada mereka sudah meninggalkan ruangan. Evan Pendragon berjalan santai menuju ruang kapsul, tempatnya beristirahat.
Dr. Reema menatap monitor yang memutar ulang rekaman yang menampilkan Evan berdiri tenang di tengah mansion yang dipenuhi mayat. Tidak ada tanda-tanda kelelahan, pemuda itu bergerak seperti mesin pembunuh yang sempurna.
"Dr. Reema," asisten berambut pirang bernama Sarah berkata dengan suara gemetar. "Ini... ini sudah di lluar ekspektasi kita. Dia membunuh Godfather Lorenzo seperti menginjak semut."
"Dan lima kultivator Lima Harimau Gunung Vandar," asisten lain bernama Marcus menambahkan sambil memperhatikan data di layar. "Mereka semua pembunuh bayaran yang tak pernah gagal, bagaimana bisa dia menghabisi nyaris semuanya tanpa berkedip."
Dr. Reema menggeleng bingung. "Aku juga tak menyangka sama sekali, sepertinya ia memiliki kekuatan asing yang tidak kita ketahui."
Sarah menatap kepala Lorenzo dengan ngeri. "Potongannya sangat rapi. Seperti dilakukan oleh ahli bedah, bukan pejuang."
"Itulah yang membuatnya sempurna," Dr. Reema tersenyum tipis meski tangannya masih gemetar. "Evan bukan hanya kuat secara fisik. Serangannya juga selalu tepat sasaran, terkendali, dan tidak emosional dalam membunuh."
Marcus mundur beberapa langkah dari kepala Lorenzo. "Bukankah ini terlalu berbahaya? Sepertinya kita menciptakan pembunuh yang mungkin sulit dikendalikan."
"Justru itulah yang dibutuhkan Jenderal Magnus," Dr. Reema mengambil telepon satelit dan menekan nomor yang sudah lama menunggu panggilan ini. "Senjata yang tidak bisa dikalahkan siapapun."
Dr. Reema menyapa begitu teleponnya terangkat, "Jenderal Magnus, saya sudah menemukan prajurit yang Anda cari."
Di ujung sambungan, suara tawa mencemooh meresponsnya. "Jangan omong besar dulu, Reema! Tunjukkan videonya!"
Dr. Reema mengirimkan rekaman lengkap misi Evan melalui koneksi satelit yang aman. Rekaman pertarungan di mansion Lorenzo, pembantaian empat dari Lima Harimau, hingga eksekusi Lorenzo yang terakhir.
Tiga menit kemudian, Jenderal Magnus menghubunginya dengan nada suara yang sangat berbeda.
"Luar biasa!" Magnus tertawa lagi, kali ini penuh kekaguman. "Benar-benar luar biasa! Ini dia prajurit yang sudah bertahun-tahun kucari."
Sarah dan Marcus saling bertukar pandang cemas mendengar antusiasme Jenderal Magnus.
"Persiapkan anak itu dengan matang, Reema!" Magnus melanjutkan dengan antusias. "Dua tahun lagi, aku akan merekrutnya."
"Apakah tidak terlalu cepat, Jenderal?" tanya Dr. Reema ragu meski sudah menduga jawabannya.
"Negara sedang membutuhkan prajurit tangguh dan berani mati seperti dia," jawab Magnus dengan nada yang membuat bulu kuduk merinding. "Evan Pendragon akan menjadi legenda yang membuat musuh-musuh negara ini gemetar ketakutan."
Patrick sempat mundur, terkejut dengan ledakan emosi atasannya."Pak Eric," Patrick berkata hati-hati, "saya tahu Bapak menyukai Bu Anna. Tapi situasi ini...""Diam!" Eric memotong dengan nada berbisa. "Aku tidak butuh simpatimu."Keheningan mencekam selama beberapa detik. Eric berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu seperti singa yang terkurung. Otaknya bekerja keras mencari jalan keluar dari situasi yang semakin rumit.Evan Wijaya. Nama itu sudah menjadi duri dalam dagingnya sejak pria itu menginjakkan kaki di Penjara Inferium. Pertama, ia mengalahkan Boris dengan satu serangan. Kedua, dia berani mengancam Eric secara langsung. Dan sekarang, berani merebut wanita yang selama ini Eric inginkan."Aku harus menyingkirkannya," Eric bergumam dengan mata menerawang. "Harus. Bagaimanapun caranya."Patrick berdehem pelan. "Pak Eric, kalau boleh saya memberi usul..."Eric menoleh dengan pandangan tajam. "Apa?""Selama ada Bu Anna dan Ivan di penjara Inferium ini, kita tidak akan pernah
Anna menghela napas. Ia bangkit, mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Blus yang robek tidak bisa dipakai lagi. Ia terpaksa mengenakan jaket yang tadi ia sampirkan di bahunya."Aku akan mengirimkan baju ganti untukmu," Anna berkata sambil merapikan rambutnya. "Dan... terima kasih.""Untuk apa?""Untuk tidak memanfaatkan situasi tadi," Anna menatap Evan dengan pandangan baru. "Kau bisa saja menyakitiku. Tapi kau tidak melakukannya."Evan berdiri, tubuh atletisnya menjulang di atas Anna. "Aku bukan monster, Anna. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup."Anna mengangguk pelan. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti."Evan," ia berkata tanpa menoleh. "Berhati-hatilah. Ada banyak orang di penjara ini yang menginginkan kematianmu.""Aku tahu.""Dan aku tidak akan selalu bisa melindungimu."Evan tersenyum di balik punggung Anna. "Siapa bilang aku butuh perlindungan?"Anna membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Pintu besi tertutup dengan bu
Evan terdiam sesaat. Alisnya terangkat sedikit."Hukuman macam apa itu?" Evan bertanya dengan nada geli.Wajah Anna memerah. Rasa malu bercampur nafsu membuat matanya memanas."Kau bilang akan melakukan apa yang kumau," Anna berbisik, suaranya lebih mirip desahan. "Ini yang kumau."Tangannya yang masih bisa bergerak sedikit, meraih tangan Evan. Ia meletakkan telapak tangan pria itu di dadanya yang membusung, tepat di atas jantungnya yang berdegup liar."Kau bisa merasakannya?" Anna menatap mata Evan tanpa berkedip. "Sejak pertama kali kau berani melawanku di ruang kerjaku, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kau membuatku gila."Evan merasakan detak jantung Anna yang cepat di bawah telapak tangannya. Kehangatan tubuh wanita itu menjalar melalui kain blus tipis yang memisahkan mereka."Kau yakin tidak akan menyesal?" Evan bertanya dengan suara rendah, "bercinta dengan seorang napi?""Tidak," Anna tersenyum menantang. "bagaimana denganmu?"Tangan Evan bergerak, jari-jarinya mencengker
Evan duduk bersila di tengah lantai dingin ruang isolasi. Matanya terpejam. Napasnya teratur, dalam dan lambat. Energi naga mengalir di setiap pembuluh darahnya, berputar seperti arus sungai emas yang menenangkan.Dalam kegelapan meditasinya, ia merasakan denyut jantung naganya semakin kuat. Inti energi di pusat dantiannya bersinar terang, memancarkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Setiap tarikan napas membawa energi murni masuk. Setiap hembusan membuang racun emosional yang mengendap.Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki di koridor. Langkah yang tegas tapi ringan. Hak sepatu wanita berdetak di lantai beton. Evan tidak membuka mata, tapi bibirnya membentuk senyum tipis.Pintu besi berderit terbuka.Aroma parfum mawar bercampur kayu cendana menyeruak masuk. Aroma yang sudah ia kenali sejak hari pertama di penjara ini.Anna Tanzil berdiri di ambang pintu dengan cambuk kulit di tangan kanannya. Cahaya koridor menerangi siluet tubuhnya dari belakang."Evan Wijaya,
Ivan menarik kotak itu dengan tangan gemetar. Debu beterbangan ketika dia meletakkannya di meja baca di tengah ruangan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Dengan gerakan perlahan, ia membuka tutup kotak.Mata Ivan langsung berkaca-kaca.Di atas tumpukan dokumen tergeletak sebuah foto. Foto seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dengan mata yang jernih dan senyum polos. Evan Pendragon, kakaknya."Kakak..." Ivan mengambil foto itu dengan tangan bergetar. "Apakah benar kau sudah mati? Atau masih hidup dan berada di penjara ini?"Air mata mulai mengalir di pipinya. Iaa mengusap permukaan foto dengan jempol, seolah bisa merasakan kehangatan kakaknya yang sudah lama hilang.Di bawah foto, Ivan menemukan novel Harry Potter edisi lama dengan sampul yang sudah lusuh. Dia ingat betul novel ini. Ini adalah buku favorit kakaknya yang selalu dibaca ulang berkali-kali.Di halaman dalam sampul, tertulis dengan tulisan tangan kakaknya: Untuk Evan Pendragon, hadiah ulang tahun ke-16. Dari Papa dan M
Ruang isolasi berukuran 2x3 meter tanpa jendela. Hanya ada kasur tipis di sudut, toilet kotor, dan bola lampu 25 watt yang menyala redup. Dindingnya kedap suara sehingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi di dalam."Masuk!" Eric mendorong Evan ke dalam.Sesampainya di dalam, Eric menutup pintu tapi tidak mengunci. Dia mendekat ke Evan dengan mata menyala jahat."Akhirnya kita bisa berbicara empat mata," Eric mengeluarkan pisau lipat yang tadi dijadikan bukti. "Sudah lama aku ingin menghabisimu."Evan duduk di kasur tipis dengan tenang. "Silakan coba!""Pak Eric," Patrick yang berdiri di pintu berbisik. "Kalau Tuan Ivan mencari...""Dia tidak akan tahu apa-apa," Eric menjawab sambil menggenggam pisau erat-erat. "Kita akan bilang Evan bunuh diri karena depresi.""Tapi CCTV basement tidak berfungsi," Sam menambahkan. "Kalau ada investigasi..."Eric terdiam, menimbang risiko. Membunuh Evan sekarang memang menggoda, tapi terlalu berisiko dengan kehadiran Ivan yang bisa menyelid







