共有

Milikku

作者: arctrs_
last update 最終更新日: 2026-01-19 12:53:27

Keesokan paginya, kediaman Silverhood kedatangan Putri Seraphina serta penjahit kerajaan dengan enam asisten dan tiga rak gaun. Duke Cassian dan Florence tidak menyangka kalau putri itu akan secepat ini untuk datang mengingat baru kemarin pertemuan mereka berlangsung.

"Kalian tidak lupa kan kalau aku mendapatkan perintah dari Ayah untuk membantu persiapan pernikahan kalian?" kata Putri Seraphina dengan wajah tak berdosanya itu.

Florence menarik senyum, lalu membalas, "Yang Mulia Putri sangat baik hati untuk meluangkan waktu Anda yang berharga. Pasti Yang Mulia punya tugas-tugas lain yang tak kalah penting dari ini, tapi Yang Mulia justru memprioritaskan kami."

Putri Seraphina harusnya menyadari ucapan Florence sarat akan sindiran padanya. Namun Putri itu tampaknya tak terlalu mengambil hati. Ia beralih memandang Duke Cassian. "Apa aku mengganggu waktu kalian di sini? Maafkan aku yang terlalu bersemangat. Aku akan pulang dan bilang kepada Ayah-"

Duke Cassian menyela, "Tidak. Kita bisa lakukan sesuai rencanamu. Benar kan Nona Clarice?"

Bisa bahaya kalau Putri Seraphina mengadu pada Raja Aldric. Itu akan berarti bahwa mereka menolak perintahnya dalam persiapan pernikahan ini.

"Aku tahu kau tidak akan menolakku, Ian," ujar Putri Seraphina seraya tersenyum centil lalu beralih menatap penjahit kerajaan yang dibawanya. "Tunjukkan katalog kepada Duke Cassian."

Mereka kemudian mengambil tempat duduk masing-masing dengan Duke Cassian bersebelahan dengan Florence, sementara Putri Seraphina berada di seberangnya.

"Mana model baru yang kalian buat? Tunjukkan yang paling bagus untuk Ian."

Astaga, Putri Seraphina ini terlihat sekali ingin mencari muka di depan Duke Cassian, pikir Florence. Penjahit kerajaan itu kemudian membuka katalognya dan menunjukkan desain terbaru yang sedang populer di ibu kota.

"Tentu, Yang Mulia. Untuk Tuan Duke, saya menyiapkan jas ekor dengan pola militer yang khas berwarna royal charcoal. Bahannya menggunakan wol paling halus di dunia. Detail yang paling penting adalah sulaman benang perak di bagian kerah tegak dan manset, yang membentuk motif lambang keluarga Silverhood."

Putri Seraphina mengangguk paham. "Bagaimana, Ian? Apakah itu sesuai dengan seleramu?"

Duke Cassian menyesap teh yang dihidangkan dengan mata terpejam. Florence bisa melihat kalau duke muda itu sama sekali tidak mengindahkan perbincangan panjang mereka. "Terserah saja," jawabnya singkat.

Putri Seraphina tidak tinggal diam melihat Duke Cassian yang kurang antusias. "Apa kau membawa sampelnya? Kita bisa meminta Ian untuk memakainya," ujar Putri Seraphina kepada penjahit kerajaan.

Tanpa pikir panjang penjahit kerajaan itu memberikan koda kepada asistennya untuk membuka koper yang mereka bawa. Di dalamnya terdapat beberapa sampel setelan pengantin buatan mereka. Mereka mengambil salah satunya dan menunjukkannya pada Putri Seraphina.

"Ayo, Ian, pakailah!" seru Putri Seraphina terlalu antusias. Orang awam pasti mengira pengantin wanitanya bukanlah Florence, melainkan Putri Seraphina.

Terlihat Duke Cassian mulai beranjak dengan ekspresi datar khasnya. Penjahit kerajaan dengan sigap membantunya memakai pakaian pengantin itu. Dan ketika mereka telah selesai memakaikannya, semua orang terpukau melihat penampilan Duke Cassian.

"Itu cocok sekali denganmu, Ian! Kau terlihat menawan!" kata Putri Seraphina seraya beranjak mendekati Duke Cassian lalu mengapit lengan kirinya. "Di mana cerminnya, pelayan?"

Duke Cassian terlihat tidak nyaman dan berusaha melepaskan kaitan lengan Putri Seraphina. Namun Putri Seraphina tampaknya tak berniat mengindahkan kenyamanan Duke Cassian dan beralih memposisikan mereka menghadap cermin yang telah datang.

"Lihatlah, Ian. Bagaimana menurutmu? Apakah ini sesuai dengan seleramu atau ada yang tidak nyaman?" tanya Putri Seraphina.

Ingin Florence berteriak, kaulah yang membuatnya tidak nyaman! Sayangnya Florence harus menjaga keanggunannya sebagai calon duchess yang berwibawa.

"Ini sudah cukup," jawab Duke Cassian. Ia tampak melonggarkan ikatan pita di kerahnya sampai Putri Seraphina menyela, "Bagaimana kalau kau mencoba sampel yang lain, Ian? Mungkin akan ada banyak pilihan yang lebih sesuai seleramu."

Duke Cassian menghela napas. Andaikan perempuan di depannya ini bukanlah seorang putri kerajaan, ia tak akan repot mengindahkan sopan santun. Ia lalu memandang Florence kemudian berkata, "Aku sudah memutuskan. Giliran Nona Clarice yang belum. Berikan gaun yang cocok dengannya."

Duke Cassian kemudian duduk kembali di kursinya. Ia menyesap tehnya dengan mata terpejam, tidak ingin mengindahkan Florence dan Putri Seraphina.

Florence berdiri di depan cermin, dikelilingi kain, benang, dan tatapan kritis Seraphina.

"Lebih ke kiri," perintah Putri Seraphina, menunjuk ke arah penjahit. "Siluetnya harus sempurna. Kita tidak ingin dia terlihat... biasa saja."

Florence menahan napas saat penjahit kerajaan menusukkan peniti di dekat rusuknya. "Saya rasa gaunnya sudah pas."

"Kerah lehernya terlalu tinggi," kritik Putri Seraphina, menarik kain di bahu Florence. "Dia akan terlihat seperti biarawati."

"Saya nyaman dengan kerah tinggi seperti ini di Aethelgard, Yang Mulia Putri," ujar Florence.

"Kau bukan di Aethelgard lagi," jawab Putri Seraphina memberi isyarat pada penjahit kerajaan. "Buat kerahnya lebih rendah dari sebelumnya. Biarkan keindahanmu terlihat semua orang."

Florence merasa tidak nyaman. Duke Cassian yang mendengar perdebatan mereka, mengangkat pandangannya. "Sebenarnya," ucapnya tiba-tiba, "aku lebih suka kerah lehernya tinggi. Terlihat lebih elegan."

Putri Seraphina terkesiap mendengar Duke Cassian ikut campur pada urusan mereka. "Tapi—" selanya.

"Aku tidak ingin memperlihatkan milikku kepada semua orang," tambah Duke Cassian dengan nada final. "Pertahankan seperti semula."

Florence menangkap pandangannya di cermin dan hampir tersenyum. Ia tak menyangka Duke Cassian akan mengindahkan ketidaknyamanan yang ia rasakan.

Namun Putri Seraphina tidak menyerah. "Baiklah. Tapi bukankah perak terlalu pucat untuk kulitnya. Bagaimana dengan biru muda?"

"Perak saja," kata Duke Cassian tanpa melihat. "Warna keluarga Valerius."

"Begitu kah, Ian? Aku rasa-" ujar Putri Seraphina berusaha menutupi kekesalannya dengan senyum kecut.

"Apakah ada masalah dengan warna keluarga kami, Putri Seraphina?" tanya Duke Cassian dengan nada berbahaya. Florence kali ini tidak bisa menahan senyumnya, ia merasa di atas angin melihat Duke Cassian berpihak padanya.

Seketika ruangan itu menjadi hening. Putri Seraphina akhirnya mengalah. "Tentu saja tidak. Perak itu warna yang indah, Ian."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Tidur Seranjang

    "Mengapa Nona menyendiri di sini?" Florence menyesap kembali alkohol dari gelasnya. "Bukan nona tapi nyonya duchess, Yang Mulia Pangeran," balas Florence dengan linglung. Di saat seperti ini Florence justru malah mengomentari status sosialnya. Entah keberanian dari mana ia mampu mengoreksi kesalahan Pangeran Aurelian di sampingnya. "Maafkan kesalahan saya ini, Nyonya Duchess," kata Pangeran Aurelian dengan terkikik geli melihat sikap Florence. Ini tidak seperti Florence yang anggun sebagai seorang istri duke. "Benar, aku bukanlah seorang nona lagi. Mengapa aku harus menikahi duke sialan itu, hah? Aku sungguh menyesal!!" racau Florence sudah sepenuhnya mabuk melihat gelas di tangannya sudah kosong. Melihat Florence yang sudah kehilangan akal, Pangeran Aurelian berusaha terus mengajaknya mengobrol. "Mengapa Anda harus menyesal, Nyonya? Duke Cassian adalah pria nomor dua di kekaisaran ini? Bukankah seharusnya keberuntungan ada di pihak Anda?" Dengan pandangan bingung, Florence b

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sayang?

    Resepsi di aula kediaman Duke Cassian dipenuhi musik dan berbagai kemewahan pesta. Duke Cassian dan Florence harus berjabat tangan dengan puluhan bangsawan, masing-masing dengan senyuman yang sama palsunya.Pada puncak acara, Duke Cassian akan berdansa untuk pertama kalinya dengan Florence di tengah aula. Florence merasakan semua tatapan tertuju padanya. Hanya untuk berjalan saja kakinya terasa lemas apalagi untuk berdansa. Bisakah Florence melarikan diri sekarang? "Mari berdansa, istriku?" pinta Duke Cassian seraya mengulurkan tangannya pada Florence.Walaupun dengan berat hati, Florence menerima uluran tangan Duke Cassian. Mereka melangkah menuju ke tengah aula dengan semua jenis tatapan tertuju pada mereka. Florence entah mengapa tidak bisa menghentikan lirikan matanya ke arah Putri Seraphina di sudut dinding sana. Yang terlihat hanya ekspresi dingin kala melihat Florence dan Duke Cassian. Florence juga baru ingat kalau Putri Seraphina tidak terlihat di acara pernikahannya di ge

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Ciuman Pernikahan

    Akhirnya tiba hari di mana Florence akan menikah dengan Duke Cassian setelah seminggu ia telah disibukkan persiapan pernikahan yang tiada habisnya. Upacara pernikahan dilakukan di Gereja Kerajaan Ironhard dan dipimpin langsung oleh Uskup Agung. Florence melangkah menyusuri jalan dengan merangkul lengan ayahnya. Selama ia hidup baru kali ini ia bisa menyentuh kehangatan yang ayahnya berikan walaupun itu cuma kepalsuan. Di altar, Duke Cassian tengah menunggunya dengan mimik muka yang sulit dipahami. Namun tatapan matanya tak pernah berpaling darinya bahkan sedetik pun. Florence tahu bahwa akting calon suaminya itu patut diacungi jempol sampai-sampai ia mengira bahwa tatapan itu tertuju pada pujaan hatinya yang sudah lama ia dambakan. Sungguh ironis, pikir Florence karena sempat dibuat berdebar karenanya.Kala Florence sampai di altar dan ayahnya menyerahkannya pada Duke Cassian, tatapannya masih tetap memandangnya tanpa sepatah kata pun. Florence memberanikan diri membuka suara, "Terpe

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Milikku

    Keesokan paginya, kediaman Silverhood kedatangan Putri Seraphina serta penjahit kerajaan dengan enam asisten dan tiga rak gaun. Duke Cassian dan Florence tidak menyangka kalau putri itu akan secepat ini untuk datang mengingat baru kemarin pertemuan mereka berlangsung."Kalian tidak lupa kan kalau aku mendapatkan perintah dari Ayah untuk membantu persiapan pernikahan kalian?" kata Putri Seraphina dengan wajah tak berdosanya itu.Florence menarik senyum, lalu membalas, "Yang Mulia Putri sangat baik hati untuk meluangkan waktu Anda yang berharga. Pasti Yang Mulia punya tugas-tugas lain yang tak kalah penting dari ini, tapi Yang Mulia justru memprioritaskan kami."Putri Seraphina harusnya menyadari ucapan Florence sarat akan sindiran padanya. Namun Putri itu tampaknya tak terlalu mengambil hati. Ia beralih memandang Duke Cassian. "Apa aku mengganggu waktu kalian di sini? Maafkan aku yang terlalu bersemangat. Aku akan pulang dan bilang kepada Ayah-"Duke Cassian menyela, "Tidak. Kita bisa

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Rangkulan yang Manis

    Florence yang mendengar perkataan Putri Seraphina tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Apakah Duke Cassian dan Putri Seraphina memang pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya? Putri Seraphina juga dengan lantang memanggil Duke Cassian dengan nama kecilnya.Duke Cassian tidak merespons Putri Seraphina, melainkan memandang Florence dengan penuh arti sambil merangkul pinggangnya. "Sejak melihat Nona Clarice untuk pertama kalinya aku merasakan getaran yang tiada henti. Mungkin kami memang telah ditakdirkan untuk bersama," ujarnya lalu mengambil jemari Florence dan mengecupnya perlahan.Florence mematung melihat ucapan dan tindakan duke barusan. Apa tadi katanya? Getaran tiada henti? Ditakdirkan untuk bersama? Sungguh mulut Duke Cassian ini terlalu lihai untuk berbohong. "Akhirnya musim semi jatuh juga untuk Silverhood. Semoga pernikahan kalian nanti diberkati, Duke Cassian dan Nona Clarice," ujar Raja Aldric seraya bertepuk tangan untuk memecah keheningan.Florence lalu melirik re

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Mantan Kekasih Duke?

    Kereta mewah berlapiskan perak melaju pelan menyusuri jalan berliku menuju Istana Kerajaan Ironhard. Di dalam kabin yang sempit, Florence dan Duke Cassian duduk berseberangan, menciptakan jarak di antara keduanya tetap terjaga. Florence melirik Duke Cassian dari ujung matanya. Terlihat duke sedang menatap keluar jendela. Kalau sedang tenang begini, Florence tidak bisa menyangkal aura dominan yang ia ciptakan. Kalau saja mulutnya itu sedikit lebih manis, pasti Florence akan melunak. Sayangnya mulutnya itu diciptakan hanya untuk menghinanya. "Apakah di Aethelgard tidak ada yang setampan diriku, Nona? Berhenti menatapku atau kuturunkan kau di sini." Florence terkesiap. Ia tidak menyangka lirikannya telah berubah menjadi tatapan penuh arti. Duke Cassian masih menatap ke luar jendela. Karena sudah tertangkap basah telah memandangi Duke Cassian, Florence memaksakan batuknya. "Saya bukannya memandang Yang Mulia, hanya ikut melihat pemandangan indah di luar kereta. Ini adalah pertama kali

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status