LOGINTak seperti langkah yakin dan dagu yang terangkat di hari-hari sebelumnya ketika memasuki ruang kerja Djati, kali ini Binar melangkah lunglai dan kepala yang tertunduk.Dia berulang kali menggigit dan membasahi bibirnya untuk menutupi kegugupan. Dadanya berdebar kencang, dia tak pernah setakut ini, dan kali ini dia sadar telah membuat kesalahan besar.“Duduk.” Suara Djati tidak keras, tapi justru terdengar semakin mengerikan di pendengaran Binar.Dia tak menjawab, hanya mengangguk kecil dan menarik kursi dengan perlahan dan duduk dengan kaku. Kepalanya terus menunduk, hingga tak menyadari kalau sejak tadi Bhaga terus memperhatikannya dalam diam.Bhaga duduk di kursi sampingnya. Masih diam menunggu. Begitu juga Djati, hingga ketukan di pintu kembali terdengar dan dua orang dari divisi humas masuk. Keduanya menyapa semua yang di sana dan menjelaskan keadaan terakhir.“Jadi apa yang harus kami lakukan untuk langkah selanjutnya, Pak?”Pertanyaan itu menutup penjelasan dari tim humas, dan
Di ruang rapat, Bhaga sedang menyandarkan punggung di kursi sambil memijit pelipisnya. Dia baru saja selesai rapat yang membuat pening karena laporan dari beberapa divisi meleset jauh dari targetnya.Ponselnya bergetar. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di meja, dan melihat nama Rudi di layar. Bhaga menatap sebentar dan mengangkat telepon."Pak, Bu Binar baru saja bicara di forum soal akuisisi PT. Nusantara." Suara Rudi cepat tapi tidak terburu-buru, seperti orang yang sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk dengan efisien.Hening dua detik. Bhaga menatap dinding di depannya, menghembuskan napas berat, dan memijit pangkal hidungnya. Dia memejamkan mata dramatis."Bilang apa."Rudi menjawab dengan mengutip apa yang Binar katakan. Tidak kurang, tidak lebih.Bhaga tidak langsung menjawab. "Ada yang merekamnya?""Beberapa tamu, Pak. Kemungkinan besar sudah beredar di grup-grup WhatsApp. Kami masih lacak sebarannya.""Hubungi tim humas." Suara Bhaga masih datar, tapi ada nada di sana ya
Liburan telah usai, dan kini Binar sudah mulai diberikan kepercayaan untuk mulai bekerja di dalam naungan Prasetya Grup. Mulai dari sebagai perwakilan di acara-acara kecil. Biasanya begitu lancar, tapi kali ini dia tergelincir.Semuanya bermula dari satu pertanyaan yang tidak Binar antisipasi.Forum diskusi itu bukan acara besar. Undangannya pun terbatas, terdiri dari orang-orang lingkaran bisnis dan sosial yang sudah saling kenal. Beberapa wajah terlihat familiar, tapi beberapa hanya sepintas lalu bertemu di acara-acara amal.Suasana ruangan di lantai tiga sebuah hotel bintang lima di kawasan Kuningan terasa hangat, hampir seperti pertemuan keluarga besar yang jarang berkumpul.Binar datang sebagai pasangan Bhaga, tapi juga sebagai narasumber untuk segmen pemberdayaan perempuan. Sesuatu yang seharusnya tidak ada masalah, terlebih tim dari kantor Bhaga mengirimkan materi, tim dari Djati memberikan catatan, dan Binar sendiri berlatih di depan cermin.Setelah kelas privat yang diberika
Sarapan kali ini disiapkan Binar dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Seperti beban yang selama ini bertahan di pundaknya telah luruh.Tangannya dengan cekatan menyiapkan segala sesuatunya dan kini dia tersenyum saat masakannya telah matang sempurna."Nona,” Panggil salah seorang pelayan. “Ada truk di depan. Katanya kiriman dari Tuan Besar Djati."“Apa?! Truk?”“Iya, Nona.”Meski bingung, Binar tetap mematikan kompor dan melangkah keluar.Di depan rumah, sebuah truk sedang membongkar muatan dengan sangat hati-hati. Tenda portable. Kursi-kursi lipat yang empuk. Beberapa koper besar dengan logo brand perawatan yang Binar kenali, dan enam orang yang memperkenalkan diri sebagai tim spa profesional dari hotel bintang lima yang Binar baru dengar namanya. Tapi tampak meyakinkan.Dia baru hendak menolak mereka, tapi salah seorang memberikan sebuah amplop kecil.Binar membukanya dan tulisan tangan itu begitu familiar.Maaf sudah membuat belakangan ini menjadi lebih berat dari yang seharusny
Suara telepon yang berdering membuat Binar berhenti mengaduk tehnya. Dia menoleh, mengintip sedikit dan nama asisten Djati tertera di sana.Dia mengangkat panggilan itu. “Iya, Pak. Ada apa?”"Pak Djati meminta Nona datang sore ini?"Binar terdiam sesaat sebelum akhirnya menyanggupinya. Panggilan itu terputus.Sore itu, Binar tiba pukul empat sore. Dia datang sendirian, tak terlihat antusias. Langkahnya masuk ke ruang kerja Djati dengan sedikit ragu, karena dia merasa kali ini ada yang berbeda.Pintu sengaja dibiarkan terbuka setengah. Meja kerja itu bersih, tak ada satu pun dokumen di sana. Hanya dua cangkir teh yang sudah disiapkan, salah satunya di depan kursi tamu.Binar duduk dengan tenang, lalu menyapa singkat Djati yang duduk di seberangnyaPria tua itu tak langsung bicara, dia menghela napas pelan sambil mengernyit, seperti sedang menyusun sesuatu yang sudah dia pikirkan berkali-kali, tapi belum bisa dia ucapkan."Kamu tahu berapa lama aku di posisi yang aku pegang sekarang?" t
Arya.Satu nama yang dihindari Binar sejak kejadian malam itu. Dia sungguh tak ingin lagi, bahkan hanya untuk mendengar namanya saja. Tapi seorang kurir tiba-tiba datang dan mengantarkan sebuah amplop dengan kartu nama Arya di depannya.Awalnya Binar ragu untuk membukanya, tapi dia tetap merobek pinggiran amplop dan mengintip sekilas.Di dalam amplop itu hanya satu lembar kertas dengan tulisan tangan. Rapi tapi tidak kaku.Saya mohon kesempatan untuk bertemu selama sepuluh menit. Di tempat ramai. Tidak ada agenda lain. Hanya minta maaf secara langsung. Jika tidak berkenan, saya mengerti sepenuhnya.Binar membaca surat itu sambil menghela napas pelan. Dia ragu.Namun dua hari kemudian, mereka bertemu di kafe kecil di kawasan Kemang.Binar datang sendiri, tapi sudah memberitahu Bhaga sebelumnya. Dia memilih meja di sudut dekat jendela, tempat yang punya banyak ruang terbuka dan jarak yang cukup dari meja-meja lain.Demi menyiapkan mentalnya, dia tiba sepuluh menit lebih awal dan memesan
Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yan
Nurma memijit pelipisnya, berusaha meredakan sakit kepala yang dirasakan sejak hari ulang tahun cucunya. Sudah sekian hari berlalu sejak itu."Rasanya seperti angin lalu saja mereka bertemu, Nyonya besar." keluh Sari pada Nurma yang sedang mengawasi mereka membereskan dapur."Setelah pesta ulang ta
Pesta ulang tahun Ardan yang ke-6 berlangsung meriah.Ruang tamu rumah utama disulap menjadi lautan biru. Balon-balon berbentuk dinosaurus bergelantungan di setiap sudut, ada yang berbentuk T-rex, ada yang brontosaurus panjang melingkar di tiang teras. Spanduk kecil bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY ARDA
Binar menghela napas lega dengan senyum puas. Akhirnya acara selesai dengan baik, walaupun tak begitu lama, tapi Ardan terlihat begitu bahagia. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Dia bersyukur bisa memberikan kenangan baru untuk Ardan.Dia berbalik, setelah mengantar tamu terakhir untuk pulang







