Share

BAB 2

Author: A. Dhara
last update publish date: 2025-05-03 00:09:00

2022

“Gimana? cantik, ga?” Kala mengibaskan rambutnya dengan sedikit anggun yang lebih terkesan sok imut itu di depan Adimas– yang membuatnya terkekeh pelan. Kala tengah menunjukkan dress yang baru saja kemarin ia beli sebelum pergi ke tempat ini. Ada perasaan senang saat Adimas mengirimkan pesan kepadanya dan mengajaknya untuk pergi ke pantai.  Alhasil, tanpa pikir panjang Kala langsung mengajak teman dekatnya, Dina, untuk menemani Kala membeli satu dress yang cocok untuk dipakai ke pantai. Kala tidak mau salah kostum. 

“Selalu, Kala. Selalu cantik.” Adimas tersenyum. Teduh sekali. Tangan nya terangkat menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi mata Kala. Pemandangan hari indah, terlebih yang tengah Adimas lihat di hadapannya. 

“Gombal banget.” Kala mendengus sebal. 

“Lho, harusnya aku jawab apa?” raut wajah Adimas terlihat bingung– lebih tepatnya sengaja ia buat seperti itu. Tidak mungkin Adimas tidak tahu kalau Kala sudah mengatakan hal semacam itu, artinya ia tengah salah tingkah. 

“Harusnya bilang aja, iya, cantik. Gitu kan bisa.” 

Adimas tertawa, “Ngga ah, soalnya kalau gitu jadi cantik aja.” Adimas makin tertawa puas saat melihat Kala yang semakin jengkel melihat ke arah Adimas. Ia memang paling senang jika sudah meledek Kala. Ah, bahkan, Kala pernah hampir dibuat Adimas menangis perkara eskrim yang baru saja Kala beli terjatuh karena ulah Adimas. Saat itu, Kala baru saja pulang dari tempat kerja nya, dan mereka bertemu di rumah. Bayangkan saat Kala sedang kelelahan karena pekerjaan, Adimas masih sempat iseng dengan mencari cara menjatuhkan eskrim milik Kala.  

Beberapa hal terjadi begitu saja dalam beberapa bulan terakhir. Sejak mereka memutuskan untuk saling berbagi segala keluh kesah dan bahagia bersama. Awalnya, mereka hanya dua orang yang hidup di kehidupan nya sendiri. Mereka dua orang yang hanya peduli, dengan diri sendiri. 

Pertemuan mereka singkat. Bahkan bisa dibilang itu hanya seperti sebuah perkenalan bertukar nama, dan tidak lama mereka sepakat untuk tidak lagi berjalan sendiri. 

“Bahkan senja aja enggan untuk mendengar gombalan mu itu, Dim.” Adimas langsung mengalihkan pandangan nya melihat ke arah yang sama. Dan benar saja, senja perlahan menghilang, guratan oranye di langit itu benar-benar hilang sekarang. Menyisakan langit yang perlahan menggelap. 

Adimas terkekeh, “Dia bukan enggan, Kal. Tapi tersipu malu.” 

Kala menggelengkan kepala nya. Entah harus merespon dengan apa, tapi Adimas ini selalu saja punya jawaban dari segala yang Kala katakan. Tidak mau kalah lebih tepatnya. 

“Jadi penulis saja, Dimas. Biar kamu bisa tumpahkan seluruh kata-katamu itu di dalam tulisan.” 

“Kamu mau?”

Kala mengernyit heran, “Mau apa? Mau kamu jadi penulis?” 

Adimas menggeleng, lalu ia terdiam. “Apa, Dim?” Kala mendesak, sedikit memaksa. Ia tidak peduli dengan Adimas yang masih fokus melihat ke arah lain. 

“Mau jadi tokoh yang aku tulis?” 

Kala menghela nafas, lagi. Entah sudah berapa kali, “Belum selesai rupanya.” Kala memperbaiki posisi duduknya dengan sambil memeluk kedua lututnya.  

“Memang belum dan ngga akan selesai, Kal.” Adimas kali ini menatap Kala serius. Seakan ingin membuat Kala menyadari bahwa ucapan nya kali ini betulan. 

Kala hanya menanggapinya dengan tertawa kecil. Entahlah, setengah diri nya memang yakin akan terus bersama Adimas, tapi setengah yang lainnya seperti mencari jawaban yang lain. Bukan, tentu saja ini bukan karena tidak adanya perasaan dari diri Kala, hanya saja– “Aku harap begitu juga, Adimas.” dan Kala, lebih memilih mengatakan itu.

“By the way, dekat sini katanya ada tempat ngopi. Dan katanya bagus juga.” tanpa menunggu Kala mengiyakan pernyataan nya, Adimas lebih dulu bangun dari duduknya. Ia mengibaskan pasir-pasir yang masih menempel di celana, “Mau ga? Pas banget pemandangan nya pantai gini. Barangkali kamu lagi stress.” 

Kala berdecak. Ia tetap berdiri mengikuti Adimas dari belakang. Selalu saja ia yang dibawa-bawa sebagai alasan. Padahal kalau sudah begini bisa dipastikan memang Adimas yang ingin menetralkan pikiran nya sendiri. Atau paling tidak memang sedang ada yang ingin dibicarakan. Seperti dua bulan lalu, saat Kala tengah pergi dengan teman kerja nya, Adimas secara tiba-tiba menelpon dan mengajaknya untuk ngopi dan setelah itu menghabiskan waktu malam dengan berkeliling kota. Sesuai dugaan, yang Adimas bicarakan sangatlah banyak. Ia bercerita banyak hal. Sampai-sampai Kala sendiripun tidak kebagian membagikan cerita nya. Tapi itu tidak masalah, sebab di lain waktu Adimas melakukan yang sebaliknya untuk Kala.

“Ayo, deh. Boleh.” Kala sedikit berlari kecil mengejar langkah Adimas, hanya tertinggal beberapa jengkal. Kedua tangan Kala luwes bergelantungan di Tangan kiri Adimas saat langkahnya sudah sejajar. “Bilang aja kamu pengen cerita, kan.” dan lagi, suara manis yang dibuat-buat oleh Kala membuat Adimas tersenyum.  Bagi Adimas, ini menenangkan. 

***

Kala menatap keluar jendela, menyaksikan siluet laut yang perlahan menghilang di kaca spion. Malam mulai semakin larut, dan hanya suara musik dari radio yang mengisi ruang kosong di antara mereka. Butuh sekitar satu jam setengah untuk sampai di rumah Kala. Dan, sejak tiga puluh menit yang lalu baik Adimas maupun Kala sama-sama diam. Mereka bergulat dengan pikiran mereka sendiri. Pikiran Kala masih stuck di pembahasan terakhir saat di kafe tadi. Tidak ada yang salah memang, tapi entah mengapa hari ini pikiran positif Kala tidak bisa diajak kompromi.

Kala sedikit memberanikan diri, ia tidak memikirkan hal lain lagi, “Kalau kamu jalanin pelan-pelan, kamu yakin gak bakal nyerah di tengah jalan?” Kala menoleh ragu ke arah Adimas.

Adimas tetap fokus menyetir, demi mendengar pertanyaan itu rahangnya mengeras. Tapi Adimas tetap diam.

“Maaf, Dim. Aku cuma—” Kala mengalihkan pandangan nya ke arah lain, menghindari untuk melihat Adimas yang sudah terlihat menahan emosinya, “Takut aja.”

“Aku juga, Kal.” Jawab Adimas setelah beberapa detik memilih untuk terdiam. Suaranya sangat rendah, nyaris tenggelam oleh dengung mesin. “Tapi bedanya, kamu takut ditinggal. Aku takut ninggalin. Karena aku pernah ninggalin orang yang gak seharusnya kutinggalin.” Adimas diam sebentar, terlihat ragu untuk melanjutkan, “Sekarang…kadang aku ngerasa bersalah kalau mulai bahagia lagi.”

Kala menoleh ke arahnya. Wajah Adimas hanya diterangi cahaya lampu jalan yang sesekali melintas. Sorot mata Kala tiba-tiba saja berubah—bukan marah, tapi ada perasaan kecewa yang ditahan. Tak bisa ia pungkiri bahwa perkataan Adimas barusan seakan memiliki makna yang lain.

“Jadi kamu masih mikirin masa lalu kamu?” Kala bertanya ragu.

Adimas menggenggam kemudi lebih erat, “Bukan gitu, Kal. Aku cuma belum bisa sepenuhnya bebas dari rasa bersalah itu.”

Kala menghela napas pelan, pandangan mata nya lurus menatap ke depan, lalu mengangguk pelan, “Berarti aku selama ini jalan sama orang yang belum selesai sama dirinya sendiri, ya, Dim?”

Mobil tetap melaju. Tapi di dalam, semuanya terasa berhenti. Tak ada lagi obrolan diantara mereka. Hanya keheningan yang menyelimuti dan perasaan tidak nyaman yang menggantung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dermaga Kala   BAB 1

    MARET 2023 “Saya akan menikah lusa, Kala.”Rumah dengan banyaknya ornamen-ornamen jawa klasik itu semakin terasa lengang. Gemerisik angin lembut menyelinap masuk melewati jendela-jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, Kala terdiam beberapa detik, belum juga membalikkan badan menatap pria yang masih menunggu nya di belakang. Hanya terdengar deru nafas yang semakin berat.“Kala,” Adimas, pria yang kini berdiri tepat membelakangi Kala memanggilnya dengan suara yang pelan, bahkan hampir tidak terdengar.Kala tersenyum kecil, memaksakan diri untuk tetap tersenyum, lalu memberanikan diri menatap Adimas yang masih bergeming di tempatnya. “Saya minta maaf.”“Untuk?” Kala melangkahkan kaki nya sedikit, mendekat ke arah Adimas. “Untuk segala nya. Saya tahu–” Adimas seperti tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya, tapi Kala tetap menunggu Adimas melanjutkan. “Saya tahu ini bukan seperti yang sudah kita rencanakan, Kala. Tapi saya tidak bisa apa-apa.” Kala meringis. Entah harus percaya atau

  • Dermaga Kala   BAB 2

    2022“Gimana? cantik, ga?” Kala mengibaskan rambutnya dengan sedikit anggun yang lebih terkesan sok imut itu di depan Adimas– yang membuatnya terkekeh pelan. Kala tengah menunjukkan dress yang baru saja kemarin ia beli sebelum pergi ke tempat ini. Ada perasaan senang saat Adimas mengirimkan pesan kepadanya dan mengajaknya untuk pergi ke pantai. Alhasil, tanpa pikir panjang Kala langsung mengajak teman dekatnya, Dina, untuk menemani Kala membeli satu dress yang cocok untuk dipakai ke pantai. Kala tidak mau salah kostum. “Selalu, Kala. Selalu cantik.” Adimas tersenyum. Teduh sekali. Tangan nya terangkat menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi mata Kala. Pemandangan hari indah, terlebih yang tengah Adimas lihat di hadapannya. “Gombal banget.” Kala mendengus sebal. “Lho, harusnya aku jawab apa?” raut wajah Adimas terlihat bingung– lebih tepatnya sengaja ia buat seperti itu. Tidak mungkin Adimas tidak tahu kalau Kala sudah mengatakan hal semacam itu, artinya ia tengah salah ting

  • Dermaga Kala   BAB 3

    “Jadi gimana, Kal?” Jadi gimana? Kala mengernyit. Ia mengulangi perkataan itu didalam pikiran nya sendiri. Pikiran nya melayang. Melayang jauh. Diri nya memang sedang ada disini, tapi pikiran nya tidak. “Kalau begitu jangan dibuat rumit, Kal. Semuanya rumit bukan karena aku.”Kala berdecak sebal. Jujur. Dalam kesempatan yang seperti ini saja ia masih sempat-sempatnya menyalahkan dan tidak mau salah. Oke, baiklah. Sejenak—hanya sejenak Kala sempat berpikir bahwa memang ia yang salah sebelumnya. Tapi jika waktu berputar kembali, Kala berani bilang bahwa memang tidak ada yang salah. Salah satu berkata dengan jujur dan yang lainnya mengutarakan perasaan dengan jujur. Tapi, sungguh, Kala kesal. Dua orang yang sama sedang jujur dengan diri nya sendiri dan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama sedang mengutarakan apa yang memang seharusnya diutarakan.“Jadi maksudmu disini aku yang salah?”“Ngga gitu, Kal…” Adimas terlihat pasrah“Terus apa?”“Kamu salah paham.”Kala berdecak, bingun

  • Dermaga Kala   BAB 4

    Terhitung sudah satu hari Kala belum bertemu lagi dengan Adimas. Setelah terakhir Adimas menemui Kala ditempat kerja nya, berusaha menjelaskan—lebih tepatnya membela diri nya sendiri, Kala belum bertemu lagi. Adimas dan Kala sama-sama sepakat soal bagaimana menyelesaikan masalah, bahwa mereka hanya akan membahas nya secara langsung, tidak lewat chat, atau kalau sudah terdesak sekali baru lewat telfon. Dan jadilah, sejak kemarin Adimas dan Kala hanya berbasa-basi ringan menanyakan soal hari masing-masing.“Kal, ini film agak suram, ya. Curiga. Happy ending, kan?” Kala yang tengah sibuk memainkan gawai nya, terhenti, “Oh, itu juga nanti mati, Nay. Tokoh utama nya.” Kala berkata acuh, seakan tak menyadari bahwa barusan ia sedang membocorkan alur cerita nya dari film yang tengah di tonton. Gumpalan kertas kecil melayang mulus tepat mengenai dahi Kala, “Astaga, Kal. Gue baru nonton loh. Lo kebiasaan banget.”Kala tertawa puas, tanpa rasa bersalah ia membalikkan gumpalan kertas itu kearah

  • Dermaga Kala   BAB 5

    Ada dua hal dalam kehidupan Kala yang paling susah untuk Ia tolak. Matcha dan Naya. Untuk pilihan pertama, tidak perlu ditanya, Ia tidak akan menolak matcha jenis apapun, sekalipun itu pait. Untuk pilihan kedua, opsional. Tergantung suasana hati. Hari minggu yang tadinya tenang pun akan jadi berantakan saat notif di handphone nya memunculkan kontak Naya.“Nay, gue tuh lagi pengen me-time.” Perkataan tegas dari Kala tidak membuat Naya goyah, “Gue temenin ke toko buku ya ya ya, lo lagi galau kann?” Kala berdecak sebal, pagi-pagi sudah meributkan hal yang tidak penting dengan Naya di ujung telfon sana, kenapa kebanyakan orang selalu mengira bahwa me-time sama dengan galau? Yaa… walaupun bisa jadi juga? Tapi, ya, “Lo nyusulin gue, kontak lo gue block ya.” Penolakan sepihak. Tanpa menunggu jawaban dari Naya, Kala sudah lebih dulu mematikan telfon nya, berujung spam chat dari Naya.Kala menggelengkan kepala nya saat tiba-tiba teringat. Setelah mengitari beberapa rak buku, pandangan mata nya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status