Share

Bab 2

Author: Ben
Sesampainya di rumah, Ayah sedang membaca koran.

Dia melihat ke arah Ibu dan Shania, lalu mengerutkan alis.

"Kenapa cuma kalian berdua yang pulang? Di mana Nancy?"

Ekspresi ibuku langsung muram, nadanya penuh rasa kesal.

"Anak itu pura-pura mati karena merajuk, jadi aku menyuruhnya introspeksi diri di dalam bagasi mobil."

"Kalau dia sudah sadar kesalahannya, baru boleh keluar."

Mata Ayah langsung terbelalak.

"Jangan bertindak konyol! Mana boleh anak dikurung di bagasi? Di dalam bagasi itu panas, dia bisa kehabisan napas!"

Ayah segera berlari ke arah pintu, tetapi Ibu mati-matian menghalanginya.

"Bagasinya nggak terkunci. Kapan pun dia merasa lapar, dia bisa keluar sendiri!"

"Kamu nggak tahu kalau Nancy suka bohong? Kebiasaan buruknya ini karena kamu terlalu memanjakannya."

Shania juga berkata dengan lembut dan manis, "Ayah nggak perlu khawatir. Ruang bagasi cukup luas, sirkulasi udara di sana bagus, dan pemantauan tanda-tanda vital Kakak menunjukkan nggak ada kelainan, nggak akan terjadi sesuatu padanya."

Ayah masih tampak ragu, tetapi Ibu langsung mengunci pintu rumah dari dalam.

"Anak zaman sekarang memang terlalu dimanja. Justru saat seperti ini kita nggak boleh melunak, biar dia mengerti kesalahannya."

"Kamu doktor arsitektur, sedangkan aku doktor AI, masa anak yang kita besarkan malah jadi pembohong? Meski kamu nggak malu, aku yang malu."

"Nggak usah dipikirkan lagi. Cepat tidur. Besok pagi kamu masih harus bertugas jaga, jangan sampai urusan penting jadi terbengkalai." Ibuku membujuk sambil mendorong ayahku masuk ke kamar, lalu mengunci kamar.

Arwahku melayang di garasi yang gelap gulita, menemani tubuhku yang sudah dingin di dalam bagasi, dadaku terasa nyeri.

Padahal waktu kecil, Ibu yang paling menyayangiku di dunia ini.

Dia sering menggendongku jalan-jalan ke taman, membacakan dongeng dengan sabar, dan selalu memberiku barang yang bagus.

Semuanya berubah sejak dia membawa pulang Shania.

Jelas-jelas dulu ibuku bilang, Shania hanyalah robot AI yang akan membantuku tumbuh besar dengan sehat.

Lama kelamaan, semua perhatian ibuku direbut oleh Shania. Dia menyayangi Shania seperti putri kandungnya sendiri, tetapi sikapnya padaku makin lama makin dingin.

Ibu memercayai Shania sepenuhnya, tetapi tidak pernah mau memercayaiku sedikit pun.

Vas bunga di rumah suatu hari dijatuhkan seekor kucing liar hingga pecah. Aku menceritakannya dengan jujur, tetapi Shania langsung mengeluarkan peringatan yang pedas.

"Terdeteksi kebohongan. Tingkat kepercayaan: 0%."

Tanpa berkata apa-apa, Ibu langsung menamparku dan mengurungku di ruang gelap tanpa memberi makan seharian.

Pernah juga aku dirundung oleh teman-teman di taman kanak-kanak. Sambil menangis, aku pulang dan mengadu kepada ibuku, tetapi Shania berkata, "Terdeteksi kebohongan. Kakak yang duluan memprovokasi teman-temannya."

Ibu kembali memarahiku karena dianggap suka cari gara-gara, bahkan memaksaku meminta maaf kepada anak-anak yang telah merundungku.

Suatu kali aku demam hingga tiga puluh sembilan derajat. Aku bilang kepalaku sakit dan tidak enak badan, tetapi Shania justru menampilkan data.

"Suhu tubuh normal, nggak ditemukan kelainan. Kakak berbohong untuk bolos sekolah."

Ibuku langsung membuang obat penurun panasku, memaksaku berangkat sekolah. Pada akhirnya, justru wali kelasku yang mengantarku ke rumah sakit setelah aku pingsan.

Aku pernah menjelaskan, pernah melawan, bahkan menangis sambil berteriak bahwa Robot Shania yang bermasalah, aku tidak berbohong.

Setiap kali aku melawan, ibuku selalu membalas dengan nada dingin, "Aku sendiri yang menciptakan Shania, sistemnya nggak mungkin bermasalah, yang salah itu kamu. Kamu sudah terbiasa berbohong dan nggak pernah mau bertobat."

Lama-kelamaan, aku berhenti membela diri. Apa pun yang dikatakan Shania, aku hanya menerimanya. Kupikir, apabila aku menjadi anak yang patuh, ibuku pasti memercayaiku.

Ternyata aku salah.

Bahkan sampai detik aku meninggal, ibuku tetap memercayai robot tidak berperasaan itu.

Saat aku masih tenggelam dalam kesedihan, tiba-tiba ….

Ceklek.

Terdengar suara dari arah mobil. Mataku langsung terbelalak dan melihat ke sekeliling. Seluruh garasi kosong. Tak ada seorang pun di sini. Namun, suara itu jelas-jelas bunyi mobil dikunci.

Arwahku kembali masuk ke dalam rumah, orang tuaku sudah terlelap. Shania juga sudah mode tidur.

Kalau begitu, siapa yang mengunci mobil?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 10

    Setelah meninggalkan mimpi Ibu, aku kembali ke tepi Jembatan Moza di alam baka.Penjaga alam baka menatapku, lalu tersenyum hangat sambil tertawa."Nak, pergilah bereinkarnasi. Di kehidupan selanjutnya, kehidupanmu akan lebih baik dan bahagia seumur hidup."Setelah makan sup, aku masuk ke pintu reinkarnasi. Dalam sekejap, kesadaranku pun menghilang.Ketika sadar kembali, aku mendapati diriku berada dalam pelukan yang hangat dan lembut.Terdengar suara seseorang bersenandung lembut di dekat telingaku. Aroma susu yang samar tercium di ujung hidungku.Aku membuka mata dan melihat wajah seorang wanita yang lembut dan cantik. Dia sedang tersenyum menatapku, sorot matanya penuh cinta."Nak, kamu sudah bangun, ya? Anak kesayangan Ibu."Inilah ibuku di kehidupan yang baru. Ibuku adalah seorang wanita lembut, baik hati, yang mencurahkan seluruh perhatiannya padaku.Keluarga baruku sangat sederhana, hanya ada Ayah, Ibu, dan aku. Aku adalah anak tunggal.Orang tuaku bukan orang yang berpendidikan

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 9

    Pada akhirnya, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Ibu atas tindak pidana penganiayaan terhadap orang yang berada di bawah perwaliannya dan kelalaian yang menyebabkan kematian. Atas beberapa tindak pidana tersebut, Ibu dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun.Pada hari pembacaan putusan, Ibu mengenakan seragam tahanan. Rambutnya sudah memutih dan wajahnya tampak sangat kusut. Tidak ada lagi sedikit pun keceriaan dan wibawa yang dulu terpancar darinya.Setelah mendengar putusan tersebut, dia hanya menatap kosong ke langit-langit ruang sidang. Air mata mengalir tanpa suara, sementara bibirnya terus bergumam, "Nancy, Ibu bersalah padamu … Ibu bersalah padamu …."Ibu kemudian dibawa pergi oleh petugas dan dimasukkan ke penjara, memulai kehidupan panjang di balik jeruji besi.Penjara yang dingin dan sunyi ini akan menjadi tempatnya menyesali dosa sepanjang hidupnya.Setelah menyelesaikan semua urusan yang tersisa, ayahku menjual rumah yang dipenuhi kenangan menyakitkan itu. Dia juga

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 8

    Ayah selesai memberikan keterangan di kantor polisi dan menandatangani berita acara. Setelah itu, dia pulang ke rumah yang kini kosong dengan langkah berat.Segala sesuatu di rumah masih sama seperti sebelumnya.Di kamarku, pakaian masih terlipat rapi. Di atas meja belajar masih tergeletak tugas yang belum selesai kukerjakan. Di dinding masih tertempel gambar keluarga yang kubuat, tetapi putri kecilnya itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.Hati Ayah dipenuhi penyesalan dan amarah yang tidak ada habisnya.Andai ibuku tidak memercayai robot itu, andai mereka tidak mengabaikanku, andai Shania tidak membohongiku, aku juga tidak akan mati.Tepat pada saat itu, Shania keluar dari kamar seperti biasa, bahkan dia menyapa sambil tersenyum manis, "Ayah, Kakak sudah meninggal, kelak akulah satu-satunya putri kalian.""Aku lebih pintar, lebih penurut, lebih unggul, aku nggak akan berbohong, nggak akan buat Ibu marah, aku bisa menemani kalian sampai selamanya."Suara Shania terdengar manis dan d

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 7

    Di ruang interogasi kantor polisi, suasananya sangat tegang hingga buat orang sesak napas.Ibuku duduk di kursi interogasi dengan kedua tangan diborgol. Rambutnya berantakan, tatapannya kosong. Dia sudah tidak lagi terlihat seperti seorang doktor yang selalu tampil anggun dan berwibawa seperti dulu.Petugas dari bagian teknis masuk sambil membawa laporan pemeriksaan. Wajahnya tampak muram saat melemparkan dokumen itu ke atas meja."Nyonya Erna, lihat baik-baik laporan pemeriksaan ini! Robot AI yang katanya sempurna, ternyata hanyalah robot pembohong."Ibuku perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya yang kosong jatuh pada laporan tersebut.Satu demi satu kalimat mengerikan terbaca di depan matanya, membuat sekujur tubuhnya menggigil.Laporan itu dengan jelas menyatakan, sejak awal program inti pemantauan kondisi tubuh Shania sudah mengalami kesalahan serius pada koneksi kabel.Shania tidak pernah benar-benar terhubung dengan data tubuhku. Entah itu detak jantung, suhu tubuh, tekanan dar

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 6

    Ibuku berteriak sekuat tenaga kepada Shania sambil menangis, "Shania! Cepat beri tahu mereka! Kamu selama ini terhubung dengan detak jantung Nancy. Nancy sama sekali nggak punya penyakit jantung, tubuhnya selalu sehat! Kamu adalah karya Ibu yang paling sempurna, nggak mungkin ada kesalahan sistem, 'kan?"Setelah menerima perintah, Shania maju menghampiri kerumunan. Layar hologram menyala, lalu terdengar suaranya yang manis."Halo, semuanya! Saya Shania, Robot AI khusus Nancy Halim.""Berdasarkan hasil pemeriksaan, tanda-tanda vital Nancy stabil. Seluruh indikator kesehatan tubuhnya berada dalam kondisi normal dan nggak ditemukan penyakit apa pun. Kalian nggak perlu khawatir."Mendengar itu, tatapan Ibu seketika menjadi kosong dan mati.Ibuku melihat sendiri tubuhku yang sudah kaku dan membusuk. Dia juga mendengar langsung diagnosis profesional dari dokter forensik. Namun, AI yang dia ciptakan dan dipercaya sepenuh hati, malah dengan terang-terangan berbohong.Dokter forensik perempuan

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 5

    Wajahku pucat pasi dan sangat menyeramkan.Lebam mayat membusuk berwarna biru keabu-abuan mulai menyebar dari leherku, membuat siapa pun yang melihatnya merinding.Bibirku yang pecah-pecah berubah menjadi ungu tua, sementara di sudut bibirku masih terlihat noda darah yang sudah mengering dan menghitam.Itu karena aku merasakan nyeri dada saat bungee jumping, jadi aku menggigit bibirku hingga membekas.Alisku masih mengerut, masih memperlihatkan ekspresi kesakitanku menjelang kematian.Pemandangan memilukan ini membuat semua orang terkejut.Sampai akhirnya ada seorang tetangga perempuan yang penakut menjerit, suara jeritannya memecah keheningan."Ada orang meninggal!"Matanya langsung terbalik, lalu jatuh pingsan.Semua orang seketika tersadar. Mereka menutup mulut dan mundur berulang kali. Beberapa orang bahkan berpegangan pada dinding sambil membungkuk dan muntah-muntah. Bau busuk bercampur dengan rasa takut membuat suasana seluruh garasi menjadi kacau balau.Melihat wajahku yang puca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status