LOGINMentari baru saja menyembul di cakrawala Ironhard ketika ketenangan Kediaman Valeridge pecah oleh suara gemuruh dari gerbang depan. Florence, yang baru saja terbangun dengan rasa mual yang masih menderu, terkejut saat Duke Cassian masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Wajah Duke Cassian pucat pasi. Di tangannya, ia meremas sebuah surat kabar pagi yang tampak basah terkena embun. "Jangan keluar dari kamar ini, Florence," perintah Duke Cassian. Suaranya rendah, penuh dengan nada protektif yang mencemaskan. "Ada apa, Yang Mulia? Suara teriakan di luar itu ..." Tanpa menjawab, Duke Cassian meletakkan koran itu di atas meja. Di halaman depan, terdapat sebuah foto besar dengan kualitas cetak yang kasar namun cukup jelas untuk memperlihatkan sosok wanita yang sangat mirip dengan Florence tengah mengenakan jubah putih Ordo Sanctus, berdiri di tengah altar pemujaan yang dikelilingi oleh simbol-simbol kegelapan. Di sana terpampang nyata dengan judul berita "SANG PEMBAWA BERKAT ATAU R
"Dunia kita sedang hancur. Fitnah Ordo Sanctus terhadapmu belum selesai, dan mata-mata masih mengepung kediaman kita. Aku baru ingin kita memiliki anak jika keadaan sudah benar-benar siap secara lahir dan batin ... ketika Ironhard dan Aethelgard sudah sepenuhnya damai. Aku tidak ingin anak kita lahir di tengah badai pengkhianatan seperti ini," ujar Duke Cassian panjang lebar. Mungkin itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Florence dengar keluar dari mulut suaminya. Tiap Kata yang terucap darinya itu terasa seperti hujaman air es yang menyiram api di dada Florence. Harapannya untuk segera berterus terang seketika pupus. Padahal sebelumnya kalimat yang diucapkan suaminya adalah kalimat yang pernah diucapkan dirinya setelah menyambangi panti asuhan dahulu. Namun entah mengapa, itu justru menjadi belati yang menusuknya perlahan. "Ah... begitu ya? Anda benar, Yang Mulia," sahut Florence dengan senyum getir yang dipaksakan, berusaha menelan rasa sesak di tenggorokannya. Untuk me
Florence terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Mengandung? Di tengah tuduhan Ordo Sanctus yang masih membayanginya, dan di bawah pengawasan ketat Raja Aethelgard. "Aku... hamil?" Florence menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar. "Ya, itu benar." Bibi Merlyn mencengkeram bahu Florence, suaranya berubah serius. "Kondisimu sedang tidak stabil. Kau harus menjaga kondisimu dan bayi dengan tidak berpikir terlalu berlebihan. Jaga juga pola makanmu, karena kau membawa satu nyawa lagi di perut." "Tidak, Bibi. Mungkin Bibi salah dalam mendiagnosis keadaanku. Aku hanya ... hanya lelah saja," ujar Florence cepat, matanya memancarkan ketakutan. Ia tahu Duke Cassian sangat perhatian sekarang, tapi berita ini bisa menjadi beban tambahan di tengah penyelidikan mata-mata di kediaman mereka. Bibi Merlyn yang melihat kepanikan terpancar dari raut wajah Florence, berakhir menghela napas. "Aku tidak mungkin salah, Nak. Kau memang hamil. Jika memang ada yang mengganj
Pasar malam di pusat Valeridge begitu meriah dengan lampion warna-warni dan aroma makanan yang menggugah selera. Di balik tudung kain kusamnya, Florence menghirup dalam-dalam aroma daging asap yang sedari tadi ia idamkan. Duke Cassian, yang menyamar dengan jubah hitam minimalis namun tetap terlihat gagah, duduk dengan siaga di sampingnya. "Enak?" tanya Duke Cassian singkat, namun matanya terus waspada mengawasi setiap orang yang lewat. "Sangat enak, Yang Mulia," jawab Florence sembari mengunyah. Namun, setelah beberapa suapan, ia melirik ke arah kedai permen kapas di ujung jalan yang antriannya mengular panjang. "Yang Mulia... sepertinya saya ingin sesuatu yang manis setelah ini," Florence menunjuk kedai permen kapas tersebut dengan wajah memelas. "Permen kapas itu terlihat sangat menggoda. Tapi antriannya... mengapa panjang sekali? Padahal sudah lama sekali saya tidak memakannya," ujar Florence dengan raut memelas seraya melirik reaksi suaminya itu dari sudut matanya. Duke Ca
Sudah dua hari Florence terbaring lemah di ranjang. Dan selama itu pula tiap pagi ia pasti merasa mual namun tidak ada yang berhasil dimuntahkan selain air liurnya sendiri. Bagaimana tidak? Lidahnya menolak semua jenis makanan yang dihidangkan oleh pelayan. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, ia pun tidak tahu. "Makanlah walaupun sedikit," ucap Duke Cassian ke sepuluh kalinya sore ini. Tangannya itu tak henti-hentinya menyodorkan beberapa jenis makanan yang berbeda, mungkin bermaksud meningkatkan nafsu makan Florence yang telah hilang. Florence menggelengkan kepalanya sekali, sudah terlalu lelah untuk menolak dengan mulutnya. Sebenarnya ia tidak enak hati telah mengabaikan Duke Cassian yang berusaha keras membuatnya makan. Suaminya itu telah berubah seratus delapan puluh derajat dari saat pertama kali mereka bertemu. Dari yang dahulu arogan, ketus, dan sarkastik; sekarang menjadi lebih perhatian dan lunak. Florence tidak mengerti perubahan sikap suaminya itu karena faktor apa, t
Bagaimana itu bisa terjadi? Florence masih termangu. Pasalnya ia sudah benar-benar meneliti semua isi berkas dokumen yang diberikan oleh Marquiss de Luca padanya. Isinya harusnya seputar aliran dana Ordo Sanctus dan semua afiliasinya. Mengapa ini bisa terjadi? Duke Cassian kemudian dengan perlahan menggenggam erat jemari Florence, berusaha memberikan ketenangan padanya. "Kalau memang istri saya terlibat dengan Ordo Sanctus, untuk apa ia menyerahkan bukti vital yang akan menjeratnya, Yang Mulia. Saya pikir ada yang telah menyaabotase dokumen ini," ujar Duke Cassian dengan lantang membela istrinya. Semua orang termasuk Raja Aethelgard terdiam. Florence menatap Duke Cassian dengan pandangan terharu, karena suaminya itu berusaha membelanya. Raja Aethelgard menatap Florence dan Duke Cassian bergantian dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu menghela napas dengan gusar. "Itu ... masuk akal. Mengingat perdamaian kedua kerajaan yang baru tercapai karena pernikahan kalian, aku







