Share

Rangkulan yang Manis

Penulis: arctrs_
last update Tanggal publikasi: 2026-01-12 21:57:13

Florence yang mendengar perkataan Putri Seraphina tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Apakah Duke Cassian dan Putri Seraphina memang pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya? Putri Seraphina juga dengan lantang memanggil Duke Cassian dengan nama kecilnya.

Duke Cassian tidak merespons Putri Seraphina, melainkan memandang Florence dengan penuh arti sambil merangkul pinggangnya.

"Sejak melihat Nona Clarice untuk pertama kalinya aku merasakan getaran yang tiada henti. Mungkin kami memang telah ditakdirkan untuk bersama," ujarnya lalu mengambil jemari Florence dan mengecupnya perlahan.

Florence mematung melihat ucapan dan tindakan duke barusan. Apa tadi katanya? Getaran tiada henti? Ditakdirkan untuk bersama? Sungguh mulut Duke Cassian ini terlalu lihai untuk berbohong.

"Akhirnya musim semi jatuh juga untuk Silverhood. Semoga pernikahan kalian nanti diberkati, Duke Cassian dan Nona Clarice," ujar Raja Aldric seraya bertepuk tangan untuk memecah keheningan.

Florence lalu melirik reaksi Putri Seraphina. Bisa ia lihat matanya sedikit bergetar dengan pandangan iri melihat perlakuan Duke Cassian padanya. Namun itu hanya beberapa detik sebelum Putri Seraphina juga ikut bersorak.

"Ternyata selera Duke adalah perempuan lemah lmbut dan sederhana dari yang kubayangkan. Tapi tentu, keindahan yang sederhana punya pesonanya sendiri," ucap Putri Seraphina.

Sepertinya Florence harus mulai terbiasa dengan nada menyanjung dan menghina dalam perbincangan para bangsawan, terima kasih kepada Duke Cassian dan Putri Seraphina. Ia belajar banyak hal!

Florence membungkuk. "Yang Mulia Putri terlalu menyanjung."

"Aku hanya menyampaikan kebenaran." Seraphina tersenyum, tapi sorot matanya dingin. "Kau pasti merasa agak tersesat di sini. Istana Ironhard sangat berbeda dengan apa pun yang ada di Aethelgard yang sederhana."

"Benar sekali Yang Mulia Putri, bangunan di sini sangat memukau sampai-sampai saya baru menyadari bahwa sepanjang perjalanan kami ke sini hanya terlihat tanah yang tandus. Di Aethelgard sendiri tiap sudut kota pasti ada setidaknya perkebunan maupun pertanian. Tanah subur kami memang sangat diberkati Tuhan," balas Florence dengan tenang.

"Bijaksana sekali!" Seraphina tertawa kecil, tidak menyangka Florence akan menimpali dengan kekurangan kerajaan Ironhard. "Ian, di mana kau menemukan mutiara langka ini? Kupikir kau tidak tertarik pada wanita yang bisa berpikir."

Ruang menjadi hening. Duke mengerutkan kening. "Kecerdasan adalah salah satu kualitas yang aku hargai."

"Tentu saja." Putri Seraphina kembali ke sisi ayahnya. "Tapi kau harus mengakui, ini semua agak... terburu-buru. Perjanjian damai, pernikahan mendadak." Ia menatap Florence. "Kau tidak takut orang akan berpikir ini pernikahan terpaksa?"

"Semua pernikahan bangsawan adalah pernikahan terpaksa," jawab Duke sebelum Florence bisa menjawab. "Setidaknya pernikahan kami memiliki tujuan yang jelas."

Raja mendengus. "Jangan terlalu gegabah, Cassian." Matanya beralih ke Florence. "Nona Clarice, apakah kau memahami sepenuhnya apa yang kau lakukan? Menikahi Duke Cassian artinya kau akan hidup di Ironhard, bukan lagi di Aethelgard."

"Saya siap, Yang Mulia," ucap Florence dengan penuh keyakinan.

"Bagaimana jika perdamaian ini gagal? Jika perang pecah lagi?" Raja bersandar ke depan. "Di mana kesetiaanmu akan berada, Nona Clarice?"

Florence merasakan semua mata tertuju padanya. Di sinilah ujian keyakinan yang harus Florence hadapi. Ia berusaha menarik napas untuk menenangkan dirinya. "Kesetiaan saya akan berada pada suami saya dan rumah baru saya. Saya akan menjadi rakyat Ironhard, Yang Mulia, tetapi saya tidak akan melupakan tanah kelahiran saya pula, Aethelgard."

Seraphina tersenyum manis. "Begitu mudah berpindah kesetiaan. Menarik."

"Ini bukan tentang berpindah kesetian," balas Florence, mempertahankan kontak mata dengan putri itu. "Ini tentang membangun perdamaian abadi yang baru. Seperti yang dilakukan semua pengantin yang meninggalkan rumah mereka demi memperoleh perdamaian."

"Nona Clarice, apakah Kau sadar datang ke sini dengan darah Aethelgard di pembuluhmu. Darah yang telah menentang Ironhard selama beberapa generasi?" tanya Putri Seraphina sambil tersenyum sinis.

Duke Cassian melangkah maju. "Itu cukup, Seraphina."

"Oh, aku hanya ingin memastikan Putri Clarice sadar akan posisinya, Ian." Seraphina memandang Florence lagi. "Kau lihat, di Ironhard, kita tidak mudah melupakan. Dan kita juga tidak mudah memaafkan."

"Apa yang Putri coba katakan?" tanya Florence dengan tenang, berusaha untuk tidak terpancing amarah. Ia sudah berjandi pada duke akan menjadi calon duchess yang anggun.

Putri Seraphina tersenyum, tapi suaranya seperti pisau yang siap mengiris lawannya. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa restu bisa diberikan, tapi penerimaannya, itu adalah suatu hal lain. Nona bisa saja menikahi Duke, tapi apakah Nona akan diterima secara utuh oleh semua kalangan? Di istana ini? Di kerajaan ini?" ia menoleh ke arah Duke Cassian. "Apakah kau sendiri bisa melupakan siapa dia sebenarnya?"

Duke Cassian terdiam. Florence melihat kepalan tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Raja Aldric yang melihat situasi mulai memanas akhirnya turun tangan. "Seraphina, cukup. Pernikahan ini adalah untuk perdamaian. Kita harus mendukungnya."

"Tentu saja, Ayah." Seraphina membungkuk. "Untuk perdamaian." Dia menoleh ke Florence. "Kuharap kau membawa keberuntungan lebih baik daripada yang terakhir."

Duke membeku. "Apa maksudmu?"

"Tak ada." Seraphina berbalik. "Hanya... berusaha mendoakan.

"Baiklah karena sudah ditentukan, pernikahan kalian akan diadakan minggu depan. Putriku akan membantu persiapan pesta pernikahan kalian mengingat Nona Clarice belum terlalu mengerti budaya pernikahan di Ironhard," kata Raja Aldric kemudian.

Duke Cassian sempat ingin menolak, terlihat dari mimik mukanya yang terlihat kusut. Namun entah mengapa ia kemudian membungkuk hormat, "Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia. Kami pamit undur diri."

Kemudian Duke Cassian dan Florence meninggalkan aula istana kerajaan Ironhard dengan pergulatan batin mereka masing masing.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Tunas Baru

    lima bulan telah berlalu. Selama hidup di Oakhaven, Florence merasa hidupnya lebih tenteram. Walaupun dalam sudut hatinya kosong, asalkan anak dalam kandungannya aman, Florence rasa itu sudah cukup untuk sekarang. "Jangan memaksakan dirimu, istirahatlah." Sebuah suara dari belakang membuat Florence menoleh sebentar. Blake baru saja pulang dari pasar membawa sekarung beras beserta ikan segar. Florence tersenyum samar, kemudian kembali memusatkan dirinya untuk menumbuk beberapa dedaunan herbal. "Ini tinggal beberapa pesanan obat lagi. Berhentilah khawatir," balas Florence dengan ringan. Blake lalu menurunkan karung beras dari pundaknya ke lantai dapur. Ia lalu berjalan menuju bak air untuk mencuci ikan. Florence mengamati Blake dalam diam. Selama mereka di Oakhaven, Blake selalu membawakan bahan makanan untuk Florence dan Elara–anak perempuan yang ia selamatkan dari Ordo Sanctus. Florence dan Blake memutuskan untuk pisah rumah, mengingat mereka pendatang baru di sini. Walaup

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pelarian

    Sesuai dengan rencana pelarian mereka, Blake membawa Florence melintasi samudera menuju Kepulauan Oakhaven, sebuah wilayah pesisir terpencil di ujung benua yang dikelilingi kabut tebal dan hutan cemara. Di sana, hukum kerajaan Aethelgard maupun Ironhard hanyalah dongeng jauh yang tak berani menyentuh daratannya. Mereka menetap di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir tebing yang menghadap ke laut lepas. Di malam pertama mereka tiba, suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan emosional Florence. Florence duduk di depan perapian yang menyala, memeluk secangkir teh hangat dengan tangan yang masih gemetar. Blake berdiri di dekat jendela, matanya tetap siaga mengawasi kegelapan hutan di luar, namun hatinya tertuju sepenuhnya pada wanita yang tampak begitu rapuh di depannya. "Blake..." suara Florence memecah kesunyian, parau dan penuh luka. "Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya." Blake berbalik, menatap Florence dengan

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pengakuan Dosa

    Florence mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit sel yang dingin dan lembap telah berganti menjadi atap kayu tua yang rendah. Suara derit jeruji besi pun menghilang, digantikan oleh suara api yang berderak pelan di tungku kecil. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa obat tidur yang disuntikkan sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah pondok kecil yang sangat tersembunyi. "Kau sudah bangun?" Florence menoleh. Di sudut ruangan yang remang, seorang wanita berdiri dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Saat wanita itu mendekat ke cahaya lampu minyak, jantung Florence seolah berhenti. Wajah itu... wajah yang selama ini ia lihat di cermin setiap pagi. "Clarice?" bisik Florence parau. "Iya, ini aku," sahut Clarice dengan nada yang bergetar. Ia tidak berani menatap mata Florence secara langsung. Di samping Clarice, berdiri Blake yang tampak siaga dengan pedang di pingg

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Keputusasaan yang Menyiksa

    Sisa-sisa pemberontak mulai melarikan diri ke arah tebing, namun Duke Cassian tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia memacu kudanya dengan beringas; tak ingin menyisakan satu mulut pun yang berani mencoreng kehormatan istrinya."Yang Mulia, tunggu! Itu terlalu berbahaya!" peringat salah satu pengawal dari kejauhan.Duke Cassian tuli terhadap peringatan itu. Ia terus memacu derap langkah kudanya melewati jembatan kayu sempit yang membelah jurang Stonegate. Namun, tepat saat kaki kudanya menginjak bagian tengah jembatan, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi kayu tersebut.BOOM!Bubuk mesiu yang telah ditanam secara rahasia oleh para pemberontak meledak tepat di bawahnya. Lidah api membubung tinggi, melahap struktur jembatan dalam sekejap. Duke Cassian terjebak di tengah kobaran yang meruntuhkan segalanya. Kudanya meringkik ngeri sebelum akhirnya mereka terperosok ke dalam jurang salju yang tak berdasar.Tubuh Cassian menghantam bebatuan tajam sebelum akhirnya tenggelam di bal

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pertumpahan Darah

    Duke Cassian memacu kudanya di garis paling depan. Setiap hentakan tapal kuda yang menghantam tanah salju di perbatasan Stonegate terdengar seperti detak jantung yang memburu. Perbatasan antara Kerajaan Aethelgard dan Ironhard ini tampak begitu suram di bawah langit yang mendung. Dasar keparat! Kutuk Duke Cassian di pertengahan. Pikirannya berkecamuk. Wilayah Stonegate ini selalu saja menjadi duri dalam daging. Ia merasa geram karena para penduduk di sini seolah menutup mata atas kebaikan Florence yang pernah berkunjung ke sini sebagai Duchess Silverhood. Sekarang, mereka justru membalasnya dengan pemberontakan keji, hanya karena termakan fitnah murah bahwa Duchess mereka terlibat dalam kejahatan Ordo Sanctus. Begitu Duke Cassian tiba di titik pertemuan, langkah kudanya terhenti. Di depannya, barisan manusia bertopeng dengan parang yang berkilat di tangan mereka sudah bersiaga. Jumlah mereka tak main-main. Kurang lebih lima puluh orang. Itu adalah angka yang cukup menekan jika di

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Tuntutan Hukuman Mati

    Florence terdiam. Tenggorokannya tercekat.Anak perempuan itu seharusnya menjadi bukti kunci bahwa Florence menyelamatkannya, bukan menjualnya. Namun, sejak kekacauan di Valeridge pecah dan pengawal bayangan Duke Cassian tidak kembali, mereka menghilang tanpa jejak. Ordo Sanctus pasti sudah melenyapkannya atau menyembunyikannya agar Florence tidak memiliki pembelaan."Saya ... saya tidak bisa mendatangkannya sekarang, Yang Mulia. Berikan saya waktu dan keleluasaan untuk menjemput saksi dari saya. Dia adalah seoran anak yang akan ditumbalkan oleh mereka yang berhasil saya selamatkan," suara Florence lantang meskipun tangannya gemetar.Seorang jaksa berdiri dari duduknya. Ia merapikan sebagian jubahnya yang kusut. ​"Waktu dan keleluasaan?" Jaksa itu tertawa hambar, suaranya menggema di aula yang dingin. "Sungguh sebuah pembelaan yang klise, Duchess. Anda meminta waktu untuk mencari saksi yang secara 'ajaib' menghilang tepat saat pengkhianatan Anda terbongkar? Tidakkah itu terlalu nyama

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Mengejar Pembunuh Beracun

    Kerumunan terpecah belah. Keadaan menjadi kacau balau tak terkendali. Duke Cassian memerintahkan pengawalnya mengejar pembunuh, sementara ia dan Florence menenangkan kerumunan lebih dahulu. "Semuanya tenang! Aku sudah memerintahkan pengawalku untuk mencari pembunuh itu," kata Duke Cassian dengan

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Jejak di Antara Kematian

    Pagi itu tenda pengungsian Stonegate mendadak ramai. Bukan tanpa alasan keramaian itu terjadi. Semalam tiga orang padien di sana meninggal secara mendadak. Dengan langkah pasti, Florence dan Duke Cassian berusaha membelah kerumunan di sana. Sayup-sayup isak tangis bersautan satu sama lain mencipt

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Wabah di Stonegate

    Melihat raut tak yakin di wajah Duke Cassian, Florence bberusaha tersenyum menenangkan. “Percaya saja pada saya, Yang Mulia. Saya akan melakukan yang terbaik.” Florence kemudian melepaskan genggaman Duke Cassian dan mendekati seorang anak yang terbaring demam. Anak itu mungkin berusia lima tahun,

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Bulan Madu di Perbatasan Stonegate

    Perjalanan tiga hari menuju Stonegate terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Udara segar pemukiman kini menghitam, tebal oleh asap dan bau yang tidak sedap. Kota perbatasan yang dulunya benteng pertahanan itu sekarang hanya berupa puing-puing bangunan yang telah hancur sebagian dan banyak te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status