ログインFlorence yang mendengar perkataan Putri Seraphina tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Apakah Duke Cassian dan Putri Seraphina memang pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya? Putri Seraphina juga dengan lantang memanggil Duke Cassian dengan nama kecilnya.
Duke Cassian tidak merespons Putri Seraphina, melainkan memandang Florence dengan penuh arti sambil merangkul pinggangnya. "Sejak melihat Nona Clarice untuk pertama kalinya aku merasakan getaran yang tiada henti. Mungkin kami memang telah ditakdirkan untuk bersama," ujarnya lalu mengambil jemari Florence dan mengecupnya perlahan. Florence mematung melihat ucapan dan tindakan duke barusan. Apa tadi katanya? Getaran tiada henti? Ditakdirkan untuk bersama? Sungguh mulut Duke Cassian ini terlalu lihai untuk berbohong. "Akhirnya musim semi jatuh juga untuk Silverhood. Semoga pernikahan kalian nanti diberkati, Duke Cassian dan Nona Clarice," ujar Raja Aldric seraya bertepuk tangan untuk memecah keheningan. Florence lalu melirik reaksi Putri Seraphina. Bisa ia lihat matanya sedikit bergetar dengan pandangan iri melihat perlakuan Duke Cassian padanya. Namun itu hanya beberapa detik sebelum Putri Seraphina juga ikut bersorak. "Ternyata selera Duke adalah perempuan lemah lmbut dan sederhana dari yang kubayangkan. Tapi tentu, keindahan yang sederhana punya pesonanya sendiri," ucap Putri Seraphina. Sepertinya Florence harus mulai terbiasa dengan nada menyanjung dan menghina dalam perbincangan para bangsawan, terima kasih kepada Duke Cassian dan Putri Seraphina. Ia belajar banyak hal! Florence membungkuk. "Yang Mulia Putri terlalu menyanjung." "Aku hanya menyampaikan kebenaran." Seraphina tersenyum, tapi sorot matanya dingin. "Kau pasti merasa agak tersesat di sini. Istana Ironhard sangat berbeda dengan apa pun yang ada di Aethelgard yang sederhana." "Benar sekali Yang Mulia Putri, bangunan di sini sangat memukau sampai-sampai saya baru menyadari bahwa sepanjang perjalanan kami ke sini hanya terlihat tanah yang tandus. Di Aethelgard sendiri tiap sudut kota pasti ada setidaknya perkebunan maupun pertanian. Tanah subur kami memang sangat diberkati Tuhan," balas Florence dengan tenang. "Bijaksana sekali!" Seraphina tertawa kecil, tidak menyangka Florence akan menimpali dengan kekurangan kerajaan Ironhard. "Ian, di mana kau menemukan mutiara langka ini? Kupikir kau tidak tertarik pada wanita yang bisa berpikir." Ruang menjadi hening. Duke mengerutkan kening. "Kecerdasan adalah salah satu kualitas yang aku hargai." "Tentu saja." Putri Seraphina kembali ke sisi ayahnya. "Tapi kau harus mengakui, ini semua agak... terburu-buru. Perjanjian damai, pernikahan mendadak." Ia menatap Florence. "Kau tidak takut orang akan berpikir ini pernikahan terpaksa?" "Semua pernikahan bangsawan adalah pernikahan terpaksa," jawab Duke sebelum Florence bisa menjawab. "Setidaknya pernikahan kami memiliki tujuan yang jelas." Raja mendengus. "Jangan terlalu gegabah, Cassian." Matanya beralih ke Florence. "Nona Clarice, apakah kau memahami sepenuhnya apa yang kau lakukan? Menikahi Duke Cassian artinya kau akan hidup di Ironhard, bukan lagi di Aethelgard." "Saya siap, Yang Mulia," ucap Florence dengan penuh keyakinan. "Bagaimana jika perdamaian ini gagal? Jika perang pecah lagi?" Raja bersandar ke depan. "Di mana kesetiaanmu akan berada, Nona Clarice?" Florence merasakan semua mata tertuju padanya. Di sinilah ujian keyakinan yang harus Florence hadapi. Ia berusaha menarik napas untuk menenangkan dirinya. "Kesetiaan saya akan berada pada suami saya dan rumah baru saya. Saya akan menjadi rakyat Ironhard, Yang Mulia, tetapi saya tidak akan melupakan tanah kelahiran saya pula, Aethelgard." Seraphina tersenyum manis. "Begitu mudah berpindah kesetiaan. Menarik." "Ini bukan tentang berpindah kesetian," balas Florence, mempertahankan kontak mata dengan putri itu. "Ini tentang membangun perdamaian abadi yang baru. Seperti yang dilakukan semua pengantin yang meninggalkan rumah mereka demi memperoleh perdamaian." "Nona Clarice, apakah Kau sadar datang ke sini dengan darah Aethelgard di pembuluhmu. Darah yang telah menentang Ironhard selama beberapa generasi?" tanya Putri Seraphina sambil tersenyum sinis. Duke Cassian melangkah maju. "Itu cukup, Seraphina." "Oh, aku hanya ingin memastikan Putri Clarice sadar akan posisinya, Ian." Seraphina memandang Florence lagi. "Kau lihat, di Ironhard, kita tidak mudah melupakan. Dan kita juga tidak mudah memaafkan." "Apa yang Putri coba katakan?" tanya Florence dengan tenang, berusaha untuk tidak terpancing amarah. Ia sudah berjandi pada duke akan menjadi calon duchess yang anggun. Putri Seraphina tersenyum, tapi suaranya seperti pisau yang siap mengiris lawannya. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa restu bisa diberikan, tapi penerimaannya, itu adalah suatu hal lain. Nona bisa saja menikahi Duke, tapi apakah Nona akan diterima secara utuh oleh semua kalangan? Di istana ini? Di kerajaan ini?" ia menoleh ke arah Duke Cassian. "Apakah kau sendiri bisa melupakan siapa dia sebenarnya?" Duke Cassian terdiam. Florence melihat kepalan tangannya mengepal di samping tubuhnya. Raja Aldric yang melihat situasi mulai memanas akhirnya turun tangan. "Seraphina, cukup. Pernikahan ini adalah untuk perdamaian. Kita harus mendukungnya." "Tentu saja, Ayah." Seraphina membungkuk. "Untuk perdamaian." Dia menoleh ke Aira. "Kuharap kau membawa keberuntungan lebih baik daripada yang terakhir." Duke membeku. "Apa maksudmu?" "Tak ada." Seraphina berbalik. "Hanya... berusaha mendoakan. "Baiklah karena sudah ditentukan, pernikahan kalian akan diadakan minggu depan. Putriku akan membantu persiapan pesta pernikahan kalian mengingat Nona Clarice belum terlalu mengerti budaya pernikahan di Ironhard," kata Raja Aldric kemudian. Duke Cassian sempat ingin menolak, terlihat dari mimik mukanya yang terlihat kusut. Namun entah mengapa ia kemudian membungkuk hormat, "Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia. Kami pamit undur diri." Kemudian Duke Cassian dan Florence meninggalkan aula istana kerajaan Ironhard dengan pergulatan batin mereka masing masing."Mengapa Nona menyendiri di sini?" Florence menyesap kembali alkohol dari gelasnya. "Bukan nona tapi nyonya duchess, Yang Mulia Pangeran," balas Florence dengan linglung. Di saat seperti ini Florence justru malah mengomentari status sosialnya. Entah keberanian dari mana ia mampu mengoreksi kesalahan Pangeran Aurelian di sampingnya. "Maafkan kesalahan saya ini, Nyonya Duchess," kata Pangeran Aurelian dengan terkikik geli melihat sikap Florence. Ini tidak seperti Florence yang anggun sebagai seorang istri duke. "Benar, aku bukanlah seorang nona lagi. Mengapa aku harus menikahi duke sialan itu, hah? Aku sungguh menyesal!!" racau Florence sudah sepenuhnya mabuk melihat gelas di tangannya sudah kosong. Melihat Florence yang sudah kehilangan akal, Pangeran Aurelian berusaha terus mengajaknya mengobrol. "Mengapa Anda harus menyesal, Nyonya? Duke Cassian adalah pria nomor dua di kekaisaran ini? Bukankah seharusnya keberuntungan ada di pihak Anda?" Dengan pandangan bingung, Florence b
Resepsi di aula kediaman Duke Cassian dipenuhi musik dan berbagai kemewahan pesta. Duke Cassian dan Florence harus berjabat tangan dengan puluhan bangsawan, masing-masing dengan senyuman yang sama palsunya.Pada puncak acara, Duke Cassian akan berdansa untuk pertama kalinya dengan Florence di tengah aula. Florence merasakan semua tatapan tertuju padanya. Hanya untuk berjalan saja kakinya terasa lemas apalagi untuk berdansa. Bisakah Florence melarikan diri sekarang? "Mari berdansa, istriku?" pinta Duke Cassian seraya mengulurkan tangannya pada Florence.Walaupun dengan berat hati, Florence menerima uluran tangan Duke Cassian. Mereka melangkah menuju ke tengah aula dengan semua jenis tatapan tertuju pada mereka. Florence entah mengapa tidak bisa menghentikan lirikan matanya ke arah Putri Seraphina di sudut dinding sana. Yang terlihat hanya ekspresi dingin kala melihat Florence dan Duke Cassian. Florence juga baru ingat kalau Putri Seraphina tidak terlihat di acara pernikahannya di ge
Akhirnya tiba hari di mana Florence akan menikah dengan Duke Cassian setelah seminggu ia telah disibukkan persiapan pernikahan yang tiada habisnya. Upacara pernikahan dilakukan di Gereja Kerajaan Ironhard dan dipimpin langsung oleh Uskup Agung. Florence melangkah menyusuri jalan dengan merangkul lengan ayahnya. Selama ia hidup baru kali ini ia bisa menyentuh kehangatan yang ayahnya berikan walaupun itu cuma kepalsuan. Di altar, Duke Cassian tengah menunggunya dengan mimik muka yang sulit dipahami. Namun tatapan matanya tak pernah berpaling darinya bahkan sedetik pun. Florence tahu bahwa akting calon suaminya itu patut diacungi jempol sampai-sampai ia mengira bahwa tatapan itu tertuju pada pujaan hatinya yang sudah lama ia dambakan. Sungguh ironis, pikir Florence karena sempat dibuat berdebar karenanya.Kala Florence sampai di altar dan ayahnya menyerahkannya pada Duke Cassian, tatapannya masih tetap memandangnya tanpa sepatah kata pun. Florence memberanikan diri membuka suara, "Terpe
Keesokan paginya, kediaman Silverhood kedatangan Putri Seraphina serta penjahit kerajaan dengan enam asisten dan tiga rak gaun. Duke Cassian dan Florence tidak menyangka kalau putri itu akan secepat ini untuk datang mengingat baru kemarin pertemuan mereka berlangsung."Kalian tidak lupa kan kalau aku mendapatkan perintah dari Ayah untuk membantu persiapan pernikahan kalian?" kata Putri Seraphina dengan wajah tak berdosanya itu.Florence menarik senyum, lalu membalas, "Yang Mulia Putri sangat baik hati untuk meluangkan waktu Anda yang berharga. Pasti Yang Mulia punya tugas-tugas lain yang tak kalah penting dari ini, tapi Yang Mulia justru memprioritaskan kami."Putri Seraphina harusnya menyadari ucapan Florence sarat akan sindiran padanya. Namun Putri itu tampaknya tak terlalu mengambil hati. Ia beralih memandang Duke Cassian. "Apa aku mengganggu waktu kalian di sini? Maafkan aku yang terlalu bersemangat. Aku akan pulang dan bilang kepada Ayah-"Duke Cassian menyela, "Tidak. Kita bisa
Florence yang mendengar perkataan Putri Seraphina tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Apakah Duke Cassian dan Putri Seraphina memang pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya? Putri Seraphina juga dengan lantang memanggil Duke Cassian dengan nama kecilnya.Duke Cassian tidak merespons Putri Seraphina, melainkan memandang Florence dengan penuh arti sambil merangkul pinggangnya. "Sejak melihat Nona Clarice untuk pertama kalinya aku merasakan getaran yang tiada henti. Mungkin kami memang telah ditakdirkan untuk bersama," ujarnya lalu mengambil jemari Florence dan mengecupnya perlahan.Florence mematung melihat ucapan dan tindakan duke barusan. Apa tadi katanya? Getaran tiada henti? Ditakdirkan untuk bersama? Sungguh mulut Duke Cassian ini terlalu lihai untuk berbohong. "Akhirnya musim semi jatuh juga untuk Silverhood. Semoga pernikahan kalian nanti diberkati, Duke Cassian dan Nona Clarice," ujar Raja Aldric seraya bertepuk tangan untuk memecah keheningan.Florence lalu melirik re
Kereta mewah berlapiskan perak melaju pelan menyusuri jalan berliku menuju Istana Kerajaan Ironhard. Di dalam kabin yang sempit, Florence dan Duke Cassian duduk berseberangan, menciptakan jarak di antara keduanya tetap terjaga. Florence melirik Duke Cassian dari ujung matanya. Terlihat duke sedang menatap keluar jendela. Kalau sedang tenang begini, Florence tidak bisa menyangkal aura dominan yang ia ciptakan. Kalau saja mulutnya itu sedikit lebih manis, pasti Florence akan melunak. Sayangnya mulutnya itu diciptakan hanya untuk menghinanya. "Apakah di Aethelgard tidak ada yang setampan diriku, Nona? Berhenti menatapku atau kuturunkan kau di sini." Florence terkesiap. Ia tidak menyangka lirikannya telah berubah menjadi tatapan penuh arti. Duke Cassian masih menatap ke luar jendela. Karena sudah tertangkap basah telah memandangi Duke Cassian, Florence memaksakan batuknya. "Saya bukannya memandang Yang Mulia, hanya ikut melihat pemandangan indah di luar kereta. Ini adalah pertama kali







