Share

7 Sarah

Author: Lembean
last update publish date: 2026-05-11 16:46:19

Lobi hotel menyambut dengan lampu kristal yang terlalu terang untuk jam sepagi ini. Petugas resepsionis yang masih muda itu melirik ke arahnya dengan ekspresi sedikit terkejut, mungkin tidak biasa melihat tamu keluar membawa semua bawaannya sebelum waktu check-out normal. Kevin mengangguk sekilas ke arahnya dan melangkah keluar ke udara pagi kota Alfa.

Jalanan masih sepi. Langit berwarna abu-abu muda dengan semburat merah di ujung timur. Udara laut yang dingin menyapu wajahnya begitu dia melewa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   10 Berkunjung di Rumah Keluarga Kivlan

    Pagi itu udara rumah kost Bu Ratna masih basah oleh embun ketika Kevin keluar dari kamarnya dengan ransel kecil di punggung. Dia tidak membawa banyak. Hanya yang perlu.Sarah sudah berdiri di halaman kecil itu, di samping sebuah motor bebek tua berwarna merah yang sudah kehilangan sebagian kilap catnya. Motor itu bersih meski sudah berumur, seperti sesuatu yang dirawat dengan baik bukan karena nilainya tapi karena memang terbiasa merawat apa yang dipunya."Ini motor Bu Ratna," kata Sarah, menyodorkan kunci ke arah Kevin. "Saya sudah telepon Beliau tadi pagi. Dokter bilang hasil pemeriksaan terakhir tidak menunjukkan sel kanker sama sekali. Beliau tinggal menunggu satu check up lagi sebelum boleh pulang." Dia berhenti sebentar, senyumnya muncul dengan cara yang tidak direncanakan. "Tadi Beliau lebih banyak nanya tentang Mas Kevin daripada soal jadwal kepulangannya sendiri."Kevin menerima kunci itu. "Terima kasih.""Bu Ratna yang bilang supaya saya siapkan semua yang Mas butuhkan." Sar

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   9 Tinggal di Rumah Kos

    Bu Ratna batuk lebih keras. Dan kemudian, dengan suara yang membuat Sarah menghela napas tajam dari dekat pintu, beliau memuntahkan sesuatu ke mangkuk yang selalu tersedia di meja samping ranjang. Sesuatu yang berwarna gelap, dan yang bau serta tampilannya membuat Sarah melangkah cepat ke depan."Mas Kevin, apa yang-""Jangan ganggu."Suara Kevin keluar tenang dan tanpa drama, tapi cukup untuk membuat Sarah berhenti.Satu menit lagi. Dua menit. Bu Ratna batuk beberapa kali lagi, dan setiap kali ada sesuatu yang keluar, sedikit lebih sedikit dari sebelumnya, seperti proses yang sedang mendekati akhirnya.Kemudian semuanya berhenti.Kevin membuka matanya. Dia menarik napas dalam sekali, merasakan kelelahan yang sudah dia kenal, kelelahan yang selalu datang setelah menggunakan hawa murni terlalu banyak sekaligus. Tapi tidak parah. Bu Ratna bukan kasus yang sudah melampaui titik di mana tenaganya tidak cukup.Bu Ratna terbaring dengan napas yang terdengar berbeda. Lebih bersih. Lebih lapa

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   8 Membantu dengan Cara Lain

    Mobil Sarah ternyata sebuah van kecil berwarna putih kelabu yang sudah cukup berumur, dengan stiker tanaman kecil yang ditempelkan di sudut kanan bawah kaca depan dan gantungan kunci berbentuk bintang laut yang tergantung di spion tengah. Kevin menaruh ransel dan kopernya di bagasi belakang yang tidak terlalu besar itu, lalu duduk di kursi penumpang depan.Interiornya bersih meski tidak mewah. Ada buku catatan kecil yang terjepit di antara kursi dan konsol tengah, dan satu botol air minum setengah penuh di cup holder.Sarah memasang sabuk pengamannya, menyalakan mesin, dan mobil itu melaju keluar dari pinggir jalan."Mas baru di kota ini?" tanyanya sambil menatap ke depan, mengarahkan setir ke jalanan yang masih belum terlalu ramai."Orang lama," jawab Kevin. "Tapi sudah enam tahun tidak di sini. Baru pulang tadi malam."Sarah mengangguk. "Pantas saya tidak pernah lihat Mas sebelumnya." Dia terdiam sebentar. "Mas mau pergi ke mana setelah ini? Sudah ada tempat menginap?""Belum," kata

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   7 Sarah

    Lobi hotel menyambut dengan lampu kristal yang terlalu terang untuk jam sepagi ini. Petugas resepsionis yang masih muda itu melirik ke arahnya dengan ekspresi sedikit terkejut, mungkin tidak biasa melihat tamu keluar membawa semua bawaannya sebelum waktu check-out normal. Kevin mengangguk sekilas ke arahnya dan melangkah keluar ke udara pagi kota Alfa.Jalanan masih sepi. Langit berwarna abu-abu muda dengan semburat merah di ujung timur. Udara laut yang dingin menyapu wajahnya begitu dia melewati pintu otomatis hotel. Kevin menarik napas panjang dan mulai berjalan.Dia belum tahu akan menginap di mana. Itu urusan yang bisa diselesaikan nanti. Yang dia butuhkan sekarang adalah berjalan, membiarkan udara pagi mendinginkan kepala, dan mulai memetakan langkah berikutnya dalam rencananya yang lebih besar.Di ujung jalan itu, sebuah deretan toko ruko mulai terlihat. Kebanyakan masih tutup pada jam sepagi ini, kecuali sebuah warung kopi kecil di pojok yang pintu kayunya sudah terbuka, dan se

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   6 Mandi Bersama

    Chika bersandar di dada Kevin, kepalanya di bahu Kevin, saat air mulai membasahi tubuh mereka. Kevin menyalakan tombol jacuzzi, dan gelembung-gelembung mulai berdesir, memijat kulit mereka dengan lembut. Chika memejamkan mata, merasakan relaksasi menjalar ke seluruh tubuhnya. Kevin meraih sabun cair beraroma lavender, memompanya ke telapak tangannya, lalu mulai menggosok punggung Chika. "Rasanya enak, kan?" bisik Kevin, sambil jari-jarinya menelusuri tulang punggung Chika, naik ke bahu, lalu turun lagi ke pinggang. Chika mengangguk, menyandarkan kepalanya ke belakang, menikmati sentuhan Kevin. "Hmm... enak banget. Kamu tukang pijat yang handal." Kevin tertawa pelan, lalu membalikkan tubuh Chika agar menghadapnya. Ia mulai menyabuni bagian depan tubuh Chika, dari leher hingga perut, lalu turun ke pangkal paha. Gerakan tangannya lembut namun sensual, membuat Chika merinding. Mata mereka bertemu, dan Kevin melihat gairah yang kembali menyala di mata Chika. Chika mengambil sabun, balas

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   5 Chika di Atas Kevin

    Kevin mencengkeram erat pinggul Chika, membantu Chika menekan dirinya lebih dalam. Rambut panjang Chika yang berantakan menempel di wajahnya, tanda betapa kerasnya mereka bercinta. Chika merasakan guncangan hebat di seluruh tubuhnya, sensasi hangat menjalar dari bawah perutnya, dan ia mengerang keras, melengkungkan punggungnya, mencapai klimaks yang memabukkan. Kevin merasakan kontraksi tubuh Chika di sekitarnya, dan tak lama kemudian, ia pun menyusul Chika, berteriak memanggil nama Chika saat pelepasan panas itu mengaliri dirinya. Setelah badai gairah mereda, Chika ambruk di dada Kevin, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka berkeringat. Kevin memeluk Chika erat, membiarkan tubuh mungil itu bersandar padanya. Perlahan, Chika menggeliat, berbalik menghadap Kevin, dan mereka berdua bergeser ke posisi spooning, saling memeluk dari belakang. Kevin menyelipkan tangannya di pinggang Chika, menariknya mendekat hingga punggung Chika menempel sempurna di dadanya. Kehangatan tubuh me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status