Share

Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI
Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI
Author: Ben

Bab 1

Author: Ben
Ketika membuka mata lagi, arwahku sudah melayang di udara.

Aku menunduk, lalu melihat tubuhku telah ditarik naik oleh para petugas menggunakan tali.

Setelah petugas melepaskan pengaman yang melilit tubuhku, aku tetap tidak bangun.

Para pengunjung yang menunggu di belakang mulai merasa tidak sabar dan mendesak.

Petugas juga merasa serba salah. Dia mengulurkan tangan dan menepuk bahuku dengan lembut.

"Dik, cepat bangun. Masih banyak orang yang menunggu di belakang."

Namun tubuhku terjatuh lemas ke samping, tanpa memberi reaksi apa pun.

Aku panik dan berputar-putar di sampingnya, berteriak sekuat tenaga, "Maaf semuanya, saya nggak bermaksud menghalangi jalan kalian, tapi tubuh saya benar-benar nggak bisa bergerak!"

Namun suaraku seperti ditelan bumi, tidak ada yang mendengar suaraku.

Petugas berusaha membangunkanku beberapa kali lagi. Ketika melihat aku tidak bereaksi, perlahan ekspresinya jadi muram.

Dia menoleh ke arah ibu yang berdiri di pinggir bungee jumping, lalu berteriak, "Nyonya, kemari dan periksa kondisi putri Anda. Dia di sini menghalangi pengunjung lainnya, dan memengaruhi pekerjaan kami."

Wajah ibuku seketika memerah.

Ibuku adalah orang yang paling mementingkan harga diri. Sekarang dia ditegur di depan begitu banyak orang, dia merasa sangat malu.

"Nancy, kamu pura-pura lagi?"

Ibuku bergegas menghampiriku, lalu menarik lenganku.

Melihat aku tetap tidak bergerak, amarahnya makin besar. Ibuku mengangkat kaki dan menendang pinggangku dengan keras.

"Kamu pasti pura-pura mati! Kamu sengaja ingin membuatku malu!"

Tendangannya sangat kuat.

Kalau biasanya, aku pasti sudah ketakutan dan segera bangun untuk meminta maaf.

Namun, sekarang tubuhku tetap seperti boneka kain tanpa tulang. Aku terjatuh lemas di tanah, dengan kepala miring ke satu sisi.

Suara makian orang-orang di sekitarku seketika berhenti.

Seseorang berbisik pelan, "Ada yang nggak beres. Kenapa dia nggak bereaksi sama sekali?"

"Ya, walaupun pura-pura mati, ditendang seperti itu seharusnya sudah bangun, 'kan?"

"Kenapa wajah anak ini pucat sekali? Jangan-jangan benaran terjadi sesuatu padanya?"

Ibuku yang tadi masih emosi, juga tiba-tiba berhenti.

Dia melihat mataku yang tertutup rapat dan wajahku yang pucat, seketika dia tampak panik.

Tanpa sadar, ibuku berjongkok dan mengulurkan tangan untuk memeriksa napasku.

Pada saat itu, adik AI bernama Shania berkata dengan suara lembut dan manis, "Bu, jangan khawatir."

Matanya memancarkan cahaya biru muda. Sebuah layar hologram virtual muncul di hadapannya, menampilkan data yang bergerak dengan cepat.

"Hasil pemeriksaan sistem, tanda vital kakak stabil, hanya detak jantungnya meningkat secara nggak normal, dan tekanan darahnya naik, ini ciri-ciri orang sedang berbohong."

"Dia sengaja pura-pura mati untuk mendapatkan simpati dan menghindar dari hukuman."

Hati ibu yang sempat cemas langsung kembali tenang.

Dia menarik tangannya, menatapku yang tergeletak di tanah dengan jijik, lalu mengusap kepala Shania.

"Hanya Shania yang pengertian."

"Nggak seperti anak durhaka ini. Dia sudah terbiasa berbohong sejak kecil, sia-sia aku besarkan dia."

Rohku melayang di depan mereka, menyaksikan semua itu, dan hanya merasakan tubuhku menjadi dingin.

Ternyata Shania selama ini selalu berbohong!

Padahal jelas-jelas dia bisa mendeteksi jantungku sudah berhenti, tanda vitalku juga telah lama menghilang, kenapa dia masih membohongi ibuku?

Kenapa dia melakukan ini?

Bukankah dia hanya robot yang tidak punya perasaan?

Petugas melihat tubuhku yang tergeletak di tanah, lalu melihat ibuku yang tampak tidak peduli. Dia ragu sejenak sebelum berkata, "Nyonya, menurut saya kondisi anak ini memang nggak normal. Bagaimana kalau kita panggil ambulans saja?"

"Buat apa panggil ambulans?"

Ibu langsung memasang wajah dingin, nadanya terdengar kesal.

"Dia cuma pura-pura! Dia sudah melakukan trik ini berkali-kali. Setiap kali berbuat salah, dia selalu pura-pura pingsan atau pura-pura mati, agar aku mau memaafkannya."

"Hari ini, aku nggak mau membiasakan kebiasaan buruknya ini!"

"Tapi …."

"Nggak ada tapi-tapian!"

Ibuku menyela, membungkuk, lalu menarik lenganku dan menyeret tubuhku dengan kasar dari tanah.

Tubuhku terasa ringan, hanya mengikuti tarikan tangannya.

Betisku bergesekan dengan permukaan tanah yang kasar hingga berdarah, tetapi ibuku bahkan tidak melihatnya.

Baru setelah menyeretku sampai ke tempat parkir, dia membuka pintu bagasi mobil, lalu melemparkan tubuhku ke dalam mobil tanpa ragu."

"Anak yang suka berbohong nggak pantas naik mobil! Mending di dalam bagasi saja!"

"Shania, ayo, pulang."

Ibuku menutup pintu bagasi dengan keras, lalu berbalik dan menggandeng tangan Shania menuju kursi penumpang depan.

"Oke, Bu." Shania menjawab dengan patuh.

Sebelum naik ke mobil, Shania melirik ke arah bagasi mobil, sekilas terlihat kilatan merah dari matanya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 10

    Setelah meninggalkan mimpi Ibu, aku kembali ke tepi Jembatan Moza di alam baka.Penjaga alam baka menatapku, lalu tersenyum hangat sambil tertawa."Nak, pergilah bereinkarnasi. Di kehidupan selanjutnya, kehidupanmu akan lebih baik dan bahagia seumur hidup."Setelah makan sup, aku masuk ke pintu reinkarnasi. Dalam sekejap, kesadaranku pun menghilang.Ketika sadar kembali, aku mendapati diriku berada dalam pelukan yang hangat dan lembut.Terdengar suara seseorang bersenandung lembut di dekat telingaku. Aroma susu yang samar tercium di ujung hidungku.Aku membuka mata dan melihat wajah seorang wanita yang lembut dan cantik. Dia sedang tersenyum menatapku, sorot matanya penuh cinta."Nak, kamu sudah bangun, ya? Anak kesayangan Ibu."Inilah ibuku di kehidupan yang baru. Ibuku adalah seorang wanita lembut, baik hati, yang mencurahkan seluruh perhatiannya padaku.Keluarga baruku sangat sederhana, hanya ada Ayah, Ibu, dan aku. Aku adalah anak tunggal.Orang tuaku bukan orang yang berpendidikan

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 9

    Pada akhirnya, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Ibu atas tindak pidana penganiayaan terhadap orang yang berada di bawah perwaliannya dan kelalaian yang menyebabkan kematian. Atas beberapa tindak pidana tersebut, Ibu dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun.Pada hari pembacaan putusan, Ibu mengenakan seragam tahanan. Rambutnya sudah memutih dan wajahnya tampak sangat kusut. Tidak ada lagi sedikit pun keceriaan dan wibawa yang dulu terpancar darinya.Setelah mendengar putusan tersebut, dia hanya menatap kosong ke langit-langit ruang sidang. Air mata mengalir tanpa suara, sementara bibirnya terus bergumam, "Nancy, Ibu bersalah padamu … Ibu bersalah padamu …."Ibu kemudian dibawa pergi oleh petugas dan dimasukkan ke penjara, memulai kehidupan panjang di balik jeruji besi.Penjara yang dingin dan sunyi ini akan menjadi tempatnya menyesali dosa sepanjang hidupnya.Setelah menyelesaikan semua urusan yang tersisa, ayahku menjual rumah yang dipenuhi kenangan menyakitkan itu. Dia juga

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 8

    Ayah selesai memberikan keterangan di kantor polisi dan menandatangani berita acara. Setelah itu, dia pulang ke rumah yang kini kosong dengan langkah berat.Segala sesuatu di rumah masih sama seperti sebelumnya.Di kamarku, pakaian masih terlipat rapi. Di atas meja belajar masih tergeletak tugas yang belum selesai kukerjakan. Di dinding masih tertempel gambar keluarga yang kubuat, tetapi putri kecilnya itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.Hati Ayah dipenuhi penyesalan dan amarah yang tidak ada habisnya.Andai ibuku tidak memercayai robot itu, andai mereka tidak mengabaikanku, andai Shania tidak membohongiku, aku juga tidak akan mati.Tepat pada saat itu, Shania keluar dari kamar seperti biasa, bahkan dia menyapa sambil tersenyum manis, "Ayah, Kakak sudah meninggal, kelak akulah satu-satunya putri kalian.""Aku lebih pintar, lebih penurut, lebih unggul, aku nggak akan berbohong, nggak akan buat Ibu marah, aku bisa menemani kalian sampai selamanya."Suara Shania terdengar manis dan d

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 7

    Di ruang interogasi kantor polisi, suasananya sangat tegang hingga buat orang sesak napas.Ibuku duduk di kursi interogasi dengan kedua tangan diborgol. Rambutnya berantakan, tatapannya kosong. Dia sudah tidak lagi terlihat seperti seorang doktor yang selalu tampil anggun dan berwibawa seperti dulu.Petugas dari bagian teknis masuk sambil membawa laporan pemeriksaan. Wajahnya tampak muram saat melemparkan dokumen itu ke atas meja."Nyonya Erna, lihat baik-baik laporan pemeriksaan ini! Robot AI yang katanya sempurna, ternyata hanyalah robot pembohong."Ibuku perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya yang kosong jatuh pada laporan tersebut.Satu demi satu kalimat mengerikan terbaca di depan matanya, membuat sekujur tubuhnya menggigil.Laporan itu dengan jelas menyatakan, sejak awal program inti pemantauan kondisi tubuh Shania sudah mengalami kesalahan serius pada koneksi kabel.Shania tidak pernah benar-benar terhubung dengan data tubuhku. Entah itu detak jantung, suhu tubuh, tekanan dar

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 6

    Ibuku berteriak sekuat tenaga kepada Shania sambil menangis, "Shania! Cepat beri tahu mereka! Kamu selama ini terhubung dengan detak jantung Nancy. Nancy sama sekali nggak punya penyakit jantung, tubuhnya selalu sehat! Kamu adalah karya Ibu yang paling sempurna, nggak mungkin ada kesalahan sistem, 'kan?"Setelah menerima perintah, Shania maju menghampiri kerumunan. Layar hologram menyala, lalu terdengar suaranya yang manis."Halo, semuanya! Saya Shania, Robot AI khusus Nancy Halim.""Berdasarkan hasil pemeriksaan, tanda-tanda vital Nancy stabil. Seluruh indikator kesehatan tubuhnya berada dalam kondisi normal dan nggak ditemukan penyakit apa pun. Kalian nggak perlu khawatir."Mendengar itu, tatapan Ibu seketika menjadi kosong dan mati.Ibuku melihat sendiri tubuhku yang sudah kaku dan membusuk. Dia juga mendengar langsung diagnosis profesional dari dokter forensik. Namun, AI yang dia ciptakan dan dipercaya sepenuh hati, malah dengan terang-terangan berbohong.Dokter forensik perempuan

  • Di Hari Anak, Aku Mati Di Tangan Adik AI   Bab 5

    Wajahku pucat pasi dan sangat menyeramkan.Lebam mayat membusuk berwarna biru keabu-abuan mulai menyebar dari leherku, membuat siapa pun yang melihatnya merinding.Bibirku yang pecah-pecah berubah menjadi ungu tua, sementara di sudut bibirku masih terlihat noda darah yang sudah mengering dan menghitam.Itu karena aku merasakan nyeri dada saat bungee jumping, jadi aku menggigit bibirku hingga membekas.Alisku masih mengerut, masih memperlihatkan ekspresi kesakitanku menjelang kematian.Pemandangan memilukan ini membuat semua orang terkejut.Sampai akhirnya ada seorang tetangga perempuan yang penakut menjerit, suara jeritannya memecah keheningan."Ada orang meninggal!"Matanya langsung terbalik, lalu jatuh pingsan.Semua orang seketika tersadar. Mereka menutup mulut dan mundur berulang kali. Beberapa orang bahkan berpegangan pada dinding sambil membungkuk dan muntah-muntah. Bau busuk bercampur dengan rasa takut membuat suasana seluruh garasi menjadi kacau balau.Melihat wajahku yang puca

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status