로그인Saat langit semakin berkecamuk seolah ingin menunjukkan kemarahannya. Ying Xuan yang entah kenapa mempercayai Guangyi, meneruskan niatnya untuk membunuh Zimei. Tentunya, Ying Xuan tidak menunda-nunda tujuannya itu. "Akhh! Le-Lepaskan aku, Ying Xuan!" ujar Zimei seraya memberontak. Sedangkan Ying Xuan yang melihat wajah takut Zimei, ia terus membaca mantra iblis yang sudah diam-diam ia pelajari. Hal itu ia lakukan, tentunya untuk memusnahkan Zimei sampai ke jiwanya. "Ti-Tidak!.....Tidakkkkkkk!!" teriak Zimei saat ia merasa tubuhnya mulai terbakar perlahan. Ketika tubuh dan jiwa Zimei lenyap. Seketika, perasaan Ying Xuan yang tadinya penuh dendam, mulai terasa hambar. Dalam hati, Ying Xuan sedikit kebingungan. Ia merasa semua ini terlalu mudah untuk disebut balas dendam. Sedangkan di sisi lain, Guangyi yang masih menahan murka langit untuk Ying Xuan, menging
untuk beberapa saat, Ying Xuan dibuat tercengang oleh Guangyi, yang menyebutkan identitasnya. Demi menjaga kerahasiaan itu tetap berlangsung, Ying Xuan berniat membantah perkataan Guangyi barusan. Akan tetapi, seolah sudah tahu Ying Xuan akan mengelak, Guanyi langsung memegang kedua pundak Ying Xuan, dan menatap lurus ke arah mata Ying Xuan. "Ying Xuan, bukankah tujuanmu adalah Nirvana?! Jika kau terus tenggelam dalam amarah dan dendam, pda akhirnya semua mimpimu itu akan sirna!" Tatapan Ying Xuan saat menatap Guangyi mulai menajam."Kenapa kau bisa tahu semuanya. Tidak mungkin kau yang seorang pedagang biasa, mengetahui hal seperti itu, kan!" Guangyi yang memang sudah tidak berniat menyembunyikan apa yang ia ketahui, mulai mendekati Ying Xuan seraya berkata. "Aku tahu banyak hal tentang dirimu. Baik di kehidupan ini, atau pun di kehidupan sebelumnya." "Siapa kau?! Apa kau Penguasa Matahari? Atau Penguasa lainnya?!" tanya Ying Xuan seraya menodongkan sebuah kelopak teratai
Setelah menghabisi para murid Sekte Awan Malam, Ying Xuan kemudian berbalik untuk melihat keadaan Guangyi. "Nampaknya, kau tidak terkejut sama sekali," ujar Ying Xuan. "Sebagai pedagang, sudah banyak hal mengejutkan yang aku lihat dan alami. Jadi, keanehan semacam ini sudah tidak asing lagi," sahut Guangyi. "Baguslah. Kalau begitu, ayo kita temui patriaknya." "Hum," sahut Guangyi seraya mengangguk pelan. Setelah menelusuri setiap bangunan sambil menghabisi para murid yang menghalanginya, Ying Xuan akhirnya sampai di salah satu ruangan, yang ia duga ruangan sang Patriak. "Kau yakin ini ruangannya?" tanya Guangyi sembari memperhatikan ruangan yang pintunya tertutup rapat. "Karena di ruangan ini auranya paling kuat, ku
Setelah memperhatikan penampilan Ying Xuan dan Guangyi, pria dengan pedang tadi, langsung bersikap ramah. "Apakah kalian Tuan dan Nona muda dari keluarga terhormat? Apa yang anda berdua lakukan di sini?" "Ohh...kau mengerti bagaimana bersikap, ya. Aku datang untuk menemui Patriak Sekte Awan Malam," sahut Ying Xuan. Melihat betapa cerah dan ramahnya senyum Ying Xuan, Guangyi yang sedari tadi mendapat tatapan jengkelnya, seketika membelalakkan matanya. Dalam hatinya Guangyi berkata."Apakah dia orang yang sama?!" "Apakah kalian ingin bertemu Patriak? Kalau begitu, bisakah saya mengetahui tujuan kalian berdua menemui Patriak?" tanya si pria yang tampak antusias. "Jika aku mengatakannya, apakah kau sanggup menanggung konsekuensinya?" tanya Ying Xuan balik. Hal itu membuat si pria terd
Dengan Ying Xuan yang terus menatapnya dengan tajam, Guangyi terus saja tersenyum cerah seolah ia meminta Ying Xuan untuk duduk kembali. "Cepat katakan! Apa maksudmu mengatakan hal itu?" desak Ying Xuan. "Aku tidak berniat mendesak mu, Nona Ying Xuan. Aku hanya menawarkan mu untuk menghabiskan teh mu dulu. Tidak akan rugi bagimu untuk duduk sedikit lebih lama, kan?!" sahut Guangyi. Karena saat itu Ying Xuan sendiri tidak memiliki urusan mendadak, terpaksa ia duduk kembali demi mendengarkan penjelasan dari Guangyi, terkait Sekte yang berkontribusi besar dalam menghancurkan Sekte-Sekte yang menjadi pengikutnya di masa lalu. "Aku hanya perlu menghancurkan semua Sekte yang mengikuti Penguasa Laut, tapi melih
Melihat tatapan Ying Xuan yang sangat tidak bersahabat, Guangyi pun tersenyum manis."Tenanglah, Permaisuri. Namaku memang Guangyi, tidak ada perubahan nama. Kita hanya, tidak pernah bertemu saja." "Jangan meremehkan ku. Persis seperti yang kau katakan, aku adalah Permaisuri Yanzi. Menurutmu, aku tidak tahu apapun soal rakyat Yanzi?" Pernyataan Ying Xuan membuat pria bernama Guangyi itu tertegun. Dengan tampang canggung, ia pun menggaruk pelan kepalanya sambil cengengesan. "Tenanglah, Permaisuri. Sebagai ganti kau tidak menanyakan identitasku lagi, aku akan memberimu lima informasi secara gratis. Kau bisa tanyakan apapun padaku dan akan aku jawab lima pertanyaanmu secara langsung," ujar Guangyi sembari menunjukkan kelima jarinya. Memikirkan prioritas saat ini yaitu memecahkan kebingungan soal kejadian aneh di Yanzi, Ying Xuan akhirn
Di situasi antara hidup dan mati itu, Ying Xuan mempertaruhkan segala kemampuannya. Ia tidak perduli lagi dengan identitasnya, karna baginya, ia bisa mengurus hal itu nanti. "Aku harus segera membereskan mereka," batin Ying Xuan. Musuh yang meremehkan Ying Xuan, dengan cerobohnya mereka menyerang
Karna tidak ingin kehilangan dukungan besar seperti dukungan ayahnya yang seorang Mentri Pertahanan, Ying Xuan dengan cepat berusaha meyakinkan ayahnya itu. "Ayah, aku tahu Ayah meragukanku. Ayah pasti berpikir, aku akan semakin alam bahaya jika aku memiliki dukungan. Tapi Ayah, diam dan tidak mem
Setibanya Ying Xuan di ruang baca Kaisar, Kaisar meminta Kasim Duan untuk membawa ketiga Pelayan Ying Xuan pergi, dan hanya menyisakan mereka berdua di ruangan tersebut. "Apa ada yang ingin anda tanyakan secara pribadi, Yang Mulia?" tanya Ying Xuan. "Permaisuri, apa kau tahu siapa dalangnya?"
Di tengah keriuhan atas tuduhan dirinya memerintahkan Li Jing untuk membunuh Ibu Suri, Ying Xuan dengan tenangnya berjalan ke arah menteri yang menyerukannya tadi. "Apa Tuan Mentri punya bukti, kalau aku terlibat?" "Bukti apa lagi yang anda







