Share

Bab 259

Author: Célia Oliveira
Usai menyiapkan makanan untuk Naren, Elsa menatanya dengan rapi di atas nampan, lalu membawanya ke kamar pria itu di lantai atas. Pintunya sedikit terbuka. Dia pun mengetuk pelan dua kali sebelum masuk.

Elsa mendorong pintu dengan bahunya. Di dalam kamar, Naren hanya mengenakan celana olahraga abu-abu, tanpa baju. Rambutnya masih lembap sehabis mandi. Pemandangan itu membuat jantung Elsa berdebar.

"Ini ... kubawakan makanan," kata Elsa sambil berusaha terdengar biasa saja, meski pipinya sudah mu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 291

    Kedatangan mereka di Ameris berlangsung tenang. Setelah penerbangan yang melelahkan, Samuel hanya ingin segera menuju hotel agar putrinya bisa beristirahat. Dia masih belum mengerti apa yang sedang terjadi pada Elina. Sejak meninggalkan rumah kakek dan neneknya, putrinya itu terlihat makin menutup diri.Elina memang biasanya lebih pendiam menjelang perjalanan jauh, tetapi kali ini ada yang berbeda. Dia makin jarang tersenyum, apalagi berbicara. Samuel menduga ada sesuatu yang sulit direlakan oleh putrinya, tetapi dia memilih untuk tidak mendesak. Dia akan menunggu sampai Elina siap bercerita.Keesokan harinya, setelah sarapan di lobi hotel, mereka berangkat ke universitas. Kampus itu luas dan modern. Gedung-gedung berdinding kaca memantulkan birunya langit musim gugur. Dengan ransel tersampir di satu bahu dan mata yang masih kelelahan, Elina memandang sekeliling dengan perasaan cemas sekaligus kagum.Mereka turun dari taksi dan disambut seorang wanita ramah yang tersenyum lebar. Rambut

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 290

    Dalam perjalanan menuju kamarnya, Hasan melewati kamar Gavin. Sempat terpikir untuk terus berjalan dan berpura-pura tidak ada masalah, tetapi langkahnya terhenti. Dia menarik napas panjang, seolah perlu mengumpulkan keberanian hanya untuk melakukan hal itu. Kemudian, dia pun mengetuk pintu."Pergi!" Terdengar suara Gavin samar-samar dari balik pintu.Hasan memejamkan mata sesaat. Dia ragu-ragu apakah harus tetap masuk. Dia tahu mungkin lebih baik membiarkan kembarannya sendiri. Namun, ada dorongan yang membuatnya tidak bisa pergi begitu saja. Perlahan dia memutar gagang pintu, mendorongnya hingga terbuka, lalu berjalan masuk.Gavin sedang duduk di meja sambil menggunakan komputer. Matanya tertuju pada layar, tetapi pikirannya seolah-olah berada di tempat lain."Gavin, apa kamu baik-baik saja?" tanya Hasan sambil bersandar pada pintu yang setengah terbuka."Sudah kubilang, aku baik-baik saja," jawab Gavin tanpa menoleh."Kalau ingin cerita, kamu tahu aku siap mendengarkan.""Makasih, ta

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 289

    Sambil mengunyah perlahan, Alverio menyadari betapa heningnya suasana di ruang makan. Sepanjang makan siang itu, hanya terdengar denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring. Keheningan itu membuatnya sangat tidak nyaman. Dia menatap anak-anak satu per satu, terutama si kembar yang belum saling bicara sejak kembali masuk ke rumah."Sebenarnya ada apa ini?" tanya Alverio dengan nada lebih keras daripada yang dia maksudkan. Dia meletakkan alat makannya ke piring dengan cukup keras hingga dentingnya menggema di ruangan. Aura terlonjak, lalu terbatuk pelan karena tersedak sepotong daging."Maaf, Sayang," ujar Alverio sambil menyentuh lengan istrinya dengan ekspresi khawatir. "Aku nggak bermaksud mengagetkanmu.""Nggak apa-apa, Sayang," jawab Aura sambil memaksakan senyum dan menyesap jus. "Aku cuma kaget."Alverio mengangguk, lalu kembali menatap anak-anaknya dengan raut wajah yang lebih serius."Soalnya kalian diam terus sampai Ayah mulai khawatir. Biasanya rumah ini nggak pernah beg

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 288

    Suasana di dalam mobil benar-benar sunyi. Hanya napas tidak teratur Elina yang terdengar."Elina?" Itha memecah keheningan dengan hati-hati. Jelas, dia masih sedikit ragu. Bibirnya masih terbuka karena terkejut. "Kami cuma bercanda."Berhubung tidak sanggup menatap siapa pun, Elina terus memandang jalan di depan."Sudahlah ... tolong hentikan," pinta Elina. Suaranya kini lebih pelan, bahkan nyaris berbisik. "Aku cuma ingin segera sampai di bandara."Samuel mengangguk sambil melirik putrinya melalui kaca spion. Raut wajahnya kini lebih serius. Menurutnya, semua ini hanya karena Elina tegang menghadapi perjalanan dan perpisahan yang makin dekat."Baiklah, Sayang. Sebentar lagi kita sampai," ujar Samuel yang berusaha terdengar tenang.Samuel kembali memperhatikan jalan dan melanjutkan perjalanan.Tidak ada suara selain dengung mesin. Keheningan kembali menyelimuti mereka, bahkan kali ini terasa lebih menekan. Elina memejamkan mata selama beberapa saat, seolah ingin menghilang saat itu jug

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 287

    Saat masuk ke ruang tamu dengan jantung yang masih berdebar kencang, Elina mendapati orang tua dan kakaknya sudah menunggu. Ketiganya langsung menoleh dan memperhatikannya dengan saksama, seolah bisa melihat sesuatu yang sedang dia sembunyikan."Pagi," sapa Elina sambil mencoba tersenyum wajar.Namun, tidak ada yang merespons."Kalian kenapa?"Ketiganya terus menatap Elina selama beberapa saat, seolah sedang mencari tahu sesuatu."Semalam kamu kurang tidur ya?" tanya Itha sambil mendekat dan mengamati wajah putrinya."Kenapa Ibu bertanya begitu?" Elina menelan ludah dengan susah payah."Matamu merah dan cekung, Sayang. Kamu kelihatan sangat lelah," ujar ibunya sambil menyentuh wajahnya dengan lembut."Masa?" Elina mencoba tertawa, tetapi jelas terdengar dipaksakan."Memang begitu," tambah Elsa. Dia mendekat dan mengerutkan kening sambil memperhatikan adiknya lebih saksama. "Selain itu, hari ini kamu ... agak berbeda."Elsa mulai mengitari adiknya, seolah sedang mencari petunjuk. Tatapa

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 286

    Saat menikmati ciuman pria yang sudah lama diinginkannya, Elina merasa jantungnya bisa berhenti berdetak kapan saja. Namun, ketika menyadari Hasan membalas ciumannya dengan sama kuatnya, dia perlahan mulai tenang. Hatinya dipenuhi kebahagiaan yang tenang, tetapi mendalam. Kebahagiaan itu lahir dari keinginan yang telah lama dipendamnya. Seolah waktu berhenti hanya untuk memberi mereka kesempatan menikmati momen itu.Perlahan, Elina kembali meraih baju Hasan. Berbeda dari sebelumnya, kali ini pria itu tidak menolak. Hasan membiarkannya mengambil kendali dan mengikuti keinginannya. Elina merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Kini, dia bisa menentukan sesuatu yang selama ini dikiranya tidak akan pernah bisa dia miliki.Dengan hati-hati, Elina melepaskan baju Hasan. Jemarinya merasakan kehangatan kulit pria itu. Setiap gerakan memberinya pengalaman baru. Semua yang pernah dibayangkannya kini menjadi nyata. Memang tidak seperti angan-angannya dulu yang romantis dan sempurna, tetapi justru

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 1

    Sudah lewat pukul enam sore ketika ibuku muncul di depan pintu sambil berteriak, "Aura! Aura!"Aku segera bergegas keluar. Di tangannya ada beberapa kantong belanja."Cepat kemari, gadis bodoh! Kamu tidak lihat ini berat, ya?"Ibu seperti biasanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti Rendi Sa

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 6

    Pukul enam pagi, aku bangun dan mengenakan pakaian. Aku sedang merapikan beberapa laci ketika seseorang mengetuk pintu kamar. Aku langsung membukanya. Ternyata itu pria yang menurunkan barang-barang dari mobil kemarin saat aku tiba dari ibu kota bersama bayi dan Alverio."Selamat pagi, Nona Aura. Na

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 5

    "Tuan Alverio, berapa hari usia bayi ini?""Dua hari.""Apa dia sudah menjalani tes tusuk tumit?" tanyaku penasaran."Apa?" jawabnya seolah-olah dia sama sekali tidak paham apa yang kubicarakan."Ini tes penting yang dilakukan beberapa hari setelah bayi lahir. Tes ini membantu mendeteksi beberapa pe

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 4

    Saat itu, jantungku membeku, terhenti sejenak. Aku hampir menyaksikan sebuah adegan bunuh diri jika aku tidak bertindak. Naluriku mengambil alih. Aku harus menghentikan pria itu sebelum tragedi terjadi."Pak!" Aku berteriak agar dia bisa mendengar. "Tolong, jangan lakukan itu!"Saat itu juga, kuliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status