LOGIN"Kita putus!" Malam itu, hubungan yang dijalani selama empat tahun oleh Jena harus berakhir. Dikarenakan Aran yang memilih sahabat Jena, Sasha. Membuat seorang duda keren, bernama Brian, mulai mendekati Jena. Baru saja Jena terbawa angan-angan untuk membersamai Brian, ibunya malah menerima lamaran dari Viar, anak sahabat ayahnya. Jena yang mendapat perlakuan baik dari Brian pun bingung. Tapi, di lain sisi dia meminta ayahnya untuk membatalkan lamaran itu. Lantas, setelah lamaran Viar dibatalkan, ujian untuk hubungan Jena dan Brian pun tetap ada. Riana, mantan istri Brian yang tiba-tiba muncul kembali untuk menghancurkan hubungan keduanya. Tapi, Brian selalu mengusahakan cintanya. Sesuatu terjadi pada saat Brian akan melamar Jena. Namun, akhirnya mereka tetap bersama hingga akhir.
View MoreJena menelan salivanya, dia menyentuh tangan ayahnya. “Ayah, ayah harus dioperasi untuk pengangkatan tumor. Aku janji, besok ayah akan langsung dioperasi dan setelah itu kita akan pulang. Ya?” Padahal Jena belum mendapatkan uang tiga ratus juta. Tapi, berjanji dengan begitu yakin di hadapan ayahnya? Ayah menatap Jena iba, beliau sebenarnya tahu bahwa mana mungkin putrinya memiliki uang sebanyak itu. Jadi, “Je … kematian itu sudah kodratnya manusia. Bagaimana pun cara kamu menghalangi, tidak akan bisa memengaruhinya.”Jena merasakan matanya kembali memanas. Namun, dia berusaha menahannya. “Ayah, ngomong apa, sih? Kok ngomongnya gitu?”“Je—”Jena terisak. “Ayah, nggak mau lihat Jena bahagia dulu? Ayah, nggak mau lihat Jena menikah dengan siapa gitu?” Jena berbicara dengan suara tertahan. “Kalau ayah pergi sekarang, terus Jena temukan pria yang salah, apa ayah senang?”Ayah tersenyum, namun satu air matanya lolos. Tangannya membelai rambut anaknya. “Nggak, ayah nggak akan meninggalkan J
Namun, di sela-sela lamunannya, perawat segera bertanya, “Bagaimana, Mbak? Sudah ditandatangani?”Jena menggeleng pelan. “Sus, emangnya nggak bisa dilakukan operasinya dulu? Saya janji bakal bayar semuanya, yang penting segera lakukan tindakan secepatnya.” Dia menggigit bibir bawahnya sambil meremas kuat berkas yang tengah digenggamnya saat beberapa orang di sana menatapnya iba.Perawat menghela nafasnya. “Maaf, Mbak. Kita hanya mengikuti prosedur.” Bahu Jena merosot, dia segera memberikan berkas itu kembali di atas meja. Lalu, melangkah pergi yang tujuannya pun dia tidak tahu. Kakinya berjalan di atas koridor panjang dengan lemas. Kemana lagi dia harus mencari uang tiga ratus juta itu? Pelupuk mata Jena kian memanas. Dia menutup wajahnya saat melewati beberapa orang. Dia tidak boleh menjual tangisnya. Sesusah apapun itu.Langkahnya telah sampai di sebuah kursi panjang dekat taman rumah sakit. Dia terduduk sambil menatap layar ponselnya. Siapakah yang bisa dia hubungi saat ini?Ibu.
Seseorang dengan jas putih andalannya, seorang dokter muda itu segera duduk di kursinya. “Dengan keluarga Pak Robi?”Jena segera bangkit dari tempatnya dan duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter itu. “Iya, Dok. Saya anaknya.” Jena menoleh sebentar, menatap ayahnya yang tengah menahan sakit sambil memegangi lehernya. “Ayah saya sakit apa, Dok?”Dokter berdehem sebentar, meletakkan kedua tangannya di atas meja. Dia mendekatkan wajahnya dan menatap Jena lurus. “Belum. Saya belum bisa memberikan jawaban pastinya, karena kami belum melakukan pengecekan secara keseluruhan. Namun …” Dokter membenarkan sebentar kacamatanya. “Kenapa, Dok?” Jena merasakan degup jantungnya semakin cepat. Apalagi, saat raut wajah dokter berubah.“Namun, dari riwayat batuk yang lama, benjolan di lehernya, kesusahan menelan, itu suatu gejala … tumor tenggorokan.”Deg!Jena menahan nafasnya. Mulutnya terbuka dengan mata yang terbelalak. Dia menoleh sebentar pada ayahnya, sebelum kembali menatap Dokter dengan
Jena mengangguk pelan. Dia mengerti sekarang. Jadi, Brian cemburu, kan? Yang artinya … lelaki itu masih mengejarnya seperti kemarin-kemarin, kan? Jena menahan senyum sambil mengangkat wajahnya tinggi. “Memangnya kenapa? Suka-suka ak—”Seharusnya Jena tidak menantang lelaki itu. Jena menyesalinya, tapi juga menikmatinya mungkin? Dia merutuki dirinya yang diam saja saat bibir itu melumat habis bibirnya. Dia memaki dirinya tatkala permen karetnya sudah direbut oleh lidah lelaki itu. Dia juga terdiam saja saat wajah itu sudah menjauh sambil mengunyah permen karet sisanya.“Sudah aku peringatkan, tapi kamu malah menantang. Jadi, terima akibatnya.” Perkataan itu beriringan dengan langkah Brian yang mulai berjalan mendekati pintu. Dia menghentikan langkahnya sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar. “Pulangnya aku anter, ya.” Bukan pertanyaan, melainkan ucapan yang tidak bisa ditawar. Jadi, Jena hanya menghembuskan nafas gusarnya. Namun, matanya melotot seketika saat daun pintu yang belum d


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.