로그인Setelah Ying Xuan secara tidak langsung menentang otoritas Ibu Suri, para pelayan yang melayani Ibu Suri, mulai menunjukkan sifat sombong mereka terang-terangan.
"Humph! Coba lihat siapa ini? Bukankah ini Selir Agung kita yang mulia," ujar salah satu Pelayan yang saat itu tidak sengaja berpapasan dengan Ying Xuan. "Pelayan dari kediaman mana dia?" tanya Ying Xuan. "jawab Selir Agung, dia pelayan dari kediaman Ibu Suri," jawab pelayan lainnya, yang juga kebetulan berpapasan dnegan Ying Xuan. Mengetahui Pelayan yang bernada sombong tadi berasal dari kediaman Ibu Suri, Ying Xuan langsung meminta Pelayannya, Rumei. Untuk menyeret Pelayan tadi ke hadapannya. "Rumei, biarkan dia berlutut di depanku!" "Baik, Yang Mulia. Setelah itu, Rumei memanggil Pelayan lancang tadi, kemudian menyeretnya. "Akhh! Lepaskan aku," berontak si Pelayan. Sesampainya di depan Ying Xuan, Rumei langsung mendorong Pelayan lancang tadi, sampai ia berlutut di depan Ying Xuan. "Apakah kau dari kediaman Ibu Suri?" tanya Ying Xuan. "Ya, saya Pelayan dari Kediaman Ibu Suri. Jadi, cepat lepaskan saya, Yang Mulia Selir Agung Ying Xuan," ujar si Pelayan dengan tatapan meremehkan. "Aku tidak suka dengan caramu melihatku. Shia, Rumei, panggilkan beberapa Prajurit ke sini!" titah Ying Xuan. "Baik, Yang Mulia." Tak lama setelah itu, Rumei dan Shia, datang bersama tiga orang Prajurit. "Yang Mulia, kami sudah membawa Prajurit," ujar Shia. "Kalian bertiga, bawa Pelayan kurang ajar ini ke aula hukuman, dan berikan hukuman 30 kali pukulan!" titah Ying Xuan. "Tapi Selir Agung, dia adalah Pelayan..." "Apa kalian ingin membantahku?!" potong Ying Xuan seraya menatap tajam ke arah ketiga Prajurit itu. "Hamba tidak berani Selir Agung," jawab ketiga Prajurit. "Pergilah sekarang!" titah Ying Xuan. "Baik, Selir Agung," jawab Ketiga Prajurit. Setelah itu, Pelayan yang kurang ajar tadi dibawa pergi. Selama diseret, ia terus berteriak soal dirinya yang di dukung oleh Ibu Suri. Meski demikian, para Prajurit tidak bisa melepaskannya, mengingat Ying Xuan adalah Selir Agung yang dipilih langsung oleh Kaisar. "Yang Mulia, Pelayan itu orangnya Ibu Suri. Apakah anda tidak takut, Ibu Suri mengadukan anda pada Yang Mulia Kaisar," ujar Rumei cemas. "Kita lihat saja, bagaimana tindakan Ibu Suri setelah ini. Dan soal Kaisar, aku penasaran, bagaimana rupa Kaisar kita ini. Apakah dia sepadan dengan gelar besarnya itu," ujar Ying Xuan seraya menyeringai. Siang harinya, ketika Ying Xuan sedang bersantai, Kasim Duan yang selalu di samping Kaisar mendatanginya. "Selir Agung, Yang Mulia memanggil anda untuk menghadap." "Katakan pada Kaisar, aku akan bersiap-siap dulu," sahut Ying Xuan. Melihat keberanian Ying Xuan yang meminta Kaisar menunggunya, diam-diam kasim Duan merasa kagum. Awalnya, Kasim Duan ingin mengatakan sesuatu, namun entah kenapa, pada akhirnya ia hanya bisa berkata... "Baik, Selir Agung." Setelah itu, Kasim Duan kembali ke kediaman Kaisar untuk menyampaikan pesan Ying Xuan kepada Kaisar. "Yang Mulia, kenapa anda tidak beralasan sakit saja seperti biasa?" tanya Shia. "Haaa...Aku ingat, setiap kali dipanggil oleh Kaisar. Pemilik tubuh ini selalu menghindar dengan alasan sakit. Tapi aku bukan Ying Xuan yang dulu, aku Ying Xuan sang Penguasa," batin Ying Xuan. "Yang Mulia? Apa anda baik-baik saja?" tanya Rumei karna Ying Xuan terus terdiam. "Segera siapkan aku. Sebagai Selir Agung, tentu aku harus menemui Sang Kaisar," jawab Ying Xuan. Setelah itu, ketiga Pelayan Pribadi Ying Xuan, mendandani Ying Xuan sedemikian rupa, agar ia tampil anggun di depan Kaisar. Begitu dandanannya selesai, dengan penuh tekad, Ying Xuan bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju tandu yang akan membawanya ke kediaman Kaisar. Dalam perjalanan ke sana, Ying Xuan banyak mendapat tatapan penuh hinaan dari para Selir yang kediamannya dilewati oleh Ying Xuan. Hanya dengan melihat bagaimana cara para Selir itu menatapnya, Ying Xuan sudah tahu, kalau mereka berpikir Ying Xuan pasti akan dihukum oleh Kaisar. "Tersenyum saja sesuka kalian. Setelah ini, kalian akan mendapat hukuman masing-masing," batin Ying Xuan. Sesampainya Ying Xuan di depan Kediaman Kaisar, Ying Xuan disambut secara langsung oleh Kasim Duan. "Yang Mulia menunggu anda di ruang baca, Selir Agung," ujar Kasim Duan. "Tuntun aku ke sana," sahut Ying Xuan. Dengan Kasim Duan memimpin di depan, Ying Xuan dan Dua pelayan yang dibawanya, berjalan menuju Ruang baca yang tak jauh dari kediaman sang Kaisar. Sebelum memasuki Ruang baca, Ying Xuan lebih dulu berkata kepada Kedua Pelayannya dengan nada pelan. "Apapun yang ku tanyakan pada kalian nanti, jawaban yang boleh kalian utarakan hanya satu, yaitu, TIDAK." mendengar hal itu, Shu dan Shia saling melirik ke arah satu sama lain, lalu dengan kompak menjawab. "Baik, Yang Mulia." Begitu Ying Xuan menginjakkan kakinya di ruang belajar, Ying Xuan disambut oleh tatapan benci dari Ibu Suri, dan tatapan dingin dari sang Kaisar. "Mungkinkah, dia Kaisar?" batin Ying Xuan. Melihat lelaki berambut hitam dengan mata semerah darah di depannya, Ying Xuan langsung menebak kalau lelaki itu memang Kaisar. "Selir Agung Ying Xuan, datang memenuhi panggilan anda, Yang Mulia," ujar Ying Xuan dengan anggunya. "Selir Agung. Sebenarnya bagaimana caramu menjaga wajahku," ujar Kaisar dengan nada yang sangat dingin. "Hamba yang rendah ini, tidak mengerti dengan maksud anda, Yang Mulia," jawab Ying Xuan tanpa kehilangan ketenangan di wajahnya. Melihat betapa tenangnya Ying Xuan dibawah intimidasi dari dirinya, Kaisar yang semula agak membenci sosok Ying Xuan, mulai merasa Ying Xuan yang saat ini berdiri di depannya, bukanlah Ying Xuan yang membuatnya risih dulu. "Kalau begitu jelaskan padaku, Kenapa kau menghukum Pelayan Ibu Suri tanpa sebab?" tanya Kaisar. "Yang Mulia, bagaimana bisa hamba menggunakan otoritas yang anda percayakan pada hamba dengan semena-mena. Pelayan itu telah berlaku lancang di depan saya. Sebagai Selir Agung, sudah sepantasnya saya memberikannya hukuman karna telah menghina saya," jawab Ying Xuan tanpa mengurangi rasa hormat dalam perkataannya. "Apakah benar begitu?" tanya Kaisar. "Saya bisa menjaminnya, Yang Mulia," jawab Ying Xuan. Melihat Selir Agung Ying Xuan yang tenang dan menjawabnya dengan begitu pintar, diam-diam Kaisar menyeringai. Situasi yang awalnya Kaisar kira akan selesai dengan cepat karna Selir Agung Ying Xuan adalah wanita bodoh, kini membuat sang Kaisar tertarik untuk melanjutkan diskusi tersebut lebih jauh. "Bawa Pelayan Ibu Suri kemari!" titah Kaisar. Atas perintah sang Kaisar, Pelayan yang dihukum oleh Ying Xuan, dihadirkan di depan Sang Kaisar. "Hamba yang rendah ini, menghadap Sang kaisar yang Agung," ucap si Pelayan. "Apakah Selir Agung menghukummu?" tanya Kaisar. "Ya, Yang Mulia! Selir Agung tiba-tiba memerintahkan para Prajurit untuk menghukum saya, padahal saya hanya menyapa beliau," adu si Pelayan dengan tampang menyedihkan. "Bagaimana menurutmu Selir Agung? Kau ada Pembelaan?" tanya Kaisar. "Shia, apa Pelayan itu menyapaku dengan Sopan?" tanya Ying Xuan. "Tidak, Yang Mulia," jawab Shia. "Lihat Yang Mulia, Pelayanku yang saat itu berjalan-jalan bersamaku, bisa menjadi saksi betapa tidak sopannya Pelayan rendahan ini," Ujar Ying Xuan seraya menatap tajam ke arah Pelayan Ibu Suri itu. "Yang Mulia, Shia dan Shu adalah Pelayan Pribadi Selir Agung. Mereka sudah pasti akan membela Selir Agung, bagaimana bisa pernyataan mereka di percaya. Mohon keadilan anda," ujar Pelayan itu sembari bersujud di depan Kaisar. Diam-diam, pelayan yang tengah bersujud itu menyeringai, karna ia berpikir Ying Xuan akan diam saja setelah ia berkata demikian. Siapa sangka, Ying Xuan berhasil mengejutkannya dengan membalas perkataannya barusan. "Lalu, atas dasar apa Yang Mulia harus percaya pada Pelayan rendahan sepertimu," bantah Ying Xuan. Saat itu, perkataan Ying Xuan sontak membuat semua orang yang ada di ruang baca saat itu tertegun.Dengan ditemani Pelayannya dan Guangyi yang memakai mantra transparan, Ying Xuan bermain dengan sangat gembira. Meski saat itu wajah Ying Xuan dipenuhi kebahagiaan, tapi berbeda halnya dengan Lidiya "Nona terus berbicara sendiri. Apa mungkin...Nona bisa melihat hantu?" gumam Lidiya sambil melirik ke sekitar taman. Lidiya ketakutan. Tapi mengingat tidak terjadi apapun pada Ying Xuan, ia mencoba memberanikan diri dan meyakinkan hatinya kalau hantu yang dilihat Ying Xuan adalah hantu baik. "Lidiya...Lidiya!" panggil Ying Xuan. "Ya, Nona. Apa ada yang anda butuhkan?" tanya Lidiya. "Lidiya, Shuan-Shuan sudah lapar. Ayo kita kembali ke kediaman," ajak Ying Xuan.. "Baik, Nona." Ajakan tersebut sudah dinanti-nantikan
Melihat Guangyi terdiam, Ying Xuan kecil meraih ujung baju Guangyi dengan tangan mungilnya. "Ada apa, Paman?" ujarnya. "Tak apa, Ying Xuan. Tidurlah. Hari-hari ke depannya, kau tidak akan merasakan sakit lagi." "Benarkah?" tanya Ying Xuan kecil dengan raut pucat. "Ya," jawab Guangyi sembari tersenyum lembut. "Hihihi....Paman, kau sangat tampan saat tersenyum. Kau tahu, Paman. Aku sudah menderita sakit seperti ini sejak lama. Mendengar Paman mengatakan aku tidak akan kesakitan lagi, aku merasa sangat senang." Melihat senyum polos Ying Xuan kecil, Guangyi merasa sangat bahagia. Tak lama setelah itu, Ying Xuan akhirnya tertidur lagi. Tidur Ying Xuan kali ini sangat lelap, sampai suara Lidiya yang baru saja pulang, tidak membangunkanny
Setibanya Guangyi di rumah, ia sangat beruntung karena tabib Bai sudah kembali dari rumah pasiennya. "Yang Mulia?! Anda kenapa?" tanya Tabib Bai. "Old Bai! Segera periksa Ying Xuan!" Guangyi membuka lengan jubahnya, dan menampakkan Ying Xuan kecil yang tengah meringis kesakitan. "Apa yang terjadi pada Istri anda, Yang Mulia?" tanya tabib Bai. Guangyi menatap tabib Bai dengan penuh kekesalan."Aku tidak akan datang padamu jika aku tahu apa yang terjadi padanya." "Te-Tenanglah, Yang Mulia. Saya akan segera memeriksanya," ujar tabib Bai sambil menelan ludahnya. Saat Guangyi meletakkan tubuh mungil Ying Xuan di tempat tidur, tabib Bai langsung memeriksa kondisinya. Tabib Bai tampak berkeringat dingin karena melakukan satu kesalahan saja bisa berakibat fatal baginya.
Sementara orang-orang di kediaman pejabat Wang tertidur, Guangyi mengajak Ying Xuan kecil ke sungai terdekat untuk menangkap ikan. Air sungai yang tengah surut, menampakkan pemandangan alam yang sangat indah. Airnya jernih dan terawat, sehingga ikan-ikan yang berenang di air dangkal itu pun terlihat jelas. "Paman! Ikannya sangat besar di sana!" seru Ying Xuan kecil dengan girangnya. "Baik, akan segera ku tangkap untuk Shuan-Shuan kecil," ujar Guangyi. "Hihihi...semangat, Paman! Semangat!" seru Ying Xuan sambil melompat pelan. Karena melompat, Ying Xuan kehilangan keseimbangannya. Batu di sungai sangat licin, mengakibatkan kaki kecil Ying Xuan kesusahan menapak dengan benar. "Kyaaa! Paman!" pekik Ying Xuan. Secepat kilat Guangyi berlari ke arah Ying Xuan dan menangkapnya. Dalam dek
Karena belum saatnya tertangkap, Guangyi langsung menghilang dari pandangan kedua pengawal itu, lengkap dengan gerobak mainannya. Kedua pengawal itu pun terbelalak. Mereka mengucek mata mereka berkali-kali untuk memastikan di depan mereka benar-benar tidak ada seseorang. "Tadi....kau lihat pria tinggi yang membawa gerobak mainan, kan?" tanya pengawal satu ke pengawal lainnya. "Ya! Aku jelas-jelas melihat pria tinggi itu berdiri di depan pintu dan tampak mengintip ke dalam," jelas pengawal satunya lagi. "Tapi, sekarang tidak ada siapapun di depan kita. Apa mungkin....yang tadi itu..." hanya dengan lirikan, kedua pengawal itu langsung terpikirkan hal yang sama."Hantu!" ucap mereka kompak. Gosip seketika menyebar tak terkendali dan di lebih-lebihkan. Identitas baru Ying Xuan pun terbongkar sepenuhnya. Sekarang, Ying Xuan adalah anak dari seorang pejabat kecil di istana. Ayahnya seorang pejabat yang bekerja dibawah mentri keuangan, dan namanya cukup terkenal di desa tersebut. "
Pertarungan antara hukum langit dan Guangyi terus berlanjut. Semua artefak yang Guangyi keluarkan untuk melindungi Ying Xuan pun sudah habis tersambar petir. "Bertahanlah, Yang Mulia. Satu sambaran lagi," ujar Tabib Bai. Karena Guangyi tidak lagi memiliki artefak untuk menghalau hukum langit, ia memutuskan untuk mengorbankan tubuhnya sendiri. "Kemari kau, hukum langit si*lan!!" teriak Guangyi. Saat itu, dari langit yang mendung, sebuah kilatan petir berwarna ungu langsung menyambar tepat ke arah Ying Xuan. Guangyi yang tidak membiarkan Ying Xuan dimusnahkan, langsung menahan petir itu dengan tubuhnya. Kulitnya melepuh, dan jantungnya serasa terhenti. "Akhhhhhhhhhhh!" pekik Guangyi saat merasakan sambaran petir tanpa ampun. Setelah kilatan petir berhenti, langit tidak kunjung menunjukkan cerahnya. Langit masih mendung menghitam, seolah kemarahan langit belum mereda. "Yang Mulia!" seru tabib Bai. "Lanjutkan. Kau harus melakukannya sebelum hukum langit turun lagi!" titah
sore harinya, Ying Xuan bersama dua pelayannya yang bernama Rumei dan Shia, tengah berjalan-jalan di taman samping di Istana Harem. "Yang Mulia, di sini adalah tempat kesukaan anda. Dulu, anda sering datang ke sini untuk memetik beberapa tangkai
Mendapat kesempatan untuk memojokkan Ying Xuan setelah penampilan bersinarnya tadi, Selir Shuan Shu langsung angkat bicara, karna tak ingin melewatkan moment tersebut. "Ya, Selir Agung. Katakan pada kami, dari siapa anda belajar berpedang? Bukankah...Anda belum pula
Melihat betapa semangatnya Selir Shuan Shu ingin menjatuhkan dirinya, dari balik cangkir anggur yang ia pegang saat itu, Ying Xuan menyeringai. "Manusia fana sangat sombong. Dulu, aku memang pernah menjadi manusia fana, dan sekarang aku juga telah menjadi manus
Di dunia kultivasi, terdapat tujuh Penguasa langit, dan lima Penguasa Bumi. Penguasa langit terdiri dari Penguasa Bulan, Penguasa Matahari, Penguasa Angin, Penguasa Awan, Penguasa Hujan, Penguasa Bintang, dan Penguasa Yin Yang. Sedangkan Penguasa Bumi, terdiri dari penguasa Gunung, Penguasa Lauta







