Share

03. Scare

Author: Urbaby
last update Last Updated: 2025-06-11 23:43:43

Starla mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Kemarahan terlihat jelas dari wajahnya dan bisa terlihat jelas di bawah keremangan lampu yang berkerlap-kerlip. Emosinya membuncah untuk segera disemburkan kepada pria yang dari kejauhan terlihat tengah berbicara dan sesekali tersenyum menyeringai.

Starla sangat-sangat membenci senyuman yang begitu menjijikkan itu!

Sekilas Starla punya pemikiran untuk mengambil langkah-langkah panjang dan menerjang pria itu, tak lupa mengambil satu botol minuman di atas meja, kemudian memukulkan botol itu pada kepala Skylar sampai hancur. Saat itu juga Starla pasti akan tertawa terbahak-bahak menyaksikan bagaimana kepala itu mengeluarkan darah dan ajal akan menjemputnya saat itu juga. Pada saat itu, Starla akan berbahagia karena telah membalaskan dendam atas kematian Arlan.

Oh ... seandainya Starla punya keberanian sebesar itu, tetapi buktinya dia hanya bisa berdiam diri di sini tanpa merealisasikan khayalannya itu. Tetapi sebuah alasan yang sangat besar yang membuat Starla tidak melakukan niatannya itu. Mungkin kesempatan ini akan disesalinya suatu saat nanti.

Starla tidak bisa berlama-lama di tempat ini, dia tidak ingin sampai dilihat oleh pria itu. Atau mungkin saja dia yang akan mati di tangan pria itu.

Baru saja Starla akan melangkah, namun sebuah tarikan di lengannya menghentikan langkahnya. Starla menoleh dengan cepat dengan alis yang berkerut mendapati seorang pria tengah mencengkeram tangannya.

"Apa kau temannya Riana?"

Starla semakin mengerutkan dahinya dan berusaha menarik tangannya dari cekalan pria itu. "Riana siapa?" tanya Starla tidak tahu-menahu.

Pria itu terkekeh. "Maaf ... maaf, maksudku Ariana, di sini dia dikenal dengan nama Riana," ujar pria itu menjelaskan yang kemudian membuat Starla hanya memberikan sebuah anggukan. "Dia memberitahuku kalau tidak bisa masuk malam ini dan katanya ada yang akan menggantikan. Apakah itu kamu? Karena hanya kau yang terlihat begitu berbeda di tempat ini."

Starla mengangguk ragu. "I—iya, itu aku," cicitnya.

Pria tampan itu kembali mengangguk. "Perkenalkan nama saya Dion, teman Ariana. Kau?"

"S—star ... namaku, Starla."

"Salam kenal, Starla. Riana sudah berpesan untuk menjagamu dengan baik di sini. Termasuk dari gangguan-gangguan pria hidung belang di tempat ini. Jadi kalau ada apa-apa, langsung beritahu aku. Ya ... walaupun posisiku hanya bartender di sini." Dion kemudian kembali terkekeh. Terlihat sekali pria itu murah senyum.

Starla balas tersenyum. "Terima kasih, Dion!"

Starla sangat bersyukur karena masih ada orang baik yang tersisa di tempat menakutkan ini. Dan semoga saja, tidak ada yang terjadi padanya, sehingga dia tidak perlu merepotkan pria di hadapannya itu.

"Oh iya, Star. Jangan terlalu menampakkan diri di depan pemilik tempat ini." Dion menunjuk Skylar dengan dagunya. "Pria di sana adalah pemilik club ini. Biasanya Riana yang akan melayaninya kalau sedang berkunjung, tetapi karena malam ini dia absen jadi ...."

Tawa Dion seketika menggelegar saat mendapati tatapan Starla yang terlihat horor memandangnya. "Tenang saja, Star. Bukan karena Riana tidak ada di sini dan kau yang menjadi penggantinya, tidak mungkin juga kau yang ditunjuk. Bos juga tahu kalau kau hanya pengganti di sini, dan tidak punya keahlian, sedangkan dia itu tidak suka dilayani dengan cara yang buruk. Lagi pula masih banyak wanita-wanita yang lebih mampu untuk memberikan pelayanan yang baik pada bos."

Starla seketika bernapas lega saat mendengar penuturan kalimat yang dilontarkan oleh Dion. Baguslah, karena Starla memang tidak ada niatan untuk menampakkan diri di hadapan pria itu. Tidak apa-apa dia bertahan di tempat ini semalaman, asal dia tidak terlihat oleh Skylar. Dan sepertinya itu akan berhasil, mengingat dia hanya pengganti di sini, jadi sudah pasti dia hanya melayani yang lainnya saja dan bukannya bos besar itu, seperti kata Dion.

Ya, semoga saja.

****

Skylar Aleandro Wolves sangat bersemangat malam ini mengunjungi salah satu klub malamnya. Kesenangannya ini tentu saja dilandasi dengan keberadaan 'kelinci' kesayangannya. Dia akan bermain-main sebentar dengannya, sebelum benar-benar menghancurkannya dan memenjarakannya di dalam neraka.

Bawahannya yang diperintahkan untuk mengelola klub malam ini langsung menyambutnya saat kaki Skylar sudah melangkahkan kaki di club malamnya itu. Dengan tergopoh-gopoh pria gendut itu menggiringnya ke kursi VIP terbaik.

"Maaf, Sir. Malam ini Riana sedang absen, jadi ...."

Pria gendut itu sangat ketakutan mendapati bola mata Skylar yang berkilat marah.

"... Jadi Anda bisa memilih yang biasanya menemani Anda." Pria gendut itu menunjuk lima orang wanita yang berjejer dengan tinggi yang sama rata. Mereka mengenakan gaun yang sangat terbuka dan melekat sempurna di tubuh seksi mereka. Wajahnya telah dipoles dengan make up tebal. Terlihat sangat sensual. Mereka sepertinya memang diciptakan sebagai penggoda. Penggoda kaum lelaki yang membutuhkan kenikmatan yang ditawarkan oleh mereka.

Skylar mengamati kelimanya, yang telah memamerkan senyum menggoda dan berusaha keras agar salah satu dari mereka bisa terpilih menjadi teman Skylar malam ini. semua dari mereka tentu saja berlomba-lomba mendapatkan perhatian pria itu, karena bukan saja kenikmatan yang akan didapat, tetapi juga materi yang banyak jika Skylar merasa puas dengan service yang diberikan.

"Aku tidak suka dengan mereka. Aku sudah bosan dengan perempuan-perempuan seperti ini," ucap Skylar dengan kasar, yang langsung mematahkan semangat-semangat wanita itu karena tidak berhasil terpilih.

Pria gendut itu tentu saja ikut kaget karena para wanita-wanita yang telah terbiasa dengan Skylar sudah didandani sedemikian rupa demi memamerkan pesonanya pada Skylar. Tetapi ternyata pria itu malah menolak wanita-wanita pilihannya. Sepertinya hanya Riana yang memang bisa memuaskan pria congkak di hadapannya ini.

Sialan wanita murahan itu! Kalau sampai malam ini Skylar marah besar, makan Riana harus siap-siap mengangkat kaki dari club malam ini

"Kalau begitu, Anda bisa memilih yang lainnya, Tuan."

Skylar tersenyum menyeringai. Mulai menatap sekeliling dengan tak berminat, menatap semua perempuan di sana yang hampir seperti semut yang mengelilinginya, dengan tatapan berharap untuk dipilih. Terlalu murahan, gumamnya dalam hati. Semua manusia di dunia ini memang murahan dan penjilat.

Skylar merasa sangat marah besar saat mendapati wanita yang dicarinya tidak ada di sini. Sialan. Tidak mungkin wanita murahan itu membohonginya dan tidak mungkin juga orang kepercayaannya ikut berbohong. Wanita yang menjadi alasannya datang ke tempat ini pastinya hanya sedang bersembunyi. Dan dengan mata jelinya, dia pasti akan mendapatkan 'Kelinci' kesayangannya itu.

Namun, pencariannya akhirnya membuahkan hasil. Wanita yang dicarinya memang berada paling belakang, dekat dengan meja bartender, dan sejak tadi hanya menunduk dengan tangan yang saling meremas. Meskipun di bawah keremangan lampu, Skylar bisa mengenali wanita itu. Perempuan yang terlihat salah tempat di klub malam mewah ini. Mengenakan baju luar biasa seksi, tetapi tampak tidak nyaman di dalamnya.

Mungkin setelah ini, Skylar akan memberikan hadiah yang besar untuk Ariana karena telah mendandani wanita itu menjadi terlihat sangat cantik, dengan pakaian waitress yang kelewat seksi. Meskipun terlihat jelas kalau wanita itu kurang nyaman dengan segalanya, dengan tempat dan pakaian yang dikenakan.

Tanpa sadar seulas senyum jahat muncul di bibirnya.

"Aku mau dia!" gumamnya sambil menunjuk perempuan itu.

Dan seketika ruangan itu mendadak hening, dengan semua tatapan mata tertuju ke arah obyek yang ditunjuk oleh Skylar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Membara Tuan Muda   53. Grudge

    Kejadian mengerikan beberapa bulan yang lalu masih terus menerus membayangi benak Skylar. Sebuah kejadian yang telah mengubah semuanya. Peristiwa menyeramkan yang merenggut habis sisi lembut pria itu, hingga tak bersisa sedikit pun. Skylar benar-benar tidak bisa melupakan ketika ia pertama kali mengetahui semuanya.Saat ia mendengar sebuah pengakuan yang meluncur dengan mulus dari bibir seorang gadis yang sangat disayanginya. Sebuah pengakuan yang membuat tubuhnya menegang seketika dengan kedua telapak tangan terkepal sempurna. Gabriella, adik kesayangannya, mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung dan sudah berjalan dua bulan. Hal itu membuat amarah Skylar membludak. Pria itu bahkan nyaris melayangkan telapak tangan besarnya padanya jika saja Andreas tidak dengan sigap menahan dirinya waktu itu.Selama ini, Skylar selalu menilai Gabriella adalah sosok gadis dewasa yang teduh. Gadis itu tidak pernah bercerita apa pun tentang kedekatannya bersama lelaki lain. Lantas, bagaimana mungki

  • Dendam Membara Tuan Muda   52. Worthless

    Xander tidak bisa lagi menahan amarahnya sesaat ia mengetahui bahwa Starla hampir saja mati di tangan seorang psikopat gila dan amarahnya semakin membuncah di saat ia mengetahui bahwa itu semua karena Skylar.Karena musuh-musuh Skylar itu, Starla hampir saja meregang nyawa. Dan Xander lebih marah ke dirinya sendiri karena terlambat mengetahui hal itu, dia terlambat mengetahui bahwa ternyata selama beberapa hari ini Starla mendapat masalah dan hampir saja terbunuh. Sialan!Oleh karena itu, demi melampiaskan amarahnya di sinilah ia sekarang. Di perusahaan Skylar, dia harus melakukan perhitungan pada mantan sahabatnya itu yang sekarang sudah menjadi rival-nya. Bagi Xander, semua yang terjadi pada Starla itu semua karena pria itu. Karena Skylar yang memang sangat terobsesi untuk menghancurkan dan membunuh wanita yang sangat dicintainya itu.Karena pria itulah yang membawa hidup Starla dan memberikan banyak masalah untuknya. Xander memang tidak sempat menyelamatkan Starla selama ini dari c

  • Dendam Membara Tuan Muda   51. Cruell

    "Sekarang katakan, Starla. Apa kau masih tidak bersedia?"Starla mendengar pertanyaan itu lalu membuka mata, masih setengah melayang. Ia melihat pria itu kini berdiri telanjang di hadapan Starla."Kau memang selalu menginginkanku. Tetapi kenapa kau harus terus berpura-pura dan bersikap munafik?" tanya Skylar dan bahkan terdengar sedikit geli."Aku tidak pernah menginginkan untuk disentuh olehmu, Skylar!" bantah Starla sambil menggelengkan kepalanya."Jadi, meskipun malam-malam panjang yang telah kita lewati, pemaksaan demi pemaksaan. Kau bahkan masih akan terus keras kepala untuk menolakku?""Ya.""Sesukamu saja, Starla. Bersikaplah munafik untuk seterusnya."Starla tak menduga kalau Skylar akan tetap memaksanya. Pria itu mencengkeram kedua tangannya dan menguncinya di atas kepala, sehingga Starla sama sekali tidak bisa bergerak untuk melawan kekuatan pria itu."Aku tidak mau, Skylar. Apa kau akan tetap memaksaku?""Tentu saja kau akan bersedia. Kau pembohong kecil, tubuhmu basah meng

  • Dendam Membara Tuan Muda   50. Miss

    Jantung Starla berdegup kencang. Hanya karena ucapan singkat itu, cukup gila bukan? Namun, itulah kebenarannya. Starla malah terpana hanya karena gerakan anggun pria itu ketika menyingkirkan air dari wajah dan rambutnya. Tetapi terlebih karena ... kedekatan mereka. Saat lengan-lengan kuat Skylar menekan dinding kolam dan memenjarakan Starla di tengah-tengahnya."I miss you."Starla belum sempat mengutarakan apa pun karena pria itu langsung membungkam mulutnya. Dengan bibir pria itu, Starla otomatis menutup mata saat bibir Skylar menjelajah namun seribu pikiran merasuk ke dalam benaknya. Kelakuan Skylar selama ini cukup kasar dan begitu tiba-tiba, tetapi sekarang terkesan lembut. Hal itu yang membuatnya kebingungan.Lama setelahnya, ketika pria itu mengangkat wajah dan Starla masih dilingkupi keajaiban ciuman pria itu, ia memberanikan diri membuka suara."A—apa yang ...."Skylar menjauh sejenak, berenang berkeliling di sekitar Starla. "Apa?" tanyanya saat mendekat lagi."K—kau sudah pu

  • Dendam Membara Tuan Muda   49. Swimming

    Skylar menatap tajam perempuan itu, mencoba menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat, Skylar juga malas meladeni Starla yang cukup sering mencoba melawannya."Sudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Skylar kembali menatap Starla dengan serius. "Bagaimana kondisimu sekarang?"Skylar menunduk dan mengamati Starla.Wanita itu hanya bisa terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Skylar. Dia sama sekali tidak menyukai diajak berbasa-basi oleh pria itu. Memangnya apa bedanya Starla harus memberitahukan kondisinya pada pria brengsek itu. Toh, bukankah kalau Starla mati sekarang tidak akan menjadi masalah bagi pria iblis itu."Starla!" Skylar memanggil nama Starla dengan penuh penekanan, membuat Starla akhirnya mau menatap matanya."Aku baik-baik saja," jawab Starla ketus. "Walaupun aku tahu, semua yang terjadi padaku karena kau dan musuh-musuhmu itu."Skylar terkekeh. "Hm ... mengingat kau sudah kembali galak dan sudah mulai me

  • Dendam Membara Tuan Muda   48. Saved

    Dia tidak siap ... dia takut akan kematian.Starla memejamkan matanya erat, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian dia tidak merasakan sakit, seperti yang sangat ditakutkan sebelumnya. Apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu dibukanya kedua bola matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya.Di sana, Skylar sedang menahan pisau itu dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu bahkan sudah mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau tersebut tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Starla. Sekali lagi, entah apa maksud pria itu, dia kembali diselamatkan dari kematian.Pertanyaan berkelebat di dalam kepala Starla. Kenapa? kenapa pria yang terus berkoar-koar ingin membunuh dirinya, malah berakhir menyelamatkannya? Semua ini tentu saja sungguh aneh.Dokter Alex tampak terperangah dengan gerakan Skylar yang tak disangkanya itu, dia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Skylar, tetapi pria itu mal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status