LOGINFerdi menatap Lady dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan cepat. "Papa bilang mundur.""Mundur?" Lady menggeleng. "Tapi kamu sudah terlanjur bilang ke mereka—""Lady." Suara Ferdi sudah berubah nada, lebih rendah, lebih datar. "Bapak bilang ada masalah di saham perusahaan kita sekarang. Entah kenapa tiba-tiba ada tekanan. Ini bukan waktu yang tepat untuk buat masalah baru."Lady memandangi Ferdi, lalu ke arah Victoria, lalu kembali ke Ferdi. "Jadi kamu mau biarkan dia menang? Karena saham? Ferry, ini tentang harga diri—""Ini tentang perusahaan keluargaku," kata Ferdi, dan kali ini ada tepi dalam suaranya yang tidak ada sebelumnya. "Bukan harga dirimu."Lady terdiam."Kakek menelepon juga," lanjut Ferdi lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dua kali."Di sudut ruangan, staf franchise yang sudah dari tadi berdiri dengan ekspresi orang yang ingin ada di tempat lain memilih saat ini untuk mulai membereskan dokumen di atas meja.Lady menoleh ke Victoria dengan tat
Victoria berdiri."Lady." Suaranya tidak naik, tidak gemetar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak terdengar tadi. "Saya tidak pernah melakukan apapun kepadamu.""Oh betulkah?" Lady menoleh dengan ekspresi yang sudah disiapkan. "Kamu ingat waktu SMA? Kamu dan keluarga Kivlanmu yang terkenal itu, semua orang berlomba-lomba dekat sama kamu. Dan aku? Aku tidak ada artinya di matamu.""Saya tidak pernah menginjakmu, Lady.""Tidak mengajakku bergabung sama saja dengan menginjak.""Saya tidak mau berteman dengan orang yang suka menjatuhkan siswa yang lebih lemah," kata Victoria. "Itu alasan saya menjaga jarak. Bukan karena keluargamu atau keluargaku. Tapi karena caramu memperlakukan orang lain."Lady mengeluarkan suara kecil. "Itulah. Merasa dirinya lebih baik dari semua orang.""Saya tidak merasa lebih baik. Saya tidak suka melihat orang diperlakukan buruk.""Itu sama saja." Lady berpaling ke staf franchise. "Jadi, Mas, bagaimana? Kami ambil semua kuota."Staf franchise itu melirik ke V
Pagi ini belum genap pukul enam ketika dua prajurit yang bertugas di dalam mobil pengawasan mereka dikejutkan oleh suara ketukan di kaca jendela sisi pengemudi.Bukan ketukan keras. Justru sangat pelan, hanya dua ketukan ringan dengan buku jari. Tapi di tengah keheningan gang sempit yang masih gelap dan di antara dua prajurit yang sudah menghabiskan semalam bergantian tidur setengah waspada, dua ketukan itu terasa seperti sirene.Prajurit yang duduk di kursi pengemudi, yang kebetulan sedang tidak tidur, memutar kepala ke arah jendela.Dan langsung menegakkan tubuhnya.Di luar jendela, berdiri Kevin. Tangan satu di saku, tangan lainnya baru saja selesai mengetuk, ekspresinya tenang seperti orang yang mengetuk pintu tetangga untuk meminjam garam.Prajurit di kursi penumpang yang tadinya setengah mengantuk langsung duduk tegak begitu melihat rekannya bereaksi.Kaca jendela diturunkan."Selamat pagi," kata Kevin.Dua prajurit itu menatapnya tanpa segera menemukan kata-kata yang tepat. Di
"Beliau adalah ketua dari keluarga Salim. Putranya adalah menteri aktif. Ini bukan tawaran biasa, kami ingin bisa menghubungimu untuk mengucapkan terima kasih secara layak. Ada hadiah yang—""Tidak perlu hadiah," kata Kevin. Suaranya tidak kasar, tapi tidak membuka ruang diskusi.Marcos menatapnya. "Kami tidak bisa membiarkan jasa seperti ini berlalu begitu saja tanpa—""Saya ada keperluan lain," kata Kevin. "Permisi."Marcos tidak menghalangi langkahnya kali ini.Kevin keluar dari kamar 712, melewati penjaga yang masih berdiri di luar dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi di dalam, dan berjalan kembali ke arah koridor menuju bangsal C lantai tiga.---Bu Ratna sudah duduk di tepi ranjangnya saat Kevin tiba, sudah mengenakan baju yang dibawa Sarah dan sudah memegang tas kecilnya di pangkuan dengan ekspresi orang yang sudah siap keluar dari rumah sakit sejak setengah jam lalu tapi masih menunggu proses administrasi."Lama sekali," kata Bu Ratna
Dari dekat, yang Kevin rasakan bukan sekadar tubuh orang tua yang sakit.Ada sesuatu di dalam sana yang berbeda dari kondisi medis biasa. Sesuatu yang sudah lama Kevin pelajari untuk dibedakan dari kerusakan fisik murni, semacam distorsi yang terasa seperti nada yang salah dalam simfoni yang seharusnya terdengar dengan cara tertentu. Tubuh manusia memiliki ritmenya sendiri yang bisa dibaca oleh seseorang yang cukup terlatih, dan ritme Richard Salim sudah lama terganggu bukan oleh kerusakan organ tapi oleh sesuatu yang lebih dalam dan lebih tua dari itu.Kevin menutup matanya.Dengan hawa murni yang mengalir keluar dari tangannya yang berada beberapa sentimeter di atas dada sang pasien, dia mulai memetakan apa yang sebenarnya terjadi.Penyakitnya bukan di paru-paru meski gejalanya kadang menyerupai masalah pernapasan. Bukan di jantung meski monitornya kadang mencatat irama yang tidak teratur. Bukan di ginjal meski beberapa hasil darah menunjukkan angka yang tidak normal.Di bawah semu
Rumah sakit pada pagi hari selalu punya ritmenya sendiri. Lorong-lorong yang mulai ramai dengan langkah perawat dan kereta dorong, bau antiseptik yang bercampur dengan aroma sarapan dari kafetaria lantai bawah, dan suara-suara rendah yang menggantung di udara seperti lapisan kabut yang tidak kemana-mana.Kevin berjalan di samping Sarah menuju bangsal perawatan tempat Bu Ratna menunggu kepulangannya. Sarah membawa kantong plastik berisi pakaian ganti dan beberapa makanan kesukaan Bu Ratna yang sudah disiapkan sejak semalam, melangkah dengan ringan seperti orang yang sudah lama menunggu hari ini.Mereka melewati sebuah koridor yang menghubungkan bangsal biasa dengan sayap VVIP di sisi timur gedung. Koridor itu lebih sepi, lebih tenang, dengan pencahayaan yang sedikit lebih redup dan karpet tipis di lantainya yang meredam suara langkah.Kevin memperlambat langkahnya.Bukan karena ada yang menghalanginya. Bukan karena sesuatu yang terlihat. Tapi di balik salah satu pintu kamar VVIP yang
Kevin terus menggenjot Sarah dengan ritme yang stabil dan penuh perhitungan dalam gaya *spooning*. Tangannye melingkari pinggang Sarah, menariknye semakin erat ke tubuhnye, memastikan setiap dorongan mengenai titik kenikmatan Sarah. Bibirnye mengecup leher Sarah, menjilat telinganye, membisikkan ka
Di kamar kost sederhana Kevin di Kota Alfa, suasana malam terasa hangat dan penuh makna. Sarah, gadis berusia 23 tahun dengan rambut panjang bergelombang dan mata cokelat lembut, berdiri di depan Kevin. Berkat rancangan mahkota dinasti Tang yang Kevin buat khusus untuknya—lengkap dengan detail uki
"Ini..." Suaranya, yang tadi tajam dan terlatih, sekarang terdengar seperti milik orang yang berbeda. "Ini tidak mungkin." Dia menatap gambar itu lagi, mendekatkan wajahnya ke kertas. "Ini rancangan mahkota raja dari Dinasti Tang yang hilang. Yang asli. Ini bukan reproduksi, bukan interpretasi mode
Kantor pusat perusahaan Rosamund berdiri di salah satu gedung komersial tiga lantai di kawasan pusat bisnis Kota Alfa. Lobi lantai dasarnya sudah penuh dengan para peserta penilaian saat Sarah tiba, perempuan dan laki-laki dengan map di tangan dan ekspresi yang mencerminkan berbagai tingkat keperca







