Teilen

227. Mak Comblang

last update Veröffentlichungsdatum: 27.02.2026 18:54:16

Di balik sebuah etalase makanan dekat pintu masuk supermarket, Nurma berhenti. Matanya membelalak.

Tidak salah lagi. Itu Binar. Dengan kantong belanjaan berantakan di kedua tangan, dan di depannya, seorang pria sedang membantunya memunguti barang-barang yang jatuh. Pria yang baru saja ditemuinya minggu lalu.

Nurma bersembunyi, tapi matanya tidak berkedip. Dia melihat bagaimana pria itu menatap Binar. Bukan tatapan biasa. Tatapan penuh arti.

Lalu, Binar terlihat gugup. Wajahnya memerah. Dia ters
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Di Ranjang Majikanku   279. Mobil Bergoyang

    Mobil meluncur pelan di jalan sepi selepas kawasan SCBD. Lampu-lampu kota berpendar buram di balik kaca film gelap, meninggalkan garis-garis kuning dan merah yang terus bergerak. Di dalam, keheningan terasa begitu berat. Binar terus menatap ponsel di tangannya. Layar masih menyala, menyorot satu foto yang diambil dari jarak cukup jauh. Bhaga berdiri gagah di tengah, dengan jas hitam berkerah satin, ekspresi datar. Di samping kirinya, Binar berdiri anggun mengenakan gaun hijau navy, tersenyum tipis yang tidak sampai ke mata. Sedangkan, beberapa langkah di belakang mereka, Celia dengan gaun merah tua menyala, rambut tersanggul sempurna, menatap punggung keduanya dengan senyum sinis yang kental. Foto itu tertangkap kamera dengan angle yang sangat pas untuk jadi bahan omongan semua orang. Masing-masing tidak saling memandang. Tapi ketiganya ada di satu ruangan yang sama, dan memperlihatkan ekspresi yang bisa membuat semua orang melontarkan pernyataan pribadi tanpa perlu susah payah

  • Di Ranjang Majikanku   278. Demi Kebaikan Ardan

    "Mas, aku mau bicara soal Celia."Binar yang baru keluar dari dapur langsung menghampiri dan duduk di seberang pria itu dengan wajah yang serius. Tangannya saling meremat di atas meja makan dan menatap penuh harap.Bhaga mengangkat wajah dari cangkir kopinya. Melirik sekilas pada Binar dan kembali fokus pada pekerjaannya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan.""Ada." Binar berpindah, dia duduk di kursi samping Bhaga, tanpa menunggu dipersilakan. "Ardan sudah mulai mengerti, Mas. Entah kapan, dia akan mulai mencari tahu sendiri. Dan kalau kita tidak menyiapkan jawabannya, dia akan dapat jawaban yang besar kemungkinannya salah."Bhaga diam. Cangkir kopi di tangannya terus dipegangnya.Binar melanjutkan, "Aku tidak bilang kamu harus percaya Celia seratus persen. Tapi melarang mereka tidak bertemu sama sekali itu bukan untuk melindungi Ardan. Itu menghilangkan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya."Dia berhenti sejenak."Bagian yang suatu saat akan dia pertanyakan. Dan kita ti

  • Di Ranjang Majikanku   277. Aku Takut Ardan Terpukul

    Binar sedang membaca buku di kamar dengan jendela yang terbuka, mengantarkan semilir angin malam yang membawa udara dingin tipis. Dia begitu fokus hingga sedikit tersentak saat pintu terbuka dengan sedikit kasar.Dia mengernyit.Bhaga masuk dengan langkah sedikit cepat, meletakkan tas asal, dan gegas masuk ke kamar mandi. Dia bahkan tak menyapa Binar yang membuat semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi.Binar menunggu. Selang beberapa menit, Bhaga keluar dengan handuk melilit di pinggang, dan lagi … dia tak menoleh ke Binar tapi langsung masuk ke ruang ganti. Melihat itu, Binar menghela napas pelan dan berdiri, berjalan menghampiri.Tangannya memasangkan kancing piyama, mengantikan tangan Bhaga. "Ada apa?" tanyanya pelan. Dia mengelus dada Bhaga pelan dan memberikan waktu.Bhaga menatap Binar, lalu mengandengnya keluar dari ruang ganti dan mengajak duduk di tepi kasur. Tapi dia tak langsung bicara. Matanya menatap Binar dengan dalam, dan jemarinya mengelus pipi Binar dengan sanga

  • Di Ranjang Majikanku   276. Bagi Ardan, Binar Adalah Ibunya

    “Aku kira dia masih membutuhkan waktu,” ucap Bhaga. Dia melirik ke arah Rudi sekilas, lalu ke amplop coklat yang baru saja diletakkan di mejanya.“Sepertinya Bu Celia sudah tidak sabar.”Bhaga memijat pangkal hidungnya. “Kita harus satu langkah di depannya. Persiapkan segalanya, Rud.”Dia mengangkat kepala dan mengangguk saat Rudi undur diri dari sana.Matahari bahkan baru saja naik, tapi kepalanya sudah seperti kepanasan. Amplop itu masih tergeletak di sana, Bhaga enggan menyentuhnya, terlebih nama firma hukum tertera di pojok kiri atas. Tanpa membukanya, dia sudah bisa mengira apa yang ada di dalam sana.Decakan kecil keluar dari bibir Bhaga. “Wanita licik itu bahkan menggunakan pengacara mahal.” Dalam benaknya, Bhaga terus bertanya, dari mana Celia mendapatkan uang sebanyak itu. Tinggal di apartemen yang lumayan mewah, tak kembali ke rumah, bahkan kini menggunakan jasa pengacara mahal.“Apa sebenarnya rencanamu, Celia?”Tangan Bhaga mengulur, mengambil amplop dan membukanya dengan

  • Di Ranjang Majikanku   275.Celia Keluar

    Langit Jakarta tertutup awan gelap yang mengantung rendah. Angin bertiup kencang, membuat bulu kuduk sedikit merinding karena dingin yang menusuk. Suasana di depan rumah sakit jiwa terlihat mencekam, karena sekitarnya gelap. Lampu-lampu jalan tak bisa menyinari secara maksimal, membuat cahaya hanya berpendar seadanya.Celia berdiri di depan pintu keluar utama. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dingin, dan tangannya mencengkeram tas selempang kecil yang dia bawa delapan bulan lalu. Tubuhnya kelihatan kurus, rambutnya diikat asal dan tak ada riasan, membuat tulang pipinya lebih menonjol.Dia menajamkan mata ke luar, tak ada sedikit pun ketakutan. Seolah dirinya menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Seringai tipisnya hadir, sangat tipis, hingga tak ada yang menyadari.Tak ada yang menjemput. Karena keluarganya sudah tak lagi pernah mencarinya sejak dia masuk ke rumah sakit jiwa. Memalukan, kata itu yang menempel padanya sejak itu.Kepalanya menunduk, menatap pakaian sederhana yang menempe

  • Di Ranjang Majikanku   274. Mimpi Buruk

    Entah angin apa yang merasuki Binar malam ini. Dia tiba-tiba begitu berhasrat pada Bhaga padahal pria itu tak melakukan apa pun. Darahnya berdesir saat Bhaga berbisik. Dia bahkan tak mendengarkan dengan baik, tapi napas hangat Bhaga seolah menggelitiki kulitnya, menyusup ke dalam pakaiannya dan membuat puncak dadanya menegang sempurna.Bhaga terkejut.Binar tahu itu, dia merasakan ketegangan tubuh Bhaga yang mendadak kaku. Tapi dia tak berhenti. Bibirnya terus merayu, memanjakan bibir Bhaga dengan lidahnya, dan lumatan itu akhirnya terbalas dengan gairah yang sama.Binar mendongak.Tanga Bhaga melingkar lebih erat, menarik tubuh Binar agar semakin menempel padanya dan tangannya menjelajahi kulit Binar seolah tak ada lagi hari esok. Dia terbakar oleh panas tubuh Binar.Bibir keduanya bergerak semakin liar, basah, dan sedikit membengkak.Tubuh keduanya mulai bergerak. Gerakan yang jelas bukan untuk bersiap tidur. Tapi saling menggoda dan memuaskan. Memancing semakin dalam gairah yang ki

  • Di Ranjang Majikanku   223. Dijemput Polisi

    Di dalam restoran, Daniel duduk terpaku. Para pemegang saham mulai memandangnya dengan curiga. Satu per satu mereka pamit, meninggalkan Daniel sendirian di meja.Ponselnya berdering. Alya."Bagaimana?" tanyanya.Daniel menghela napas. "Dia datang. Dengan bukti.""Apa?! Dia tahu?""Dia tahu semuanya

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-04-03
  • Di Ranjang Majikanku   224. Perlahan Kembali

    Daniel ditarik pergi. Para staf yang berkumpul di luar berbisik-bisik.“Ternyata biang keroknya Pak Daniel.”“Jangan lupa juga si Alya yang sok seksi itu.”“Iya. Sukurin, sekarang mereka berdua dijebloskan ke penjara.”“Biar pun kena skandal terus, tapi Pak Bhaga tetep keren.”Mereka terkikik bersa

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-04-03
  • Di Ranjang Majikanku   213. Saingan Berat

    Usai rapat, Bhaga berjalan cepat menuju lift. Langkahnya tegas dan pintu hampir tertutup saat sebuah tangan menahannya. “Kita perlu bicara,” kata Daniel. “Tidak sekarang,” jawab Bhaga acuh. Hatinya masih kesal oleh perilaku Daniel tadi. Sementara Rudi sama sekali tidak memberi tahu apapun tentang

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-04-03
  • Di Ranjang Majikanku   218. Rencana Lain

    Suara barang-barang yang dibanting terdengar keras di ruang kerja Daniel. Sebuah vas kristal hancur berkeping-keping di sudut ruangan, terkena lemparan tangan pemiliknya yang tengah kalap. Meja yang tadinya masih berantakan dengan berbagai laporan dan alat tulis, kini bersih karena dihempaskan kasa

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-04-03
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status