เข้าสู่ระบบAura di ruang rapat siang ini begitu tegang. Bhaga duduk di kepala meja, mendengarkan presentasi dari tim marketing. Angka-angka bergulir, grafik naik turun, membuat Bhaga berulang kali geram karena kinerja karyawannya yang menurun.Suara tegas dan tajamnya terdengar jelas di seluruh ruangan, membuat semua yang di sana merasa sedang diberikan peringatan keras, padahal Bhaga hanya mengulas semua hasil kerja mereka.Semua punggung tegak dan tak ada yang berani mengeluarkan suara.Hingga ponsel Bhaga bergetar, dan dia terdiam sesaat. Awalnya dia tidak menggubris, tapi getaran kedua dan ketiga datang lagi. Dengan berat hati, dia meminta maaf dan akhirnya membuka ponselnya.Sekilas, Bhaga mengernyit saat melihat notifikasi dari pop up di layar depan, Nurma mengirimkan banyak file. Rasa penasaran, membuat jarinya bergerak membuka pesan tersebut.Dia tersentak kecil, dan jantungnya seperti berhenti sesaat.Foto.Binar sedang tertawa. Tertawa lepas, dengan mata yang berbinar. Dan di dekatnya,
Bhaga baru saja menyelesaikan simpul dasinya. Dari belakang, Binar muncul dengan Ardan bergandengan tangan. Binar baru saja selesai memandikan Ardan, meski belum mengenakan seragam sekolah."Papa udah mau berangkat?" tanya Ardan, matanya yang bulat menatap Bhaga.Bhaga berbalik, tersenyum. Dia mengacak rambut Ardan pelan. "Iya, Nak. Ada rapat penting. Nanti malam papa sepertinya pulang terlambat ya.""Bawain mainan ya, Pah?""Ardan," Binar menegur lembut, "mainannya masih banyak, bahkan masih ada yang belum dibuka."Bhaga tertawa kecil. "Enggak apa-apa. Ardan mau apa?"Ardan berpikir serius, jari telunjuk di dagu. "Mau buku gambar baru aja, deh, Pah."Kembali, Bhaga terkekeh. “Kalau buku nanti beli sendiri ya, ditemani Bunda.”Dengan penuh semangat, Ardan mengangguk. “Oke, Papa.” Dia lalu merentangkan tangannya, meminta dipeluk, dan tanpa diminta dua kali, Bhaga langsung memeluknya dengan sayang.Binar tersenyum melihat interaksi mereka. Bhaga menatapnya, lalu mendekat. Tangannya mer
Binar berdiri di depan cermin, merapikan ujung blus warna peach yang dipilihnya dengan hati-hati. Terlalu formal? Tidak. Terlalu santai? Mungkin. Dia menghela nafas, frustasi.Nurma bilang ini hanya makan malam keluarga kecil. Tapi kenapa dadanya deg-degan?Ponselnya bergetar."Sayang, aku sudah dekat rumah." Suara Bhaga di seberang terdengar lelah tapi hangat.Binar tersenyum. “Oke. Hati-hati ya. Sampai ketemu di acara makan malam keluarga.”Hening sejenak. “Makan malam? Makan malam apa?”“Ibumu yang mengadakan. Aku juga baru diberitahu.”“Mami?""Iya. Katanya cuma keluarga dekat. Aku kira kau sudah tahu."Bhaga menghela napas. "Baiklah, nanti aku akan menemanimu?""Iya. Tapi kayanya aku juga enggak akan lama kok.”Bhaga diam, lalu berkata, "Oke. Nanti kabari aku lagi.”Binar tersenyum dan mengangguk meski tahu kalau Bhaga tak melihatnya. Lalu keluar dan berjalan menuju rumah utama.Beberapa kali, Binar terlihat menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, menikmati udara malam yang
Di balik sebuah etalase makanan dekat pintu masuk supermarket, Nurma berhenti. Matanya membelalak.Tidak salah lagi. Itu Binar. Dengan kantong belanjaan berantakan di kedua tangan, dan di depannya, seorang pria sedang membantunya memunguti barang-barang yang jatuh. Pria yang baru saja ditemuinya minggu lalu.Nurma bersembunyi, tapi matanya tidak berkedip. Dia melihat bagaimana pria itu menatap Binar. Bukan tatapan biasa. Tatapan penuh arti.Lalu, Binar terlihat gugup. Wajahnya memerah. Dia tersenyum canggung, menunduk, dan terlihat sangat menghormati pria itu.Nurma tersenyum tipis. Bibirnya melengkung, dan matanya tetap tajam memperhatikan.Dia terus mengamati hingga Binar pergi, melangkah cepat meninggalkan supermarket dengan kantong-kantong belanjaannya. Dan pria itu masih berdiri, mematung. Menatap ke arah punggung Binar dengan wajah yang tak bisa diartikan.Ini kesempatan.Nurma menarik napas dalam, lalu melangkah keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan mendekat, memasang eksp
Sudah sejak pagi Binar bolak balik mengecek semua kebutuhan Ardan dan ternyata sudah banyak yang habis. Dia akhirnya memutuskan untuk belanja bulanan.Biasanya urusan belanja bulanan Ardan akan ditangani oleh Bu Maryam, tapi stok susu dan camilan Ardan ternyata habis lebih cepat, dan Binar memilih untuk belanja sendiri dari pada menunggu.Dia melangkah masuk ke supermarket langganan yang tak begitu jauh dari rumah Bhaga, mendorong troli, menyusuri rak-rak dengan daftar belanjaan di ponselnya.Susu formula, biskuit, sabun mandi dengan pH netral, beberapa camilan sehat, dan kebutuhan lainnya. Satu persatu dia masukkan ke troli. Sesekali dia meraih ponsel yang terselip di saku celana jeans-nya untuk mengecek apakah ada barang yang tertinggal.Di saat bersamaan, ponselnya berdering. Dia menggeser tombol hijau sambil tersenyum."Sayang?" Suara Bhaga di seberang, rendah dan hangat. "Kau di mana?""Di supermarket. Belanja kebutuhan Ardan.""Sendirian? Mau aku jemput?"Binar tersenyum kecil,
Mobil Bhaga memasuki gerbang kediaman keluarganya saat hari sudah malam. Dia kelihatan lelah karena mengerjakan tumpukan kerjaan yang rasanya tak ada habisnya. Kakinya menjejak sedikit lunglai saat keluar dari mobil, tapi wajahnya terlihat ada kelegaan karena sudah sampai rumah.Lampu-lampu taman menerangi jalan setapak, tapi rumah utama kelihatan sepi. Mungkin semua orang sudah beristirahat, pikirnya.Tak lagi menoleh, Bhaga langsung melangkah ke paviliun lalu masuk dengan langkah hati-hati.Baru beberapa langkah, dia mencium aroma terapi yang samar. Harum lavender dan sedikit vanilla menyusup ke penciumannya, serta alunan musik lembut dari arah kamar tidur utama.Dia mengernyit, menerka-nerka, apa yang sedang Binar lakukan di dalam sana.Dia mengetuk kecil, lalu membuka pintu kamar.Di sana, di tengah cahaya lampu tidur yang temaram, Binar berdiri.Bhaga terpaku.Binar mengenakan gaun tipis berwarna merah, jatuh lembut membentuk lekuk tubuhnya. Renda-renda halus di bagian dada dan p







