Home / Romansa / Di Bawah Selimut Tetangga / Bab 4 - Kendali yang Retak

Share

Bab 4 - Kendali yang Retak

Author: Daisy
last update Last Updated: 2025-12-22 22:47:44

Sejak kesepakatan itu dibuat, Sagara mulai mengganggu ruang pribadi Aruna. 

Pria itu seolah berperan sebagai pemilik kedua dari pemilik rumahnya- memang benar tapi tidak secara harfiah.  Pria itu bahkan memanggil tukang untuk mengecek atap, mengganti kunci pagar belakang tanpa meminta persetujuan Aruna terlebih dahulu. 

Dan, Aruna kembali ke rumah itu sesuai kesepakatan. 

Hanya beberapa minggu atau bulan?

“Kuncinya sudah longgar. Jadi, saya ganti,” katanya santai suatu pagi. 

“Sepertinya ada sedikit kebocoran kemarin, jadi saya panggil tukang.”

“Rumputnya sudah tinggi-tinggi.”

Dan banyak lagi yang membuat Aruna mendesah lelah. Rumah ini benar-benar mulai menjadi milik berdua, tetapi Aruna sama sekali tidak datang ke rumah sebelah. Terakhir kali hanya saat mereka bertemu saja, setelahnya Aruna tidak tertarik. 

“Kamu bisa bilang dulu,” respon Aruna yang lelah dengan semua alasan Sagara. 

“Saya selalu bilang kan, Aruna. Tapi, kamu saja yang tidak pernah memberi respon,” jawab Sagara ringan. 

Benar. Aruna pikir pria itu akan berhenti kalau tidak ada respon darinya, tapi nyatanya Sagara tetap melakukan. Sesuatu yang bahkan Aruna bisa lakukan sendiri, tapi kali ini Sagara datang bak seorang pahlawan. 

“Aku bisa urus sendiri,” kata Aruna suatu sore, ketika Sagara kembali membahas soal halaman belakang. 

“Saya tahu, tapi kamu tidak melakukannya,” jawab Sagara.

Kalimat itu membuat Aruna terdiam, lalu menutup laptopnya dengan gerakan tegas. 

“Maksud kamu apa?”

“Kamu membiarkan rumah ini begitu saja, rusak, tidak terurus. Sama seperti kamu membiarkan banyak hal lain,” kata Sagara tenang. 

Aruna berdiri. “Jangan mulai, Sagara.” 

“Saya tidak mulai apa-apa,” sahut Sagara. 

Aruna sebenarnya enggan untuk berbicara dengan pria itu lagi, tapi urusan penjualan rumah membuatnya harus betah dengan semua ini. Sagara- pria itu tidak berubah sama sekali sejak terakhir kali pertemuan mereka dan mengingat pertemuan terakhir itu membuat Aruna mengeratkan tangan di penanya. 

“Terserah,” jawab Aruna sambil berlalu masuk ke dalam kamar. 

Malamnya, Aruna duduk sendirian di ruang tamu, ponsel di tangan. Tidak tahan dengan semua ini, Aruna memutuskan untuk menelepon Notaris guna menanyakan perihal tanda tangan. 

“Kalau salah satu pemilik ingin menjual, tapi yang lain menolak. Apa ada opsi lain untuk mempermudah?” tanyanya pelan. 

“Seperti yang saya katakan di awal bahwa akan ada banyak proses yang tentunya memakan waktu dan tenaga,” jelas si Notaris. 

Jawaban di seberang membuat dadanya mengencang. Proses panjang. Risiko hukum. Nilai jual turun drastis jika hanya melepas bagiannya dan Aruna tidak menyukai ide itu. 

“Kalau saya serahkan saja bagian saya?” tanyanya lagi. 

“Ada kemungkinan bisa dilakukan, tapi keputusan akhir tetap di tangan pemilik lain,” jawab suara itu. 

Pemilik lain. 

Sagara. 

Aruna menutup telepon dengan frustasi. Ia menyadari satu hal yang membuatnya gelisah. Setiap jalan keluar yang ia cari selalu kembali pada orang yang sama, Sagara Setjo Pratama. Dan seolah bisa mengetahui bahwa dirinya menjadi pembicaraan, pria itu kini terlihat sedang berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arah Aruna. 

“Saya mendengar semuanya. Sepertinya kamu sedang mencari celah.” katanya. “Sebegitu sulitnya satu rumah lagi dengan saya, Runa?”

Pria itu masuk dan duduk di sofa juga, berseberangan dengan dirinya. Seenaknya sendiri, seolah rumah ini memang sudah menjadi miliknya secara sah. 

“Aku mencari kebebasan,” balas Aruna cepat. 

“Dengan cara melepaskan semuanya?” tanya Sagara. 

“Kalau itu satu-satunya cara. Akan aku lakukan,” 

Sagara menatap Aruna dengan ekspresi yang sulit dibaca. Pria itu tidak menyangka bahwa ambisi Aruna begitu besar untuk menjual rumah ini. Rumah yang begitu dicintainya sejak dulu dan saat ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia, ia sudah berjanji untuk menjaga dan mengurusnya seperti dulu saat masih remaja. 

“Kamu tidak ingin bebas. Kamu hanya ingin lepas dari belenggu yang mulai mengikat,”  kalimat itu membuat Aruna membeku. 

“Itu nggak adil.” 

“Memang begitu kenyataannya. Kamu tidak bisa mendapatkan keadilan di dunia,” jawab Sagara, lalu melanjutkan, “dan saya tidak menahan rumah ini untuk diri saya sendiri.” 

“Lalu untuk apa?” Aruna menantang. 

“Untuk memastikan kamu tidak membuat keputusan besar hanya karena ingin kabur dari semuanya,” jawabnya jujur. 

Aruna menghela napas panjang. Ia merasa ruang itu mengecil, karena perkataan Sagara. Aruna juga menyadari bahwa semakin ia mencari jalan keluar, semakin jelas ketergantungannya pada keputusan Sagara. Dan yang paling ia benci adalah sebagian dari dirinya mulai lelah melawan. 

Aruna membiarkan keheningan menggantung terlalu lama. Jam di dinding berdetak pelan, seolah sengaja menghitung jarak di antara mereka. Aruna menunduk, menatap lantai, mencoba menata ulang napasnya yang terasa berat.

Air matanya akan luruh saat itu juga jika ia tak berkedip.

Sagara tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menautkan jari-jarinya, gestur seorang pria yang merasa berada di posisi aman.

“Mengurung itu kalau kamu tidak punya pilihan. Nyatanya, kamu masih punya, Na,” ujarnya.

Aruna mendongak cepat. “Pilihan apa? Semua jalannya kembali ke kamu.”

“Saya tidak memaksamu bertahan. Saya hanya tidak mau kamu pergi dengan alasan yang salah,” jawab Sagara datar.

“Siapa kamu sampai bisa menentukan alasan mana yang salah?” Aruna menyela, nada suaranya meninggi sebelum sempat ia kendalikan.

Sagara berdiri. Bukan dengan gerakan tergesa, tapi cukup untuk membuat Aruna refleks menegakkan punggungnya. Jarak mereka kini tinggal beberapa langkah.

“Kamu nggak lupa kan, Sa. Kamu yang ninggalin aku setelah malam itu. kamu sendiri yang tiba-tiba pergi tanpa ngabarin dan jelasin semuanya?” 

“Kamu yang pergi dari aku kalau kamu lupa.” ujarnya terhenti. “Jadi, jangan bersikap seolah tahu segalanya tentang hidup dan keputusanku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 30 - Semakin Liar

    “Sa,” gumam Aruna lagi, suaranya hampir hilang, seperti doa yang tak ingin dijawab.Sagara tidak menjawab dengan kata. Matanya masih di bibir Aruna, lalu perlahan naik kembali ke mata perempuan itu, seolah ada pertanyaan di sana.‘Boleh?’Aruna tahu. Ia tahu persis apa yang Sagara minta tanpa kata. Tubuhnya menegang dan bukannya mundur, Aruna justru memejamkan matany, seperti menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.Sagara merasakan itu.Dengan gerakan yang sangat pelan, Sagara mencondongkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Aruna pelan. Bibir Sagara menggerakkan bibir Aruna dengan hati-hati, seperti takut merusak momen itu.“Nghh,” Aruna mengerang kecil, tak sengaja lolos dari tenggorokannya.Tangan yang tadi bertumpu di dada Sagara naik ke leher pria itu, jari-jarinya menyentuh kulit hangat di sana, menarik Sagara lebih dekat. Sagara merespons dengan mengencangkan pelukannya, lengannya di pinggang Aruna menarik perempuan itu lebih erat, tubuh mereka menempel sepenuhn

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 29 - Tidur Seranjang

    Setelah berdebat lumayan lama akan posisi, akhirnya Sagara mengalah dengan melepaskan Aruna.“Sekarang tidur lagi. Nanti aku bangunin pas makan siang,” ucap Aruna sambil merapikan selimut Sagara.Keduanya sudah berada di kamar dengan Sagara kembali terbaring di ranjang. Jari besar itu mencari jemari Aruna dan menggenggamnya.“Jangan kemana-mana,” lirihnya.Tidak tega melihat kelemasan pria itu, Aruna bergerak duduk mendekat dan mengelus rambut pria itu agar terlelap.“Tidur aja,” bisik Aruna, suaranya lembut tanpa ia sadari.Sagara mengangguk kecil, mata akhirnya terpejam sepenuhnya. Napasnya pelan dan teratur mulai terdengar lagi, tapi genggaman tangannya tak kendur, malah jari-jarinya saling terkait dengan jemari Aruna, seperti anak kecil yang takut ditinggal.Aruna menatap wajah Sagara yang kini tenang. Garis-garis di dahinya sudah hilang, janggut milik pria itu membuatnya terlihat lebih dewasa dari yang ia ingat dulu, tapi ekspresi tidurnya masih sama, polos, rentan, seperti Sagar

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 28 - Tak Ingin Lepas

    Aruna menghabiskan piringnya lebih cepat dari biasanya, karena ingin segera menyibukkan diri agar tidak harus menatap Sagara terlalu lama. Ia bangkit, mengumpulkan piring kosong mereka berdua, lalu berjalan menuju wastafel.Baru dua langkah, tangannya ditahan.Jari Sagara melingkari pergelangan Aruna dengan lembut membuat Aruna menoleh, alisnya terangkat bingung.“Sa, apa-”Belum selesai bicara, Sagara menariknya pelan membuat Aruna kehilangan keseimbangan sesaat, tubuhnya jatuh ke belakang langsung mendarat di pangkuan Sagara yang sudah siap menangkapnya.“Duduk di sini dulu,” gumam Sagara, suaranya rendah dan serak, tapi ada nada memerintah lembut di dalamnya.Lengannya langsung melingkar di pinggang Aruna, menahannya agar tidak bangkit lagi. Aruna membeku di pangkuan pria itu, tangannya refleks bertumpu di dada Sagara untuk menjaga keseimbangan.“Sagara!” protes Aruna pelan, suaranya campur antara kesal dan panik.Perempuan itu mencoba bangkit, tapi lengan Sagara di pinggangnya tak

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 27 - Aroma Pagi, Pelukan

    Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah-celah tirai kamar Sagara. Aruna terbangun lebih dulu, tubuhnya pegal karena semalam tidur di kursi empuk di sudut kamar, ia akhirnya pindah ke sana setelah Sagara tertidur pulas.Aruna menghela napas pelan, lalu bangkit tanpa suara. Ia keluar dari kamar, menuju dapur rumah Sagara yang sudah lama tak ia masuki dengan bebas seperti ini.“Dia harus makan yang bergizi,” gumam Aruna pada dirinya sendiri, seolah membela alasan kenapa ia masih di sini.Ia mulai memasak. Telur dadar dengan potongan tomat dan bawang, roti panggang, dan bubur ayam sederhana yang ia buat dari nasi sisa semalam.Di kamar, Sagara bergerak pelan. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi jauh lebih baik dari semalam.“Aruna?” gumamnya bingung, suaranya serak karena baru bangun.Ia bangkit perlahan, tubuhnya masih lemah tapi cukup kuat untuk berdiri. Menggunakan dinding sebagai penyangga, Sagara berjalan pelan menuju dapur. Aroma kuat dari bawang, kaldu, sesuatu ya

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 26 - 40 Derajat

    Aruna tetap berdiri di sisi ranjang, membiarkan Sagara menggenggam tangannya seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap sadar. Panas dari kulit pria itu merambat sampai ke telapak tangannya, membuat dadanya ikut sesak.“Sa, aku beneran cuma nelpon dokter. Aku nggak ke mana-mana,” ucapnya pelan tapi tegas, seolah berbicara pada anak kecil yang takut ditinggal.Genggaman itu melemah perlahan. Aruna memanfaatkan momen itu untuk meraih ponselnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat menekan nomor dokter keluarga yang dulu sering dipanggil orang tua mereka, nomor yang entah kenapa masih ia simpan.Telepon diangkat setelah dering ketiga.“Dok, ini Aruna. Maaf ganggu sore-sore, tapi Sagara demam tinggi. Bisa datang sekarang?”Nada suaranya berusaha tenang, meski kepalanya penuh kemungkinan buruk yang tak ingin ia sebutkan.“Baik, saya berangkat sekarang. Jangan panik. Kompres dulu, ya,” jawab dokter itu singkat namun menenangkan.Aruna menutup telepon, lalu menatap Sagara lagi. Pr

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 25 - Pagi Yang Tidak Wajar

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah gorden kamar Aruna. Jam dinding baru menunjuk pukul enam ketika ia bangun, tubuhnya masih terasa berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikirannya belum benar-benar tenang sejak semalam.Aruna duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang.“Kenapa hidup jadi ribet begini sih,” gumamnya sambil mengusap wajah.Ia bangkit, bersiap seperti biasa dengan mandi, rambut diikat rapi, kemeja kerja disetrika sekadarnya. Saat ia membuka pintu rumah dan melangkah ke teras, langkahnya terhenti.Mobil Sagara. Aruna mengerjap, menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Mobil hitam itu diam, tak bergeser sejengkal pun.“Belum berangkat?” gumamnya.Ia melirik rumah sebelah. Lampu ruang tamu masih menyala. Tirainya tertutup rapat. Aruna mengernyit, karena biasanya Sagara pagi-pagi sekali sudah pergi.“Ah, mungkin aku aja yang lebay,” katanya pada diri sendiri.Ia mengalihkan pandangan, berusaha tak memikirkan apa pu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status