Home / Romansa / Di Ranjang Cinta Lamaku / Bab 1. Apa Dia Ingat Padaku?

Share

Di Ranjang Cinta Lamaku
Di Ranjang Cinta Lamaku
Author: Dian Wahyu

Bab 1. Apa Dia Ingat Padaku?

Author: Dian Wahyu
last update publish date: 2026-09-23 17:29:05

Celia tidak menyangka jika ia akan bertemu cinta lamanya di kuliah dulu, di sebuah restoran mewah di mana pria itu adalah pelanggan yang harus ia layani sebagai pelayan.

Beberapa menit lalu, sang manager memintanya untuk melayani tamu di meja nomor 04. Saat mendekat ke meja yang dimaksud, Celia bersiap untuk mencatat pesanan seperti biasa dengan senyum ramah.

Ketika matanya bertemu dengan sorot mata dingin pelanggan di depannya, senyuman itu hilang dan tergantikan dengan ekspresi tegang.

"Pelayannya sudah datang. Cepat pesan. Jangan buang-buang waktu."

Meski kalimat tajam itu bukan ditujukan padanya, mendengar suara pria di depannya itu membuat Celia langsung menunduk. Kenapa ia bisa bertemu Ethan di tempat seperti ini?

Pria itu adalah Ethanio Kaiven Oldheron. Pewaris Oldheron Grup yang terkenal. Orang dari masa lalu, tepatnya pria yang satu angkatan di kampus Celia dulu. Di depan pria itu, duduk seorang wanita muda dengan penampilan berkelas.

"Melihat menu caviar ini malah membuatku memiliki ide, jika di acara resepsi pernikahan kita nanti harus ada menu ini," ucap sang wanita dengan senyuman sembari menunjukkan menu tersebut dengan tatapan penuh harap.

Dandanan wanita itu sangat cantik. Penampilannya yang modis nan anggun membuat Celia seketika merasa rendah diri.

Melihat wanita di depannya, hal itu mengingatkannya pada kehidupannya yang dulu serba ada. Namun, keadaan telah berubah. Bisnis keluarganya yang dulu sukses telah bangkrut dan membuatnya berada di tempat ini.

Celia tidak jarang melayani orang-orang dari kalangan atas. Bagaimanapun, restoran ini adalah restoran mewah. Ia bisa langsung menyimpulkan jika Ethan dan wanita di depannya sedang berkencan.

"Menu caviar terlalu membuang uang," balas pria itu dengan suara datar.

Si wanita menatap pasangan kencannya dan bertanya dengan nada sedikit tidak percaya, "Ethan, keluarga kita bukan keluarga yang miskin dan kurasa makanan ini wajib ada."

Sebagai pelayan, Celia hanya bisa diam menyimak percakapan mereka. Perasaannya mendadak tidak nyaman.

Sejak tadi, Ethan memang tidak menatapnya sama sekali. Tapi ia berusaha sekuat tenaga menghindari tatapan dengan pria tersebut.

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali bertemu dengannya. Dulu, mereka sama-sama berkuliah di sebuah universitas swasta elit. Celia yang hidup dimanjakan hanya punya satu masalah, yaitu perjuangannya untuk mendapatkan hati Ethan yang dingin. Ia rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan perhatiannya.

Setelah kebangkrutan usaha keluarga, Celia hilang tanpa kabar, kini menjadi seorang pelayan di restoran. Sementara Ethan masih menyandang status yang sama, tetap berpenampilan rapi dengan setelan jas, dan juga pesona yang semakin bersinar bagi orang yang memandangnya.

Celia sedikit meremas buku kecil yang ia gunakan untuk mencatat pesanan. Hatinya sungguh tidak nyaman, untuk berdiri di sini saja rasanya malu. Ia berharap jika pria di depannya itu tidak mengenalinya. Lagi pula, sejak dulu pria tersebut tidak peduli padanya.

"Kau terdengar cukup yakin kita akan menikah, Marie."

Sebenarnya Celia tidak berniat untuk menguping, sudah menjadi kebiasaannya mendengar pelanggan mengobrol terlebih dahulu sebelum memesan. Tetapi kali ini ia bisa merasakan jika pasangan di depannya mungkin akan bertengkar.

Wanita bernama Marie itu mengedipkan mata. "Apa maksudmu?"

Ethan menyender dengan santai di kursinya dan menatap datar pasangan kencannya, "Aku tidak tahu apa yang nenekku katakan padamu, tapi aku tidak menikahi wanita yang memiliki latar belakang bermasalah."

Wanita tersebut mengerutkan keningnya dan tidak paham, "Apa maksudnya?"

"Aku bilang, latar belakang keluarga yang bersih adalah penilaian untuk pasanganku," jelasnya, lalu tersenyum miring. "Marie, apa kau tahu bisnis macam apa yang dijalankan ayahmu?" 

Marie lantas melayangkan sedikit protes, "Ethan, aku hanya ingin merekomendasikan menu caviar ini. Kenapa kau sampai memeriksa latar keluargaku?"

Pria itu masih mengeluarkan ekspresi yang sama, semacam ekspresi tidak berminat untuk menjalin hubungan lebih jauh.

"Ayahmu melakukan penggelapan dana melalui anak perusahaan milik rekannya karena ada kaitan saham sebelumnya," tukas pria itu.

Marie tercengang, tersinggung mendengar tuduhan yang tak pernah ia dengar, "Ayahku adalah pebisnis yang bersih!"

"Kau mengatakan ini karena belum tahu. Namun, dalam waktu beberapa bulan akan terjadi perampasan aset. Kuharap pada saat itu kau lebih dulu mengamankan hartamu."

"Ethan, kita sedang makan malam. Kenapa membahas itu?" Marie merengek. Sifat cerianya langsung menghilang mendengar perkataan Ethan.

Sementara Celia masih berdiri diam sambil memegang buku kecilnya, tidak mengerti kenapa keduanya membicarakan masalah seperti ini di saat mereka sudah memanggilnya untuk memesan.

"Itukah alasanmu tidak mau menikah denganku?"

Pria itu tidak memberikan jawaban melalui ekspresi tubuh. Bibirnya langsung berbicara dengan sebuah kalimat sebagai penjelas hubungan mereka.

"Aku tidak mau calon istriku berasal dari keluarga yang bermasalah, makanya aku tidak mau kita menikah."

Sontak Marie bangkit dari tempat duduknya dan mengambil gelas berisi air mineral yang memang disediakan untuk setiap tamu yang datang. Wanita itu tanpa pikir panjang lantas menyiram wajah pasangan kencannya dengan ekspresi marah.

Ketika air mengenai wajah pria tersebut, Celia terkejut dan mundur selangkah, tidak menyangka jika adegan dramatis ini terjadi di depannya.

Marie lantas berucap dengan kalimat penuh penekanan, "Ingat, Ethan. Aku juga tidak mau menikah dengan pria yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, apalagi kau sudah menuduh ayahku menggelapkan dana!"

Pria itu tidak protes sama sekali ketika Marie menyiramnya, ia bahkan tersenyum miring, seolah merasa lebih baik jika Marie marah seperti itu terhadapnya.

"Kita batalkan saja perjodohan ini!" tegas Marie dengan suara lantang sembari berbalik badan dengan membawa tasnya untuk meninggalkan tempat ini terlebih dahulu.

Keributan itu cukup mengundang perhatian. Beberapa orang menoleh ke arah mereka saat Marie melangkah pergi dengan bunyi sepatu haknya yang nyaring.

Tersisa Celia bersama pria itu. Rasanya semakin canggung sampai akhirnya sang manager mendekat lalu bertanya padanya tentang keributan yang baru saja terjadi.

"Celia, ada apa ini?"

Belum sempat menjawab, pria yang wajah dan pakaiannya sudah basah karena siraman air itu lantas mengusap wajahnya, lalu menatap ke arah Celia dengan tatapan yang masih sama seperti sebelumnya, dingin dan angkuh.

"Kau, ambilkan aku pakaian baru di mobil."

Ketika ditunjuk seperti itu, Celia lantas mengangguk dan melakukan tugasnya. Ia tahu betul bahwa restoran tempatnya bekerja ini berisi pelanggan kelas atas. Mereka bebas menyuruh para pelayan untuk melakukan sesuatu, sebab ada tip besar yang akan mereka berikan setelahnya.

Celia diberikan kunci mobil, artinya ia harus keluar untuk mencari di mana mobil pria itu terparkir bersama sopirnya, lalu mengambil pakaian yang dimaksud.

Ketika keluar dari restoran dan ia telah menemukan di mana mobil itu, Celia segera meminta sopir yang berjaga tak jauh di sana untuk mengambil pakaian ganti.

Saat melakukannya, ia teringat pada kehidupannya yang dulu. Setiap kali mengalami kendala seperti itu, ia hanya perlu menyuruh orang lain yang bertugas melayaninya. Baru saat jatuh miskin ia menyadari jika untuk hal seperti ini saja menguras banyak tenaga.

Jika ayahnya, Julian Wyn, tidak bangkrut karena tertipu saham, mungkin ia masih menjadi tuan putri yang manja dan tidak akan menghadapi dunia yang kejam seperti ini.

"Apa dia ingat padaku?" gumam Celia. Ia diam sejenak setelah pakaian Ethan ada di tangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
melati 🌸
ya ingatlah pastinya cel, kamu kan mantan terindah nyaa. ......... duhh emang jahat betol mulutmu yah than ethan.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 9. Jangan Menghindar

    "Selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Oldheron. Semoga selalu diberkati!"Ucapan selamat penuh harapan itu membuat Celia lantas menanggapinya dengan senyuman tipis.Pagi ini di kantor catatan sipil, Ethan benar-benar memberikan akta pernikahan padanya dan dalam hitungan menit saja status keduanya sudah berubah.Pria itu terlihat rapi dengan setelan kantornya seperti biasa, sementara Celia dengan gaun putih selutut pemberian Ethan hanya berada di sisinya tanpa banyak bersuara.Menyelesaikan langkah terakhir, mereka berdua keluar dari kantor ini dan berjalan beriringan."Publikasikan pernikahanku hari ini," ujarnya datar pada sang asisten yang lantas menghubungi pihak media terpercaya."Baik, Tuan Muda."Semudah itu, rasanya Celia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.Lelaki yang dirinya puja sebenarnya tidak berubah dari segi karakter.Ethan tetaplah orang yang dingin dan tanpa perasaan. Apa pun yang dilakukan pria ini tidak bisa Celia tebak, termasuk mendaftarkan perni

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 8. Aku Mandul

    Setelah pembicaraan itu, kini Celia bersama Ethan tampak memasuki mobil dan menunggu asisten pria itu mengantar keduanya kembali.Memikirkan apa yang dikatakan Gracia membuat Celia menjadi tidak tenang sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada pria di sampingnya."Ada yang ingin kukatakan."Ethan masih biasa saja. Pria itu tetap datar tanpa ekspresi penasaran saat Celia membuka obrolan."Katakan," balas Ethan.Celia menarik napas dalam. Ada banyak hal yang wanita itu pikirkan. Wajah marah Rigel kala itu tiba-tiba menghampirinya dan jujur saja sebenarnya Celia tidak ingin memikirkannya.Perkataan dari nenek Ethan membuatnya takut.Namun Celia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat rapuh di depan pria ini meskipun keadaannya benar-benar memilukan."Aku tidak bisa memiliki anak denganmu." Ethan tersenyum miring mendengarnya.Pria itu menghela napas dan kemudian membalas, "Kalau kau butuh uang lebih banyak, tak masalah jika kau melahirkan anakku."Celia melotot mendengar

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 7. Demi Cicit

    "Tentang apa?"Terdengar jika Gracia tidak sabar mendengarnya, apalagi cucunya itu seperti sengaja membuatnya penasaran."Jangan bertanya soal keluarganya, Nek. Keluarganya sudah lama bangkrut," jelas Ethan kemudian."Bangkrut? Dia dari keluarga perusahaan mana?"Ethan tahu bahwa pertanyaan seperti ini akan tetap neneknya tanyakan. Namun, ia tidak ingin menjawabnya dan jujur saja sudah cukup baginya jika Celia hidup bersamanya."Sudah dulu, aku mau kerja.""Anak nakal, jawab dulu pertanyaan nenekmu!" tukas wanita tua itu dengan nada tegas serta memaksa.Namun Ethan segera mematikan sambungan karena tidak mau menjelaskan. Lagi pula, ia hanya ingin membuat Celia nyaman saat pergi dengannya nanti.***Baru selesai dengan rangkaian perawatan, Celia merenggangkan otot pinggangnya karena terlalu lama duduk.Satu-satunya hal yang amat menyenangkan baginya adalah pergi ke salon dan mempercantik diri. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya dan jujur saja menikmati seluruh treatment ini.Dari

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 6. Perkara Bayar Utang

    Bukti transfer masuk pagi ini, Celia menarik napas dalam dan kemudian ia berdiri seraya mengambil tasnya untuk bekerja sesuai kesehariannya.Baru keluar dari kamar, pemandangan orang tuanya yang masih bertengkar karena kedatangan rentenir semalam lantas membuat Celia menarik napas pelan."Pergilah ke kantor pinjaman itu, Celia. Hanya melayani Pak Bondy dua kali dan setelah itu utang keluarga kita lunas," ucap Julian pada putrinya tanpa belas kasih.Sebenarnya Celia marah mendengarnya.Sebisa mungkin wanita itu bersikap biasa dan berjalan melewati orang tuanya sembari berkata, "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir, aku akan membayarnya pagi ini."Mendengar itu, Lidia hanya diam.Tak ada yang menanggapi perkataan Celia kali ini, bahkan Julian mengalihkan pandangnya karena mereka telah berkali-kali mengorbankan putri mereka.Membuka pintu apartemen itu, Celia menutupnya pelan dan wajahnya menatap ke depan.Ethan belum mengabarkan kapan mereka akan bertemu lagi, namun pria itu sudah memberikan

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 5. Hanya Menikah, Bukan?

    Celia membeku, teringat apa yang dikatakan ayahnya kemarin. Ternyata memang benar jika dirinya akan dijadikan jaminan jika sampai utang itu belum lunas juga.Ia pikir hal itu hanyalah gertakan semata agar dirinya mau menghasilkan uang lebih banyak.Dua rentenir tersebut tertawa-tawa dan menatap Celia dari atas hingga bawah. Hal itu membuat Celia jijik seketika, lagi dan lagi dirinya hanya dipandang sebagai objek nafsu."Bos kalian gila, ya?"Celia marah. Ia seperti hanya dijadikan mainan yang bisa dilempar ke sana kemari demi uang, meski saat ini marah pada ayahnya pun percuma."Hanya itu tawarannya. Kalau tidak mau, makanya cepat bayar!"Celia menelan ludahnya. Ia hanya wanita miskin dan utang ayahnya terus berbunga, sementara gajinya masih bulan depan. Jika ia menyerahkan sisa uangnya, lantas sampai akhir bulan dirinya mau makan apa?Ketika memikirkan semua ini, Celia teringat apa yang terjadi siang tadi. Tawaran Ethan cukup menarik. Pria itu juga kaya raya dan jika ia mempertimbang

  • Di Ranjang Cinta Lamaku   Bab 4. Gara-gara Rentenir

    Celia menebak jika pria itu akan membahas kondisi keluarganya atau mungkin malah mengejeknya. Orang-orang yang berasal dari kampusnya dulu selalu bersikap seperti itu saat menemuinya."Maaf, saya harus kembali bekerja," balasnya sembari membalikkan tubuhnya dan ingin keluar.Merasa ditolak, pria itu pun berkata, "Aku bisa ajukan komplain agar kau dipecat dari pekerjaan ini jika menolak bicara denganku."Tidak bisa. Tak boleh terjadi.Celia butuh pekerjaan ini dan bayaran yang ia terima selama bekerja cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Ditambah dengan utang orang tuanya yang terus berbunga membuatnya harus menahan segala gejolak yang ada.Terpaksa menyetujuinya, Celia akhirnya duduk tepat di depan pria itu.Ethan masih melanjutkan makan siangnya tanpa hambatan, pria itu melihat ke arah Celia yang diam tak bicara apa pun."Ambil garpumu. Makanlah. Sekarang waktunya istirahat makan siang," ucapnya, dengan gestur tubuhnya menunjuk ke piring di sisi meja tempat Celia duduk. Pria itu meme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status