LOGIN
Ada dua hal dalam kehidupan Kala yang paling susah untuk Ia tolak. Matcha dan Naya. Untuk pilihan pertama, tidak perlu ditanya, Ia tidak akan menolak matcha jenis apapun, sekalipun itu pait. Untuk pilihan kedua, opsional. Tergantung suasana hati. Hari minggu yang tadinya tenang pun akan jadi berantakan saat notif di handphone nya memunculkan kontak Naya.
“Nay, gue tuh lagi pengen me-time.” Perkataan tegas dari Kala tidak membuat Naya goyah, “Gue temenin ke toko buku ya ya ya, lo lagi galau kann?” Kala berdecak sebal, pagi-pagi sudah meributkan hal yang tidak penting dengan Naya di ujung telfon sana, kenapa kebanyakan orang selalu mengira bahwa me-time sama dengan galau? Yaa… walaupun bisa jadi juga? Tapi, ya, “Lo nyusulin gue, kontak lo gue block ya.” Penolakan sepihak. Tanpa menunggu jawaban dari Naya, Kala sudah lebih dulu mematikan telfon nya, berujung spam chat dari Naya.
Kala menggelengkan kepala nya saat tiba-tiba teringat. Setelah mengitari beberapa rak buku, pandangan mata nya kini tertuju pada salah satu buku non fiksi, Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki. Setelah dipikir-pikir, Kala memang sudah jarang membaca buku non-fiksi seperti ini, Ia lebih sering membaca karya-karya fiksi.
“Udah pernah baca buku nya?”
Kala yang tengah membaca sinopsis buku terhenti mengikuti arah suara, Kala mengernyit setelah melihat siapa yang ada disampingnya, “Loh, Sael, ya?” ia sedikit berpikir, berusaha mengingat dengan jelas.
Sael tersenyum ramah, “Gue udah liat lo dari jauh. Btw, apa kabar?”
Kala balas tersenyum, agak sedikit kikuk, “Kabar gue baik, lo gimana?” ia berbasa-basi berharap terlihat sedikit ramah. Sael—teman SMA Kala. Sejujurnya, Kala jarang mengobrol dengan Sael, bahkan bukan jarang lagi, bisa dibilang Kala memang tidak pernah berbicara dengan Sael. Canggung sekali. Hal termalas kalau tidak pergi dengan Adimas, kalau bertemu dengan orang yang Ia kenal jadi tidak punya alasan sedang buru-buru.
Sejak pukul satu siang tadi, Kala memutuskan untuk menikmati hari libur kerja nya untuk pergi ke toko buku langganan. Letaknya di pinggiran kota. Toko buku ini tidak terlalu ramai, makanya Kala betah berlama-lama disini. Nilai plus nya, masih dekat dengan rumah. Ia belum ada janji dengan Adimas karena semalam Adimas bilang, “Aku bakal ke luar kota beberapa hari kedepan. Kalau kata bos sih tiga hari yaa. Makanya sekarang lagi sibuk banget siapin beberapa hal.” Kalau Kala bisa egois, ia ingin sekali menahan Adimas agar tidak pergi. Weekend jadi tidak bisa ketemu. Yah… karena resolusi tahun ini salah satu nya bisa mengerti Adimas sepenuhnya, jadi, "Oke, deh. Semoga lancar kerjaan nya yaa…biar next week kita bisa ketemu. Kangen, hihi.”
Kala menghela napas. Helaan yang cukup didengar oleh Sael.
“Loh, kenapa?” Sael terlihat kebingungan, “Pertanyaan gue salah, ya?”
“E-eh, gak gitu…” Kala membalas kikuk, kebiasaan jelek Kala yang suka tiba-tiba melamun datang diwaktu yang tidak tepat, “Gue lagi mikirin sesuatu aja tadi.”
Sael mengangguk-anggukan kepala, “Jadi, gimana?”
“Apa?”
“Kabar lo.”
Kala meletakkan buku yang sudah Ia ambil kembali ke rak buku, “Tadi kan udah gue jawab, kabar gue baik.”
“Gajadi lo ambil buku nya?”
Kala menggeleng, “Gue tiba-tiba gak minat.”
“Padahal bagus, kalau lu mau baca.”
Kala berjalan pelan sambil tetap melihat rak-rak yang penuh dengan buku, “Gue kalau lagi pusing mau nya baca buku fiksi aja,” mata nya tertuju pada novel yang judulnya menarik perhatian, “Ini bagus gak, sih?”
Sael mengangguk, “Gue udah pernah baca, bagus kok, La.”
Kala mengernyit, “La?”
Sael tertawa renyah, “Kenapa? Nama lo kan?”
Kala menggeleng, “Jarang yang panggil gue begitu.”
Sael tersenyum. Senyuman kecil yang tidak Kala sadari, “Lo udah sering baca buku, ya, Sael?”
“El.”
Kala tertawa kikuk, “Ah, iya, El.”
“Lumayan, sih. Gue emang suka baca buku, lagi bosen ya baca buku, lagi gak ada kerjaan juga baca buku,” Sael terdiam, sambil melihat buku-buku di rak yang sama dengan Kala, “Kayak bentuk pelampiasan aja jadinya.”
Kala mengangguk, “Gue masih pilih-pilih kalau baca, judging a book by it’s cover.”
Sael tertawa, “Gue juga gitu kok awalnya, cuman lama-lama kaya udah butuh aja. Sekalinya gak baca buku, kayak ada yang kurang.”
Kala tersenyum kecil.
“Mau ngopi? Deket sini aja?”
***
“Gimana si Pram?”
Kala jengkel mendengar pertanyaan itu. Beberapa waktu lalu Ia setuju saat Sael mengajaknya untuk ngopi. Toh, Kala sedang tidak ada kerjaan juga. Weekend nya hanya gini-gini aja. Yaa… selain alasan itu Kala juga berpikir kalau Ia sepertinya sudah jarang sekali kontakan dengan teman semasa SMA. Hanya teman terdekat saja, diluar itu sudah tidak pernah—karena buat apa juga.
“Sesuai yang lo liat aja, deh.”
Sael tertawa renyah. Kurang lebih satu tahun lalu terakhir kalinya Kala tahu kabar dari Pram. Setelahnya, Ia hanya mendengar kabar kecil-kecilan dari beberapa teman nya yang iseng.
“Emang dari kapan?”
“Apanya?”
“Putus nya.”
Kala terdiam, berusaha sedikit mengingat, “Baru bener-bener putusnya sih Mei tahun lalu ya.”
Sael sedikit terkejut, “Serius? Dia up sama cewe baru nya bulan Juni kan?”
“Juli.”
Obrolan mereka terhenti saat seorang perempuan datang ke arah mereka, mengantarkan pesanan yang sudah mereka pesan dua puluh menit lalu, Ia tersenyum kecil, “Matcha latte satu,” gerakan tangan nya luwes meletakkan minuman di meja, “Sama americano satu ya, kak.”
Kala mengangguk mengiyakan, “Untuk pesanannya sudah semua ya, kak.”
“Iya sudah, kak. Terimakasih ya.” Kala tersenyum ramah. Sambil menggeser matcha latte nya agar pas di depan Kala.
Kala dan Sael masih sibuk mengaduk-aduk minuman nya, tidak sampai satu menit keheningan menyelimuti mereka berdua, “Cepet juga ya dia.” Sael bergumam, gumaman yang masih terdengar oleh Kala.
“Udah deket dari lama berarti.”
“Lo tau?”
Kala menggeleng, “Gak. Bahkan baru tau.”
Sael tiba-tiba terdiam. Pandangan nya kini beralih menatap keluar, Ia belum sempat menyeruput sedikit americano yang baru saja datang.
“Kalau lo gimana? masih sama yang kemarin?”
“Gak ada yang sama, beda.”
Kala tertawa kecil, menyadari maksud yang Sael katakan, “Oh barisan patah hati juga… Karena apa, tuh?”
“Gitu, deh. Karena emosi aja.”
“Aduh, nyesel pasti ya.”
Sael tertawa renyah, “Lumayan, pas awal-awal aja. Sekarang udah gak.”
“Jujur aja, masih ada rasa mau balik lagi kan?”
Sael menggeleng, Ia terlihat cukup yakin, “Gak, La. Lagian kalau mau balik juga buat apa? emang ada beberapa hal yang gak bisa diselesain dan gak sejalan,” Sael menyeruput sedikit americano, “Nyesel bukan berarti harus balik lagi, La. Cukup ubah diri lo sendiri, maafin diri lo sendiri, dan perlakuin lebih baik orang lain yang akan sama lo nanti. Selesai.”
Kala setuju.
“Ya… kalau case nya kayak lo sih, beda ya.”
Kala mengernyit, merasa ada yang aneh, “Maksud lo?”
“Diselingkuhin.”
Kala menatap jengkel, “Rese lo.”
Sael tertawa, “Lo lagi sibuk apa sekarang?” langsung bertanya seakan melupakan pernyataan nya barusan, “Ada hubungannya sama fotografi kah?” belum sempat Kala menjawab, Sael sudah lebih dulu menebak.
Kala yang masih menyeruput minuman favoritnya mengernyit, “Kok bisa mikir gitu?”
“Gue liat-liat di I*******m lo, kayaknya lagi suka foto-foto ya?”
“Oh…” Kala tersenyum kecil, “Hobi aja itumah.”
Sael mengangguk mengerti, “Pegang kamera mulu soalnya,” kali ini Sael menatap Kala, “Tapi bagus hasilnya.”
Kala tersenyum kecil, “Lo suka foto juga?”
“Iya, sama. Cuman gue lebih suka keep buat sendiri aja.”
Kala mengangguk, tanpa sadar pandangan mata nya beralih melihat ke arloji yang melingkar di tangan kiri nya, pukul lima sore. Sael yang menyadari hal itu tanpa banyak bertanya langsung berujar, “Ayo, mau balik?”
“Oh… Gak, kok. Cuman liat jam aja. Gak kerasa ya.” Sejujurnya, Kala merasa tidak enak untuk beranjak, tapi sepertinya sudah lebih dulu disadari oleh Sael.
Sael justru malah tertawa, “Udah, ayo balik aja. Keburu malem, nih.” Kala membalas dengan kikuk, “Ayo, deh. Lo juga kerja kan besok? Kala memilih menutupi nya dengan pertanyaan basa-basi.
Sael mengangguk, sebelum benar-benar beranjak dari tempat duduknya, “Ah… iya,” Sael berhenti sejenak, ada sedikit keraguan sebelum Ia benar-benar melanjutkan perkataan nya, “Gue izin nyimpen nomor lo ya, La. Buat berkabar aja. Masih sama kayak yang ada di grup angkatan, kan?”
MARET 2023 “Saya akan menikah lusa, Kala.”Rumah dengan banyaknya ornamen-ornamen jawa klasik itu semakin terasa lengang. Gemerisik angin lembut menyelinap masuk melewati jendela-jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, Kala terdiam beberapa detik, belum juga membalikkan badan menatap pria yang masih menunggu nya di belakang. Hanya terdengar deru nafas yang semakin berat.“Kala,” Adimas, pria yang kini berdiri tepat membelakangi Kala memanggilnya dengan suara yang pelan, bahkan hampir tidak terdengar.Kala tersenyum kecil, memaksakan diri untuk tetap tersenyum, lalu memberanikan diri menatap Adimas yang masih bergeming di tempatnya. “Saya minta maaf.”“Untuk?” Kala melangkahkan kaki nya sedikit, mendekat ke arah Adimas. “Untuk segala nya. Saya tahu–” Adimas seperti tidak sanggup melanjutkan kata-kata nya, tapi Kala tetap menunggu Adimas melanjutkan. “Saya tahu ini bukan seperti yang sudah kita rencanakan, Kala. Tapi saya tidak bisa apa-apa.” Kala meringis. Entah harus percaya atau
2022“Gimana? cantik, ga?” Kala mengibaskan rambutnya dengan sedikit anggun yang lebih terkesan sok imut itu di depan Adimas– yang membuatnya terkekeh pelan. Kala tengah menunjukkan dress yang baru saja kemarin ia beli sebelum pergi ke tempat ini. Ada perasaan senang saat Adimas mengirimkan pesan kepadanya dan mengajaknya untuk pergi ke pantai. Alhasil, tanpa pikir panjang Kala langsung mengajak teman dekatnya, Dina, untuk menemani Kala membeli satu dress yang cocok untuk dipakai ke pantai. Kala tidak mau salah kostum. “Selalu, Kala. Selalu cantik.” Adimas tersenyum. Teduh sekali. Tangan nya terangkat menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi mata Kala. Pemandangan hari indah, terlebih yang tengah Adimas lihat di hadapannya. “Gombal banget.” Kala mendengus sebal. “Lho, harusnya aku jawab apa?” raut wajah Adimas terlihat bingung– lebih tepatnya sengaja ia buat seperti itu. Tidak mungkin Adimas tidak tahu kalau Kala sudah mengatakan hal semacam itu, artinya ia tengah salah ting
“Jadi gimana, Kal?” Jadi gimana? Kala mengernyit. Ia mengulangi perkataan itu didalam pikiran nya sendiri. Pikiran nya melayang. Melayang jauh. Diri nya memang sedang ada disini, tapi pikiran nya tidak. “Kalau begitu jangan dibuat rumit, Kal. Semuanya rumit bukan karena aku.”Kala berdecak sebal. Jujur. Dalam kesempatan yang seperti ini saja ia masih sempat-sempatnya menyalahkan dan tidak mau salah. Oke, baiklah. Sejenak—hanya sejenak Kala sempat berpikir bahwa memang ia yang salah sebelumnya. Tapi jika waktu berputar kembali, Kala berani bilang bahwa memang tidak ada yang salah. Salah satu berkata dengan jujur dan yang lainnya mengutarakan perasaan dengan jujur. Tapi, sungguh, Kala kesal. Dua orang yang sama sedang jujur dengan diri nya sendiri dan perasaan yang berbeda. Dua orang yang sama sedang mengutarakan apa yang memang seharusnya diutarakan.“Jadi maksudmu disini aku yang salah?”“Ngga gitu, Kal…” Adimas terlihat pasrah“Terus apa?”“Kamu salah paham.”Kala berdecak, bingun
Terhitung sudah satu hari Kala belum bertemu lagi dengan Adimas. Setelah terakhir Adimas menemui Kala ditempat kerja nya, berusaha menjelaskan—lebih tepatnya membela diri nya sendiri, Kala belum bertemu lagi. Adimas dan Kala sama-sama sepakat soal bagaimana menyelesaikan masalah, bahwa mereka hanya akan membahas nya secara langsung, tidak lewat chat, atau kalau sudah terdesak sekali baru lewat telfon. Dan jadilah, sejak kemarin Adimas dan Kala hanya berbasa-basi ringan menanyakan soal hari masing-masing.“Kal, ini film agak suram, ya. Curiga. Happy ending, kan?” Kala yang tengah sibuk memainkan gawai nya, terhenti, “Oh, itu juga nanti mati, Nay. Tokoh utama nya.” Kala berkata acuh, seakan tak menyadari bahwa barusan ia sedang membocorkan alur cerita nya dari film yang tengah di tonton. Gumpalan kertas kecil melayang mulus tepat mengenai dahi Kala, “Astaga, Kal. Gue baru nonton loh. Lo kebiasaan banget.”Kala tertawa puas, tanpa rasa bersalah ia membalikkan gumpalan kertas itu kearah
Ada dua hal dalam kehidupan Kala yang paling susah untuk Ia tolak. Matcha dan Naya. Untuk pilihan pertama, tidak perlu ditanya, Ia tidak akan menolak matcha jenis apapun, sekalipun itu pait. Untuk pilihan kedua, opsional. Tergantung suasana hati. Hari minggu yang tadinya tenang pun akan jadi berantakan saat notif di handphone nya memunculkan kontak Naya.“Nay, gue tuh lagi pengen me-time.” Perkataan tegas dari Kala tidak membuat Naya goyah, “Gue temenin ke toko buku ya ya ya, lo lagi galau kann?” Kala berdecak sebal, pagi-pagi sudah meributkan hal yang tidak penting dengan Naya di ujung telfon sana, kenapa kebanyakan orang selalu mengira bahwa me-time sama dengan galau? Yaa… walaupun bisa jadi juga? Tapi, ya, “Lo nyusulin gue, kontak lo gue block ya.” Penolakan sepihak. Tanpa menunggu jawaban dari Naya, Kala sudah lebih dulu mematikan telfon nya, berujung spam chat dari Naya.Kala menggelengkan kepala nya saat tiba-tiba teringat. Setelah mengitari beberapa rak buku, pandangan mata nya







