Share

Pamit

Author: Aeza
last update publish date: 2021-06-22 22:29:49

Isakan Kak Maya belum reda, ia bicara dengan suaminya melalui ponsel. Aku sudah di kamarku, bersama si kecil Mega yang telah terlelap.

Setelah makan malam yang sempat tertunda atas pengumuman rencana kepindahanku ke Semarang, kami kembali memutuskan untuk menyelesaikan acara makan malam keluarga yang rutin dilakukan paling tidak satu kali sebulan di rumah keluarga ini.

Kak Maya masuk ke kamarku, dia yang meminta untuk tidur denganku malam ini. Biasanya, kalau sedang berkunjung ke rumah dia akan tidur di kamarnya dahulu. 

“Aku sudah tidak ingat kapan terakhir kali kita tidur bareng?” tanya Kak Maya seraya mengusap kening putri kecilnya.

“Saat Kakak sudah punya pacar saat SMA dan enggak mau aku tau rahasia Kakak,” jawabku.

Kak Maya tersenyum sejenak.

“Karena anak kecil sepertimu sangat menyebalkan kalau soal rahasia,” sambungnya yang membuatku hampir tergelak.

Jarak umur antara aku dan Kak Maya lumayan jauh, aku lahir saat ia duduk di bangku kelas dua SMP. Dan kekepoaan anak kecil usia lima tahun melihat kakaknya senyum-senyum sendiri saat membaca sesuatu dari sepucuk kertas tidak bisa dibendung.

Mulai saat itulah ia tidak mau lagi tidur bersama denganku, kemudian tahun berikutnya ia harus merantau ke kota sebelah untuk kuliah. Jadilah kami berjarak sejak saat itu, walaupun kecerewetan Kak Maya tidak pernah hilang.

“Aku akan sering-sering menghubungimu,” ucapnya sambil merebahkan diri di samping Mega.

Aku ikut merebahkan diri.

“Selama ini kurang sering apa lagi, Kak?”

“Kali ini akan lebih sering.”

“Aku akan me-nonaktifkan ponselku.”

“Itulah masalahmu, Kana. Kenapa pengaturan panggilan dan pesan ponselmu selalu kamu heningkan. Kalau kamu mengangkat panggilan dan segera membalas pesanku, aku enggak akan secerewet itu.”

“Bukan Kana lho ya yang bilang Kak Maya cerewet.”

“Aku sadar diri, kok.”

Aku tergelak dengan pengakuan blak-blakan Kak Maya, membuat si kecil Mega merengek.

“Sorry.”

“Aku akan merindukan momen seperti ini,” ucap Kak Maya pelan sambil menepuk halus bahu putrinya.

Aku hanya mengangguk, kemudian memejamkan mataku, mencoba untuk tidur. 

***

Aku selesai memberesi semua barang-barang yang akan dikirim setelah aku menemukan tempat tinggal di Semarang nanti. Aku kemudian kembali ke ruang tamu, ruang paling depan rumah ini aku ingin merekam semuanya sebelum pergi.

Pada salah satu dindingnya masih ada foto pernikahan orang tuaku. Foto pernikahan yang baru terpasang setelah salah satu dari mereka pergi. 

Aku kemudian beralih ke ruang tengah, ruang keluarga yang penuh dengan kenangan. Terlebih kenangan itu tersemat pada barang-barang yang masih tersisa. Pada sisi kanan ruangan ada lemari kayu besar berisi koleksi keramik Ibu.

Salah satu keramik favoritku berbentuk gelas, sepasang gelas bertuliskan kata Mama dan Papa. Dahulu, keramik-keramik itu lebih banyak, sekarang beberapa ada yang rusak, tidak sengaja pecah saat keponakanku berkunjung dan bermain di ruang keluarga yang cukup luas untuk mereka berlarian.

Beberapa gelas keramik koleksi Ibu juga ada beberapa yang aku bawa ke dapur, aku gunakan untuk minum. Dengan minum dari gelas keramik koleksi Ibu aku berharap dapat menghadirkan sosoknya yang minum teh hangat bersamaku seperti dahulu.

Aku buka lagi kamar kedua orang tuaku. Akhir-akhir ini aku sudah jarang membuka kamar mereka, ada sesak yang tak mau aku hadirkan lama-lama. Aku segera beralih saat merasakan hangat pada mataku. Aku kemudian langsung beranjak ke dapur.

Selain ruang keluarga, dahulu kami sering berkumpul di dapur, terlebih karena Ibu sangat suka memasak. Ada hidangan yang tidak pernah lidahku lupakan, bahkan aku pernah tidak mau makan karena aku hanya ingin masakan Ibu. 

Saat sakit selera makanku tidak akan hilang, tetapi satu tahun setelah Ibu pergi, flu menyerangku di musim penghujan. Aku tidak mau makan saat itu, Kak Dinah sudah berusaha mati-matian, bahkan Ayah membelikan jajanan yang sering tidak diperbolehkannya. Aku tidak berselera makan, aku hanya ingin makan sup buatan Ibu saat itu.

Aku hampir menangis saat mengingat kenangan sop hangatku, tetapi segera kutahan dengan mengalihkan diri menyeduh teh dan memutuskan menghabiskan sore terakhirku sebelum bertolak ke Semarang besok di halaman belakang.

Aku menatap angelonia yang tumbuh tidak terkendali di kebun belakang yang sudah lama tidak terurus. Seperti itulah mungkin sel-sel kurang sehat yang berkembang tidak terkendali dalam otakku.

Saat aku kembali ke rumah ini untuk yang kesekian kalinya, angelonia sudah merambat ke mana-mana. Aku hanya sempat membersihkannya sedikit, ada beberapa pekerjaan yang membuatku tidak sempat menyentuhnya lagi. Beberapa mulai layu dan kering, tetapi tidak mengganggu tunas baru untuk tumbuh dan berbunga.

Senja menyapa dengan indah sore ini, sinarnya memberikan kesan bahagia saat terpantul pada dinding rumah, tetapi tidak lagi bisa menghangatkan suasana di dalamnya.

Sejak kepergian Ayah empat tahun lalu aku lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, hingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Vancouver sebagai pengisi hari-hari yang terasa kosong.

“Kota indah itu, semoga bisa kembali lagi ke sana,” gumamku pada angin sore yang mengembuskan udara panas. 

Cuaca hari ini konsisten, sejak pagi hingga sore hari cuaca tetap panas. Aku harus beberapa kali kembali ke kamar pribadiku untuk menikmati udara dingin dari kipas angin.

“Apa aku masih sempat keliling dunia seperti yang aku impikan, enggak perlu keliling dunia deh, keliling Eropa dan Asia cukup.” Aku bergumam sendiri dan tertawa sendiri.

Kemudian tawaku reda, ada semangat baru yang tiba-tiba muncul. Aku harus membaca situasiku. Aku perlu saran dari dokter baruku nanti di Semarang.

Sepertinya aku tidak akan mudah terlelap lagi malam ini, aku punya rencana baru dan harus menuliskannya agar lebih tenang. Sayangnya, semua peralatanku sudah tersimpan rapi dalam kardus-kardus cokelat yang sudah aku taruh di ruang tengah.

“Oke, Kana. Kamu bisa melakukannnya nanti saat semuanya sudah pasti. Kamu perlu bertemu dengan dokter barumu dan berkonsultasi, jangan gegabah.” Aku bergumam sekali lagi sebelum menandaskan teh tanpa gulaku sore ini.

***

Bang Ridwal akan mengantarku seperti yang ia katakan malam itu. Allisya terus merengek, sesekali memanyunkan mulutnya saat aku mencoba mendekat dan mencium pipinya.

“Lisya bisa susul kalo Tante sudah dapat tempat tinggal di sana,” bujukku sebelum mencium pipi tembebnya.

“Janji, ya! Awas kalo bohong,” sahutnya sambil menggembungkan pipinya.

“Iya janji. Nanti Alissya nyusul sama Mama, Kakak, Tante Diah, Bang Dian, Tante Maya dan Dede Mega. Jadinya rame, kan. Seru lho kalo jalan rame-rame.”

“Bener, ya!” Allisya kembali menatapku dengan matanya yang kesal-kesal manja.

“Iya, Sayang.” Dan sekali lagi aku mencium pipinya.

Aku selalu tidak bisa menolak kegemasan dari para keponakanku, walaupun sedikit usil dan kepo. Ya … sebelas dua belas lah ya sama kelakuanku waktu bocah yang penuh rasa ingin tahu yang kadang kebablasan. 

Bang Ridwan kemudian memeluk istrinya dan beralih pada si sulung Alifa yang selalu sibuk dengan ponsel pintar di tangannya akhir-akhir ini. Bang Ridwan kemudian menggendong Alissya yang sudah lari dari sekapanku barusan. Aku kemudian memeluk Kak Dinah dan Kak Puspa secara bergantian.

“Tante boleh peluk enggak nih?” tanyaku pada Alifa yang sudah memasuki usia remaja labil yang kadang enggak mau dipeluk di tempat umum.

“Boleh,” sahutnya singkat.

Aku mengambil ponselnya sebentar, kemudian memeluknya erat. Dia adalah musuh pertamaku dalam keluarga. Anak bungsu versus cucu pertama, itulah hubungan kami awalnya. Seiring waktu makin banyak kemiripan yang aku temukan padanya. Perhatiannya hanya teralihkan sebentar saat bermain ponsel, selebihnya dia penyuka buku sepertiku. 

“Jangan kebanyakan maen HP, Kak.”

“Tante enggak kasih izin Ifa baca novel-novel Tante sih,” sahutnya santai, kemudian mengambil kembali ponselnya.

Aku tersenyum mendengar kalimatnya. Aku pernah memperingatkannya untuk tidak sembarangan mengambil koleksi buku-bukuku di rumah. Aku tidak mungkin membiarkan rivalku dalam keluarga itu membaca buku yang bukan untuknya. Sejak dia kedapatan membaca novel fantasi berating 16 plus, aku tidak pernah lagi menaruh buku-bukuku seenak jidat di luar kamar.

Setelah berpamitan, aku dan Bang Ridwan segera check in dan melalui pemeriksan yang hanya memberikan antrean pendek. Pesawat yang akan membawa kami ke Semarang telah tiba dari Jakarta satu jam yang lalu. Tidak perlu menunggu lama di bandara kota kecilku ini, setelah masuk ruang tunggu, pemberitahuan keberangkatan ke Semarang telah menggema.

Bang Ridwan kemudian menggenggam tanganku saat pesawat lepas landas.

“Jangan sedih lagi, ya.”

Aku mengangguk sebagai jawaban atas nada cemas yang dia lontarkan barusan. Dia paling tahu bagaimana akhirnya aku bisa mengeluarkan air mataku, tidak jauh-jauh. Kaitkanlah segala sesuatu dengan Ibu, Ayah, dan Semarang. Asal bukan di depan orang banyak, terutama di depan Kak Diah dan Kak Maya, aku akan selalu menangis. Aku kebanyakan menangis sendiri, dan di saat-saat itulah Bang Ridwan selalu ada. Namun, tentu saja Bang Ridwan tidak tahu kalau dia termasuk orang yang bisa membuatku bersedih, bahkan menangis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Desember Ke-30   Halaman Kosong yang Menanti

    "Aroon," bisikku pelan, menyebut nama itu tanpa ada rasa sakit yang menyayat atau rasa rindu yang membakar dada seperti beberapa bulan lalu.Ponsel di tanganku bergetar sekali lagi, memaksa jariku yang sempat membeku untuk bergerak membuka aplikasi pesan singkat. Di dalam layar yang berpendar terang, sebuah foto berukuran sedang terkirim langsung dari Chiang Mai, menampilkan secangkir teh panas dengan kepulan uap tipis di atas meja kayu tempat kami pernah duduk berdampingan, disusul oleh sebuah teks singkat yang diketik rapi.“Teh sore ini rasanya agak hambar karena diminum sendirian, Kana. Tapi buku memoarmu berhasil membuatku tersenyum bangga di kedai ini. Selamat atas terbitnya babak baru dalam hidupmu.”Aku menatap kalimat itu selama beberapa detik, merasakan kehangatan yang menjalar di dada, bukan lagi karena sisa-sisa asmara masa lalu, melainkan karena sebuah pengakuan bahwa kami berdua telah berhasil b

  • Desember Ke-30   Menutup Layar

    "Dunia terus berputar dengan indahnya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar menjadi bagian darinya tanpa ada rasa tertinggal," bisikku pelan pada diri sendiri sambil menyesap kopi hitam yang mulai mendingin di tangan kananku.Angin sore berembus lembut, menerbangkan beberapa helai rambutku ke depan wajah. Aku merapikannya dengan punggung tangan, lalu merogoh saku mantel untuk mengambil ponsel pintar yang sejak tadi bergetar pelan di dalam sana. Sebuah notifikasi layar kunci menyala terang di tengah redupnya cahaya senja taman kota.Nama yang tertera di sana membuat jantungku sempat berdetak satu ketukan lebih cepat, sekadar refleks dari masa lalu yang belum sepenuhnya menguap dari memori.Aroon.Hanya satu kata itu, tetapi cukup untuk membuat duniaku mendadak berhenti berputar selama beberapa detik. Jariku ragu-ragu di atas layar kaca yang licin. Napas tertahan di ten

  • Desember Ke-30   Pesan Terakhir dari Chiang Mai

    "Hasil evaluasi terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa, Kana. Tidak ada lagi sisa inflamasi, jaringan parut di area pembedahan merespons dengan sangat baik, dan dari segi memori jangka pendek, grafik pemulihanmu sudah mencapai titik stabil seratus persen," ucap Dokter Acha mantap sambil menutup map rekam medis berwarna biru di atas meja praktiknya, lalu tersenyum lebar menatapku.Aku menghela napas panjang, merasakan beban tak kasat mata yang selama berbulan-bulan bersemayam di pundakku seketika menguap begitu saja ke udara. "Jadi, artinya saya benar-benar bebas sekarang, Dok? Tidak perlu lagi minum obat penenang atau datang ke sini setiap dua minggu sekali?""Secara medis, kamu sudah resmi dinyatakan bebas tugas dari pengawasan ketatku," jawab Dokter Acha tertawa kecil, melepas stetoskopnya dan menggantungkannya di kursi. "Tetapi ingat, bebas bukan berarti boleh begadang menulis sampai subuh setiap hari. Pola tidur tetap h

  • Desember Ke-30   Peluncuran Memoar

    "Baiklah, Kak, aku mengaku salah. Besok pagi-pagi sekali aku akan langsung datang ke klinik Dokter Acha untuk melakukan pemeriksaan terakhir sesuai jadwal," kataku cepat, mencoba meredam omelan panjang Kak Dinah yang sudah siap melebar ke mana-mana."Bukan cuma besok pagi, Kana. Kirimkan pesan padaku begitu kamu keluar dari ruangan dokter, atau aku akan menelepon Bang Ridwan untuk terbang langsung ke Semarang sekarang juga!" ancam Kak Dinah setengah bercanda, meskipun sorot matanya menunjukkan keseriusan mutlak."Iya, bosku yang paling cerewet. Aku pasti kabari. Titip cium untuk keponakan-keponakanku di sana ya," balasku sebelum akhirnya melambaikan tangan dan mengakhiri sambungan video call tersebut.Keesokan paginya, suasana di klinik Dokter Acha terasa jauh lebih tenang dibandingkan kunjungan-kunjungan sebelumnya. Tidak ada lagi debar jantung yang mencemaskan atau ketakutan setengah mati menghadapi pisau bedah. Langka

  • Desember Ke-30   Kunjungan Keluarga Besar

    Layar ponsel di atas meja kerja bergetar sekali lagi, menampilkan panggilan video masuk dari Kak Dinah. Tanpa ragu, aku langsung menggeser ikon hijau di layar untuk mengangkatnya, menyambut wajah kakak perempuanku yang kini terpampang jelas dengan latar belakang ruang keluarga mereka di Kalimantan. Suara riuh rendah keponakanku terdengar bersahut-sahutan di belakang, menciptakan suasana rumah yang hidup dan hangat meskipun terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer."Kana! Akhirnya kamu angkat telepon juga! Kamu ini dari mana saja, hah? Baru sampai rumah langsung menghilang seperti hantu!" seru Kak Dinah langsung memberondongku dengan nada khasnya yang selalu terdengar panik sekaligus penuh perhatian.Aku tersenyum lebar sambil merapikan helaian rambutku yang sedikit berantakan akibat perjalanan udara yang panjang. "Aku baru saja meletakkan koper, Kak. Belum sempat melepas sepatu, ponselku sudah bergetar karena panggilan dariku ini. Kenapa waja

  • Desember Ke-30   Lembaran Baru di Meja Kerja

    Begitu pintu utama tertutup rapat di belakangku, aku langsung meletakkan koper hitam di sudut ruangan dan berjalan menuju ruang kerja. Aroma kayu tua dan kertas buku yang khas langsung menyapa indra penciumanku, seolah menyambut kepulanganku setelah sekian lama berkelana mencari jawaban. Layar laptop di atas meja tampak mati, berdebu tipis, menunggu disentuh kembali oleh jemariku yang kini terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.Tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk di kepala, tidak ada lagi bayangan-bayangan samar tentang masa lalu yang menghantui setiap malam panjangku. Operasi itu telah mengambil beberapa potongan kenangan, tetapi membiarkan ruang yang jauh lebih luas bagi kedamaian untuk tumbuh. Aku duduk di kursi kerjanya, menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol daya pada laptop. Layar menyala terang, menampilkan draf-draf kosong yang siap diisi dengan lembaran baru kehidupan.Ponsel di samping meja bergetar pelan, memecah keh

  • Desember Ke-30   Pindah

    “Ke Semarang. Kana rencananya ingin pindah ke Semarang.” Akhirnya aku mengatakannya juga, setelah berlatih beberapa hari mengucapkan kalimat tersebut di depan cermin, akhirnya aku mengatakannya tanpa berlinang air mata. Keputusan kali ini lebih berat, walaupun aku pergi tidak lebih jauh d

  • Desember Ke-30   Menelusuri Jejak Kenangan

    Kami hanya menaruh barang-barang di kamar ketika sampai di hotel, karena keinginan ketiga keponakanku tidak bisa ditolak lagi, mereka sudah ingin cepat-cepat diajak jalan. Setelah dibujuk agar lebih tenang untuk ukuran anak-anak dan remaja, barulah kami melanjutkan perjalanan.Bang R

  • Desember Ke-30   Memilih Hunian Baru

    Keesokan harinya seperti janji Bang Nanda kemarin, pukul delapan pagi dia sudah sampai di hotel tempatku dan Bang Ridwan menginap. Bang Ridwan masih duduk menikmati kopi paginya bersama sepotong roti di restoran hotel. Aku menghampiri Bang Nanda di tempat parkir dan mengajaknya untuk sarapan.&nbs

  • Desember Ke-30   Jangan Nangis Lagi, Ya

    Kurang lebih dua jam kemudian aku dan Bang Ridwan sampai di Semarang. Banyak perubahan pada bandara ini, dahulu saat pertama kali melangkahkan kaki di Semarang, bandara ini masih kecil. Saat menunggu antrean bagasi, aku segera menghubungi Bang Nanda–teman yang aku kenal dari dunia maya kare

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status