Share

Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan
Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan
Author: Leona Valeska

Bab 1

Author: Leona Valeska
last update Last Updated: 2026-01-19 17:37:12

“Lantai ini harus cukup bersih sampai kau bisa melihat bayangan wajah menjijikkanmu di sana, Revana.”

Revana Jovanka, gadis cantik berusia 24 tahun itu kini tengah bersimpuh dengan lutut gemetar.

Baru seminggu yang lalu dia berdiri tegak dengan toga wisudanya sambil memegang ijazah sarjana dengan mimpi setinggi langit.

Kini, mimpi itu runtuh. Sebagai ganti nyawa Carlo Leonardo yang tewas dalam kecelakaan sabotase yang didalangi ayahnya, Revana harus menanggalkan harga dirinya.

Seragam pelayan yang dikenakannya terasa terlalu tipis, kasar, dan menghina, potongan kain abu-abu kusam yang menandakan kasta terendahnya di rumah ini.

Damian Leonardo berdiri di hadapannya, menjulang seperti malaikat maut dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Sepatu pantofelnya yang mengkilap menginjak ujung jemari Revana yang sedang memegang kain pel.

“Kau dengar aku, Revana?” Damian menekan sepatunya hingga membuat Revana meringis tertahan.

“D-dengar, Tuan Damian,” bisik Revana parau. Matanya yang sembap menatap lantai karena tak berani mendongak.

“Bicara lebih keras! Di mana harga diri putri tangan kanan ayahku yang hebat itu?” Damian menjambak rambut Revana dan memaksa gadis itu mendongak hingga lehernya terasa ingin patah.

“Ayahmu membunuh ayahku. Dia mengkhianati kepercayaan keluarga ini demi tumpukan uang Moretti. Dan sekarang, kau adalah cicilan pertama dari utang itu.”

“Ayahku tidak mungkin melakukan itu,” rintih Revana. Air mata jatuh melewati pipinya yang memar. “Dia sangat setia pada Tuan Carlo. Dan Anda pun tahu itu, Tuan Damian.”

Pria berusia 34 tahun itu menyunggingkan senyum sinis lalu menekan bahu Revana dengan keras hingga membuat Revana meringis kesakitan.

“Aturan pertama di rumah ini,” Damian membungkuk dan membisikkan kata-katanya tepat di telinga Revana yang berdenging.

“Kau tidak punya hak untuk membela pengkhianat. Kau tidak punya hak untuk bicara kecuali aku memerintahkannya. Jika kau membuka mulutmu lagi tanpa izin, aku akan memastikan adik SMA-mu, Arkan, tidak akan pernah sampai ke sekolahnya besok pagi.”

Revana tersedak isak tangisnya sendiri. Nama adiknya adalah rantai yang mengunci seluruh keberaniannya. Dia tahu Damian tidak main-main. Keluarga Leonardo menguasai polisi, pelabuhan, dan nyawa di kota ini.

“Maafkan aku, Tuan,” bisik Revana dan tubuhnya gemetar hebat. “Aku akan bekerja sebaik mungkin di rumah ini.”

Damian berdiri tegak lalu merapikan jasnya dengan gestur yang sangat tenang, seolah dia tidak baru saja menyiksa seorang wanita.

“Bagus. Habiskan sisa malam ini dengan membersihkan seluruh koridor sayap barat. Jangan berani-berani tidur sebelum semuanya selesai!”

Langkah kaki berat Damian mulai menjauh, namun suara langkah kaki lain terdengar mendekat. Terlalu santai, tidak seperti langkah Damian yang begitu tegas dan menakutkan.

“Wah, wah. Jadi ini 'pembayar utang' yang kau bicarakan, Damian?”

Sebuah suara yang lebih ringan dan bernada ceria terdengar. Revana tetap menunduk, namun dia bisa melihat sepasang sepatu sneakers mahal berhenti di depannya.

Itu Raphael, si bungsu berdiri dengan tangan terlipat di dada, tengah menatapnya dengan ekspresi yang lebih ceria dibanding Damian. 

“Namanya Revana, kan? Cantik juga,” Raphael berjongkok di depan Revana bahkan dia mengabaikan tatapan tajam Damian.

Dia lalu mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh dagu Revana yang kotor. “Hei, manis. Jangan menangis begitu, nanti matamu yang indah jadi bengkak.”

“Jauhkan tanganmu darinya, Raphael,” geram Damian dari kejauhan.

Raphael sontak tertawa kecil, suara tawanya terasa seperti musik yang salah di tempat yang salah.

“Ayolah, Damian. Dia pelayan baru kita, kan? Aku hanya ingin menyapa mainan baru di mansion ini. Siapa tahu dia lebih asyik diajak bicara daripada patung-patung di lorong ini.”

“Dia bukan mainan, Raphael,” ucap Damian dengan nada rendah dan tenang. “Dia adalah peringatan. Peringatan tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba menusuk punggung Leonardo.”

Damian kembali mendekat satu langkah hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Revana. “Bersihkan noda-noda sisa kopi itu dari lantai sampai bersih, Revana.”

Revana hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya yang gemetar kembali memeras kain pel di ember yang airnya sudah mulai kotor akibat noda kopi yang tumpah di ruang tengah itu.

Damian kemudian berjalan ke arah adik bungsunya, matanya menyipit tidak suka melihat perhatian yang adik bungsunya itu berikan pada Revana. Dia kemudian mencengkeram bahu Raphael dan menariknya menjauh.

“Jangan pernah menganggapnya lebih dari sampah, Raphael,” tegas Damian dengan nada memerintah.

“Dia ada di sini bukan untuk menghiburmu. Dia adalah anak dari pria yang membuat ayah kita terkubur di bawah tanah. Dia pelayan rendahan yang menanggung dosa ayahnya. Perlakukan dia sebagaimana mestinya seorang budak.”

Raphael mengangkat bahunya dan memberikan kedipan mata sekilas pada Revana saat Damian berbalik.

Raphael kemudian melangkah mendekati Revana dan menatapnya dengan tatapan lekatnya. Tangannya terulur pada pucuk kepala Revana dan mengusapnya seperti peliharaan baru di rumah itu. 

“Tentu, Bos. Tapi budak pun perlu diberi makan, kan? Kalau dia mati kelaparan, siapa yang akan membersihkan sepatuku?”

“Dia akan makan jika pekerjaannya selesai. Dan sejauh ini, aku belum melihat lantai ini mengkilap,” potong Damian dingin.

Damian kemudian menatap Revana untuk terakhir kalinya malam itu. “Ingat, Revana. Setiap tetes keringatmu adalah penebusan. Jangan coba-coba melarikan diri, atau kau akan menerima potongan tubuh adikmu di depan pintu kamar pelayanmu!” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Irish Celina
keren sekali KK author bukunya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 125

    “Darah ... Damian, kau penuh darah.” Revana membisikkan kata-kata itu dengan bibir yang biru.Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan mual yang muncul bukan karena luka fisik, melainkan karena kengerian melihat suaminya berubah menjadi mesin pembantai.Damian segera melempar dua pistol Tactical miliknya ke atas sofa hingga menimbulkan dentuman kecil.Dia menjatuhkan diri berlutut, dan mengabaikan serpihan kaca yang mungkin menusuk kakinya. Dia merangkak mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter agar Revana tidak semakin histeris.“Ini bukan darahku, Sayang. Aku tidak terluka. Aku bersumpah,” ucap Damian.“Kenapa kau harus melakukannya seperti itu? Aku mendengar suara mereka ... mereka berteriak, Damian,” isak Revana.“Karena mereka ingin mengambilmu dariku!” Damian membentak tanpa sengaja, suaranya menggelegar sebelum dia segera melembutkannya kembali.“Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghabisi mereka, mereka akan melewati pintu itu dan

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 124

    Lantai VVIP itu kini menjadi lorong maut. Debu sisa ledakan pintu masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tajam mesiu dan aroma amis yang mulai menyengat.Tiga mayat pasukan Regious tergeletak tumpang tindih di ambang pintu kamar 901, namun sisa pasukan mereka di luar masih terus menghujani ruangan dengan peluru.“Mundur! Dia punya senapan mesin di dalam!” teriak salah satu tentara bayaran dari balik meja perawat.“Bodoh! Damian tidak ada di sini! Cepat masuk dan selesaikan wanita itu sebelum bantuan datang!” balas pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan codet di pipi.Mereka tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, di balik deretan plafon gipsum yang tampak tenang, sebuah bayangan sedang bergerak tanpa suara.Damian tidak pernah pergi ke tangga darurat. Dia sudah berada di atas mereka sejak listrik dipadamkan, merayap di celah sempit antara beton dan plafon seperti predator yang menunggu mangsa masuk ke dalam jaring.BRAK!Satu panel plafon pecah tepat di ata

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 123

    Koridor lantai VVIP Rumah Sakit Pusat Leonardo kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana steril yang dingin.Damian berdiri di depan lift, mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia memeriksa jam tangannya, lalu menoleh ke arah Julian yang berdiri di sampingnya.“Semua kamera sudah diatur?” tanya Damian.Julian mengangguk pelan sembari menatap layar tablet di tangannya. “Sesuai rencana. Rekaman CCTV di lobi utama akan memperlihatkan konvoi mobilmu meninggalkan rumah sakit menuju bandara pribadi. Siapa pun yang menyadap ruangan ini akan mengira kau sedang mengejar pengiriman senjata Regious di perbatasan.”“Bagus,” desis Damian. Dia melirik ke arah pintu kamar 901 yang tertutup rapat.“Pastikan umpan ini ditelan mentah-mentah oleh mereka. Aku ingin tikus-tikus itu keluar dari lubangnya malam ini.”“Kau yakin meninggalkan Revana hanya dengan Raphael?” Julian tampak ragu. “Regious mungkin akan

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 122

    Lampu-lampu di langit-langit koridor berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala serentak, membanjiri kamar 901 dengan cahaya putih yang menyilaukan.Suara dengung mesin medis kembali terdengar, menandakan listrik cadangan telah mengambil alih. Ketegangan yang tadinya membeku di udara perlahan mencair.Damian menarik napas panjang, paru-parunya seolah baru saja mendapatkan pasokan oksigen setelah tercekik kegelapan masa lalu.Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menoleh ke arah Revana. Ketakutan di matanya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat tenang, senyum yang hanya ia simpan untuk satu orang.“Aku di sini, Revana. Aku baik-baik saja,” ucap Damian. Suaranya kembali berat dan stabil.“Damian, tadi kau ... kau tampak sangat kesakitan,” bisik Revana, jemarinya masih mencengkeram lengan kemeja Damian.“Hanya mimpi buruk yang tidak tahu tempat,” sahut Damian singkat dan mencoba berdiri, lalu dengan gerakan luwes, ia m

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 121

    Lantai VVIP itu seolah kehilangan detak jantungnya. Hanya ada bunyi teratur dari mesin monitor yang menemani kesunyian di dalam kamar 901.Damian masih di sana, duduk di kursi kulit yang kini terasa seperti singgasana sekaligus penjaranya.Lampu meja yang temaram menyinari wajahnya yang kuyu, namun tatapannya tetap tajam menghadap ke arah pintu, sebelum beralih ke sosok di atas ranjang.Revana menggerakkan jemarinya. Ia menoleh perlahan, menatap Damian dengan mata yang tidak lagi sekosong sebelumnya.“Damian?” bisik Revana dengan suara serak, nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan.Damian segera menegakkan punggungnya. Ia meraih tangan Revana, menggenggamnya dengan kedua tangan seolah sedang menjaga nyawa yang paling berharga.“Aku di sini. Jangan banyak bicara dulu, tenggorokanmu pasti sakit.”“Jangan pergi,” kata Revana, dan kali ini lebih jelas. Cengkeramannya pada tangan Damian menguat secara mengejutkan.“Tolong, jangan tinggalkan aku sedetik pun. Di luar sana ... aku tahu

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 120

    Lampu gantung kristal di langit-langit kasino bawah tanah “The Vault” bergetar halus setiap kali musik jazz bertempo rendah bergema di ruangan yang dipenuhi asap cerutu itu.Di meja bundar paling sudut, Julian Leonardo duduk dengan tenang, menyesap wiski tanpa es.Di hadapannya, tiga pria berjas rapi, utusan dari klan Moretti dan seorang mediator internasional beraksen Rusia menatapnya dengan pandangan yang tidak bersahabat.“Kau datang tanpa pengawal, Julian? Itu keberanian yang bodoh atau sekadar sombong?” tanya Moretti, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya.Julian meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentingan pelan. “Aku datang untuk bicara bisnis, bukan untuk berperang. Lagi pula, pengawalku hanya akan membuat kalian gugup.”“Bisnis?” Mediator Rusia itu, Ivanov, tertawa serak. “Bisnis kalian sedang sekarat. Aliansi Regious-Moretti sudah mengunci semua jalur logistikmu. Damian sedang sibuk bermain perawat di rumah sakit, dan kau di sini mencoba menawar nyawa?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status