Share

BAB 1

Author: A. Dhara
last update publish date: 2025-05-04 15:08:12

MARET 2023

“Saya akan menikah lusa, Kala.”

Rumah dengan banyaknya ornamen-ornamen jawa klasik itu semakin terasa lengang. Gemerisik angin lembut menyelinap masuk melewati jendela-jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, Kala terdiam beberapa detik, belum juga membalikkan badan menatap pria yang masih menunggu nya di belakang. Hanya terdengar deru nafas yang semakin berat.

“Kala,” Adimas, pria yang kini berdiri tepat membelakangi Kala memanggilnya dengan suara yang pelan, bahkan hampir tidak terdengar.

Kala tersenyum kecil, memaksakan diri untuk tetap tersenyum, lalu memberanikan diri menatap Adimas yang masih bergeming di tempatnya. 

“Saya minta maaf.”

“Untuk?” Kala melangkahkan kaki nya sedikit, mendekat ke arah Adimas. 

“Untuk segala nya. Saya tahu–” Adimas seperti tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya, tapi Kala tetap menunggu Adimas melanjutkan. “Saya tahu ini bukan seperti yang sudah kita rencanakan, Kala. Tapi saya tidak bisa apa-apa.” 

Kala meringis. Entah harus percaya atau harus pura-pura percaya. Kedua nya tetap salah menurut Kala. Jadilah Kala hanya mengangguk-anggukkan kepala nya. Ribuan pertanyaan yang sudah tersusun rapi di kepala nya bahkan sebelum Adimas datang kerumah, harus Kala tepis jauh-jauh. 

Adimas menatap Kala heran, “Kamu benar tidak apa-apa?” kali ini, Kala tidak bisa menahan tawa nya. Justru karena pertanyaan itu terlontar dari bibir Adimas dengan begitu mudah nya, membuat Kala malah menatap nya lebih heran. “Saya harus seperti apa memangnya?” Kala balik bertanya. Kala semakin melangkahkan kaki mendekat pada Adimas dengan percaya diri. Membuat jarak Kala dengan Adimas hanya beberapa jengkal. 

“Setidaknya merasa kehilangan.” Adimas mengatakan itu seolah tidak terjadi hal besar sebab ulah Adimas sendiri. Kala semakin tertawa mendengarnya. 

“Jadi saya atau kamu?” 

Adimas mengernyit, tidak mengerti, “Maksudnya?” 

Kala tersenyum simpul, menatap Adimas dengan sorot mata yang masih sama teduhnya, seolah beberapa menit sebelumnya, tidak membuat Kala merasakan apapun, “Iya, saya yang kehilangan, atau kamu?” 

“Kala saya tau mungkin ini menyakitkan–” 

Kala menggeleng, memotong perkataan Adimas lebih dulu, “Tidak.” 

Sorot mata Adimas kini justru berubah tidak menyangka, tatapan mata Adimas yang penuh harap, berubah jadi sorot mata yang sedikit kecewa, hal itu tentu membuat Kala tersinggung seolah-olah pelaku yang telah membuat semuanya berantakan adalah Kala. 

“Kalau begitu, kenapa kamu mau bertemu dengan saya? Seolah ada hal yang harus diluruskan?” 

Kala terdiam. Memikirkan perkataan yang Adimas lontarkan barusan. Kalau dipikir-pikir, pertanyaan kenapa Kala mau bertemu belum sempat Kala pikirkan jawaban nya. Tapi, bukankah wajar jika pelaku yang berbuat salah harus meminta maaf lebih dahulu? Bukankah wajar, jika korban menuntut diberikan penjelasan? 

Kala menghela nafas pelan. Menatap Adimas yang sejak tadi belum juga mengalihkan pandangan nya dari Kala. “Saya–” Kala diam sebentar, seolah kata-kata itu hanya tersendat di kerongkongan, “Saya hanya– ingin tahu?” akhirnya hanya kata-kata itu yang mampu Kala ucapkan. Kala tidak tahu harus bertingkah seperti apa, Kala juga tidak tahu harus mempertanyakan hal apa, sebab bagi Kala, semua yang sudah terjadi, tidak bisa ditarik kembali. 

“Kamu memang dari awal tidak peduli pada saya, Kala.” Adimas berkata tegas, “Memang keputusan saya sudah benar.” 

Kala menunduk, tersenyum simpul, tidak ada perasaan kecewa ataupun sakit hati dari raut wajah nya yang tenang itu. Sorot mata Kala juga masih teduh seperti biasanya. Apa yang Kala lakukan justru malah membuat Adimas semakin bingung. 

Seakan tahu apa yang Adimas pikirkan, Kala dengan tegas berujar, “Terimakasih, Adimas. Satu tahun belakangan yang cukup menguras tenaga saya akhirnya hari ini bisa saya lepas begitu mudah.” Kala tersenyum menatap Adimas, ia puas melihat raut wajah yang terlihat tidak menyangka itu.

“Kamu tidak perlu repot-repot merasa tidak enak hati. Karena bagi saya, hal-hal indah yang memang diperuntukkan untuk saya, akan terus membersamai bagaimanapun keadaan nya.” Kala berhenti sejenak, terlihat memikirkan kata-kata agar terucap tidak begitu menyakitkan, “Dan, kamu, Adimas. Sudah memilih jalan yang ingin kamu jalani. Jadi karena itu, jangan libatkan saya dalam perjalanan yang tidak saya rencanakan, dan juga tidak ada kamu didalamnya.”

Adimas semakin diam seribu bahasa. Langit yang perlahan menggelap, menjadi saksi bahwa cahaya mentari telah selesai menjalankan tugasnya. Sekali lagi, sebelum Kala benar-benar meninggalkan Adimas sendirian, ia berujar, “Apa-apa yang sudah ditakar, tidak akan pernah tertukar.”

***

“Atas nama kak Gio, ya?”

Seorang pria dengan perawakan yang sangat terlihat tenang menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum teduh. “Iya, betul.” Ada jeda keheningan saat Kala menaruh minuman ke meja sembari menyebutkan apa yang di pesan. “Saya minta maaf banget, ya, kak. Agak terlambat untuk minuman nya.” Kala berusaha sebisa mungkin mengatakan dengan ramah. Karena bagaimanapun juga ini kesalahan nya.

Lagi-lagi, pria itu tersenyum tenang sekali. “Ngerti, kok. Emang lagi ramai aja.” Pandangan mata nya fokus melihat ke arah minuman nya dengan gerakan tangan memindahkannya agar tidak terlalu dipinggir. 

Kala lega mendengarnya. “Kalau gitu terimakasih banyak, selamat menikmati.” Kala membungkukan dirinya sopan sebelum benar-benar pergi.

“Gimana, aman?” Nadine—karyawan baru di café tempat Kala bekerja langsung bertanya saat Kala sudah berdiri dibelakang meja kasir. Bel pintu berdenting lagi. Seseorang baru saja masuk. Kala langsung mengacungkan jempol ke arah Nadine sambil nyengir. Tanda bahwa aman terkendali. Tanpa aba-aba, “Tapi, lumayan, kan?” Nadine tertawa. Kala tahu betul maksudnya.

“Ya...lumayan lah.” Kala tertawa. Merasa sedikit bersyukur karena barusan ia yang melayani. Kala tidak bisa berbohong jika mengatakan bahwa orang itu biasa-biasa saja.

“Tapi kayaknya dia udah punya cewe, sih.”

“Terus kenapa?”

“Ya you know I know lah” Nadine tertawa pelan. Sedikit menjaga suaranya agar tidak terlalu heboh. Kala hanya menggelengkan kepalanya. Sudah terbiasa dengan sikap Nadine yang seperti ini. Setiap ada pria yang memanjakan mata pasti yang pertama kali Nadine ucapkan adalah pernyataan semacam itu.

Padahal sudah ada beberapa pria yang mendekati nya. Nadine sempat bercerita pada Kala waktu itu. Tapi anehnya, tidak ada yang Nadine inginkan. Tetapi untuk urusan memuji laki-laki Nadine jagonya. Kala yakin sekali jika pria yang Nadine puji mendekati nya, pasti tidak akan bisa langsung meluluhkan hati perempuan ini.

Kala hanya tertawa menanggapi perkataan Nadine. Pandangan mata nya menunduk menatap ponsel nya yang tengah ia genggam. Kala tengah membalas salah satu pesan yang baru saja masuk.

Dari sudut mata nya, Kala melihat seseorang berdiri di depan meja kasir. Segera setelah itu Kala memasukkan ponsel nya ke saku celana.

Kala tersenyum ramah sebelum menatap kedepan, “Sudah semua—” perkataannya terpotong tepat saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya kini. Kala terdiam. Tapi pikiran nya tidak.

Kala menghela napas kasar, “Mau apa?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dermaga Kala   BAB 1

    MARET 2023 “Saya akan menikah lusa, Kala.”Rumah dengan banyaknya ornamen-ornamen jawa klasik itu semakin terasa lengang. Gemerisik angin lembut menyelinap masuk melewati jendela-jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, Kala terdiam beberapa detik, belum juga membalikkan badan menatap pria yang masih menunggu nya di belakang. Hanya terdengar deru nafas yang semakin berat.“Kala,” Adimas, pria yang kini berdiri tepat membelakangi Kala memanggilnya dengan suara yang pelan, bahkan hampir tidak terdengar.Kala tersenyum kecil, memaksakan diri untuk tetap tersenyum, lalu memberanikan diri menatap Adimas yang masih bergeming di tempatnya. “Saya minta maaf.”“Untuk?” Kala melangkahkan kaki nya sedikit, mendekat ke arah Adimas. “Untuk segala nya. Saya tahu–” Adimas seperti tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya, tapi Kala tetap menunggu Adimas melanjutkan. “Saya tahu ini bukan seperti yang sudah kita rencanakan, Kala. Tapi saya tidak bisa apa-apa.” Kala meringis. Entah harus percaya atau

  • Dermaga Kala   BAB 2

    2022“Gimana? cantik, ga?” Kala mengibaskan rambutnya dengan sedikit anggun yang lebih terkesan sok imut itu di depan Adimas– yang membuatnya terkekeh pelan. Kala tengah menunjukkan dress yang baru saja kemarin ia beli sebelum pergi ke tempat ini. Ada perasaan senang saat Adimas mengirimkan pesan kepadanya dan mengajaknya untuk pergi ke pantai. Alhasil, tanpa pikir panjang Kala langsung mengajak teman dekatnya, Dina, untuk menemani Kala membeli satu dress yang cocok untuk dipakai ke pantai. Kala tidak mau salah kostum. “Selalu, Kala. Selalu cantik.” Adimas tersenyum. Teduh sekali. Tangan nya terangkat menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi mata Kala. Pemandangan hari indah, terlebih yang tengah Adimas lihat di hadapannya. “Gombal banget.” Kala mendengus sebal. “Lho, harusnya aku jawab apa?” raut wajah Adimas terlihat bingung– lebih tepatnya sengaja ia buat seperti itu. Tidak mungkin Adimas tidak tahu kalau Kala sudah mengatakan hal semacam itu, artinya ia tengah salah ting

  • Dermaga Kala   BAB 3

    “Jadi gimana, Kal?” Jadi gimana? Kala mengernyit. Ia mengulangi perkataan itu didalam pikiran nya sendiri. Pikiran nya melayang. Melayang jauh. Diri nya memang sedang ada disini, tapi pikiran nya tidak. “Kalau begitu jangan dibuat rumit, Kal. Semuanya rumit bukan karena aku.”Kala berdecak sebal. Jujur. Dalam kesempatan yang seperti ini saja ia masih sempat-sempatnya menyalahkan dan tidak mau salah. Oke, baiklah. Sejenak—hanya sejenak Kala sempat berpikir bahwa memang ia yang salah sebelumnya. Tapi jika waktu berputar kembali, Kala berani bilang bahwa memang tidak ada yang salah. Salah satu berkata dengan jujur dan yang lainnya mengutarakan perasaan dengan jujur. Tapi, sungguh, Kala kesal. Dua orang yang sama sedang jujur dengan diri nya sendiri dan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama sedang mengutarakan apa yang memang seharusnya diutarakan.“Jadi maksudmu disini aku yang salah?”“Ngga gitu, Kal…” Adimas terlihat pasrah“Terus apa?”“Kamu salah paham.”Kala berdecak, bingun

  • Dermaga Kala   BAB 4

    Terhitung sudah satu hari Kala belum bertemu lagi dengan Adimas. Setelah terakhir Adimas menemui Kala ditempat kerja nya, berusaha menjelaskan—lebih tepatnya membela diri nya sendiri, Kala belum bertemu lagi. Adimas dan Kala sama-sama sepakat soal bagaimana menyelesaikan masalah, bahwa mereka hanya akan membahas nya secara langsung, tidak lewat chat, atau kalau sudah terdesak sekali baru lewat telfon. Dan jadilah, sejak kemarin Adimas dan Kala hanya berbasa-basi ringan menanyakan soal hari masing-masing.“Kal, ini film agak suram, ya. Curiga. Happy ending, kan?” Kala yang tengah sibuk memainkan gawai nya, terhenti, “Oh, itu juga nanti mati, Nay. Tokoh utama nya.” Kala berkata acuh, seakan tak menyadari bahwa barusan ia sedang membocorkan alur cerita nya dari film yang tengah di tonton. Gumpalan kertas kecil melayang mulus tepat mengenai dahi Kala, “Astaga, Kal. Gue baru nonton loh. Lo kebiasaan banget.”Kala tertawa puas, tanpa rasa bersalah ia membalikkan gumpalan kertas itu kearah

  • Dermaga Kala   BAB 5

    Ada dua hal dalam kehidupan Kala yang paling susah untuk Ia tolak. Matcha dan Naya. Untuk pilihan pertama, tidak perlu ditanya, Ia tidak akan menolak matcha jenis apapun, sekalipun itu pait. Untuk pilihan kedua, opsional. Tergantung suasana hati. Hari minggu yang tadinya tenang pun akan jadi berantakan saat notif di handphone nya memunculkan kontak Naya.“Nay, gue tuh lagi pengen me-time.” Perkataan tegas dari Kala tidak membuat Naya goyah, “Gue temenin ke toko buku ya ya ya, lo lagi galau kann?” Kala berdecak sebal, pagi-pagi sudah meributkan hal yang tidak penting dengan Naya di ujung telfon sana, kenapa kebanyakan orang selalu mengira bahwa me-time sama dengan galau? Yaa… walaupun bisa jadi juga? Tapi, ya, “Lo nyusulin gue, kontak lo gue block ya.” Penolakan sepihak. Tanpa menunggu jawaban dari Naya, Kala sudah lebih dulu mematikan telfon nya, berujung spam chat dari Naya.Kala menggelengkan kepala nya saat tiba-tiba teringat. Setelah mengitari beberapa rak buku, pandangan mata nya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status