Share

Hamil?

Author: arctrs_
last update publish date: 2026-03-20 23:50:21
Pasar malam di pusat Valeridge begitu meriah dengan lampion warna-warni dan aroma makanan yang menggugah selera. Di balik tudung kain kusamnya, Florence menghirup dalam-dalam aroma daging asap yang sedari tadi ia idamkan. Duke Cassian, yang menyamar dengan jubah hitam minimalis namun tetap terlihat gagah, duduk dengan siaga di sampingnya.

"Enak?" tanya Duke Cassian singkat, namun matanya terus waspada mengawasi setiap orang yang lewat.

"Sangat enak, Yang Mulia," jawab Florence sembari mengun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Hamil?

    Pasar malam di pusat Valeridge begitu meriah dengan lampion warna-warni dan aroma makanan yang menggugah selera. Di balik tudung kain kusamnya, Florence menghirup dalam-dalam aroma daging asap yang sedari tadi ia idamkan. Duke Cassian, yang menyamar dengan jubah hitam minimalis namun tetap terlihat gagah, duduk dengan siaga di sampingnya. "Enak?" tanya Duke Cassian singkat, namun matanya terus waspada mengawasi setiap orang yang lewat. "Sangat enak, Yang Mulia," jawab Florence sembari mengunyah. Namun, setelah beberapa suapan, ia melirik ke arah kedai permen kapas di ujung jalan yang antriannya mengular panjang. "Yang Mulia... sepertinya saya ingin sesuatu yang manis setelah ini," Florence menunjuk kedai permen kapas tersebut dengan wajah memelas. "Permen kapas itu terlihat sangat menggoda. Tapi antriannya... mengapa panjang sekali? Padahal sudah lama sekali saya tidak memakannya," ujar Florence dengan raut memelas seraya melirik reaksi suaminya itu dari sudut matanya. Duke Ca

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Aku Ingin Daging Asap!

    Sudah dua hari Florence terbaring lemah di ranjang. Dan selama itu pula tiap pagi ia pasti merasa mual namun tidak ada yang berhasil dimuntahkan selain air liurnya sendiri. Bagaimana tidak? Lidahnya menolak semua jenis makanan yang dihidangkan oleh pelayan. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, ia pun tidak tahu. "Makanlah walaupun sedikit," ucap Duke Cassian ke sepuluh kalinya sore ini. Tangannya itu tak henti-hentinya menyodorkan beberapa jenis makanan yang berbeda, mungkin bermaksud meningkatkan nafsu makan Florence yang telah hilang. Florence menggelengkan kepalanya sekali, sudah terlalu lelah untuk menolak dengan mulutnya. Sebenarnya ia tidak enak hati telah mengabaikan Duke Cassian yang berusaha keras membuatnya makan. Suaminya itu telah berubah seratus delapan puluh derajat dari saat pertama kali mereka bertemu. Dari yang dahulu arogan, ketus, dan sarkastik; sekarang menjadi lebih perhatian dan lunak. Florence tidak mengerti perubahan sikap suaminya itu karena faktor apa, t

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Perintah yang Bijaksana

    Bagaimana itu bisa terjadi? Florence masih termangu. Pasalnya ia sudah benar-benar meneliti semua isi berkas dokumen yang diberikan oleh Marquiss de Luca padanya. Isinya harusnya seputar aliran dana Ordo Sanctus dan semua afiliasinya. Mengapa ini bisa terjadi? Duke Cassian kemudian dengan perlahan menggenggam erat jemari Florence, berusaha memberikan ketenangan padanya. "Kalau memang istri saya terlibat dengan Ordo Sanctus, untuk apa ia menyerahkan bukti vital yang akan menjeratnya, Yang Mulia. Saya pikir ada yang telah menyaabotase dokumen ini," ujar Duke Cassian dengan lantang membela istrinya. Semua orang termasuk Raja Aethelgard terdiam. Florence menatap Duke Cassian dengan pandangan terharu, karena suaminya itu berusaha membelanya. Raja Aethelgard menatap Florence dan Duke Cassian bergantian dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu menghela napas dengan gusar. "Itu ... masuk akal. Mengingat perdamaian kedua kerajaan yang baru tercapai karena pernikahan kalian, aku

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Kemenangan yang Terlalu Mudah

    Florence menatap tumpukan dokumen yang baru saja diserahkan oleh Marquis de Luca dengan binar kepuasan di matanya. Di dalam kantor yang remang itu, ia merasa telah memegang kunci untuk menghancurkan Ordo Sanctus selamanya. "Kau membuat pilihan yang tepat, Marquiss," ucap Florence sembari memasukkan berkas itu ke dalam tas kulitnya yang elegan. "Apa ada lagi rahasia yang kau sembunyikan mengenai Ordo Sanctus, Marquiss?" Marquiss de Luca masih tertunduk. "Tidak ada, Nyonya." Ia kemudian menengadah, menatap Florence dari bawah. "Jadi, Nyonya tidak akan melaporkan kami kan?" tanyanya dengan nada memohon. Florence tergelak. Tawanya memenuhi ruangan kecil itu. "Aku hanya bilang akan memikirkannya, bukan berarti aku tidak akan melaporkanmu, Marquiss." Florence memberikan isyarat pada penjaga di sampingnya. "Tangkap dia!" "Apa? Nyonya ... Anda licik sekali! Nyonya, saya akan melakukan apa saja asalkan Anda melepaskan saya! Saya Mohon!" teriak Marquiss de Luca dengan nyalang. "Ka

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Marquiss de Luca

    Suara langkah kaki bergema di koridor kantor gudang tembakau milik Count Owen. Suara tumbukan sepatu dengan lantai itu kian mendekat ke arah ruangan kantor. Florence menyeringai, target kedua kini sudah masuk dalam jaring jebakan miliknya. Pintu terbuka. Sosok itu sepertinya membeku di tempat melihat keadaan di dalam kantor."Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya bingung dan heran. Florence yang tengah duduk di pangkuan Duke Cassian tersenyum riang. "Selamat datang, Tuan Marquiss de Luca. Maafkan kami yang sudah membuatmu terkejut karena kedatangan kami yang tiba-tiba." Marquis de Luca sepertinya mengurungkan niatnya untuk menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran di kantor pusat logistik itu ketika ia menyadari bahwa kursinya itu telah dipakai oleh Duke Cassian yang tengah memangku Florence. "Yang Mulia ... Duke dan Duchess Silverhood. Apa keperluan yang membuat kalian datang ke kantor kami?" tanya Marquiss de Luca dengan dahi berkerut. Florence menaikkan sebelah alisny

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Apel dan Kecupan

    Keheningan di dalam kereta kuda terasa lebih menyesakkan daripada riuhnya suara koin dan permainan kartu di kasino tadi. Florence menyandarkan kepalanya pada dinding kereta yang berlapis beludru, matanya menatap kosong ke arah deretan lampu jalan Valeridge yang bergerak mundur. Tangannya masih menggenggam erat surat kuasa dari Count Owen. Namun kemenangan besar yang seharusnya ia rayakan, hatinya justru terasa seperti diremas. Bayangan wanita pelayan kasino yang dengan berani mendekati Duke Cassian terus berputar di kepalanya, memicu rasa panas yang sulit ia padamkan. Florence tahu ini konyol; mereka sedang dalam misi hidup dan mati, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia cemburu setengah mati. "Kau lelah?" Suara berat Duke Cassian memecah kesunyian. Florence hanya memberikan gelengan tipis tanpa menoleh sedikit pun. Ia merasa jika ia bicara, suaranya akan terdengar bergetar atau malah ketus, dan ia tidak ingin terlihat lemah di depan pria yang tampak begitu tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status