LOGINKemudian Celia tersadar dan lantas pergi kembali ke restoran sambil membuang pemikiran itu. Sejak dulu Ethan tidak memandangnya, mana mungkin ia ingat siapa dirinya?
"Ini, Tuan." Ethan menerima pakaian yang diambilkan oleh Celia. Ekspresi kakunya tetap sama dan pria itu lantas memasuki toilet pria tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada pelayan di depannya. Sementara Celia masih menunggu tepat di depan pintu tersebut. Bagaimanapun, ia harus melayani pelanggan dengan sungguh-sungguh apapun yang mereka butuhkan. Dengan begitu, pelanggan-pelanggan kaya itu akan memberi mereka tip besar. Sejauh ini, Ethan tidak menyinggung apapun yang menunjukkan jika pria itu mengenalnya. "Benar, bukan? Dia tidak ingat padaku. Baguslah," gumamnya sembari tersenyum samar. Bukan rahasia lagi jika semasa kuliahnya dulu di Universitas Saghera, Celia menyukai pria tersebut. Tidak hanya menemuinya di sela-sela pergantian kelas, bermacam-macam hadiah Celia berikan, meskipun akhirnya ditolak atau dibuang percuma, tanpa kalimat balasan dan tanpa timbal balik. Dulu, ia sungguh tak tahu malu. Pikirannya teringat ia menjadi bulan-bulanan satu angkatan hanya karena tingkahnya yang berusaha menarik perhatian Ethan dengan menyedihkan. Celia kembali menguatkan hatinya. Ia memang sempat tegang saat berhadapan dengan pria itu tadi, namun kini ia tidak perlu terlalu gugup karena Ethan tak mengenalinya. - Di dalam toilet, Ethan yang sedang memakai kemeja baru itu lantas menatap ke arah cermin besar di depannya. Jemarinya mengancingkan kemeja satu persatu dan matanya lurus memandang ke depan. Ponselnya berdering, menunjukkan nama salah satu kenalannya. Ethan menyalakan loud speaker dan membiarkannya bicara. "Bagaimana? Kau suka restoran itu? Yang mengelola itu cuma grup kecil. Mereka hanya punya beberapa cabang. Kau jadi mau mengakuisisinya?" "Tidak. Aku tidak tertarik," jawab Ethan singkat. Suara temannya terdengar heran di seberang sana. "Lalu, untuk apa meminta reservasi khusus dengan koneksiku di sana? Tempatnya juga cukup jauh. Kudengar pasangan kencanmu protes karena kau minta ganti lokasi tiba-tiba." Ethan tidak menjawab. Ia hanya tahu tentang restoran ini lewat postingan di sosial media yang ia telusuri dan tidak sengaja melihat wajah yang familiar. Melihat gadis itu setelah sekian lama, membuatnya sengaja memancing pertengkaran di depan Marie. Cecilia Elowyn. Ia awalnya tidak menyangka jika wanita itu benar-benar bekerja di tempat ini sebagai pelayan. Gadis manja yang boros dan tidak tahu malu saat menyatakan perasaannya itu ternyata benar-benar mengambil pekerjaan seperti ini. Ethan selesaikan kancing kemeja miliknya. "Aku hanya ingin perubahan suasana," ucapnya singkat ke telepon. Pria itu lalu menutup panggilan dan memasukkan ponsel ke saku. Beberapa tahun lalu, Ethan terbiasa dengan gangguan di kampus setiap hari dengan banyak sekali hadiah di loker miliknya. Semua itu berasal dari seseorang yang dianggapnya seperti hama. Belajar bisnis sejak muda membuat Ethan tahu, mana yang penting untuk diinvestasikan dan mana yang tidak. Waktu yang dibuang untuk meladeni gadis itu tidak memberi keuntungan apa-apa. Secara natural, ia mengabaikannya. Tak lama setelah memberi penolakan yang kesekian kali, Ethan lantas menyadari dari hari ke hari tidak ada lagi hadiah untuknya. Loker miliknya kosong, Celia lama sekali tidak terlihat. Sampai akhirnya ia menyadari, di setiap perkumpulan bisnis pun orang tua wanita itu tidak ada. Selain itu, Celia juga menghilang bak ditelan bumi. Tidak ada kabar terbaru, tak ada lagi yang mengganggunya sampai akhirnya Ethan membaca komentar di forum kampusnya yang mengolok-olok Celia. Waktu itu, keluarganya ingin menjodohkannya dengan putri dari keluarga terpandang, namun Ethan menolaknya dengan alasan masih ingin fokus dengan pendidikan. Awalnya, ia pikir Celia akan pantang menyerah dan mengejarnya lagi. Namun lambat laun tak terdengar kabar sampai dirinya lulus. Tak lama kemudian, sebuah postingan foto di sosial media membuat orang-orang tahu, Celia telah menikah. Ethan tidak seharusnya penasaran. Tapi berita mengenai perempuan itu selalu muncul di berandanya. Dua tahun selanjutnya, ia menemukan bahwa tak ada lagi postingan wanita itu memakai gaun pengantin. Sekarang ia baru mengetahui, rupanya wanita itu sibuk bekerja. Selesai dengan kemejanya, Ethan keluar dari toilet pria dan mendapati jika Celia masih berdiri di depannya dengan wajah menunduk. Celia sendiri lantas menyadari jika Ethan sudah selesai berganti pakaian. Awalnya ia ingin menagih tip, namun menghadapi pria itu rasanya terlalu canggung, sampai akhirnya Celia memilih untuk tidak memintanya dan mengikhlaskan saja hal ini. "Jika semuanya sudah selesai, saya permisi dulu." "Tunggu." Celia berhenti dan berbalik, melihat Ethan yang tengah mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet miliknya. Pria itu memberikannya secara cuma-cuma. Sorot matanya yang tajam masih memperhatikan wajah Celia yang tak pernah dirinya pandang sedekat ini. "Terima kasih, Tuan." Celia ambil uang dari Ethan, namun pria itu menahan uang tip tersebut dan membuat Celia bingung dengan apa maksudnya. "Lama tidak bertemu. Tak kusangka jika kau benar-benar bekerja menjadi seorang pelayan," ucap pria itu dengan sebelah alis naik sedikit. Sontak Celia menyadari jika Ethan mengenalinya. Tubuhnya membeku, ia malu dan lidahnya kelu untuk membalas perkataan itu. Nyatanya, dirinya memang seorang pelayan rendahan. Dulu ia memang tuan putri yang bisa meminta semuanya hanya dengan merengek, namun semuanya telah berubah. Satu hal yang tak pernah Celia sangka adalah pria ini masih mengingatnya. Mungkin perlakuannya di masa lalu begitu memalukan dan membuat Ethan muak padanya. Apakah pria itu akan menggunakan kesempatan itu untuk membalas dendam? Bagaimanapun, posisinya yang sekarang akan lebih mudah jika pria ini ingin menginjak harga dirinya. Setelah uang itu tidak ditahan lagi oleh Ethan, Celia mengambilnya dengan cepat. Ia tak memiliki alasan untuk menolak jika sudah diberi. Toh, pekerjaannya saat ini halal dan ia juga tak memaksa pelanggan memberikan tip untuknya. "Saya permisi dulu, Tuan. Selamat malam." Celia membungkuk hormat dan meninggalkan pria itu, sehingga Ethan hanya memandangnya dalam diam. - Di perjalanan pulang, Celia hanya melamun saat bus membawanya menuju halte pemberhentian di depan apartemen kecil yang ia sewa bersama orang tuanya. Termenung menatap jalanan, Celia teringat pertemuannya dengan Ethan beberapa saat yang lalu. Ethan mengingatnya. Entah apa yang Ethan pikirkan tentangnya. Pria itu tidak pernah menunjukkan sikap yang baik padanya, semuanya selalu diberikan tanpa reaksi, bahkan ketika ia menunjukkan perasaannya dengan banyak sekali hadiah. Tak ada hal yang membuat hati Ethan tergerak. Celia tersenyum tipis mengingatnya. Jika dulunya sang ayah tidak bangkrut, mungkin Wyn Grup telah berkembang pesat dan ia bisa terus mendekati Ethan. Sekarang semuanya sirna, ayahnya berubah menjadi seorang pemabuk dan ibunya juga banting tulang bersamanya untuk membayar beberapa utang yang belum lunas. Sebenarnya kondisi ekonomi keluarga sempat membaik setelah ia menikah. Pria yang menjadi suaminya adalah anak pengusaha kecil kenalan ayahnya dulu. Namun pernikahan itu hanya bertahan selama dua tahun. "Aku membantu keluargamu sejauh ini, namun tak ada satupun hal yang bisa membuatmu membalas kebaikanku." Perkataan Rigelino Kierston, sosok mantan suaminya itu masih terngiang di kepalanya. "Apa sulitnya melahirkan anak untukku, Celia? Kalau tahu jika sebenarnya kau mandul, kenapa kau nekat menyetujui pernikahan ini?" Pernikahan dua tahunnya berakhir karena ia tidak bisa mengandung. Kata mandul terlalu menyakiti perasaannya, ditambah saat itu ia sudah berusaha untuk melakukan program hamil dan semua itu sia-sia. Tidak ada harta gono-gini meski selama pernikahan ia banyak membantu pria itu mengurus perusahaan kecil yang telah dirintis. Kini, mantan suaminya telah sukses membangun bisnis baru, sedangkan kehidupannya kembali ke nol lagi, dan bahkan jauh lebih sulit saat ia tinggal bersama orang tuanya. Lamunan panjangnya buyar saat bus berhenti dan artinya ia telah sampai di depan halte apartemennya. Celia dengan langkah gontai lantas turun. Sampai di apartemen kecil dengan biaya sewa murah, Celia masuk lalu melihat ruang tamu begitu berantakan. Bisa ditebak jika orang tuanya sedang bertengkar dan ia pulang di saat yang tidak tepat, padahal Celia ingin sekali punggungnya segera menyentuh kasur. "Carilah duda kaya raya, Celia. Menjadi pelayan restoran tidak akan membuat kita menjadi kaya," ujar Lidia, wanita yang merupakan ibu Celia itu muncul dari arah dapur.Rona merah terlihat di wajah Celia yang nampak tersiksa karena ulahnya.Ethan sendiri menurunkan bathrobe miliknya dan melepaskan jemarinya dari rongga basah milik wanita itu.Ketika tak ada lagi jemari di area pribadinya, Celia membuka matanya lalu melihat Ethan melemparkan bathrobe itu hingga kini matanya melotot kaget.Pria ini tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.Perutnya yang berotot dengan tulang bahu yang menawan membuat Celia terpana sejenak.Ethan masih menjaga tubuhnya dengan baik. Dulu ia begitu mengaguminya, namun kini rasanya sungguh tidak pantas sampai akhirnya matanya turun ke area perut dan sebuah benda di bawahnya yang membuatnya langsung membuang muka.Rasanya malu. Ini tidak pantas.Pria itu masih menatapnya seolah-olah dirinya adalah tersangka yang tidak akan termaafkan.Melihat Celia yang kembali membuang muka, Ethan menghela napasnya lalu menarik wanita itu agar duduk. Sementara dirinya mendekat."Pegang."Terkejut, Celia menatap wajah pria itu dan bertany
Ketika mendengar kalimat Ethan, Celia rasakan tubuhnya kaku dan hatinya terus berdesir.Bibir pria itu menelusuri lehernya dan kini Celia membuang tatapannya ke samping.Perasaannya kalut. Dua kali pernikahannya dan ia hanya menjajakan tubuhnya pada seorang pria.Tanpa cinta. Tanpa perasaan yang jelas.Hanya harapan tentang ekspetasi keluarganya yang ingin keluar dari kemiskinan hingga Celia merasa bahwa ia tidak begitu berharga.Melihat Celia yang mengalihkan tatapannya seolah tak ingin memandangnya, Ethan rasakan kemarahan dari dalam hatinya.Ke mana Celia yang dulu selalu ingin menyentuh tangannya?Wanita ini berubah menjadi kaku dan tidak mau menatapnya, padahal Ethan berharap jika Celia menyambutnya dengan baik.Celia yang mengejarnya tanpa rasa malu meskipun satu angkatan mengoloknya kini sudah berubah dan tidak ingin menunjukkan perasaannya lagi.Ethan kemudian berucap pelan, "Tatap aku, Celia."Wanita itu tetap pada posisinya. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan karena hal
"Selamat atas pernikahan Anda, Tuan dan Nyonya Oldheron. Semoga selalu diberkati!"Ucapan selamat penuh harapan itu membuat Celia lantas menanggapinya dengan senyuman tipis.Pagi ini di kantor catatan sipil, Ethan benar-benar memberikan akta pernikahan padanya dan dalam hitungan menit saja status keduanya sudah berubah.Pria itu terlihat rapi dengan setelan kantornya seperti biasa, sementara Celia dengan gaun putih selutut pemberian Ethan hanya berada di sisinya tanpa banyak bersuara.Menyelesaikan langkah terakhir, mereka berdua keluar dari kantor ini dan berjalan beriringan."Publikasikan pernikahanku hari ini," ujarnya datar pada sang asisten yang lantas menghubungi pihak media terpercaya."Baik, Tuan Muda."Semudah itu, rasanya Celia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.Lelaki yang dirinya puja sebenarnya tidak berubah dari segi karakter.Ethan tetaplah orang yang dingin dan tanpa perasaan. Apa pun yang dilakukan pria ini tidak bisa Celia tebak, termasuk mendaftarkan perni
Setelah pembicaraan itu, kini Celia bersama Ethan tampak memasuki mobil dan menunggu asisten pria itu mengantar keduanya kembali.Memikirkan apa yang dikatakan Gracia membuat Celia menjadi tidak tenang sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada pria di sampingnya."Ada yang ingin kukatakan."Ethan masih biasa saja. Pria itu tetap datar tanpa ekspresi penasaran saat Celia membuka obrolan."Katakan," balas Ethan.Celia menarik napas dalam. Ada banyak hal yang wanita itu pikirkan. Wajah marah Rigel kala itu tiba-tiba menghampirinya dan jujur saja sebenarnya Celia tidak ingin memikirkannya.Perkataan dari nenek Ethan membuatnya takut.Namun Celia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat rapuh di depan pria ini meskipun keadaannya benar-benar memilukan."Aku tidak bisa memiliki anak denganmu." Ethan tersenyum miring mendengarnya.Pria itu menghela napas dan kemudian membalas, "Kalau kau butuh uang lebih banyak, tak masalah jika kau melahirkan anakku."Celia melotot mendengar
"Tentang apa?"Terdengar jika Gracia tidak sabar mendengarnya, apalagi cucunya itu seperti sengaja membuatnya penasaran."Jangan bertanya soal keluarganya, Nek. Keluarganya sudah lama bangkrut," jelas Ethan kemudian."Bangkrut? Dia dari keluarga perusahaan mana?"Ethan tahu bahwa pertanyaan seperti ini akan tetap neneknya tanyakan. Namun, ia tidak ingin menjawabnya dan jujur saja sudah cukup baginya jika Celia hidup bersamanya."Sudah dulu, aku mau kerja.""Anak nakal, jawab dulu pertanyaan nenekmu!" tukas wanita tua itu dengan nada tegas serta memaksa.Namun Ethan segera mematikan sambungan karena tidak mau menjelaskan. Lagi pula, ia hanya ingin membuat Celia nyaman saat pergi dengannya nanti.***Baru selesai dengan rangkaian perawatan, Celia merenggangkan otot pinggangnya karena terlalu lama duduk.Satu-satunya hal yang amat menyenangkan baginya adalah pergi ke salon dan mempercantik diri. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya dan jujur saja menikmati seluruh treatment ini.Dari
Bukti transfer masuk pagi ini, Celia menarik napas dalam dan kemudian ia berdiri seraya mengambil tasnya untuk bekerja sesuai kesehariannya.Baru keluar dari kamar, pemandangan orang tuanya yang masih bertengkar karena kedatangan rentenir semalam lantas membuat Celia menarik napas pelan."Pergilah ke kantor pinjaman itu, Celia. Hanya melayani Pak Bondy dua kali dan setelah itu utang keluarga kita lunas," ucap Julian pada putrinya tanpa belas kasih.Sebenarnya Celia marah mendengarnya.Sebisa mungkin wanita itu bersikap biasa dan berjalan melewati orang tuanya sembari berkata, "Ayah dan Ibu tak perlu khawatir, aku akan membayarnya pagi ini."Mendengar itu, Lidia hanya diam.Tak ada yang menanggapi perkataan Celia kali ini, bahkan Julian mengalihkan pandangnya karena mereka telah berkali-kali mengorbankan putri mereka.Membuka pintu apartemen itu, Celia menutupnya pelan dan wajahnya menatap ke depan.Ethan belum mengabarkan kapan mereka akan bertemu lagi, namun pria itu sudah memberikan







