Share

2. Tak Di Hargai

Author: Sarangheo
last update Huling Na-update: 2025-07-02 15:26:15

"Apa? Kok kayaknya gugup begitu?" Tanya bu siti penasaran.

"Bu, sebenarnya kedatanganku kesini bukannya mau beli, tapi.. " Aku tak melanjutkan kata-kataku yang terasa tertahan di tenggorokan. 

"Tapi apa?" Bu siti semakin serius.

"Mau ngutang Bu." Tukasku cepat. 

"Ngutang?" Bu Siti tersenyum hambar. 

"Iya bu, atau kalau Ibu merasa keberatan Ibu bisa kasih kerjaan apa saja yang penting bisa menebus barang yang akan ku hutang." Kataku menyakinkan nya.

"Beneran kamu mau? Memangnya Awan ngak kasih kamu duit ya? Atau dia belum gajian? Perasaan udah hampir dua minggu ngak pernah lihat Awan lewat." Bu siti mengerutkan kening.

"Bang Awan lagi ngak punya pekerjaan bu." Jawabku jujur.

"Ambil aja dulu barangnya nanti kamu kesini lagi buat nebus hutangnya."

Aku langsung tersenyum dan berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Bu Siti. Alhamdulillah Aku punya tetangga yang cukup baik. 

Aku mulai mengambil bahan yang kuperlukan, seperti telur, kecap dan juga masako. Hari ini aku mau masak telur kecap saja karena menurutku itu lebih cepat dan praktis. Maklumlah bang Awan mungkin sudah sangat kelaparan sehingga emosinya pun sampai meledak-ledak begitu. 

"Sudah Bu, ini saja, semuanya berapa bu?" Tanyaku yang sudah meletakkan bahan masakan di atas meja kasir milik bu Siti. 

"Ini saja ya?" Tanyanya.

Aku mengangguk. 

"Telur 3 butir 6 ribu, kecap 1 bungkus 3 ribu dan masako 2 bungkus 1 ribu jadi totalnya 10 ribu aja." Ucap Bu Siti sambil memasukkan belanjaanku. 

"Kok cuma sedikit? Apa ngak kurang?" Bu siti bertanya heran, karena menurutnya itu cuma barang-barang kecil.

"Mudah-mudahan sih ngak Bu, lagian nanti kalau butuh lagi, aku masih berharap Bu Siti mau ngutangin lagi." Jelasku.

Sebenarnya sih Aku merasa tak enak hati tapi ini semua terpaksa kulakukan agar bang Awan tidak marah-marah terus denganku. 

"Terimakasih Bu, jadi langsung kubawa ya Bu belanjaannya."

Wanita paruh baya itu hanya mengangguk saja, aku pun pulang dengan perasaan yang sedikit lega.

Sesampainya di rumah, ku ucapkan salam dan Aku pun masuk, kulihat bang Awan sedang duduk di atas kursi sambil menghirup kopi hitamnya. Tak lupa ponsel kesayangannya. Bang Awan tak menghiraukan kedatanganku menoleh pun tidak. Aku melangkah saja. 

"Mau punya uang banyak ngak?" Tanyanya tiba-tiba tapi tatapannya masih fokus ke ponsel.

"Maksud Abang?"

"Yah, kali aja bosan hidup jadi orang miskin teruskan? Lagian pekerjaan ini sangat menguntungkan dan bikin kamu keenakan juga! Aku jamin kamu ngak akan rugi."

Aku tersenyum lalu menjawab. "Kerja apa emangnya bang?"

Bang Awan, kini menatapku. "Kita omongin nanti pas mau tidur, sekarang lebih baik kamu masak dulu! Perutku udah keroncongan dari tadi."

"Ya udah bang, aku ke dapur dulu." Pamit ku pelan.

Sebenarnya Aku penasaran akan pekerjaan yang bang Awan tawarkan dan jika memang pekerjaan itu bisa menghasilkan uang yang banyak, tentu saja Aku mau.

Tapi, kenapa dia hanya menyuruhku? Kenapa bukan dia saja yang bekerja. Haruskah Aku ragu. Tapi Aku yakin bang Awan pasti memberikan pekerjaan yang baik untukku kan? Asalkan pekerjaan itu bukan mencuri atau menipu orang lain.

Tidak masalah aku mau, yang paling penting adalah Aku bisa membahagiakan dirinya.

Di kota ini aku tak punya siapa-siapa selain dia, mungkin aku sangat bergantung padanya. Tak ada yang bisa ku lakukan di sini.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Di Jual Suami Jadi Pemuas Pria Kaya   58. Rencanku

    Ruang kantor Dion tak begitu jauh dari tangga utama, aku mengikutinya dengan perasaan yang tak menentu, tentu saja aku gugup bukan main aku tak ingin dia tahu segala hal dan tentu saja aku berharap bisa melupakan dia selamanya bukan untuk hari ini tapi selama sisa umurku. Dion membuka pintu dan berjalan lebih dulu lalu dia duduk di kursi kebesaran nya, dia bersandar layaknya seorang raja. "Apakah ini dari semua rencanamu? Kau menghilang selama beberapa hari dan ku lihat seperti nya kau baik-baik saja." Ucap Dion kemudian. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit sekali ku mengerti. "Maaf Pak, saya tidak paham dengan apa yang bapak bicarakan." Kataku pura-pura tak tahu apa-apa. Dion tak langsung menjawab namun dia malah tersenyum, sialnya aku rindu senyum itu. "Benarkah? Coba ku lihat dokumen yang kau pegang." Kata dia lagi. Aku segera melangkah dan dengan sopan meletakkan dokumen yang berisi surat lamaran pekerjaan. Dion mengambilnya lalu secara perlahan dia berdiri berjalan

  • Di Jual Suami Jadi Pemuas Pria Kaya   57. Di Tempat Kerja

    Pagi-pagi sekali perutku tiba-tiba mulas aku tak bisa menundanya lagi untuk buang hajat, sampai pukul tujuh tiba dan Kinan beserta Teguh selesai sarapan namun perut mulas ku belum juga reda. "Mbak, mbak tidak apa-apa?" Tanya Kinan sedikit khawatir karena di lihatnya aku tak juga beranjak dari toilet. "Tidak apa-apa Kin, biasa kamu pergi saja duluan ke tempat kerja nanti mbak menyusul." Kataku menjawab pertanyaannya. "Tapi mbak, bagaimana sama mbak." Kinan khawatir. "Tidak apa-apa Kin, sudah sana pergi nanti kamu telat." Kataku memaksanya. Dengan berat hati Kinan akhirnya setuju untuk pergi duluan begitu juga dengan Teguh. Akhirnya setelah lewat beberapa menit perutku baru terasa lega, aku langsung ke dapur dan mengambil segelas air hangat. "Ya Tuhan, sebegini repotnya hidupku." Desah ku lelah, namun ketika ku lirik jam yang tertempel di dinding seketika mataku membulat besar. Aku segera mengambil dokumen yang sudah di siapkan Teguh untuk keperluan ku melamar kerja, buru-

  • Di Jual Suami Jadi Pemuas Pria Kaya   56. Teguh Cerita

    Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Pras datang ke rumah Dion, di sana Dion sudah menunggu di ruang tamu dan di sampingnya ada Melisa beserta Ibu Dion. "Pras, ada apa pagi-pagi sekali kau datang? Apakah Dion menelpon mu?" Tanya Mirna langsung karena tak seperti biasanya dia datang pagi-pagi sekali jika Dion tak menelponnya atau keadaan Dion sedang tak baik-baik saja. "Ada sesuatu yang harus kulakukan." Dion yang menjawab lalu kedua wanita itu menatap Dion bingung. Sesampainya di desa itu, Dion langsung menghela nafasnya lega, sekarang dia tak perlu berpura-pura lagi duduk dengan kursi rodanya. Untuk bisa sampai di desa itu tidak memakan waktu hingga berjam-jam, cukup tiga jam lamanya. "Pras, kurasa aku betah di desa ini?" Ujarnya ketika dia melihat hamparan hijau dari pegunungan di depan matanya. "Boleh tapi jangan lupa dengan tujuanmu, kau harus menemukan dia lebih dulu." Pras tersenyum. "Tentu saja." Dion lalu melenggang pergi, ada kepuasan di matanya. Dion segera menge

  • Di Jual Suami Jadi Pemuas Pria Kaya   55. Dion Tenang Di Sini

    "Dion, bagaimana keadaan kamu sekarang apakah kamu benar-benar sudah sehat?" Tanya Pras sehari setelah mereka kerumah sakit. "Sudah jauh lebih baik." Jawab Dion kala itu yang masih duduk di atas ranjang king size miliknya. Prastio berkunjung kerumah Dion hanya ingin mengetahui bagaimana kabar sahabatnya itu, bukan karena dia tak bisa menelpon melainkan ada urusan yang jauh lebih penting dan itu tentang bisnis yang baru saja Dion jajal. Tak hanya peran nya sebagai dokter pribadi keluarga Dion, Pras juga kadang-kadang ikut andil dalam hal bisnis yang Dion jalani, Pras tak begitu sibuk sebab tugasnya di rumah sakit lebih sedikit dan dia juga membuka sebuah tempat praktek sendiri yang tentu saja dia mengaturnya sendiri. "Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?" Tanya Pras datar. "Sebenarnya aku masih ingin kembali menjadi nahkoda, aku sangat mencintai lautan Pras tapi." Dion menghentikan kalimatnya. "Tapi apa? Lalu bagaimana dengan cintamu, kau harus semangat demi dia. " Kata

  • Di Jual Suami Jadi Pemuas Pria Kaya   54. Kerja

    Tidak mbak hanya Kinan ingat sana mbaknya Kinan yang sudah meninggal dua tahun yang lalu. Dia meninggal setahun setelah ibu meninggal." Jawabnya lirih. "Maaf." Aku masih menatapnya. "Tidak apa-apa mbak tapi dengan hadirnya mbak di sini membuat Kinan terhibur." Jujurnya tersenyum tipis. Setelah selesai mencuci sedikit peralatan dapur, Kinan, ya seseorang yang baru saja kukenal mulai mengambil sebuah kantong kresek berwarna bening di atas meja dan ku lihat kantong itu berisi beberapa bahan makanan. Lalu Kinan memasukkan nya kedalam kulkas. "Mbak, habis ini Kinan bawa jalan-jalan mau tidak, sekalian temani Kinan nganterin surat lamaran kerja mbak, kalau keterima ya lumayan." Katanya pelan. "Boleh Kinan, oh ya mbak mau tanya Kinan tinggal di rumah ini cuma sama bapak." Tanyaku ingin tahu, karena kulihat seperti nya rumah ini sepi tak ada siapa-siapa selain Aku dan Kinan. "Iya mbak, bapak Kinan ketua RT di sini." Kinan tersenyum tipis, lalu mulai melangkah. "Mbak mandi saja d

  • Di Jual Suami Jadi Pemuas Pria Kaya   53. Ibu Kinan Sudah Meninggal

    Tak lama setelah pikiranku mulai memulih aku kembali sedih, entahlah sampai di detik ini aku masih baik-baik saja, tak ada cedera serius. Aku merenung dan mengamati diriku, sungguh malang nasibku, seharusnya aku sudah mati tapi Tuhan masih sayang padaku ternyata. "Mbak." Panggil seseorang dari arah pintu yang di tutupi gorden, tak lama setelah itu muncul wajah seorang gadis yang umurnya kira-kira dua puluhan. Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat hampa. "Ini, ada sedikit sup buatan Kinan mbak biasanya akan bisa menghangatkan badan dan Kinan juga buat air jahe, pasti mbak laparkan?" Ucapnya pelan. "Terimakasih." Kataku sambil mengambil baki yang gadis itu bawa. "Di makan dulu mbak Kinan mau kebelakang sebentar." Mintanya undur diri, aku mengiyakan saja dan melihat punggungnya yang mulai menjauh. Ku perhatikan sup itu, rasa mual di perutku seolah-olah ingin mengajakku muntah, apakah ini karena ada luka di lambungku? Aku ingin menangis tapi sungguh aku sangat lapar. Mun

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status