LOGINTerhitung sudah satu hari Kala belum bertemu lagi dengan Adimas. Setelah terakhir Adimas menemui Kala ditempat kerja nya, berusaha menjelaskan—lebih tepatnya membela diri nya sendiri, Kala belum bertemu lagi. Adimas dan Kala sama-sama sepakat soal bagaimana menyelesaikan masalah, bahwa mereka hanya akan membahas nya secara langsung, tidak lewat chat, atau kalau sudah terdesak sekali baru lewat telfon. Dan jadilah, sejak kemarin Adimas dan Kala hanya berbasa-basi ringan menanyakan soal hari masing-masing.
“Kal, ini film agak suram, ya. Curiga. Happy ending, kan?” Kala yang tengah sibuk memainkan gawai nya, terhenti, “Oh, itu juga nanti mati, Nay. Tokoh utama nya.” Kala berkata acuh, seakan tak menyadari bahwa barusan ia sedang membocorkan alur cerita nya dari film yang tengah di tonton.
Gumpalan kertas kecil melayang mulus tepat mengenai dahi Kala, “Astaga, Kal. Gue baru nonton loh. Lo kebiasaan banget.”
Kala tertawa puas, tanpa rasa bersalah ia membalikkan gumpalan kertas itu kearah Naya—teman SMA Kala, “Gue jadi gak mood kan nonton nya.” Naya berdecak, tepat saat ia berhasil menepis gumpalan kertas itu.
“Yaudah gak perlu ditonton, lagian bikin nangis doang tuh film.”
“Tapi gue kepo”
“Ih ribet lo, Nay. Yaudah lanjutin.”
20th Century Girl. Film Korea yang berhasil membuat Kala banjir air mata dan sejak saat itu ia berjanji tidak akan pernah mau lagi menonton film yang serupa.
“Niat gue tuh baik, Nay, biar lo ga nangis. Kalau nangis kan repot, lo udah keburu hanyut sama cerita nya.”
Naya mengernyit, memandang aneh Kala yang tengah duduk di sampingnya, “Ada ya orang kayak lo, Kal. Aneh.”
Kala terkekeh pelan, “Ada, gue contohnya. Langka.” Tanpa merespon gumaman Naya yang semakin menjadi-jadi ia memilih kembali sibuk dengan urusan nya sendiri. Berkutat dengan gawai nya. Naya pun juga diam sendiri memilih untuk kembali fokus menonton film yang sempat tertunda karena ulah Kala. Tapi di detik-detik terakhir sebelum benar-benar berhenti, Naya bersumpah akan melakukan hal yang sama pada Kala. Ia hanya menghela napas pelan, tidak peduli dengan ucapan Naya.
Selama beberapa menit mereka berdua diselimuti keheningan. Hanya suara dari layar televisi yang mengisi kekosongan.
“Eh, btw Kal,”
“Hm?”
“Kemarin pembahasan lo lancar sama Mas Bagas?”
Mendengar pertanyaan itu membuat Kala sedikit bangun dari duduknya, “Aman, sih. Cuman gue masih kurang lima lagi. Totalnya harus ada dua puluh lima.”
“Banyak juga, ya. Lo sanggup, Kal?”
Kala terdiam, “Mas Bagas kemarin bilang, batasnya akhir tahun.”
“Akhir tahun 2022? Tahun ini dong?”
“Ya masa akhir tahun 2023, Nay. Mas Bagas juga males nunggu nya.”
“Duh, maksud gue, itu 6 bulan lagi, Kal. Lo beneran bisa? Gue tau ya lo gimana.”
Kala tertawa, agak geli mendengar pernyataan Naya barusan, “Si paling tau gue deh lo. Cowo gue aja gak ngerti gue gimana.” Naya memang bukan satu-satunya teman terlama Kala, masih ada Tari dan beberapa yang lainnya. Kala jarang bertemu mereka karena sulitnya menyesuaikan jadwal masing-masing. Tapi walaupun begitu komunikasi tetap jalan, sudah prinsip nya harus begitu. Tetap bertukar kabar, hanya saja menjadi tidak terlalu banyak dibandingkan masa sekolah dulu.
Kecuali Naya. Ia memang bisa dibilang lebih tahu banyak soal kehidupan Kala saat ini, apa yang sedang dijalani dan masalah-masalah receh lainnya. Naya lebih sering berkunjung kerumah Kala, terlebih saat rumah sedang kosong seperti sekarang. Jelas Ia merasa bebas. Menghabiskan waktu seharian menonton film diruang keluarga, seperti yang tengah mereka lakukan sekarang.
“Terus…”
Belum sempat Naya melanjutkan kalimatnya, Kala memotong lebih dulu, “Apalagi?”
Naya terkekeh, mengalihkan pandangan kearah Kala setelah mem-pause film yang tengah Naya tonton, “Lo sama Adimas gimana? masih aman juga, kan?”
Handphone Kala berbunyi. Dua pesan singkat masuk.
Aku lagi jogging nih, deket rumah kamu.
Adimas mengirim foto.
Tiba-tiba saja Kala tersenyum. Manis banget. Baju olahraga hitam yang biasa Adimas pakai terlihat sangat cocok. Menambah kesan maskulin yang dimilikinya.
Kala nyengir, “Kayaknya gue harus pergi, deh.”
Naya menghela napas pelan, “Ditinggal sendiri deh gue.” Ia sudah menebak saat Kala tiba-tiba tersenyum, tidak mau banyak tanya, sudah pasti Adimas, “Jagain rumah lo, nih, jadinya.”
Kala tertawa, “Lo emang paling ngertiin gue deh, Nay.”
Sebelum benar-benar pergi, Kala berujar, “Jangan lupa, nyalain lampu depan kalau udah maghrib, Nay. Bahaya kalau gak dinyalain.”
“Kal… lo yang bener-bener aja, deh. Gue balik ah kalau gini mah.”
“Loh serius gue, bahaya kalau gak dinyalain.”
“Bahaya kenapa?”
“Nanti gelap.” Kala tertawa. Menertawai candaan jayus nya sendiri. “Garing, Kal.” Naya berkata acuh. Ia kembali melanjutkan tontonan nya yang sempat tertunda tanpa memedulikan Kala yang masih saja tertawa.
***
Sore ini cuaca nya cukup cerah. Sangat mendukung untuk sekedar jalan-jalan ringan atau lari keliling komplek. Kala dan Adimas sepakat untuk bertemu di dekat gang rumah Kala, agak lumayan jauh sih dari gang rumahnya karena sudah dekat dengan jalan raya.
Handphone Kala berbunyi, Ia sudah hampir sampai.
Kamu dimana?
Bentar lagi sampe.
Sesaat setelah mengirim pesan tersebut pada Adimas, dari kejauhan seseorang yang sangat Kala kenal mulai terlihat, Kala tersenyum. Baju yang Adimas pakai dari jauh mulai kelihatan sedikit lepek, bukti bahwa setelah berkabar dengan Kala, Ia sudah olahraga lebih dulu. Adimas berjalan di trotoar yang memanjang dipinggir jalan, sekitar dua kilo sebelum akhirnya diputus dengan jalan raya sungguhan. Ah, intinya jalan raya di komplek dan jalan raya betulan itu beda.
“Waw, ganteng banget, nih, yang lagi olahraga. Sampai keringetan begitu, Mas.”
Adimas menengok ke arah sumber suara, ia mengernyit seakan ia tidak suka dipanggil dengan panggilan itu, “Jangan panggil aku kayak gitu, Kal. Geli.”
Kala tertawa kecil, “Kamu dipanggil Mas sama teman kantormu biasa aja tuh.” Ia membela diri. Seingat Kala memang seperti itu.
“Ya, itukan teman kantor. Jadi biasa aja."
Kala berdecak sebal, memilih menghindari keributan, “Iya deh, Mas.”
Setelah obrolan basa-basi singkat, mereka berdua sama-sama diam. Hening dengan pikirannya sendiri. Hanya suara deru motor yang mengisi kekosongan. Adimas masih menetralkan deru nafas nya, rasa lelah terlihat jelas dari raut wajah Adimas.
“Sampai ujung trotoar nanti, aku langsung pulang, ya. Ada kerjaan yang harus aku urus.” Seakan tidak terjadi apapun, Adimas hanya mengatakan hal itu. Entah untuk membuka topik sebelum kearah yang serius, atau memang tidak peduli sama sekali dengan apa yang kemarin terjadi.
“Jadi apa yang mau diselesain, Dim?”
“Apa, ya? Aku juga bingung.”
“Dim, jangan kayak gitu dong. Kita kan udah sepakat, kalau emang ada yang belum selesai atau perlu diselesain ya kita obrolin langsung,” Kala menghela nafas, “Kamu egois kalau begitu, Dim.”
Adimas menghela napas pelan, “Aku udah cukup ngejelasin waktu itu, Kal, pas aku samperin kamu ke tempat kerja,” Adimas menatap Kala, “Aku serius waktu bilang kalau itu emang cuman sekelibat memori aja. Aku cuman gak mau itu keulang lagi. Apalagi ke orang yang aku sayang.”
“Tapi makna yang aku pahamin, itu karena kamu emang masih kejebak aja, Dim. Gak tahu harus gimana.”
“Itu menurut kamu. Bagi aku gak kayak gitu,” Adimas yang tanpa aba-aba mengelus kepala Kala, membuat helai rambut panjangnya keluar sedikit dari balik hoodie, jatuh lembut di bahu, “Aku cuman mau lebih hati-hati aja, Kal.”
Kala menatap Adimas teduh. Sorot matanya terlihat lebih tenang. Ia tersenyum. Jalanan perumahan semakin lengang. Hanya terdengar suara deru motor dari jalanan yang semakin sedikit, senja juga mulai terlihat, “Aku ngerti maksud kamu, tapi gak bisa aku pungkiri kalau aku juga salah paham.”
Adimas mengangguk mengerti, “Kita jalan sama-sama, Kal. Tujuan kita sama. Gak perlu buru-buru, nikmatin aja moment nya.” Lagi-lagi Kala terhanyut, cukup beberapa kata yang keluar luwes dari bibir Adimas, Kala semakin percaya lagi dan lagi.
"Ah, iya. Sekarang hari sabtu, kamu ada kerjaan apa, Dim?"
MARET 2023 “Saya akan menikah lusa, Kala.”Rumah dengan banyaknya ornamen-ornamen jawa klasik itu semakin terasa lengang. Gemerisik angin lembut menyelinap masuk melewati jendela-jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, Kala terdiam beberapa detik, belum juga membalikkan badan menatap pria yang masih menunggu nya di belakang. Hanya terdengar deru nafas yang semakin berat.“Kala,” Adimas, pria yang kini berdiri tepat membelakangi Kala memanggilnya dengan suara yang pelan, bahkan hampir tidak terdengar.Kala tersenyum kecil, memaksakan diri untuk tetap tersenyum, lalu memberanikan diri menatap Adimas yang masih bergeming di tempatnya. “Saya minta maaf.”“Untuk?” Kala melangkahkan kaki nya sedikit, mendekat ke arah Adimas. “Untuk segala nya. Saya tahu–” Adimas seperti tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya, tapi Kala tetap menunggu Adimas melanjutkan. “Saya tahu ini bukan seperti yang sudah kita rencanakan, Kala. Tapi saya tidak bisa apa-apa.” Kala meringis. Entah harus percaya atau
2022“Gimana? cantik, ga?” Kala mengibaskan rambutnya dengan sedikit anggun yang lebih terkesan sok imut itu di depan Adimas– yang membuatnya terkekeh pelan. Kala tengah menunjukkan dress yang baru saja kemarin ia beli sebelum pergi ke tempat ini. Ada perasaan senang saat Adimas mengirimkan pesan kepadanya dan mengajaknya untuk pergi ke pantai. Alhasil, tanpa pikir panjang Kala langsung mengajak teman dekatnya, Dina, untuk menemani Kala membeli satu dress yang cocok untuk dipakai ke pantai. Kala tidak mau salah kostum. “Selalu, Kala. Selalu cantik.” Adimas tersenyum. Teduh sekali. Tangan nya terangkat menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi mata Kala. Pemandangan hari indah, terlebih yang tengah Adimas lihat di hadapannya. “Gombal banget.” Kala mendengus sebal. “Lho, harusnya aku jawab apa?” raut wajah Adimas terlihat bingung– lebih tepatnya sengaja ia buat seperti itu. Tidak mungkin Adimas tidak tahu kalau Kala sudah mengatakan hal semacam itu, artinya ia tengah salah ting
“Jadi gimana, Kal?” Jadi gimana? Kala mengernyit. Ia mengulangi perkataan itu didalam pikiran nya sendiri. Pikiran nya melayang. Melayang jauh. Diri nya memang sedang ada disini, tapi pikiran nya tidak. “Kalau begitu jangan dibuat rumit, Kal. Semuanya rumit bukan karena aku.”Kala berdecak sebal. Jujur. Dalam kesempatan yang seperti ini saja ia masih sempat-sempatnya menyalahkan dan tidak mau salah. Oke, baiklah. Sejenak—hanya sejenak Kala sempat berpikir bahwa memang ia yang salah sebelumnya. Tapi jika waktu berputar kembali, Kala berani bilang bahwa memang tidak ada yang salah. Salah satu berkata dengan jujur dan yang lainnya mengutarakan perasaan dengan jujur. Tapi, sungguh, Kala kesal. Dua orang yang sama sedang jujur dengan diri nya sendiri dan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama sedang mengutarakan apa yang memang seharusnya diutarakan.“Jadi maksudmu disini aku yang salah?”“Ngga gitu, Kal…” Adimas terlihat pasrah“Terus apa?”“Kamu salah paham.”Kala berdecak, bingun
Terhitung sudah satu hari Kala belum bertemu lagi dengan Adimas. Setelah terakhir Adimas menemui Kala ditempat kerja nya, berusaha menjelaskan—lebih tepatnya membela diri nya sendiri, Kala belum bertemu lagi. Adimas dan Kala sama-sama sepakat soal bagaimana menyelesaikan masalah, bahwa mereka hanya akan membahas nya secara langsung, tidak lewat chat, atau kalau sudah terdesak sekali baru lewat telfon. Dan jadilah, sejak kemarin Adimas dan Kala hanya berbasa-basi ringan menanyakan soal hari masing-masing.“Kal, ini film agak suram, ya. Curiga. Happy ending, kan?” Kala yang tengah sibuk memainkan gawai nya, terhenti, “Oh, itu juga nanti mati, Nay. Tokoh utama nya.” Kala berkata acuh, seakan tak menyadari bahwa barusan ia sedang membocorkan alur cerita nya dari film yang tengah di tonton. Gumpalan kertas kecil melayang mulus tepat mengenai dahi Kala, “Astaga, Kal. Gue baru nonton loh. Lo kebiasaan banget.”Kala tertawa puas, tanpa rasa bersalah ia membalikkan gumpalan kertas itu kearah
Ada dua hal dalam kehidupan Kala yang paling susah untuk Ia tolak. Matcha dan Naya. Untuk pilihan pertama, tidak perlu ditanya, Ia tidak akan menolak matcha jenis apapun, sekalipun itu pait. Untuk pilihan kedua, opsional. Tergantung suasana hati. Hari minggu yang tadinya tenang pun akan jadi berantakan saat notif di handphone nya memunculkan kontak Naya.“Nay, gue tuh lagi pengen me-time.” Perkataan tegas dari Kala tidak membuat Naya goyah, “Gue temenin ke toko buku ya ya ya, lo lagi galau kann?” Kala berdecak sebal, pagi-pagi sudah meributkan hal yang tidak penting dengan Naya di ujung telfon sana, kenapa kebanyakan orang selalu mengira bahwa me-time sama dengan galau? Yaa… walaupun bisa jadi juga? Tapi, ya, “Lo nyusulin gue, kontak lo gue block ya.” Penolakan sepihak. Tanpa menunggu jawaban dari Naya, Kala sudah lebih dulu mematikan telfon nya, berujung spam chat dari Naya.Kala menggelengkan kepala nya saat tiba-tiba teringat. Setelah mengitari beberapa rak buku, pandangan mata nya







