LOGINWaktu berhenti bersikap ramah pada Aruna.
Notaris mengirim pesan pengingat terkait pada calon pembeli yang mulai mendesak kepastian, dan tenggat administrasi terasa semakin sempit. Rumah yang awalnya ingin ia lepaskan dengan cepat, kini seperti menahannya dengan cara yang tidak kasatmata.
Yang paling membuatnya resah bukan tenggat, melainkan satu fakta sederhana bahwa tanda tangan Sagara belum juga ada. Pria itu seolah menghindari Aruna, karena setiap datang ke rumah ini, Sagara tidak ada.
“Sagara,” panggil Aruna akhirnya setelah melihat Sagara datang dengan mobilnya dari teras.
Sepertinya pria itu baru pulang bekerja- yang mana Aruna pun tidak tahu di mana tempat pria itu mencari nafkah. Sagara baru turun dari mobil, kemeja kerjanya masih rapi, jas dilipat di lengan. Aruna segera bergegas keluar rumah, dan menghampiri Sagara.
“Notaris butuh kepastian minggu ini. Kalau enggak, calon pembeli bisa mundur,” terobos Aruna.
Sagara mengangguk tanpa menoleh “saya tahu.”
“Terus?” Aruna mencondongkan tubuh sedikit, “kamu bakal tanda tangan kan?”
Sagara menutup pintu mobil agak kencang hingga Aruna harus mundur selangkah. Tidak kencang, tapi cukup mengejutkan.
“Kamu sangat ingin pergi?”
“Itu bukan urusanmu. Tugasmu cukup tanda tangan aja. Kenapa kamu ribut banget sih?” jawab Aruna cepat.
“Hanya itu ya tugas saya. Saya berharap banyak saat memutuskan untuk pulang ke Indonesia, tapi ternyata harapan saya salah karena yang ingin saya temui justru menghindar,” balas Sagara, akhirnya menoleh.
Sebuah rasa yang begitu saja lolos dari bibir Sagara- pria yang meninggalkannya dalam keadaan kebingungan. Sebuah situasi di mana Aruna harus menerima dengan lapang dada tanpa sempat meminta penjelasan yang begitu saja melenggang bebas.
Aruna menegakkan bahunya. “Aku nggak menghindar.”
“Kamu menghindari saya. Dan sekarang kamu kesal karena saya melakukan hal yang sama,” kata Sagara datar.
Aruna terdiam sesaat, lalu tertawa singkat tanpa humor. “Ini nggak adil.”
Kenapa sekarang hanya dirinya yang seolah menjadi tokoh jahat? Mengapa tidak ada yang melihat dari sudut pandangnya? Tanya Aruna yang penuh emosi dalam hatinya.
“Situasi jarang adil,” sahut Sagara. Ia melangkah melewati Aruna menuju pintu rumah. “Masuk. Kita bicarakan terlebih dulu.”
Mereka berdiri di ruang tengah, berhadapan dengan jarak aman yang terasa rapuh. Aruna menyilangkan tangan, mempertahankan posisi.
“Aku nggak punya banyak waktu. Aku cuma mau ini semua cepet selesai,” katanya.
“Kenapa?” tanya Sagara.
“Karena aku mau melanjutkan hidupku,” jawaban Aruna tidak memuaskan Sagara.
“Menjauh,” koreksi Sagara.
“Melanjutkan hidup,” Aruna menegaskan. “Aku nggak mau terus kejebak di tempat yang ngingetin sama hal-hal yang nggak bisa diperbaiki.”
Sagara menatapnya lama. “Atau pada hal-hal yang tidak pernah kamu coba selesaikan.”
Aruna terdiam menatap Sagara dengan amarah yang menumpuk. Bukan tanpa alasan emosi ini hadir, karena pria itu sendiri yang membuat Aruna merasakannya.
“Saya tahu, Aruna. Saya tahu untuk melihat bahwa kamu tidak menjual rumah ini karena properti. Kamu menjualnya karena takut untuk tinggal cukup lama,” Sagara melanjutkan.
Kata-kata itu membuat Aruna tercekat. Ia memalingkan wajah, menatap jendela. Cahaya sore masuk dengan sudut yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
“Aku nggak butuh ceramah,” katanya lirih.
“Saya tidak sedang memberi ceramah. Saya mencoba membuat kamu sadar bahwa menjual rumah ini artinya kehilangan kenangan dan memori. Apa kamu siap dengan konsekuensinya?” sahut Sagara.
“Jadi, kamu sengaja? Sengaja buat nahan tanda tangan?”
Aruna tidak habis pikir dengan jalan pikir Sagara yang selalu membuatnya pening sejak dulu. Selalu semaunya dan seenaknya sendiri. Sunyi jatuh di antara mereka, Aruna merasa rumah itu menutup dari segala arah, memaksanya tetap berdiri di tempat.
“Dengar Sagara, Kamu nggak berhak menahanku di sini,” katanya akhirnya.
Malamnya, Aruna duduk di meja makan sendirian, menatap layar ponsel dengan pesan notaris yang belum ia balas. Malam ini, Aruna menginap di rumah untuk menyiapkan diri kalau nanti benar-benar terjual dan juga bernegosiasi dengan Sagara. Lalu, Sagara muncul dari koridor, berganti pakaian rumah.
“Kita perlu bicara,” katanya.
Aruna mengangkat kepala “apa lagi? Kalau nggak ada hubungannya sama tanda tangan, mending besok aja.”
Sagara tidak menjawab, pria itu langsung menggeser kursi dan duduk di hadapan Aruna. Menatap langsung pada mata sendu yang sudah lama dirindukan. Aruna menunggu.
“Saya akan tanda tangan,” kata Sagara.
Napas Aruna terhenti sepersekian detik.
“Kapan?”
Ada helaan panjang sebelum pria itu berbicara.
“Tapi ada syaratnya,” lanjut Sagara.
Pria itu seperti menerbangkan Aruna, lalu menjatuhkannya dengan keras tanpa perlindungan apa pun. Mengapa sangat sulit menjual rumah sendiri, hanya karena ada dua nama di dalamnya. Sialan. Aruna menggerutu dalam hati.
“Apa?” tanya Aruna, suaranya tertahan.
“Kamu tetap tinggal di sini. Sampai semua urusan legal selesai,” ujar Sagara.
“Buat apa? aku udah tinggal di rumah tante. Lagi pula, semuanya bisa di urus dari jauh,” jelas Aruna.
Sejak kepergian Ibunya, Ayahnya melanjutkan hidup dengan wanita baru dan membuat Aruna sendirian. Aruna menurut saja, mengingat rumah ini terlalu besar untuknya sendiri.
“Tidak semua hal bisa diurus dari jauh. Lagi pula, memangnya tidak aneh tinggal bersama Tante dan Om saat kamu sendiri saja masih memiliki rumah,” balas Sagara.
Aruna mengepalkan tangan. “Kamu tau apa soal kehilangan?”
“Mana pernah kamu tau bagian merelakan?” imbuhnya.
Sagara mendesah pelan. “Saya hanya penasaran dengan kehidupan yang sudah 15 tahun saya tinggalkan. Dan untuk menjawab semua pertanyaan saya sepertinya hanya kamu yang bisa. Saya tidak sedang mencari-cari alasan,” kata Sagara.
Aruna seperti terjebak dalam permainan Sagara yang sayangnya juga disetujui oleh wanita itu ada sebagian darinya yang menyetujui syarat aneh itu.
“Berapa lama?” tanyanya pelan.
“Sampai selesai,” jawab Sagara.
Aruna menarik napas panjang, ia tahu ia seharusnya menolak.
Tapi bagaimana jika itu salah satu pilihannya?
Menghadapi masa lalu dengan menjalaninya dengan masa sekarang?
“Kalau sudah selesai, kamu harus pergi. Gimana?” pintanya menatap Sagara lamat.
Mereka saling menatap, bukan sebagai dua orang dengan masa lalu, melainkan dua pihak yang terikat kontrak tak tertulis. Saat Sagara berdiri untuk mengambil dokumen, Aruna menyadari satu hal yang membuat dadanya mengencang bahwa ia tidak hanya menyetujui tinggal di rumah itu.
“Hak kepemilikan akan dihibahkan namamu sepenuhnya.”
“Sa,” gumam Aruna lagi, suaranya hampir hilang, seperti doa yang tak ingin dijawab.Sagara tidak menjawab dengan kata. Matanya masih di bibir Aruna, lalu perlahan naik kembali ke mata perempuan itu, seolah ada pertanyaan di sana.‘Boleh?’Aruna tahu. Ia tahu persis apa yang Sagara minta tanpa kata. Tubuhnya menegang dan bukannya mundur, Aruna justru memejamkan matany, seperti menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.Sagara merasakan itu.Dengan gerakan yang sangat pelan, Sagara mencondongkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Aruna pelan. Bibir Sagara menggerakkan bibir Aruna dengan hati-hati, seperti takut merusak momen itu.“Nghh,” Aruna mengerang kecil, tak sengaja lolos dari tenggorokannya.Tangan yang tadi bertumpu di dada Sagara naik ke leher pria itu, jari-jarinya menyentuh kulit hangat di sana, menarik Sagara lebih dekat. Sagara merespons dengan mengencangkan pelukannya, lengannya di pinggang Aruna menarik perempuan itu lebih erat, tubuh mereka menempel sepenuhn
Setelah berdebat lumayan lama akan posisi, akhirnya Sagara mengalah dengan melepaskan Aruna.“Sekarang tidur lagi. Nanti aku bangunin pas makan siang,” ucap Aruna sambil merapikan selimut Sagara.Keduanya sudah berada di kamar dengan Sagara kembali terbaring di ranjang. Jari besar itu mencari jemari Aruna dan menggenggamnya.“Jangan kemana-mana,” lirihnya.Tidak tega melihat kelemasan pria itu, Aruna bergerak duduk mendekat dan mengelus rambut pria itu agar terlelap.“Tidur aja,” bisik Aruna, suaranya lembut tanpa ia sadari.Sagara mengangguk kecil, mata akhirnya terpejam sepenuhnya. Napasnya pelan dan teratur mulai terdengar lagi, tapi genggaman tangannya tak kendur, malah jari-jarinya saling terkait dengan jemari Aruna, seperti anak kecil yang takut ditinggal.Aruna menatap wajah Sagara yang kini tenang. Garis-garis di dahinya sudah hilang, janggut milik pria itu membuatnya terlihat lebih dewasa dari yang ia ingat dulu, tapi ekspresi tidurnya masih sama, polos, rentan, seperti Sagar
Aruna menghabiskan piringnya lebih cepat dari biasanya, karena ingin segera menyibukkan diri agar tidak harus menatap Sagara terlalu lama. Ia bangkit, mengumpulkan piring kosong mereka berdua, lalu berjalan menuju wastafel.Baru dua langkah, tangannya ditahan.Jari Sagara melingkari pergelangan Aruna dengan lembut membuat Aruna menoleh, alisnya terangkat bingung.“Sa, apa-”Belum selesai bicara, Sagara menariknya pelan membuat Aruna kehilangan keseimbangan sesaat, tubuhnya jatuh ke belakang langsung mendarat di pangkuan Sagara yang sudah siap menangkapnya.“Duduk di sini dulu,” gumam Sagara, suaranya rendah dan serak, tapi ada nada memerintah lembut di dalamnya.Lengannya langsung melingkar di pinggang Aruna, menahannya agar tidak bangkit lagi. Aruna membeku di pangkuan pria itu, tangannya refleks bertumpu di dada Sagara untuk menjaga keseimbangan.“Sagara!” protes Aruna pelan, suaranya campur antara kesal dan panik.Perempuan itu mencoba bangkit, tapi lengan Sagara di pinggangnya tak
Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah-celah tirai kamar Sagara. Aruna terbangun lebih dulu, tubuhnya pegal karena semalam tidur di kursi empuk di sudut kamar, ia akhirnya pindah ke sana setelah Sagara tertidur pulas.Aruna menghela napas pelan, lalu bangkit tanpa suara. Ia keluar dari kamar, menuju dapur rumah Sagara yang sudah lama tak ia masuki dengan bebas seperti ini.“Dia harus makan yang bergizi,” gumam Aruna pada dirinya sendiri, seolah membela alasan kenapa ia masih di sini.Ia mulai memasak. Telur dadar dengan potongan tomat dan bawang, roti panggang, dan bubur ayam sederhana yang ia buat dari nasi sisa semalam.Di kamar, Sagara bergerak pelan. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi jauh lebih baik dari semalam.“Aruna?” gumamnya bingung, suaranya serak karena baru bangun.Ia bangkit perlahan, tubuhnya masih lemah tapi cukup kuat untuk berdiri. Menggunakan dinding sebagai penyangga, Sagara berjalan pelan menuju dapur. Aroma kuat dari bawang, kaldu, sesuatu ya
Aruna tetap berdiri di sisi ranjang, membiarkan Sagara menggenggam tangannya seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap sadar. Panas dari kulit pria itu merambat sampai ke telapak tangannya, membuat dadanya ikut sesak.“Sa, aku beneran cuma nelpon dokter. Aku nggak ke mana-mana,” ucapnya pelan tapi tegas, seolah berbicara pada anak kecil yang takut ditinggal.Genggaman itu melemah perlahan. Aruna memanfaatkan momen itu untuk meraih ponselnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat menekan nomor dokter keluarga yang dulu sering dipanggil orang tua mereka, nomor yang entah kenapa masih ia simpan.Telepon diangkat setelah dering ketiga.“Dok, ini Aruna. Maaf ganggu sore-sore, tapi Sagara demam tinggi. Bisa datang sekarang?”Nada suaranya berusaha tenang, meski kepalanya penuh kemungkinan buruk yang tak ingin ia sebutkan.“Baik, saya berangkat sekarang. Jangan panik. Kompres dulu, ya,” jawab dokter itu singkat namun menenangkan.Aruna menutup telepon, lalu menatap Sagara lagi. Pr
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah gorden kamar Aruna. Jam dinding baru menunjuk pukul enam ketika ia bangun, tubuhnya masih terasa berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikirannya belum benar-benar tenang sejak semalam.Aruna duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang.“Kenapa hidup jadi ribet begini sih,” gumamnya sambil mengusap wajah.Ia bangkit, bersiap seperti biasa dengan mandi, rambut diikat rapi, kemeja kerja disetrika sekadarnya. Saat ia membuka pintu rumah dan melangkah ke teras, langkahnya terhenti.Mobil Sagara. Aruna mengerjap, menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Mobil hitam itu diam, tak bergeser sejengkal pun.“Belum berangkat?” gumamnya.Ia melirik rumah sebelah. Lampu ruang tamu masih menyala. Tirainya tertutup rapat. Aruna mengernyit, karena biasanya Sagara pagi-pagi sekali sudah pergi.“Ah, mungkin aku aja yang lebay,” katanya pada diri sendiri.Ia mengalihkan pandangan, berusaha tak memikirkan apa pu







