Share

04. Harassment

Penulis: Urbaby
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-11 23:45:08

"Aku mau dia!"

Kalimat itu diucapkan dengan nada malas yang tenang, tetapi gaungnya terdengar ke seluruh ruangan. Entah kenapa suasana hiruk pikuk itu menjadi hening seketika. Dan Starla merasakan semua tatapan tertuju padanya. Pada dirinya yang sedang bersandar di meja bar, sibuk dengan pikirannya sendiri.

Dengan gugup Starla menegakkan tubuhnya yang sejak tadi menunduk lemas, berusaha membalas tatapan mata semua orang, lalu matanya terpaku pada mata itu. Mata coklat pucat sehingga nyaris bening, menyebabkan pupil matanya tampak begitu hitam dan tajam.

Pria bertubuh gemuk yang sejak tadi berdiri di samping Skylar tentu saja kaget mendengar permintaan pria itu. Bagaimana mungkin Skylar memilih seorang perempuan yang jauh dari kata sempurna. Masih banyak perempuan cantik yang berjejer dengan tubuh seksi dibandingkan wanita tidak berpengalaman itu yang kebetulan hanya menjadi pengganti dari Riana.

"Sir, tetapi dia orang baru di sini dan hanya menjadi pengganti. Sama sekali belum berpengalaman," ucap pria bertubuh gempal itu mencoba mengingatkan Skylar agar tidak salah pilih wanita yang bisa memberinya penghiburan dan kenikmatan malam ini.

Skylar langsung menoleh dan menatap pria tersebut dengan tatapan tajam. "Tetapi aku menginginkan wanita itu. Aku sama sekali tidak peduli dia orang baru atau sudah berpengalaman. Cepat bawa wanita itu kepada saya!"

Ucapan Skylar benar-benar menciutkan semangat pria tersebut, dia kini ketakutan mendapati sorot tajam yang dipancarkan oleh Skylar.

"Oh, dia memang pengganti Riana untuk malam ini. Sepertinya dia akan memberimu kepuasan seperti yang selalu dilakukan oleh wanita kesayangan Anda, Tuan."

Laki-laki gemuk itu mencoba membela diri dengan kembali membanggakan wanita baru itu. Dia hanya berharap semoga wanita itu tidak mengecewakan Skylar, atau dia akan hancur malam ini juga.

Sedangkan Starla terus berusaha mengulur waktu untuk mendekat, berharap Skylar akan mulai kesal dan jengah dengan perilakunya sehingga berubah pikiran dan memilih wanita lain untuk menemaninya. Starla benar-benar tidak punya keberanian untuk mendekati pria menakutkan tersebut.

"Cepat ke sana. Ternyata kau yang terpilih malam ini, dan kau tahu itu adalah suatu kehormatan bisa dipilih oleh Tuan Skylar." Sang bartender, yaitu Dion, berdiri di belakangnya berbisik kepadanya, seolah takut kalau Starla tidak cepat-cepat menuruti keinginan Skylar, dan akan berakibat fatal.

Starla mengernyit pada Skylar, mencoba menantang mata laki-laki itu, yang masih menatapnya dengan begitu tajam tanpa ekspresi.

"Apakah ... apakah ...." Starla berdeham karena suaranya begitu serak dan terbata-bata. "Apakah Anda ingin dibawakan minuman?"

Skylar hanya menatapnya beberapa saat yang menegangkan, lalu menganggukkan kepalanya.

"Bawakan satu, minumanku yang bisa."

Secepat kilat Dion sang bartender meracik minuman kesukaan Skylar, minuman yang biasa dipesannya. Melihat itu, sekelebat pikiran merasuk ke dalam kepala Starla. Oh, seandainya dia tahu kalau dia akan bertemu Skylar di sini, dan akan menjadi wanita pengantar minuman pria itu. Starla tentu saja akan menyiapkan segalanya. Mungkin sedikit racun yang bisa membunuh seseorang saat itu juga. Ya, begitu berniatnya Starla membunuh pria itu, sehingga segala cara akan dia lakukan. Ah, seandainya dia seberani itu.

Starla berusaha tidak menunjukkan ekspresi berarti, dengan langkah gemetar dia mendekati Skylar yang duduk bagaikan sang raja, tengah menunggunya. Setelah meletakkan minuman itu di atas meja dan berharap agar Skylar segera mengusirnya menjauh ternyata itu sama sekali tidak terjadi. Mata pria itu malah tertuju pada Starla dan memandangnya dengan tajam.

"Duduk." Skylar menjentikkan jarinya. Melirik tempat di sebelahnya.

Sekujur tubuh Starla menegang menerima perintah yang begitu arogan. Tanpa sadar matanya memancarkan kebencian. Apa mau pria ini, kenapa berani-beraninya memerintahnya seperti ini?

Ketika Starla termenung, seorang waitress lain dengan gugup mendorongnya supaya duduk, menuruti permintaan Skylar. Sehingga dengan terpaksa Starla duduk di sebelah Skylar.

"Siapa namamu?" Skylar menatap tajam ke arah Starla.

Apa-apaan pria ini? Permainan apa yang sedang dimainkan, padahal Starla tahu betul karena mereka bukan hanya saling tahu nama, tetapi sudah saling kenal.

Tetapi Starla tetap mengikuti permainan yang dimainkan oleh pria itu dan juga mengikuti arusnya. Lagian Starla sudah menyiapkan nama samaran selama dia berada di sini.

"Rose," jawab Starla dengan kaku.

Skylar mengernyit menatapnya dengan seksama, lalu jemari panjang itu tiba-tiba terulur dan menarik dagu Starla mendekat, supaya dia bisa mengamati wajah Starla dengan cermat. Sebelum mencondongkan wajah, kemudian berbisik.

"Apakah kau menikmati permainan ini, Star?" sindir Skylar dengan nada yang mencicit, dan hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Namun, meskipun tergolong kecil tetapi sangat jelas terdengar kalau Skylar menyebut namanya dengan penekanan suara.

Wajah Starla tampak pias dengan mata melotot mendengar kalimat pria itu. Tetapi sebisa mungkin dia mencoba menghalau rasa takutnya agar tidak dinikmati dan menjadi sumber kesenangan untuk Skylar. Baru saja dia akan berteriak, tetapi suara lain kembali terdengar.

"Maafkan kelancangannya, Tuan. Dia memang hanya pengganti Riana di sini, makanya belum terlalu paham. Saya juga belum mengajarinya bagaimana membawakan minuman untuk tamu sepenting Anda." Pria bertubuh gemuk itu menyela dengan gugup. Wajahnya tampak cemas melihat Starla melayani dengan setengah hati. Dengan pandangan memarahi, pria itu memperingatkan Starla. "Ayo, Rose. Perkenalkan dirimu kepada Tuan Skylar dengan baik. Tuan Skylar telah memilihmu untuk menjadi pelayan minumannya. Itu merupakan suatu kehormatan untukmu. Sudah seharusnya kau berterima kasih."

Perintah itu membuat Starla menegakkan dagunya dengan angkuh. "Saya sudah memperkenalkan diri saya, dan saya juga sudah membawakan minuman untuk Tuan Skylar yang terhormat, karena itu saya rasa pekerjaan saya sudah selesai dan sudah waktunya saya pergi," jawab Starla ketus, sambil beranjak dari tempat duduknya. Toh, dia sudah tidak sudi berlama-lama dengan pria itu. Dan sudah dipastikan, ini untuk terakhir kalinya Starla menginjakkan kaki di tempat terkutuk ini.

Tetapi sebelum Starla sempat berdiri, Skylar meraih jemarinya dan menariknya kencang, supaya terduduk lagi. Kali ini tepat di atas pangkuan Skylar.

"Apa ... apaan—" Suara Starla terhenti ketika bibir yang keras dan dingin itu tiba-tiba melumat bibirnya. Starla berusaha memberontak ketika menyadari bahwa Skylar sedang memagut bibirnya dengan cumbuan yang basah dan panas.

Ciuuman itu sungguh tidak sopan karena bibir dingin Skylar tanpa permisi langsung memagut bibirnya, melumatnya tanpa ditahan-tahan. Lidahnya langsung menyeruak masuk merasakan keseluruhan diri Starla, menghisapnya, menikmatinya, dan menggilasnya tanpa ampun.

Sekujur tubuh Starla terasa terbakar, panas karena amarah dan karena perasaan asing. Lelaki ini sudah jelas-jelas sangat ahli ketika mencumbu perempuan, sehingga Starla yang belum berpengalaman pun terbawa oleh suasana mengalahkan kebenciannya. Tetapi pikiran bahwa lelaki ini telah memanfaatkan begitu banyak wanita demi memuaskan rasa arogan dan kekuasaannya membuat Starla merasa muak. Dan tiba-tiba muncul kekuatan dari dalam dirinya untuk mendorong laki-laki itu menjauh dan menamparnya dengan sekuat tenaga.

Plakk!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dendam Membara Tuan Muda   53. Grudge

    Kejadian mengerikan beberapa bulan yang lalu masih terus menerus membayangi benak Skylar. Sebuah kejadian yang telah mengubah semuanya. Peristiwa menyeramkan yang merenggut habis sisi lembut pria itu, hingga tak bersisa sedikit pun. Skylar benar-benar tidak bisa melupakan ketika ia pertama kali mengetahui semuanya.Saat ia mendengar sebuah pengakuan yang meluncur dengan mulus dari bibir seorang gadis yang sangat disayanginya. Sebuah pengakuan yang membuat tubuhnya menegang seketika dengan kedua telapak tangan terkepal sempurna. Gabriella, adik kesayangannya, mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung dan sudah berjalan dua bulan. Hal itu membuat amarah Skylar membludak. Pria itu bahkan nyaris melayangkan telapak tangan besarnya padanya jika saja Andreas tidak dengan sigap menahan dirinya waktu itu.Selama ini, Skylar selalu menilai Gabriella adalah sosok gadis dewasa yang teduh. Gadis itu tidak pernah bercerita apa pun tentang kedekatannya bersama lelaki lain. Lantas, bagaimana mungki

  • Dendam Membara Tuan Muda   52. Worthless

    Xander tidak bisa lagi menahan amarahnya sesaat ia mengetahui bahwa Starla hampir saja mati di tangan seorang psikopat gila dan amarahnya semakin membuncah di saat ia mengetahui bahwa itu semua karena Skylar.Karena musuh-musuh Skylar itu, Starla hampir saja meregang nyawa. Dan Xander lebih marah ke dirinya sendiri karena terlambat mengetahui hal itu, dia terlambat mengetahui bahwa ternyata selama beberapa hari ini Starla mendapat masalah dan hampir saja terbunuh. Sialan!Oleh karena itu, demi melampiaskan amarahnya di sinilah ia sekarang. Di perusahaan Skylar, dia harus melakukan perhitungan pada mantan sahabatnya itu yang sekarang sudah menjadi rival-nya. Bagi Xander, semua yang terjadi pada Starla itu semua karena pria itu. Karena Skylar yang memang sangat terobsesi untuk menghancurkan dan membunuh wanita yang sangat dicintainya itu.Karena pria itulah yang membawa hidup Starla dan memberikan banyak masalah untuknya. Xander memang tidak sempat menyelamatkan Starla selama ini dari c

  • Dendam Membara Tuan Muda   51. Cruell

    "Sekarang katakan, Starla. Apa kau masih tidak bersedia?"Starla mendengar pertanyaan itu lalu membuka mata, masih setengah melayang. Ia melihat pria itu kini berdiri telanjang di hadapan Starla."Kau memang selalu menginginkanku. Tetapi kenapa kau harus terus berpura-pura dan bersikap munafik?" tanya Skylar dan bahkan terdengar sedikit geli."Aku tidak pernah menginginkan untuk disentuh olehmu, Skylar!" bantah Starla sambil menggelengkan kepalanya."Jadi, meskipun malam-malam panjang yang telah kita lewati, pemaksaan demi pemaksaan. Kau bahkan masih akan terus keras kepala untuk menolakku?""Ya.""Sesukamu saja, Starla. Bersikaplah munafik untuk seterusnya."Starla tak menduga kalau Skylar akan tetap memaksanya. Pria itu mencengkeram kedua tangannya dan menguncinya di atas kepala, sehingga Starla sama sekali tidak bisa bergerak untuk melawan kekuatan pria itu."Aku tidak mau, Skylar. Apa kau akan tetap memaksaku?""Tentu saja kau akan bersedia. Kau pembohong kecil, tubuhmu basah meng

  • Dendam Membara Tuan Muda   50. Miss

    Jantung Starla berdegup kencang. Hanya karena ucapan singkat itu, cukup gila bukan? Namun, itulah kebenarannya. Starla malah terpana hanya karena gerakan anggun pria itu ketika menyingkirkan air dari wajah dan rambutnya. Tetapi terlebih karena ... kedekatan mereka. Saat lengan-lengan kuat Skylar menekan dinding kolam dan memenjarakan Starla di tengah-tengahnya."I miss you."Starla belum sempat mengutarakan apa pun karena pria itu langsung membungkam mulutnya. Dengan bibir pria itu, Starla otomatis menutup mata saat bibir Skylar menjelajah namun seribu pikiran merasuk ke dalam benaknya. Kelakuan Skylar selama ini cukup kasar dan begitu tiba-tiba, tetapi sekarang terkesan lembut. Hal itu yang membuatnya kebingungan.Lama setelahnya, ketika pria itu mengangkat wajah dan Starla masih dilingkupi keajaiban ciuman pria itu, ia memberanikan diri membuka suara."A—apa yang ...."Skylar menjauh sejenak, berenang berkeliling di sekitar Starla. "Apa?" tanyanya saat mendekat lagi."K—kau sudah pu

  • Dendam Membara Tuan Muda   49. Swimming

    Skylar menatap tajam perempuan itu, mencoba menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat, Skylar juga malas meladeni Starla yang cukup sering mencoba melawannya."Sudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Skylar kembali menatap Starla dengan serius. "Bagaimana kondisimu sekarang?"Skylar menunduk dan mengamati Starla.Wanita itu hanya bisa terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Skylar. Dia sama sekali tidak menyukai diajak berbasa-basi oleh pria itu. Memangnya apa bedanya Starla harus memberitahukan kondisinya pada pria brengsek itu. Toh, bukankah kalau Starla mati sekarang tidak akan menjadi masalah bagi pria iblis itu."Starla!" Skylar memanggil nama Starla dengan penuh penekanan, membuat Starla akhirnya mau menatap matanya."Aku baik-baik saja," jawab Starla ketus. "Walaupun aku tahu, semua yang terjadi padaku karena kau dan musuh-musuhmu itu."Skylar terkekeh. "Hm ... mengingat kau sudah kembali galak dan sudah mulai me

  • Dendam Membara Tuan Muda   48. Saved

    Dia tidak siap ... dia takut akan kematian.Starla memejamkan matanya erat, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian dia tidak merasakan sakit, seperti yang sangat ditakutkan sebelumnya. Apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu dibukanya kedua bola matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya.Di sana, Skylar sedang menahan pisau itu dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu bahkan sudah mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau tersebut tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Starla. Sekali lagi, entah apa maksud pria itu, dia kembali diselamatkan dari kematian.Pertanyaan berkelebat di dalam kepala Starla. Kenapa? kenapa pria yang terus berkoar-koar ingin membunuh dirinya, malah berakhir menyelamatkannya? Semua ini tentu saja sungguh aneh.Dokter Alex tampak terperangah dengan gerakan Skylar yang tak disangkanya itu, dia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Skylar, tetapi pria itu mal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status