Beranda / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 108. Taktik Menarik Hati

Share

108. Taktik Menarik Hati

Penulis: Keke Chris
last update Tanggal publikasi: 2025-12-06 21:40:48

“Kak Bin, Ardan nunggu Kak Bin dari tadi,” Ardan menarik Binar masuk, melewati ketegangan di ruang tamu.

Binar tak enak masuk begitu saja melewati Nurma dan Selene, tapi tak bisa berbuat banyak saat Ardan dengan semangat menarik lengannya.

“Ardan, ada Tante Selene di sini, ayo sapa dulu,” kata Nurma, mencoba memanggil Ardan.

Saat bocah itu menoleh dia hanya tersenyum lebar pada Selene.

“Oh, Tante, Ardan main dulu sama Kak Bin, ya!”

Selene tersenyum kaku, sedangkan Nurma mendelik padanya. “Ardan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Ranjang Majikanku   299. Mengkhianati Bhaga

    Nurma masuk ke kamar itu tanpa mengetuk.Djati tersentak kecil, tapi dia tidak menoleh. Matanya masih di layar, tak ingin kehilangan momen walau hanya sedetik.Langkah Nurma sedikit ragu saat mendekat, tapi dia tetap melangkah dan berdiri di belakang Djati. Matanya memicing saat melihat gambar di layar itu dan mengernyit begitu menyadari jarak keduanya kini sangat dekat."Dia belum pergi?" tanya Nurma pelan."Belum. Sepertinya dia bersikeras mendapatkan tanda tangan itu." Terlihat menarik, Nurma langsung berpindah. Dia gegas duduk di sebelah Djati dan menatap layar dengan ekspresi seseru ketika menonton telenovela."Kalau dia melakukan apa yang diminta pria itu," kata Nurma. "Apa yang akan kamu lakukan dengan rekaman ini?"Djati menyeringai miring.."Kamu berikan ke Bhaga," lanjut Nurma sendiri dengan nada yang tak percaya."Bhaga berhak tahu siapa perempuan yang ada di hidupnya."Nurma menatap layar. "Dan kalau Bhaga tetap tidak melepaskan wanita itu meski melihat rekaman ini?""Itu

  • Di Ranjang Majikanku   298. Hanya Satu Ciuman

    Untuk sesaat, keheningan memenuhi ruangan itu. Binar memilih berdiri dan menjaga jarak,Namun, Arya tidak langsung menyerah dan Binar sudah memperhitungkan itu.Binar sudah ingin pergi, tapi kakinya lemas. Jadi yang bisa dia lakukan hanya berpindah dan duduk di sofa lain. Kepalanya sedikit pusing karena mulai panik, tapi dia bersikap tetap tenang dengan mengatur napasnya diam-diam.Matanya terus menatap dalam siaga, dia bahkan tak berani berkedip. Terus memandang setiap pergerakan yang dilakukan oleh Arya,Sebaliknya, Arya justru kelewat santai. Dia kini berjalan ke minibar kecil di sudut ruangan. Menuang sesuatu ke dalam dua gelas. Lalu dia kembali dan meletakkan satu gelas di depan Binar. Bibirnya menyunggingkan senyuman menggoda. “Untukmu.”Binar tidak menyentuhnya. Dia hanya meliriknya sekilas dan kembali menatap Arya."Santai saja," kata Arya. Dia duduk di sofa yang berhadapan, bukan di sebelah lagi. Seperti memberi jarak yang terasa seperti kebaikan tapi sebenarnya taktik.Dia b

  • Di Ranjang Majikanku   297. Aku Mau Rasakan Bibirmu

    “Aku akan melanjutkannya lagi.” Tegas Binar.Meski sejujurnya perasaannya mulai merasa tak nyaman, tapi dia ingin menyelesaikan ini dengan baik. Dan dia berharap hal itu akan segera terjadi.Namun, sebelum Binar sempat membuka map-nya, Arya itu terbatuk beberapa kali dan memegang kepalanya. Wajahnya berubah merah dan itu membuat Binar mengernyit bingung. Rasanya tadi sebelum ditinggal ke kamar mandi, pria itu baik-baik saja."Maaf. Aku sedang tidak terlalu sehat hari ini." Arya berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepinya. "Kepala agak pusing dari tadi. Bisa kita bicara di sini saja? Lebih nyaman."Binar memandang jarak antara kursinya dan tepi ranjang itu. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Dia berdeham kecil."Aku nyaman di sini," kata Binar. "Kita bisa di mulai kalau kamu siap."Pria itu menatapnya sebentar, mengelus sprei dengan perlahan, lalu tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat berbeda dengan seringai kecil di ujung bibir..Binar tahu instingnya kali ini tidak salah. Ad

  • Di Ranjang Majikanku   296. Suite Hotel

    Sudah berjam-jam Binar mempelajari dokumen yang diberikan oleh Djati. Dia bahkan meminjam meja kerja Bhaga untuk itu. Meski Bhaga tidak mengerti kenapa papinya justru memerintahkan Binar yang maju alih-alih orang lain, tapi dia tak bertanya. Bhaga juga mempersilakan Binar untuk memakainya sampai selesai.Berulang kali BInar mengusap wajahnya. Jujur saja, dia pusing dan banyak hal yang tidak dia mengerti. Jadi dia harus mencari tahu dari internet maupun buku yang ada di ruang kerja Bhaga itu.Istilah yang asing di telinganya, tapi terasa penting. Binar membaca semua dan mencari tahu dengan detail. Matanya bergerak dari baris pertama ke baris terakhir, dari halaman satu ke halaman lainnya.Kini, dia lelah. Sangat lelah. Matanya sampai berair dan perih.“Apa aku bisa?” tanyanya pada diri sendiri. “Tapi, aku tak boleh gagal. Ini kesempatan besar.”Dia duduk diam beberapa menit, berusaha meregangkan tubuhnya yang kaku sambil menerawang jauh, memikirkan cara apa yang harus dia lakukan agar

  • Di Ranjang Majikanku   295. Ujian Dari Djati

    Nurma tadinya tidak mau menguping. Tetapi rasa penasarannya begitu tinggi, hingga dia harus mengendap sesaat setelah Binar menutup pintu ruang kerja suaminya.Tadinya dia hanya sedang menyusun bunga di vas dekat jendela ruang tamu. Hingga suara sapaan Binar yang baru datang, membuatnya tersentak kecil. Dia tak menjawab, justru semakin mengernyit kala asisten pribadi Djati langsung menghampiri dan meminta Binar untuk segera masuk dan menemui Djati.Beruntung, pintu itu tak dijaga dari luar. Jadi dia sengaja menempelkan telinganya dan berharap suara di dalam sana bisa terdengar.Lalu suara Djati dan Binar menembus celah pintu.Nurma membeku. Dia membasahi tenggorokannya dan napasnya sedikit cepat. Apa-apaan ini, pikirnya.Dia mendengar semuanya dan melotot saat kalimat terakhir dari Djati itu terdengar.Aku akan mempertimbangkan posisimu di keluarga ini dengan cara yang berbeda.Nurma meninggalkan pintu ruang kerja dan kembali ke tempatnya. Tetapi dia tetap tidak bisa menyelesaikan rang

  • Di Ranjang Majikanku   294. Tugas Pertama

    Pintu hotel baru saja ditutup oleh Bhaga saat telepon Binar berdering. Binar yang sedang merebahkan tubuh di kasur karena kelelahan berjalan-jalan membiarkan tetap berdering sampai panggilan itu berhenti sendiri.Namun, detik berikutnya, ponsel Bhaga yang berdering. Bhaga merogoh kantongnya dan segera mengangkat panggilan itu setelah melihat nama papinya.“Iya, Papi.”“Kemana Binar? Kenapa telepon Papi tidak diangkat?”Bhaga mengernyit. “Papi … cari BInar?” tanyanya ragu.“Iya. Dan Papi sudah siapkan tiket untuk kalian pulang sore nanti. Bersiaplah dan sampai ketemu di rumah.”Kini, Bhaga melongo. “Tapi Papi, ini belum waktunya kami pulang.”“Papi tidak mau tau. Kalian harus pulang sore nanti.”Panggilan terputus begitu saja.Masih dengan kondisi wajah yang melongo, Bhaga menoleh ke BInar yang kini sudah duduk dan memperhatikannya.“Ada apa?” tanya Binar.“Papi meminta kita pulang sore nanti.”“Apa?!”“Kau tak salah dengar.”“Tapi kenapa?”“Papi tidak bilang.”Binar menghela napas ber

  • Di Ranjang Majikanku   45. Dari Mana Saja Kau

    Nurma memijit pelipisnya, berusaha meredakan sakit kepala yang dirasakan sejak hari ulang tahun cucunya. Sudah sekian hari berlalu sejak itu."Rasanya seperti angin lalu saja mereka bertemu, Nyonya besar." keluh Sari pada Nurma yang sedang mengawasi mereka membereskan dapur."Setelah pesta ulang ta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Di Ranjang Majikanku   24. After Care

    Bhaga memperhatikan, dengan gerakan yang lembut, menuntun Binar yang masih lemas ke bawah pancuran yang perlahan dinyalakan.Sudah terlalu lama mereka di kamar mandi, dengan Bhaga yang melampiaskan hasratnya lagi dan lagi hingga puas.Bahkan sekarang, Bhaga masih menginginkannya. Bersama Binar, Bha

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Di Ranjang Majikanku   25. Menjual Tubuh

    Peringatan Maryam dan tatapan Bhaga yang tak terbaca kemarin mengingatkan Binar pada satu hal, bahwa dia hanya seorang pembantu. Bisa diganti kapan saja. Perasaan "spesial" yang sempat terpancar dari Bhaga sirna sudah, digantikan kenyataan pahit bahwa posisinya di rumah ini sangat rapuh. "Aku haru

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Di Ranjang Majikanku   28. Malam Penuh Kepuasan

    “Ah, Tuan—!”Binar memekik tertahan, tubuhnya menegang. Tangannya yang mendorong bahu Bhaga gemetar hebat. Bayangan Robert dan sentuhannya yang kasar masih membekas.“Jangan... saya mohon,” isaknya, menahan Bhaga yang hendak mendekat. Binar meringkuk. Menempel pada sofa dan ketakutan. Bhaga berhe

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status