LOGINKeesokan paginya, kediaman Silverhood kedatangan Putri Seraphina serta penjahit kerajaan dengan enam asisten dan tiga rak gaun. Duke Cassian dan Florence tidak menyangka kalau putri itu akan secepat ini untuk datang mengingat baru kemarin pertemuan mereka berlangsung.
"Kalian tidak lupa kan kalau aku mendapatkan perintah dari Ayah untuk membantu persiapan pernikahan kalian?" kata Putri Seraphina dengan wajah tak berdosanya itu. Florence menarik senyum, lalu membalas, "Yang Mulia Putri sangat baik hati untuk meluangkan waktu Anda yang berharga. Pasti Yang Mulia punya tugas-tugas lain yang tak kalah penting dari ini, tapi Yang Mulia justru memprioritaskan kami." Putri Seraphina harusnya menyadari ucapan Florence sarat akan sindiran padanya. Namun Putri itu tampaknya tak terlalu mengambil hati. Ia beralih memandang Duke Cassian. "Apa aku mengganggu waktu kalian di sini? Maafkan aku yang terlalu bersemangat. Aku akan pulang dan bilang kepada Ayah-" Duke Cassian menyela, "Tidak. Kita bisa lakukan sesuai rencanamu. Benar kan Nona Clarice?" Bisa bahaya kalau Putri Seraphina mengadu pada Raja Aldric. Itu akan berarti bahwa mereka menolak perintahnya dalam persiapan pernikahan ini. "Aku tahu kau tidak akan menolakku, Ian," ujar Putri Seraphina seraya tersenyum centil lalu beralih menatap penjahit kerajaan yang dibawanya. "Tunjukkan katalog kepada Duke Cassian." Mereka kemudian mengambil tempat duduk masing-masing dengan Duke Cassian bersebelahan dengan Florence, sementara Putri Seraphina berada di seberangnya. "Mana model baru yang kalian buat? Tunjukkan yang paling bagus untuk Ian." Astaga, Putri Seraphina ini terlihat sekali ingin mencari muka di depan Duke Cassian, pikir Florence. Penjahit kerajaan itu kemudian membuka katalognya dan menunjukkan desain terbaru yang sedang populer di ibu kota. "Tentu, Yang Mulia. Untuk Tuan Duke, saya menyiapkan jas ekor dengan pola militer yang khas berwarna royal charcoal. Bahannya menggunakan wol paling halus di dunia. Detail yang paling penting adalah sulaman benang perak di bagian kerah tegak dan manset, yang membentuk motif lambang keluarga Silverhood." Putri Seraphina mengangguk paham. "Bagaimana, Ian? Apakah itu sesuai dengan seleramu?" Duke Cassian menyesap teh yang dihidangkan dengan mata terpejam. Florence bisa melihat kalau duke muda itu sama sekali tidak mengindahkan perbincangan panjang mereka. "Terserah saja," jawabnya singkat. Putri Seraphina tidak tinggal diam melihat Duke Cassian yang kurang antusias. "Apa kau membawa sampelnya? Kita bisa meminta Ian untuk memakainya," ujar Putri Seraphina kepada penjahit kerajaan. Tanpa pikir panjang penjahit kerajaan itu memberikan koda kepada asistennya untuk membuka koper yang mereka bawa. Di dalamnya terdapat beberapa sampel setelan pengantin buatan mereka. Mereka mengambil salah satunya dan menunjukkannya pada Putri Seraphina. "Ayo, Ian, pakailah!" seru Putri Seraphina terlalu antusias. Orang awam pasti mengira pengantin wanitanya bukanlah Florence, melainkan Putri Seraphina. Terlihat Duke Cassian mulai beranjak dengan ekspresi datar khasnya. Penjahit kerajaan dengan sigap membantunya memakai pakaian pengantin itu. Dan ketika mereka telah selesai memakaikannya, semua orang terpukau melihat penampilan Duke Cassian. "Itu cocok sekali denganmu, Ian! Kau terlihat menawan!" kata Putri Seraphina seraya beranjak mendekati Duke Cassian lalu mengapit lengan kirinya. "Di mana cerminnya, pelayan?" Duke Cassian terlihat tidak nyaman dan berusaha melepaskan kaitan lengan Putri Seraphina. Namun Putri Seraphina tampaknya tak berniat mengindahkan kenyamanan Duke Cassian dan beralih memposisikan mereka menghadap cermin yang telah datang. "Lihatlah, Ian. Bagaimana menurutmu? Apakah ini sesuai dengan seleramu atau ada yang tidak nyaman?" tanya Putri Seraphina. Ingin Florence berteriak, kaulah yang membuatnya tidak nyaman! Sayangnya Florence harus menjaga keanggunannya sebagai calon duchess yang berwibawa. "Ini sudah cukup," jawab Duke Cassian. Ia tampak melonggarkan ikatan pita di kerahnya sampai Putri Seraphina menyela, "Bagaimana kalau kau mencoba sampel yang lain, Ian? Mungkin akan ada banyak pilihan yang lebih sesuai seleramu." Duke Cassian menghela napas. Andaikan perempuan di depannya ini bukanlah seorang putri kerajaan, ia tak akan repot mengindahkan sopan santun. Ia lalu memandang Florence kemudian berkata, "Aku sudah memutuskan. Giliran Nona Clarice yang belum. Berikan gaun yang cocok dengannya." Duke Cassian kemudian duduk kembali di kursinya. Ia menyesap tehnya dengan mata terpejam, tidak ingin mengindahkan Florence dan Putri Seraphina. Florence berdiri di depan cermin, dikelilingi kain, benang, dan tatapan kritis Seraphina. "Lebih ke kiri," perintah Putri Seraphina, menunjuk ke arah penjahit. "Siluetnya harus sempurna. Kita tidak ingin dia terlihat... biasa saja." Florence menahan napas saat penjahit kerajaan menusukkan peniti di dekat rusuknya. "Saya rasa gaunnya sudah pas." "Kerah lehernya terlalu tinggi," kritik Putri Seraphina, menarik kain di bahu Florence. "Dia akan terlihat seperti biarawati." "Saya nyaman dengan kerah tinggi seperti ini di Aethelgard, Yang Mulia Putri," ujar Florence. "Kau bukan di Aethelgard lagi," jawab Putri Seraphina memberi isyarat pada penjahit kerajaan. "Buat kerahnya lebih rendah dari sebelumnya. Biarkan keindahanmu terlihat semua orang." Florence merasa tidak nyaman. Duke Cassian yang mendengar perdebatan mereka, mengangkat pandangannya. "Sebenarnya," ucapnya tiba-tiba, "aku lebih suka kerah lehernya tinggi. Terlihat lebih elegan." Putri Seraphina terkesiap mendengar Duke Cassian ikut campur pada urusan mereka. "Tapi—" selanya. "Aku tidak ingin memperlihatkan milikku kepada semua orang," tambah Duke Cassian dengan nada final. "Pertahankan seperti semula." Florence menangkap pandangannya di cermin dan hampir tersenyum. Ia tak menyangka Duke Cassian akan mengindahkan ketidaknyamanan yang ia rasakan. Namun Putri Seraphina tidak menyerah. "Baiklah. Tapi bukankah perak terlalu pucat untuk kulitnya. Bagaimana dengan biru muda?" "Perak saja," kata Duke Cassian tanpa melihat. "Warna keluarga Silverhood." "Begitu kah, Ian? Aku rasa-" ujar Putri Seraphina berusaha menutupi kekesalannya dengan senyum kecut. "Apakah ada masalah dengan warna keluarga kami, Putri Seraphina?" tanya Duke Cassian dengan nada berbahaya. Florence kali ini tidak bisa menahan senyumnya, ia merasa di atas angin melihat Duke Cassian berpihak padanya. Seketika ruangan itu menjadi hening. Putri Seraphina akhirnya mengalah. "Tentu saja tidak. Perak itu warna yang indah, Ian."Alih-alih tetap diam, Florence yang sudah kehilangan kesabaran memutuskan untuk memberikan serangan balik yang sangat tidak terduga bagi seorang Duchess. Lagi pula lawannya hanya seorang pelacur rendahan, bukan bangsawan yang biasa ia lawan di pesta teh. Florence menatap lekat-lekat pada bagian dada wanita itu yang sangat menonjol di balik gaun tipisnya, lalu ia beralih menatap Duke Cassian dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Yang Mulia, sebaiknya Anda sedikit menjauh," ucap Florence dengan nada bicara yang cukup keras hingga membuat gerakan tangan Count Owen terhenti untuk menyesap anggur di gelasnya. Duke Cassian mengernyitkan dahi, menatap istrinya dengan bingung. "Kenapa?" Florence menunjukkan ekspresi khawatir, matanya kembali tertuju pada wanita centil yang masih berdiri di dekat mereka. "Bukan, Yang Mulia. Saya hanya khawatir ... melihat ukuran dadanya yang sebesar itu dan kain gaunnya yang tampak sangat sesak, saya takut benda itu tiba-tiba meletus dan mengenai waja
Fabian terdiam sejenak lalu berbalik badan. Ia melirik Duke Cassian dan Florence bergantian. Kemudian ia menatap Count Owen seraya menarik garis bibirnya ke atas. "Ah, maaf, Tuan. Saya hanya merasa sedikit lapar dan berniat mencari kedai makanan di sekitar sini," ujar Fabian sambil mengusap lehernya beberapa kali. Count Owen lantas memaksakan tawanya yang terdengar sedikit keras. "Astaga aku lupa untuk mentraktir kalian dan malah membuat kalian kelaparan sekarang." Situasi yang sebelumnya tegang mendadak cair ketika Count Owen tertawa terbahak-bahak, seolah kecurigaannya tadi hanyalah gurauan belaka untuk menguji nyali Fabian dan pihak Duke Cassian. Ia menepuk bahu Duke Cassian dengan akrab, sementara Fabian segera memberi isyarat halus pada pasukannya di balik bayangan untuk menyelesaikan evakuasi secepat kilat. "Lupakan soal peti-peti membosankan ini, Yang Mulia! Karena kesepakatan sudah tercapai, mari kita rayakan kerja sama kita di tempat yang lebih ... privat," ujar Count Owe
Sebelum kereta kuda berangkat menuju dermaga, Duke Cassian, Florence, dan Fabian berkumpul di ruang kediaman mereka di Valeridge yang tertutup rapat. Cahaya lilin yang temaram memantulkan bayangan serius di wajah mereka. "Fabian, kau sudah mengerti tugasmu?" tanya Duke Cassian sembari memeriksa ketajaman belati tersembunyi di balik jasnya. Fabian membungkuk hormat, wajahnya kaku seperti batu. "Saya akan berperan sebagai perantara logistik, Yang Mulia. Begitu kita berada di dalam gudang, pasukan elit kita yang menyamar sebagai kuli panggul akan mulai mengamankan isi peti kemas tersebut secara bertahap saat Count Owen lengah." Florence menatap peta pelabuhan yang terbentang di meja. "Pastikan anak-anak itu dibawa keluar melalui jalur drainase bawah yang terhubung ke gudang Silverhood. Kita butuh mereka sebagai barang bukti hidup yang tidak bisa dibantah," sahut Florence.Fabian mengangguk khidmat. "Saya mengerti, Nyonya.""Baiklah kita berangkat sekarang," ucap Duke Cassian memimp
Tiba saatnya perjamuan di kediaman Valeridge. Semua bangsawan yang mendapatkan undangan hadir dengan kereta kuda yang terparkir rapi di halaman. Sebenarnya pertemuan ini adalah kedok belaka. Florence dan Duke Cassian hanya ingin memancing keluar bangsawan yang terdaftar di mitra bisnis dan donatur suci yang ditemukan tempo hari di ruang kerja Duke Benedictus."Sudah siap?" bisik Duke Cassian dari balik punggung Florence.Lantas Florence menoleh ke samping dan mendongak. "Tentu saja, Yang Mulia," ucapnya sembari tersenyum manis.Melihat Florence yang terlihat percaya diri membuat Duke Cassian ikut terkekeh pelan. Kemudian ia menyodorkan lengannya. "Mari kita pancing para bajingan itu, Sayang." Florence tertawa kecil lalu menyambutnya dengan melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Duke Cassian, membiarkan jemarinya bertengger ringan di sana sebagai simbol kesetiaan mereka di depan publik. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya sedikit menegang di balik kain beludru setelannya, namun p
Anak perempuan yang mereka selamatkan semalam, kini sedang berdiri di tengah ruangan dengan kuas di tangan dan wajah belepotan cat warna-warni. Di depannya, Blake, juga tak kalah belepotan. Wajahnya dipenuhi sapuan kuas cat hijau, rambutnya berhias bintik-bintik merah, dan jubahnya kini seperti palet berjalan. "Ah ... selamat datang!" seru Blake dengan tawa renyah, sama sekali tidak menyadari betapa konyol penampilannya. "Kami sedang mencoba teknik melukis baru!" Sebelum Florence sempat bereaksi, anak itu tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan semangat, membawa kuas yang masih penuh cat biru cerah. SPLASH! Florence merasakan cipratan cat biru mendarat telak di pipinya, tepat di sebelah hidungnya. Ia terkesiap, lalu melirik Duke Cassian yang berdiri di sampingnya. Duke Cassian, penguasa Silverhood yang selalu dingin dan berwibawa, kini memiliki noda cat kuning cerah di dahinya, sedikit merah di jubahnya, dan beberapa bintik hijau di rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi
Sore harinya Florence dan Duke Cassian berdiri di aula katedral yang megah, menunggu kedatangan Sang Paus. Duke Cassian berdiri tegak, sementara Florence menunggu dengan bosan. Pasalnya sudah sejam mereka menunggu Paus yang tengah berdoa. Kemudian Paus Silvanus melangkah masuk dengan jubah putih bersih yang menyapu lantai, memancarkan aura kesucian yang menenangkan bagi siapa pun yang melihatnya. "Kami datang untuk memohon maaf atas kekacauan yang terjadi di perayaan bulan purnama semalam, Paus Silvanus," ucap Florence sembari membungkuk hormat. Paus tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekati Duke Cassian, menatap wajah pria itu dengan intensitas yang tidak biasa. Sebuah tatapan yang menyiratkan kerinduan yang mendalam. Itu hanya sepersekian detik sebelum ekspresinya itu kembali datar. "Wajahmu... kau benar-benar mewarisi matanya," gumam Paus Silvanus, suaranya terdengar seperti bisikan yang teredam emosi mendalam. "Ia adalah Perdamaian yang paling indah, namun semu







