LOGINAku lebih banyak diam selama satu jam perjalanan dari Den Haag menuju Lisse, aku menjadi salah tingkah saat berada di dekat Coksa.
Bus yang melesatkanku dan Coksa tiba pukul 20:27 di Lisse. Langit belum sepenuhnya gelap, jingga masih menggantung di langit saat aku dan Coksa berjalan kaki menuju penginapan. Olahraga ringan sore itu cukup menutupi wajah memerahku karena tersipu dengan ucapan dan perlakuan Coksa beberapa jam lalu.
Keesokan harinya aku dan Coksa tidak menunda-nunda
"Kana, saya serius." Suara Dokter Acha memotong cepat, nadanya mengeras di ruang periksa yang berbau antiseptik. "Operasi otak bukanlah prosedur cabut gigi. Jaringan di kepala Anda baru saja pulih dari trauma besar. Kalau Anda terus memaksa memori yang hilang itu kembali dengan cara merusak pola istirahat, yang hancur bukan cuma naskah novelmu, tapi kewarasanmu sendiri."Aku menunduk, menatap jemariku sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. "Aku tidak sedang merusak diri sendiri, Dok. Aku hanya... mencoba mencari bagian dari diriku yang tertinggal.""Bagian yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan?" Dokter Acha menatapku tajam, melemparkan pertanyaan telak yang langsung menghantam ulu hatiku. Ia melipat berkas rekam medis di depannya dengan suara deheman keras. "Dengar, Kana. Otak manusia punya mekanisme pertahanan diri yang luar biasa. Kalau ada memori atau nama yang terasa kabur, itu artinya tubuhmu sendiri yang menolak untuk mengin
"Mana bisa kamu bilang tidak apa-apa kalau tanganmu masih gemetar saat mengetik, Kana?" tegur Kak Nanda tajam, berdiri di ambang pintu kamar sambil melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi tidak terima.Aku mendengus pelan, menarik tangan kananku dari atas meja dan menyembunyikannya di balik selimut putih yang menutupi kakiku. "Tanganku gemetar karena kopi tadi terlalu pahit, Kak Nanda, bukan karena naskah ini. Lagipula, paragraf terakhirnya tinggal dua kalimat lagi selesai. Kalau aku berhenti sekarang, rasanya seperti menggantung nasib orang lain."Dila yang duduk di kursi sudut kamar langsung mendengus keras, melempar gulungan tisu bekas ke tempat sampah. "Nasib orang lain kepalamu puyeng! Tokoh utama di novelmu itu kamu sendiri, Kana! Mau dibikin menderita sampai bab berapa lagi sih? Sadar diri sedikit, kamu baru saja keluar dari meja operasi otak sebulan lalu!""Justru karena aku baru selesai operasi, aku haru
Layar ponsel yang telungkup di atas meja nakas mendadak bergetar hebat, memecah lamunanku yang terantuk pada sisa-sisa aroma teh hangat dan suara tawa Kak Nanda yang masih menggantung di ruang tamu. Aku menatap benda pipih itu dari tepi ranjang, merasakan debar yang sama persis seperti saat pertama kali aku menjejakkan kaki di Bangkok tanpa peta, tanpa arah, dan tanpa mengenali siapa pun kecuali bayangan seorang pria berwajah teduh yang menawarkan payung lipat di tengah guyuran hujan sore yang kejam."Dek, kamu melamun lagi? Itu tehnya diminum, nanti keburu pait," suara Kak Dinah mendadak muncul di ambang pintu, membawa handuk kecil kering yang ia sangkutkan di bahunya. Wanita itu melangkah masuk, tatapannya langsung menembus mataku yang basah oleh bayangan semu yang baru saja berputar di kepala. "Jangan bilang kamu lagi mikirin Aroon lagi? Sudah, operasi kamu sudah selesai. Fokus sembuh dulu.""Aku nggak mikirin dia, Kak. Cuma... bayanganny
Suara ketukan pintu depan yang bergesek pelan memecah keheningan sore di ruang tamu rumahku. Belum sempat aku bangkit dari sofa empuk tempatku meringkuk, suara suara riuh sudah menerobos masuk."Kana! Sini kamu, jangan coba-coba sembunyi!" teriak suara melengking yang sangat familier, langsung disusul oleh derap langkah cepat yang mendekati ruang tengah.Kak Nanda dan Dila muncul dari balik tirai pembatas ruangan dengan tangan penuh kantong plastik berlogo supermarket lokal dan beberapa kotak makanan beraroma harum. Kak Nanda langsung meletakkan bawaannya di atas meja kopi dengan bunyi debuman kecil, sementara Dila langsung merentangkan tangan dan memelukku erat-erat tanpa aba-aba."Aduh, Dila, pelan-pelan. Tulang rusukku masih penyesuaian sama gravitasi," gerutuku setengah berbisik, meski aku tetap membalas pelukan hangat sahabatku itu dengan sebelah tangan."Biarin aja! Abisnya kamu ditelepon susah
Layar ponsel pintar di tanganku menyala terang, memantulkan cahaya putih ke wajahku yang masih pucat akibat sisa-sisa pemulihan operasi. Jari telunjukku bergetar pelan di atas layar sentuh, ragu-ragu menekan tombol kirim aplikasi pesan instan yang sudah terbuka sejak lima menit lalu. Di dalam kolom chat itu, sebuah kalimat pendek telah tersusun rapi: Aku sudah selesai operasi. Semuanya berjalan lancar. Tujuan pengirimannya jelas: Aroon. Pria yang selama beberapa bulan terakhir mengisi sebagian besar ruang di kepala, hati, dan bahkan draf novel terbaruku."Dek, supnya keburu dingin kalau kamu terus-menerus melototin HP itu," suara Kak Dinah terdengar dari ambang pintu kamar, membawa mangkuk keramik berisi uap panas yang mengepul tipis. Langkah kakinya mendekat, lalu ia meletakkan mangkuk itu di atas meja nakas tepat di sebelah laptop perak yang tertutup rapat. "Siapa sih yang ditungguin balesannya sepagi ini? Aroon?"Aku buru-buru mematikan l
Layar ponsel pintar di tanganku menyala terang, memantulkan cahaya putih ke wajahku yang masih pucat akibat sisa-sisa pemulihan operasi. Jari telunjukku bergetar pelan di atas layar sentuh, ragu-ragu menekan tombol kirim aplikasi pesan instan yang sudah terbuka sejak lima menit lalu. Di dalam kolom chat itu, sebuah kalimat pendek telah tersusun rapi: Aku sudah selesai operasi. Semuanya berjalan lancar. Tujuan pengirimannya jelas: Aroon. Pria yang selama beberapa bulan terakhir mengisi sebagian besar ruang di kepala, hati, dan bahkan draf novel terbaruku."Dek, supnya keburu dingin kalau kamu terus-menerus melototin HP itu," suara Kak Dinah terdengar dari ambang pintu kamar, membawa mangkuk keramik berisi uap panas yang mengepul tipis. Langkah kakinya mendekat, lalu ia meletakkan mangkuk itu di atas meja nakas tepat di sebelah laptop perak yang tertutup rapat. "Siapa sih yang ditungguin balesannya sepagi ini? Aroon?"Aku buru-buru mematikan l
Vancouver adalah kota yang bisa memberikanku dua pemandangan sekaligus, laut dan pegunungan. Aku sangat suka laut, mungkin karena aku tinggal di daerah pesisir, laut selalu membuatku rindu. Saat menyapa laut, aku bisa berubah menjadi anak kecil yang kegirangan mengejar dan berlari bersama ombak y
Aku melirik penunjuk waktu pada ponsel, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bang Nanda minta ditemani minum kopi sekitar jam setengah sepuluh malam, setelah dia selesai kerja. Aku segera mengirim pesan padanya kalau aku sudah tiba di kafe tempat kami janjian.Beberapa menit kemudia
Aku bertemu dengan Dokter Acha untuk melakukan pemeriksaan ulang di Semarang. Sesuai saran Dokter Tanto, aku bisa memercayakan proses pengobatanku pada dokter cantik di depanku ini.“Diameternya masih tidak terlalu besar, tapi dari letaknya bisa saja mengganggu fungsi kelenjar pineal
Tidak ke Yogyakarta namanya kalau tidak menelusuri jalanan Malioboro. Bang Ridwan membawa kami ke jantung Kota Yogyakarta itu untuk menikmati makan malam di warung lesehan, mencicipi gudeg yang kata Kak Puspa bikin kangen. Makin malam, jalan makin ramai, karena jalan makin penuh dengan pengunjung







