Share

BAB 3

Author: A. Dhara
last update publish date: 2025-05-01 16:15:44

“Jadi gimana, Kal?”

Jadi gimana? Kala mengernyit. Ia mengulangi perkataan itu didalam pikiran nya sendiri. Pikiran nya melayang. Melayang jauh. Diri nya memang sedang ada disini, tapi pikiran nya tidak.  

“Kalau begitu jangan dibuat rumit, Kal. Semuanya rumit bukan karena aku.”

Kala berdecak sebal. Jujur. Dalam kesempatan yang seperti ini saja ia masih sempat-sempatnya menyalahkan dan tidak mau salah. Oke, baiklah. Sejenak—hanya sejenak Kala sempat berpikir bahwa memang ia yang salah sebelumnya. Tapi jika waktu berputar kembali, Kala berani bilang bahwa memang tidak ada yang salah. Salah satu berkata dengan jujur dan yang lainnya mengutarakan perasaan dengan jujur. Tapi, sungguh, Kala kesal. Dua orang yang sama sedang jujur dengan diri nya sendiri dan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama sedang mengutarakan apa yang memang seharusnya diutarakan.

“Jadi maksudmu disini aku yang salah?”

“Ngga gitu, Kal…” Adimas terlihat pasrah

“Terus apa?”

“Kamu salah paham.”

Kala berdecak, bingung, “Aku? Kamu yang buat keadaan jadi salah, Dim.”  

“Aku hanya berkata jujur.”

“Aku juga.” Kala tetap tidak mau kalah.

Iya, itu awalnya saat Kala hampir terpengaruh dengan apa yang Adimas katakan. Saat itu, satu hari yang lalu. Berhasil membuat Kala bergeming dan tidak tahu harus berbuat apa. Hebat sekali, Adimas. Entah angin darimana yang berhasil membawa Kala untuk terbang dengan pikiran nya sendiri, entah juga ombak darimana yang membuatnya hanyut. Rayuan Adimas? Tidak, dia sedang tidak merayu saat itu. bahkan— “Jangan seperti ini, Kal. Itu hanya segelintir ingatan yang membekas” coba? Sebutkan bagian mana yang merayu tapi pada nyatanya berhasil membuat Kala hilang. Hilang dengan pikiran nya sendiri.  

Aneh. Aneh sekali. Sekelibat memori yang tengah Kala sesali adalah pertanyaan kenapa dirinya bisa beranggapan bahwa sebetulnya tidak ada yang salah? Oh, jelas sekali. Tidak ada orang yang mau berjalan berdampingan dengan seseorang yang lain di pesta pernikahan. Maksudku, hanya ada dua orang. Dua orang yang akan berjalan bersama. Bagaimana jika harus berjalan bersisian dengan yang belum selesai? Bukan ide yang bagus tentu.

“Kita sudah jauh, Kal. Jalan kita sudah sama bersama.”

Suara deru motor saat itu tidak memberi pengaruh apapun terhadap indra pendengaran Kala. Suara Adimas tetap yang paling ia dengar. Kala menatap Adimas kosong. Di jam kerja, di siang hari, pembahasan yang Kala tidak sukai, pikirkan seberapa kalut dan malas nya Kala saat itu? bukannya tidak mau dengar, tapi siapa yang bisa mendengar dengan tenang di saat yang seperti ini?

Kala menghela napas entah sudah yang keberapa kali, ia malas. Sungguh. “Dim, bisa dibahas nanti? Aku lagi kerja.” Kala sempat menengok ke dalam. Untungnya hanya dilapisi kaca. Jadi terlihat jelas Nadine menggantikan nya sebentar untuk melayani, “Aku gak enak, Dim—” Kala sedikit menekankan kalimat yang ia ucapkan, “Bisa nanti dan aku gak kemana-mana. Udah?” Kala menatap tajam Adimas. Sedang lawan bicaranya mengacak-ngacak rambutnya kesal.

“Aku menyempatkan datang kesini dan responmu kayak gini, Kala?”

“Kamu nyalahin aku sekarang?” Kala tidak menyangka. Iya, memang ada yang belum selesai. Tapi ini juga tidak benar. Kala tidak suka, jelas sekali.

“Gak, Kal. Tapi tolong hargain Aku yang—” Ucapan Adimas terpotong, Kala sudah tidak tahan, “Aku ngerti. Gak usah buru-buru. Aku ngehargain usaha kamu—” Kala melihat ke arah dalam lagi, Nadine sudah memberikan kode untuk segera masuk. “Kita bahas nanti. Janji. Love u.” Kala memegang lengan Adimas, sekilas sebelum Kala masuk, ia tersenyum kecil.

Sampai sekarang, Kala belum bertemu. Kala meringis karena harus teringat lagi. 

“Hei, Kal.” seseorang menjentikkan jari nya ke wajah Kala, menyadarkannya dari lamunan panjang, “Mikirin apa?”

Kala menggelengkan kepalanya, “Ah, iya, sorry. Tadi sampai mana?” perkataan mereka lagi-lagi terpotong saat waiters mengantarkan minuman dan makanan yang sudah mereka pesan.

“Iya, jadi gimana? gak mau pakai nama asli aja, Kal? Saya kasih penawaran terbaik, nih.”

Kala tertawa kecil, ia menggeleng. Kala memang sempat berpikir ke arah itu. Tetap menggunakan nama asli. Tapi setelah Kala pikirkan lebih dalam lagi, untuk apa? niat Kala awalnya hanya ingin pesan-pesan tersirat dari karyanya sendiri bisa diketahui orang banyak. Hanya itu.   

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dermaga Kala   BAB 1

    MARET 2023 “Saya akan menikah lusa, Kala.”Rumah dengan banyaknya ornamen-ornamen jawa klasik itu semakin terasa lengang. Gemerisik angin lembut menyelinap masuk melewati jendela-jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, Kala terdiam beberapa detik, belum juga membalikkan badan menatap pria yang masih menunggu nya di belakang. Hanya terdengar deru nafas yang semakin berat.“Kala,” Adimas, pria yang kini berdiri tepat membelakangi Kala memanggilnya dengan suara yang pelan, bahkan hampir tidak terdengar.Kala tersenyum kecil, memaksakan diri untuk tetap tersenyum, lalu memberanikan diri menatap Adimas yang masih bergeming di tempatnya. “Saya minta maaf.”“Untuk?” Kala melangkahkan kaki nya sedikit, mendekat ke arah Adimas. “Untuk segala nya. Saya tahu–” Adimas seperti tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya, tapi Kala tetap menunggu Adimas melanjutkan. “Saya tahu ini bukan seperti yang sudah kita rencanakan, Kala. Tapi saya tidak bisa apa-apa.” Kala meringis. Entah harus percaya atau

  • Dermaga Kala   BAB 2

    2022“Gimana? cantik, ga?” Kala mengibaskan rambutnya dengan sedikit anggun yang lebih terkesan sok imut itu di depan Adimas– yang membuatnya terkekeh pelan. Kala tengah menunjukkan dress yang baru saja kemarin ia beli sebelum pergi ke tempat ini. Ada perasaan senang saat Adimas mengirimkan pesan kepadanya dan mengajaknya untuk pergi ke pantai. Alhasil, tanpa pikir panjang Kala langsung mengajak teman dekatnya, Dina, untuk menemani Kala membeli satu dress yang cocok untuk dipakai ke pantai. Kala tidak mau salah kostum. “Selalu, Kala. Selalu cantik.” Adimas tersenyum. Teduh sekali. Tangan nya terangkat menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi mata Kala. Pemandangan hari indah, terlebih yang tengah Adimas lihat di hadapannya. “Gombal banget.” Kala mendengus sebal. “Lho, harusnya aku jawab apa?” raut wajah Adimas terlihat bingung– lebih tepatnya sengaja ia buat seperti itu. Tidak mungkin Adimas tidak tahu kalau Kala sudah mengatakan hal semacam itu, artinya ia tengah salah ting

  • Dermaga Kala   BAB 3

    “Jadi gimana, Kal?” Jadi gimana? Kala mengernyit. Ia mengulangi perkataan itu didalam pikiran nya sendiri. Pikiran nya melayang. Melayang jauh. Diri nya memang sedang ada disini, tapi pikiran nya tidak. “Kalau begitu jangan dibuat rumit, Kal. Semuanya rumit bukan karena aku.”Kala berdecak sebal. Jujur. Dalam kesempatan yang seperti ini saja ia masih sempat-sempatnya menyalahkan dan tidak mau salah. Oke, baiklah. Sejenak—hanya sejenak Kala sempat berpikir bahwa memang ia yang salah sebelumnya. Tapi jika waktu berputar kembali, Kala berani bilang bahwa memang tidak ada yang salah. Salah satu berkata dengan jujur dan yang lainnya mengutarakan perasaan dengan jujur. Tapi, sungguh, Kala kesal. Dua orang yang sama sedang jujur dengan diri nya sendiri dan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama sedang mengutarakan apa yang memang seharusnya diutarakan.“Jadi maksudmu disini aku yang salah?”“Ngga gitu, Kal…” Adimas terlihat pasrah“Terus apa?”“Kamu salah paham.”Kala berdecak, bingun

  • Dermaga Kala   BAB 4

    Terhitung sudah satu hari Kala belum bertemu lagi dengan Adimas. Setelah terakhir Adimas menemui Kala ditempat kerja nya, berusaha menjelaskan—lebih tepatnya membela diri nya sendiri, Kala belum bertemu lagi. Adimas dan Kala sama-sama sepakat soal bagaimana menyelesaikan masalah, bahwa mereka hanya akan membahas nya secara langsung, tidak lewat chat, atau kalau sudah terdesak sekali baru lewat telfon. Dan jadilah, sejak kemarin Adimas dan Kala hanya berbasa-basi ringan menanyakan soal hari masing-masing.“Kal, ini film agak suram, ya. Curiga. Happy ending, kan?” Kala yang tengah sibuk memainkan gawai nya, terhenti, “Oh, itu juga nanti mati, Nay. Tokoh utama nya.” Kala berkata acuh, seakan tak menyadari bahwa barusan ia sedang membocorkan alur cerita nya dari film yang tengah di tonton. Gumpalan kertas kecil melayang mulus tepat mengenai dahi Kala, “Astaga, Kal. Gue baru nonton loh. Lo kebiasaan banget.”Kala tertawa puas, tanpa rasa bersalah ia membalikkan gumpalan kertas itu kearah

  • Dermaga Kala   BAB 5

    Ada dua hal dalam kehidupan Kala yang paling susah untuk Ia tolak. Matcha dan Naya. Untuk pilihan pertama, tidak perlu ditanya, Ia tidak akan menolak matcha jenis apapun, sekalipun itu pait. Untuk pilihan kedua, opsional. Tergantung suasana hati. Hari minggu yang tadinya tenang pun akan jadi berantakan saat notif di handphone nya memunculkan kontak Naya.“Nay, gue tuh lagi pengen me-time.” Perkataan tegas dari Kala tidak membuat Naya goyah, “Gue temenin ke toko buku ya ya ya, lo lagi galau kann?” Kala berdecak sebal, pagi-pagi sudah meributkan hal yang tidak penting dengan Naya di ujung telfon sana, kenapa kebanyakan orang selalu mengira bahwa me-time sama dengan galau? Yaa… walaupun bisa jadi juga? Tapi, ya, “Lo nyusulin gue, kontak lo gue block ya.” Penolakan sepihak. Tanpa menunggu jawaban dari Naya, Kala sudah lebih dulu mematikan telfon nya, berujung spam chat dari Naya.Kala menggelengkan kepala nya saat tiba-tiba teringat. Setelah mengitari beberapa rak buku, pandangan mata nya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status